Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 546 : Mulyana 52


__ADS_3

Di suatu wilayah di negeri ini ada sebuah desa terpencil yang tidak banyak orang tahu ada kehidupan di sana, kehidupan mereka biasa saja seperti layaknya orang normal, setidaknya itu yang dilihat oleh mata awam para pekerja yang menggunakan banyak lahan di desa itu untuk menambang batu bara, tidak terlihat aneh hingga mereka bermain mata dengan para wanitanya, jika kau hanya bermaksud untuk bermain-main, maka kau akan terjebak dengan desa itu, bisa jadi kau keluar dari sana, tapi dengan tidak mampu meninggalkan wanita yang kau kerjai.


Banyak di antara pada wanita-wanita tersebut juga pergi dari desa untuk bertemu dengan pria-pria kaya yang kelak akan mereka taklukan dengan ilmu turun temurun nenek moyang, banyak orang bilang itu adalah praktek ilmu sihir, lebih mudahnya, mari kita sebut dengan pelet.


Para wanita desa ini memang minim ilmu pendidikan, karena bagi mereka, mendapatkan pria kaya dulu, sisanya bisa menyusul. Hidup di desa dengan banyak hal terasa kurang, membuat mereka haus akan uang yang mampu memanjakan dirimu dengan banyak hal.


Maka para gadis itu mudah sekali mewujudkan mimpinya, mereka memang terkenal cantik dan mudah bergaul, tapi yang kaya sajalah yang mampu memilikinya, adakah dari kalian tahu di mana letak desa ini? karena desa ini benar ada dan takkan kuberitahu di mana, karena urband legend ini cukup bahaya jika kusebutkan desanya.


“Kau apakan Wulan, Pah!” Yoga terlihat memasuki kantor papanya dengan tergesa-gesa setelah melihat surat itu.


“Apa maksudmu?” Badrun pura-pura tak paham.


“Kau apakan Wulan!” Yoga melempar surat palsu yang aktanya dari Wulan.


“Aku tidak paham maksudmu.” Badrun masih terus mengelak.


“Itu bukan tulisan Wulan, tapi itu tulisan orang lain, ini pasti orang suruhan papa, kan?” Yoga mencoba untuk membuat papanya mengaku.


“Kau ini bicara apa, untuk apa kau mengotori tanganku sendiri? Aku takkan biarkan hal itu terjadi.”


“Ya makanya, pasti orang suruhan papa kan? apa benar dia pulang atau kau memindahkannya ke mana? Jangan bilang kau mencelakainya!” Yoga berteriak dan itu membuat papanya mencoba menenangkan dengan menaruh jari telunjuk di bibirnya agar Yoga mengecilkan volume suarany.


“Aku takkan biarkan Papa melakukan hal buruk pada Wulan, dia hanya ingin sekolah, Pa. itu saja! Jangan halangi, kami tak punya hubungan apapun! Justru papa harus berhati-hati dengan menantu Papa yang gila uang itu, dia berhutang cukup besar di luar sana, dia bermain dengan berlian dan akhirnya sekarang terjebak dalam kemewahan yang sia-sia, banyak orang bermaksud untuk membuka masalah ini di ranah publik, menantu Papa itu tak segan menipu orang untuk mendapatkan berlian yang dia inginkan, dia sangat menyukai uang dan emas, aku sudah tak tahan lagi karena menutupi ini terlalu lama, habis sudah tabunganku dan juga beberapa aset hanya untuk memenuhi keinginannya. Wulan wanita sederhana yang baik, dia hanya ingin sekolah!”


“Kau jangan bicara sembarangan, anak temanku takkan mungkin melakukan penipuan, dia adalah anak orang kaya, jika ingin berlian atau emas, dia tinggal minta, uang bapaknya itu banyak!”


“Justru bapaknya memberikan anak itu pada kita untuk lepas tangan, dia pun tak kuat dengan kelakuan anaknya!” Yoga makin membuka masalah rumah tangga yang sudah dia pendam beberapa tahun ini.


“Wulan juga bukan wanita baik, dia memeletmu, dia sudah mengakuinya, tapi beruntung kau tak kena sepenuhnya karena bantuan dukun itu, kalau saja kita tak dibantu oleh dukun, maka mungkin kau sudah jadi budak dan dihisap habis uangmu oleh wanita itu.”


“Istriku yang menghisap habis uangku Pa! Papa pikir kenapa aku sekarang mati-matian untuk bekerja dengan sekuat tenaga? Karena aku tak punya apapun untuk diwariskan untuk anak-anakku kelak, habis sudah uangku dengan kelakuan wanita itu.” Yoga yang sangat marah menghardik ayahnya dengan berbagai kenyataan.

__ADS_1


“Dia istrimu kau bertanggung jawab, lagian, kau punya mertua yang kaya, mintalah proyek padanya, salahmu terlalu prinsipil jadi orang, tapi wanita itu, dia orang luar yang tak berharga, mulailah dengan melepasnya, aku hanya mengirimnya kembali ke rumahnya, jadi kau tenang-tenang sajalah.”


“Aku benar-benar kecewa padamu Pa, aku tidak memiliki hubungan apapun padanya, aku tidak tertarik padanya selain karena ingin membantu, tapi saat ini, jujur … aku jadi ingin melindunginya.”


Yoga lalu pergi dari kantor polisi itu, dia hendak menjemput kembali Wulan untuk ke tempat proyek pembangunan itu, dia akan memastikan Wulan mendapatkan apa yang dia cita-citakan, Yoga sudah muak dengan kelakuan istrinya yang ingin terlihat kaya raya, tapi tak ingin ikut membantu suaminya mengurus bisnis, sementara Wulan gadis pekerja keras, apapun niatnya pada Yoga, sekarang untuk Yoga itu tak penting.



Sudah beberapa hari ini Yoga tidak masuk kantor, dia sakit, sakitnya aneh, dia tak bisa bangkit karena lemas, entah apa yang terjadi hingga dia selemah ini. Jadi menjemput Wulan dari desanya tertunda.


Total sudah 1 minggu Wulan hilang, semua orang menganggap dia pulang ke desa. Hingga hari ini tiba, seorang lelaki dengan pakaian serba hitam itu datang, dia bertanya apakah bisa bertemu dengan Wulan.


“Wulan sudah pulang kampung, Pak.” Wanita yang juga bekerja di catering itu juga menjawab.


“Pulang ke mana? Saya ayahnya, saya datang karena perasaan saya tidak enak, saya bermimpi aneh kalau anak perempuan saya itu minta tolong, makanya saya ke sini, alamat yang Wulan kasih di suratnya, setiap satu minggu sekali dia mengirim surat dan uang untuk kami keluarganya.” Lelaki dengan pakaian serba hitam dengan penutup kepala yang terbuat dari kain itu ternyata adalah ayahnya Wulan.


“Hah? Wulan nggak pulang, Pak? Kok bisa? Orang dia yang tulis surat ditinggalkan di sini nih, meja ini,” wanita itu menunjuk meja makan yang biasa digunakan para pekerja, “Wulan bilang mau pulang, itu isi suratnya.”


“Ya, nggak ada di saya Pak, itu ada di Pak Yoga, dia yang ambil suratnya, lalu dia pergi terburu-buru setelah melihat suratnya.”


“Yoga, ya saya tahu, anak saya menceritakan dia di surat, katanya lelaki itu mau membantu anak saya untuk sekolah, dia anak dari pemilik lahan yang sedang dibangun ini kan?”


“Iya, betul Pak.”


“Bisa saya temui pria itu?” Ayahnya Wulan bertanya lagi.


“Tidak bisa Pak, karena Pak Yoga sedang sakit katanya, makanya dia tak datang ke kantor setelah beberapa hari ini.”


Ayahnya Wulan terdiam, entah kenapa perasaannya jadi semakin tak enak, dia khawatir anaknya kenapa-kenapa.


Maka dia memutuskan untuk berkeliling, siapa tahu dia menemukan sesuatu.

__ADS_1


Lapangan itu masih dalam tahap pembangunan, ayahnya Wulan entah kenapa selalu ingin berjalan ke arah pepohonan yang baru saja di tebang.


Pada satu tumpukan pohon yang sudah ditebang lalu ditaruh menumpuk ke atas batang kayunya, susunan itu cukup tinggi, ayahnya Wulan mencium wangi yang Khas, wangi milik keluarganya, dia mencium minyak pelet yang biasa digunakan oleh desa mereka untuk memikat pria melalui makanan, wewangian atau lainnya, sesuatu yang bisa dicemari dengan minyak itu.


Dukun itu menatap pada tumpukan kayu yang disusun tinggi dan matanya dari atas tumpukkan lalu mulai ke bagian bawah, entah kenapa, perasaannya sangat kuat, merasa bahwa putrinya ada di dalam tanah itu.


Ayahnya lemas, karena kalau putrinya di sana, artinya dia telah … meninggal dunia.


Maka ayahnya berlari dan berusaha untuk menyingkirkan batang kayu itu, tapi karena batangnya besar dan berat, kayu-kayu itu tetap tersusun kokoh menjulang ke atas.


Ada seorang pekerja yang melihat ayahnya Wulan lalu dia memanggil beberapa orang lagi untuk membantu mengusirnya, dia mengira kalau ayahnya Wulan adalah orang gila yang sibuk menggeser batang pohon itu.


“Pergi kau, mau kupanggil petugas rumah sakit jiwa!” Salah satu pegawai itu menarik ayahnya Wulan, dibantu yang lain dan bermaksud menariknya keluar areal lahan itu.


“Aku bukan orang gila, aku cari anakku Wulan!” Lelaki berteriak. Beberapa orang itu lalu berhenti menariknya.


“Wulan? Kok nyarinya di sini Pak? Wulan sudah pulang ke desanya!”


“Kalau dia ada di rumah, ngapain saya cari ke sini!”


“Pak, Wulan nggak ada di sini, bapak bisa cek sendiri deh, apa mungkin Wulan masih ada di sini, karena dia tak ada di sini, masa kami bohong.”


“Lalu kemana anak saya? Saya takut dia kenapa-kenapa.”


“Kabur kali pak, ama pacarnya.” Seseorang berceloteh, seolah Wulan wanita murahan yang suka nemplok pada satu atau dua wanita, merendahkan sekali.


Ayahnya menahan diri untuk tidak marah lagi, dia tak ingin jadi benar-benar disangka orang gila, maka dia akhirnya tenang.”


“Kalau saya tinggu di sini saja boleh? Siapa tahu anak saya kembali, dia kan tak punya tempat untuk pergi selain rumah dan tempat ini.” Ayahnya Wulan akhirnya mencoba untuk tenah.


“Baiklah kalau begitu, silahkan untuk tunggu, tapi jangan di areal pembangunan ya, takutnya nanti mengganggu dan bahaya, di deket tempat makan aja, di sana Wulan biasanya bekerja.” Para kekerja itu akhirnya mengizinkan dan sempat salah paham, tapi beruntung, ayahnya Wulan boleh tetap di sana, menunggu waktu, jika saja ada kesempatan, dia akan ke tempat itu lagi, tempat di mana wangi itu berasal.

__ADS_1


__ADS_2