
“Sekarang!” Ibunya Bagus berteriak, dia meminta ayahnya Bagus untuk membuka botol kaca pendek dan memasukkan ruh anak itu ke dalam botol, dalam hitungan detik, ruh anak itu sudah masuk ke botol, sementara Bagus terdiam dan bingung.
Ibunya mendekati Bagus dan membisikkan sesuatu, itu membuat Bagus terhisap ke belakang, ke dalam tubuhnya, seketika tubuh itu tidak lagi kejang dan keadaannya stabil.
Di ruangan itu yang tersisa hanya ibu, ayah dan kakaknya Bagus, kakaknya bingung dengan sikap ayah dan ibunya.
Ayahnya menghampiri kakaknya Bagus dan mengusap matanya, setelah itu dia memperlihatkan botol kaca kecil yang ditutup dengan kayu ke hadapan matanya, kakaknay Bagus mundur dan terjatuh, dia kaget karena terlihat sesosok mengerikan di botol itu yang meraung-raung, menangis ingin keluar.
“I-itu apa Yah?” Kakaknya bertanya.
“Ini adalah setan yang bersama adikmu beberapa tahun ini! dia sendirian menghadapi ketakutan di tempat dukun itu dan kau meminta orang tuamu untuk mengikhlaskan adikmu. Kakak macam apa kau? apakah ibumu tak pernah mengajarimu caranya menyayangi adik dengan benar!” Ayahnya semakin marah, dia mendekati kakaknay Bagus, menarik kerahnya hingga kakaknya Bagus berdiri dan melemparnya di sofa.
“Ayah! Sakit!” Kakaknya Bagus terlihat kesal dan marah pada ayah yang selalu memanjakannya.
“Kau itu memang perlu dihajar! Kelak jika adikmu bangun, kulihat kau masih saja tak mampu menyayanginya, kutukar posisimu di sini, kau akan masuk ke dalam botol ini, hingga kau bisa tinggal bersamanya,” ayahnya Bagus menunjuk botol itu, “bukan tubuhmu, tapi sukmamu, mau kau menggantikan adikmu koma?!” Ayahnya Bagus berteriak lagi dengan keras, hampir saja rencananya gagal, untung Alka memberikan rencana cadangan.
“Sekarang kau pulang saja, adikmu sudah stabil, jangan ke sini sampai adikmu pulang ke rumah dan ingat ini baik-baik, sekali aku melihatmu masih kasar pada adikmu, kau benar-benar akan aku kirim menggantikan posisinya Bagus, koma dan ditawan jiwanya. Mau!”
“Ti-tidak Yah, aku pulang.” Kakaknya Bagus berlari dengan kencang dan keluar dari kamar, di saat yang sama, ada kawanan datang, mereka masuk dan menutup pintunya.
“Gimana Dit? Ketangkep ruh anak itu?” Ganding yang masuk kaget karena ruangan terlihat normal tak ada anak ruh itu.
Ayahnya Bagus menjawab, “Iya ketengkep Nding, nih.” Ayahnya Bagus menunjukkan botolnya.
“Bagus!” Alisha tertawa, karena yang membuat mantra pada botol itu adalah dirinya, Alka memaksa dan memerintah dengan keras pada Alisha untuk merapal mantra yang diperbaharui, agar mantra itu menjadi milik Alisha bukan milik Alka, karena kalau mantra itu adalah milik Alka, maka ketika ruh anak itu masuk ke botol, Alka akan terkena Biksa Karma, sedang jika mantra itu milik Alisha, Biksa Karma tak berlaku baginya, makanya Alkam memaksa Alisha untuk merapal mantra dan melakukan perjanjian dengan Abah Wangsa, yang bukan khodamnya, hanya seperti manusia biasa yang melakukan perjanjian agar mantra itu bisa diaktifkan, sedang Biksa karma akan menimpa mereka yang memiliki Karuhun atau khodam.
“Dit, keluar kali, aneh ngobrol sama kamu tapi dalam wujud bapaknya Bagus.” Ganding mengingatkan Aditia yang saat ini memang merasuki tubuh ayahnya Bagus, sedang ibunya ... kalian tahu dong, siapa yang merasukinya, siapa lagi kalau bukan Alka.
Lalu kenapa mereka bisa tidak terdeteksi oleh dukun itu hingga membiarkan ruh anak dan Bagus mendekati tubuh Bagus? Pertama karena serakah, dia benar-benar ingin mengambil Bagus seutuhnya, jiwa Bagus itu semacam tropi karena beberapa tahun lalu dia gagal mengambilnya secara sempurna, dihalangi Mulyana, lalu sekarang dia punya kesempatan, makanya dia nekat dan tidak memeriksa lagi, apakah di sana ada Aditia dan kawanan, kalau dukun itu mau teliti, energi Alka dan Aditia sebenarnya masih tersisa walau sangat sedikit, karena ....
Alka dan Aditia melakukan ritual beberapa jam sebelum kejadian, mereka mandi dengan darah binatang, berendam selama satu jam, agat energi mereka tertutupi, dukun sangat sensitif dengan energi Kharisma Jagat dan manusia dengan khodam, karena energinya saling tarik menarik atau kuat.
Sedang darah binatang melata dan bertaring, mampu menutupi energi itu, darah mereka memang terkenal lebih bau.
Setelah melakukan ritual terpisah tentunya, karena Alka dan Aditia tidak diizinkan mandi bersama, Alka melepas wujud manusianya dan menjadi jin, sedang Aditia lepas raga, ini adalah ilmu yang dia pelajari dengan lebih dalam lagi setelah kemarin sempat lepas raga dan kembali ke dimensi waktu yang lampau untuk bertemu leluhurnya.
__ADS_1
Aditia dan Alka sudah dalam wujud ruh, mereka lalu kembali ke kamar Bagus, Alka merasuki ibunya Bagus dan Aditia merasuki ayahnya, hal ini sudah disepakati bersama, walau Alka paling bensi merasuki manusia, katanya ... tubuh manusia itu bau, Alka memang jin ningrat, tidak suka makanan busuk, bau tubuh manusia yang busuk dan makanan kotor lain. Beda cerita kalau tubuh Aditia, baginya Aditia bukan manusia biasa, dia Kharisma Jagat yang memiliki wangi tubuh yang sangat khas, wanginya bagai pandan yang memabukkan, jadi di dunia ini, bagi Alka, manusia itu bau.
Sekarang dia harus memaksa diri masuk ke tubuh manusia, ibunya Bagus, tak mengapa, toh dia sudah sangat sering melakukan hal yang tidak disukainya.
Setelah Aditia dan Alka memasuki tubuh orang tua Bagus, mereka tahu, kalau energi mereka masih teras walau sedikit, hanya dari jarak yang sangat dekat energi mereka baru bisa terdeteksi.
Rencana aman, sampai ... kakaknya Bagus masuk, Aditia dan Alka dalam tubuh orang tua Bagus melihat kedatangan Bagus dan ruh anak itu, tapi berpura-pura tidak lihat, agar ruh anak itu tidak curiga, tadinya Aditia dan Alka hendak bicara hal yang mampu menguatkan Bagus, tapi sayang, karena kakaknya datang dan hendak meminta orang tuanya menyerah, Bagus bukannya yakin bertahan dan kembali, tapi malah hendak ikut, untung saja Aditia buru-buru memasukkan ruh anak itu ke dalam botol, rencana cadangan Alka, kalau dia tidak berhasil membujuk Bagus untuk kembali ke tubuhnya dan membuat ruh anak itu kecewa dan akhirnya lari ke dukun, di saat itulah Alka rencananya akan mengejar ruh anak itu hingga menemui dukunnya.
Tapi rencana itu gagal, karena ulah kakanya Bagus, untuk memastikan kalau Bagus akan tetap kembali ke tubuhnya dan tidak kehilangan ruh anak itu, Alka akhirnya menawan ruh anak di botol untuk sementara waktu.
Sedang Bagus langsung dibisiki mantra menyatu dengan raga, Bagus langsung masuk ke raganya kembali secara utuh, jiwa yang sempurna.
“Biksa Karma takkan pernah menyentuh Alisha, makanya beruntung kita memilikinya.” Alka berkata setelah melepaskan diri dari tubuh ibunya Bagus, begitu juga dengan Aditia.
“Kalian baru sadar kalau aku sangat berharga?” Alisha dan Hartino punya kesamaan di bagian ini, angkuh dan merasa sangat berharga, walau itu benar, mereka bukannya merendah malah ingin semua orang terbiasa dengan keberhargaan mereka yang tinggi itu.
“Ibu dan ayahnya Bagus masih kau tidurkan, Kak?” Ganding bertanya.
“Iya, masih aku tidurkan. Aku mau membangunkan Bagus, kita semua berkumpul untuk memebrikan energi yang cukup untuk menghangatkan jiwanya, kalian tahu kan, jiwanya berkelana cukup jauh, hingga membuat jiwa itu menjadi dingin, kita harus buru-buru membuat dia bangun.” Alka dan yang lain lalu mendekati Bagus, saling berpegangan tangan dan memberikan energi pada jiwanya, setelah energinya cukup, Bagus perlahan membuka mata.
“Bagus, ini kami semua teman, kami semua manusia, Bagus sudah kembali ke tubuh Bagus.” Alka menenangkan dan memeluknya, karena orang tuanya masih ditidurkan.
“Bagus takut Kak, Bagus takut.”
“Bagus ingat suara Kakak? Beberapa waktu lalu, Kakak ngobrol sama Bagus, tapi yang Bagus denger cuma suara Kakak, Kakak bilang kalau orang tua Bagus masih nunggu Bagus untuk kembali kan? lihat itu mereka kelelahan makanya tertidur setelah menunggui Bagus yang koma.”
“Bohong! Bagus denger kalau Kakaknya Bagus minta supaya Bagus mati aja!”
“Bagus anak baik, itu karena kakak nggak tahu kalau Bagus masih ada, tadi kakaknya Bagus juga nangis loh pas dimarahin sama ayah, kakaknya Bagus sebenarnya takut kalau sampai ibu sama ayah lebih sayang Bagus dan nggak ngurusin kakak, padahal kakak udah dewasa, kakak iri sama Bagus, tapi sekarang udah ngerti kok.”
“Kakak iri sama Bagus? Kok bisa? Dulu bagus yang selalu iri sama kakak, karena kakak selalu paling disayang.”
“Kata siapa? Bagus itu sama kok disayangnya, sama seperti ibu dan ayah sayang kakak. cuma kan beda aja, Bagus masih kecil, kakak udah dewasa, walau sekarang Bagus sudah mulai besar. Makanya Bagus harus ngerti ya, kenapa kakak begitu sama Bagus, karena dia takut, kalau ibu sama ayah nggak sayang dia lagi.”
“Iya Kak, makasih ya udah buat Bagus bisa pulang lagi, kakak-kakak baik banget, kayak ... Pak Mulyana.”
__ADS_1
“Kenapa Pak Mulyana?” Aditia bertanya dengan penasaran.
“Pak Mulyana juga pernah dateng ke Bagus, tapi kayak kakak ini, cuma suara aja, katanya Bagus harus sabar nunggu, nanti dijemput, makanya Bagus nungguin, nggak mau pergi ke mana-mana walau Mbah selalu marah dan siksa Bagus karena nggak mau pergi sama yang lain ke rumah orang.”
“Rumah orang?”
“Iya, kata kakak Ani ... dia masih suka kembali ke keluarganya karena rindu, tapi dia juga kadang ke rumah orang lain, kata Mbah kita hanya perlu deketin tubuh orang itu, dia tidur kita tidur di sampingnya, dia jalan kita ngegendong di punggungnya, kadang di betis atau paha orang itu.”
“Orang itu siapa?” Aditia bertanya lagi.
“Nggak tahu, kata Mbah orang jahat, makanya harus dibuat sakit.”
“Pesanan Dit, pesanan santet ruh anak, biadab!” Ganding bisa melihat benang merahnya.
“Anak-anak ini nggak di saat hidup atau di saat menjadi ruh, di suruh kerja paksa aja ama orang dewasa yang jahat, bahkan Biksa Karma berlaku hanya pada kita, tidak pada dukun itu, karena mereka punya hak asuh ruh anak yang perkumpulan merek buat sendiri, memagari diri mereka dengan hak itu agar tidak terkena Biksa Karma. Sungguh luar biasa, hukum di dunia manusia dan dunia ghaib sungguh selara, sama-sama memihak yang jahat.” Alisha berkata dengan getir.
“Jangan salahkan hukumnya Alisha, yang salah orangnya, mereka terlalu serakah.” Hartino mengingatkan bahwa yang salah bukanlah hukum dan peraturannya, tapi manusia yang mengendalikan hukum tersebut, manusia jahat, maka hukum menjadi jahat.
“Bagus ingat rumah mbah dukun itu?” Aditia bertanya pada apa yang sebenarnya mereka ingin bicarakan pada Bagus sedari awal.
“Tidak tahu, karena Bagus kan diajak sama teman yang mengerikan itu, dia yang bawa Bagus, tiba-tiba Bagus udah di sana aja.”
“Kalau begitu, Bagus sekarang kembali ke kamar dulu ya, kamar yang sudah di pagari oleh Pak Mulyana, nanti ayah sama ibu nyusul, Bagus sekarang makan yang banyak, pokoknya lakukan apa yang Bagus inginkan, kalau ayah sama ibu paksa, Bagus bilang, nggak mau dipaksa, nanti Bagus ilang lagi. Supaya ayah sama ibu ingat, Bagus punya hak milih masa depan Bagus.” Ganding memberi wejangan sebelum mereka menginterogasi si ruh anak, dia satu-satunya harapan menemukan dukun itu.
Bagus dikembalikan ke kamar yang sudah Pak Mulyana pagari, ayah dan ibunya juga dibangunkan dan diberi tahu kalau anaknya sudah bangun, mereka masih tidak diizinkan Aditia untuk keluar dari kamar itu sampai dukunnya ketemu, karena masih berbahaya untuk bagus, orang tuanya menurut, kawanan terharu melihat ayah dan ibunya Bagus memeluk anaknya dan menangis bersama, ibunya bahkan meminta maaf karena memberikan kopi susu itu, sementara ayahnya berjanji takkan pernah memaksa Bagus untuk melakukan apa yang mereka inginkan, dia ingin Bagus tumbuh sesuai minatnya. Bagus bahagia, dia percaya pada suara Mulyana dan Alka, walau harus menunggu lama.
Sementara kawanan, masih punya tugas yang harus diselesaikan, ini bukan akhir.
_______________________________
Catatan Penulis :
Part kemarin nggak ada yang sadar ya kalau aku nggak sebutin nama Alka dan Aditia saat kawanan kumpul di tempat lain memantau kamar perawatan Bagus yang baru dari gedung lain? Padahal aku deg-degan tuh ada yang sadar kalau aku sengaja tidak menyebut nama dua orang itu, karena mereka kan di tubuh orang tuanya Bagus.
Beruntung aku, nggak ada yang sadar.
__ADS_1
Selamat malam minggu.