Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 356 : Kemala 5


__ADS_3

Dia adalah seorang wanita yang sangat cantik, pada zamannya dia perempuan yang pintar bijaksana. Dalam pemikirannya hanya satu, membuat desanya makmur, ayahnya seorang demang yang sangat tersohor, tidak memiliki saudara, karena dia anak tunggal, pada kultur zaman itu, anak perempuan bukanlah harapan yang bisa dijadikan pengganti sebagai pemimpin suatu desa, anak perempuan bukanlah harapan bagi penerus nama keluarga dan penerus kekayaan keluarga.


Namanya Rajima Cahya, gadis itu selau marah setiap kali ayahnya memintanya menikah dia menolak, karena untuknya, hidup sebagai istri akan mencederai ilmu yang dia miliki saat ini. Dia wanita yang wawasannya luas dengan kebijaksanaan yang luar biasa, dalam hidupnya dia memang tidak ingin menjadi istri saja, dia sudah mengukuhkan dirinya sebagai seseorang yang akan mengabdikana hidup untuk sesama manusia, bukan hanya untuk satu manusia.


Gagasan ini tentu menjadi bola api bagi bapaknya, karena bapaknya adalah seorang yang sangat terpandang, jadi mana mungkin dia akan mengizinkan anaknya untuk menjadi perawan tua. Tahun itu, tahun 1600an adalah tahun bagi perbudakan bagi perempuan di berbagai negara, tidak hanya di negeri ini yang dipimpin oleh kesultanan Cirebon, saat ini bahkan kesultanan mewajibkan bagi para bangsawan mengirim anak-anak perempuannya untuk dijadikan selir, guna menjaga hubungan yang baik antara raja dan juga para bangsawan desa.


Tidak terkecuali Rajima, dia adalah wanita yang diharuskan untuk ‘disetor’ ke kerajaan, ditawarkan kepada raja sebagai selirnya.


Bapaknya Rajima mendapatkan surat dari raja, dalam surat itu jelas bahwa raja ingin Rajima mengikuti serangkaian prosesi penobatan selir, bapaknya sangat senang, dia bahkan membuat selamatan untuk merayakan terpilihnya Rajima menjadi selir.


Berbeda dengan bapaknya, Rajima sangat terkejut mendengar itu, dia sangat tidak setuju menjadi seorang istri, apalagi selir, hidupnya akan sangat membosankan, menunggu raja untuk dikunjungi, melahirkan anak untuk raja yang hanya akan menjadi anak tak diperhitungkan karena anak yang sangat dicintai tentu hanya putra mahkota.


Rajima hendak menolak, tapi mendengar bapaknya yang begitu senang, Rajima tidak tega untuk menolaknya, maka dia pun mengikuti mau bapaknya.


“Rajima, kau tahu kan, bahwa ini sangat penting bagi kelurga kita, dengan menjadi selir, kau akan membawa nasib baik bagi kita semua, kepemimpinan bapak akan menjadi kuat, kekayaan kita akan bertambah karena kita akan terbebas dari upeti dan malah mendapat bagian upeti daerah karena kita keluarga raja, keluarganya utusan Tuhan.


Rajima harus patuh pada raja agar menjadi selir kesayangan, kau itu cantik dan cerdas, aku yakin kau mampu membuat raja terkesan.”


Rajima menatap bapaknya, tak ada sedikit pun dalam perkataan bapakny yang menanyakan, apakah ia mau menjadi selir, bapaknya hanya memikirkan dirinya sendiri.


Rajima kembali ke kamar setelah berbicara dengan bapaknya.


Malam tiba, makan malam bersama kedua orang tuanya sudah disiapkan, mereka makan di lantai seperti semua orang pada umumnya di sini, Rajima tidak nafsu makan, karena dia benar-benar sangat gusar tentang perjodohan ini.


“Kenapa Rajima tidak makan? tidak enakkah masakan ibumu, nak?”  tanya ibunya.


“Lezat bu, seperti biasa, tentu saja aku menikmatinya.”


“Apakah ini karena surat lamaran kesultanan itu?” Ibunya menebak, bapaknya langsung menepuk bahu ibunya, dia tidak ingin ibunya menjadi lemah.


“Kalau boleh ibu tahu, apaah Rajima memang hendak menerima pinangan itu?”


“Pinangan adalah jika seorang lelaki datang bersama keluarganya, lalu melamarku, itulah baru bisa kita sebut pinangan, bu. Tapi jika datang utusan dengan membawa secarik kertas, itu namanya perbudakan, bukan pinangan, bu.”


“Rajima! Kau itu bicara apa, mana mungin aku ingin anakku menjadi budak! aku ingin anakku bahagia dan seluruh negeri yang kaya raya akan hasil alam ini, ingin dipersunting oleh raja, sedang kau malah bersikap seperti ini, apa-apaan ini!”


“Pak, tapi ... aku tidak ingin menikah paksa, apalagi aku tidak kenal prianya.”


“Siapa yang tidak kenal raja? Kau ini anak yang cukup bijaksana bukan? lalu kenapa sekarang berkata perkataan yang omong kosong!” Bapaknya Rajima marah, dia bahkan berdiri dan meninggalkan tempat makan mereka.


“Ibu ... Rajima hanya ....”


“Keluarga kita terlilit hutang Nak, bapakmu sudah melewati tiga kali pembayaran upeti daerah, karena lilitan hutang itu, dia tidak punya jalan keluar lain selain menikahkanmu dengan raja, kau harus sabar dan menurut ya, ingat ini, kami sudah membesarkanmu dengan susah pbapak, maka sekarang gantian, kau yang coba untuk membantu kami.”


“Apakah aku dibesarkan hanya untuk dijadikan alat membayar hutan bu? Apakah aku dijadikan pertukaran dengan tidak adil seperti ini?”


“Kau akan bahagia Rajima, kau akan bahagia hidup di lingkungan kerajaan itu, raja akan sangat memanjakanmu dengan uang, makanan dan pakaian bagus.


“Tapi aku tidak ingin itu semua bu, aku hanya ingin kebebasanku.”

__ADS_1


“Mama ada anak perempuan yang bebas di negeri ini, mau sampai kapan pun, kita ini hanya wanita yang kelasnya lebih rendah dari pada pria, suami-suami kita, kita harus patuh dan mengikuti semua perintah suami, maka hidup kita akan tenang dan tentram.” Ibunya menasehati.


“Kalau pernikahan begitu hebatnya, lalu kenapa aku tidak pernah melihat ibu tertawa lepas, tersenyum atau sekedar bersenda gurau dengan tetangga. Seringkali aku melihat ibu menangais diam-diam, apa itu ketengan dan ketentraman yang ibu harapkan aku dapat?”


“Raja takkan memperlakukanmu sama seperti bapakmu, dia itu kasar, tapi raja tidak. jadi kau akan bahagia.”


“Dari mana ibu mengukur kebahagiaanku? Aku bahkan sudah melihat bahwa hanya akan ada neraka ditempat sulta itu.


“Rajima, ibu tidak bisa berbuat apa-apa, ditambah bapakmu yang ingin, kau tahu kan, dia itu takkan pernah menyerah sampai dapatkan apa yang dia inginkan, bapakmu hanya akan menghukummu, makanya kau harus menerima pinangan ini.”


“Aku pikir kau bisa dipercaya dan mampu membuatku tenang, tapi kau sama saja seperti bapak, apa karena kau bukan ibu kandungku, makanya kau tega seperti ini?”


“Rajima, kau tahu dengan jelas bagaimana hatiku yang menjagamu selama ini, aku mengambilmu dari pangkuan almarhumah ibumu untuk dijaga dengan segenap hati, aku ini adik ibumu, aku merawatmu persis seperti anakku sendiri, walau aku tidak dikaruniai anak, tapi aku menyayangimu tanpa celah sedikitpun.”


Rajima tahu dia telah sangat keterlaluan pada ibu yang menjaganya dari bayi.


“Maafkan aku ibu, aku hanya ... kecewa ada bapak.”


“Aku tahu kau kecewa, tapi impianmu terlalu tinggi, mau zaman berubah pun, semua akan tetap sama Rajima, perempuan itu kodratnya menikah dan akhirnya melahirkan anak, mungkin hanya aku yang tidak sempurna karena tidak bisa memberikan adik untukmu dan anak untuk bapakmu.”


“Kau itu ibu yang sempurna, maaf aku tadi hanya marah Bu, aku tidak bermaksud sama sekali untuk menghinamu.”


“Rajima, aku mohon, ikuti apa kata bapakmu, dia tahu yang terbaik untuk kita semua, kau harus berupaya untuk membantu bapak ya, kasihan dia, sudah semakin tua dan sudah semakin tak sanggup lagi membayar, jika bapakmu kenapa-kenapa, maka kau yang akan menanggung hutangnya. Aku mohon padamu anak ibu yang cantik jelita.”


Rajima terdiam, dia lalu pergi ke kamar setelah membantu ibunya merapihkan tempat makan.


Dia menangis di kamarnya, ini bukanlah apa yang dia mau, mimpinya sangat banyak dan tinggi, kenapa harus terhenti sebagai seorang selir!


“Rajima, kamu beruntung sekali ya, bisa menjadi selir raja, semoga kamu ingat desa ini ya, nanti kalau sudah jadi selir, jangan sombong ya.” seorang pedagang sayur tempat ibunya berlangganan, berkata pada Rajima dan ibunya.


“Iya, tenang saja, kami akan selalu ingat desa ini, itu sayurnya dibungkus, kami mau beli yang lain.”


Pedagang itu membungkus sayurnya, tapi tidak seperti biasa, sayur itu terlihat lebih banyak dari biasanya.


Mereka lalu meneruskan perjalanan di pasar itu untuk membeli beberapa kebutuhan bahan pokok.


Setelah sampai rumah, Rajima dan ibunya langsung ke dapur karena hendak membuat makanan untuk makan siang nanti.


“Lihat Rajima, belum jadi selir saja, kau membawa begitu banyak kebaikan bagi keluarga, lihat betapa para pedagang di pasar itu memberikan kita barang dagangannya dengan harga murah dan banyak, ini pasti karena berita kau akan menjadi selir, makanya kita diperlakukan berbeda.


Ibu tidak sabar melihatmu bahagia di kerajaan itu.”


Rajima termenung dengan perasaan yang sangat kacau. Setelah membantu ibunya untuk masak, dia lalu pergi ke lapangan belakang, dia akan mengajarkan ibu-ibu beberapa keterampilan, seperti menjahit dan juga menanam bunga, keterampilan itu bisa menjadi penghasilan kelak jika anak-anak mereka sudah dewasa, mereka bisa mulai membantu suami mencari uang tambahan.


“Jadi jahitannya rapi kalau begini, yang sabar ibu-ibu, jangan sampai jahitannya tidak lurus ya, nanti hasil jahitannya akan jelek jika dibalik.” Rajima menjelaskan pada ibu-ibu.


“Rajima kau memang sempurna ya, pantas saja raja ingin menjadikanmu selir, kau sangat beruntung Rajima, wajahmu cantik, kau juga pintar, aku iri.” Salah satu ibu itu berkata dengan sumringah, sedang Rajima mulai kesal dan muak dengan perkataan orang bahwa betapa beruntungnya dia, sementara dia sangat ingin bebas untuk mengekspresikan dirinya sebagai seorang pengabdi masyarakat.


“Sudah dulu ya ibu-ibu, saya istirahat dulu, dilanjut saja jahitnya.” Rajima pamit pulang.

__ADS_1


Saat sampai rumah Rajima terkejut karena begitu banyak barang mewah di rumah.


“Ibu apa ini?” Rajima bertanya.


“Ini hadiah dari calon suamimu, ada baju-baju yang mewah, ada sepatu yang mahal dan itu lihat, ada tandu untuk membawamu ke kerajaan lusa, mereka bahkan sudah mengirim beberapa pengawal untuk mengantarmu tanpa harus berjalan kaki, kau sungguh beruntung, Nak.” Ibunya semakin menambah beban pikiran Rajima.


“Lusa? Aku akan ke kerajaan lusa? Kenapa tidak ada yang beritahu aku?”


“Ini kan ibu kasih tahu, Nak.”


“Tapi lusa itu terlalu cepat, bagi Rajima masih banyak hal yang harus dikerjakan. Tapi kenapa aku harus segera menikah dengan raja?” Rajima menangis.


“Jangan teriak-teriak Rajima!” Ibunya menutup mulut anaknya.


“Rajima tidak mau menikah Bu, Rajima mohon.”


“Diam jangan berisik! Nanti para pengawal mendengar, kau bisa diomongin yang tidak baik di depan raja, Nak, kau harus mengerti!” Ibunya berkata dengan berbisik agar Rajima mengerti dan mau meredam amarahnya.


“Aku tidak mau menikah, Bu.”


“Tidur saja ya, istirahat, kau hanya lelah, jika saja kau sudah lebih bugar, kau akan mulai paham tentang semua ini, lihat semua barang mewah itu, raja bahkan mengirim perhiasan untukmu, tusuk konde emas yang sangat berharga itu, kau harus memakainya saat pergi ke kerajaan, istirahat ya, Nak.” Ibunya lalu membaringkan Rajima yang masih kalut, dia ingin anaknya tenang dan tidak menimbulkan kekacauan dengan penolakan.


Malam tiba, mereka semua sudah makan malam, Rajima langsung masuk kamar begitu sudah selesai makan. Meninggalkan bapak dan ibunya.


“Dia merengek sejak siang tidak ingin menikah.” Ibunya bicara, sedang ayahnya masih menyeruput kopi.


“Itu hanya rengekan anak manja, salah kita berdua, karena terlalu memanjakannya, membiarkan dia memilih apa yang dia inginkan, seharusnya dari awal kita mendidiknya untuk lebih menerima kodrat sebagai seorang wanita.


Bukannya malah ingin pintar seperti lelaki, untuk apa, toh wanita hanya akan mengurus anak dan rumah bukan?”


“Pemikiran wanita pada umumnya di sini, dengan pemikirannya berbeda, aku sudah merasakannya sejak dia kecil, dia itu anak yang sangat pintar, dia bisa menghapal banyak nama binatang pada umur yang bahkan belum genap dua tahun, banyak nama tumbuhan yang dia hapal juga setelahnya dan fungsi-fungsi dari tumbuhan. Aku takjub ketika itu, anak perempuanku sangatlah hebat, tapi ... sekarang aku merasa kepintarannya adalah malapetaka, karena itu dia memintaku untuk menerima kalau dia tak ingin menikah!”


“Dia bicara kalau tak ingin menikah dengan raja? Lagi?”


“Tidak hanya menikah dengan raja yang dia tak ingin, dia benar-benar tak ingin pernikahan sama sekali.”


“Kau! dia bicara seperti itu! kenapa kau diam saja tak bicara padaku! padahal itu hal penting!” Bapaknya Rajima marah.


“Mana aku tahu kalau itu salah, yang aku tahu, anak kita cerdas dan sangat cantik, itu saja, aku sendiripun tidak pintar, jadi aku tak tahu caranya mendidik anak kita dengan baik.”


“Bu, sudah jangan terbawa emosi, di saat seperti ini kita harus sama-sama kuat menghadapinya, jangan sampai Rajima menolak pernikahan ini, apalag isampai kabur, ingat, sawah yang sudah kita janjikan akan dibeli setelah Rajima jadi selir, itu harus jadi milik kita, ingat itu Bu.” Bapaknya terlihat serakah sekali.


“Aku bilang pada anakmu bahwa kau terlilit hutang, aku ingin dia setuju, makanya aku mengarang cerita, kita harus pastikan kalau dia akan pergi ke kerajaan dan menjadi selir, sehingga kita bisa kaya raya seperti tetangga desa sebelah, yang anaknya menjadi selir itu, bukankah sekarang rumahnya ada banyak dan besar-besar dengan perbotan yang sangat lengkap. Aku ingin rumah seperti itu Pak.” Ibunya Rajima mengeluarkan senyum seringai, yang dia tutupi dari anaknya selama ini.


Sementa Rajima masih terus menangis, karena waktu semakin dekat, lusa adalah waktu yang cukup cepat baginya, dia tidak bisa berpikir apapun saat ini, yang ada dipikirannya adalah, bagaimana ibu-ibu itu berlajar nanti, belajar jahit, tanam tumbuhan dan menghapal tumbuhan obat, Rajima sedih sekali.


Saat dia masih menangis, sayup-sayup terdengar dari arah jendela kamarnya, Rajima membuka jendela dan mencari arah suara. Kosong, lalu siapa tadi? Rajima terlihat sangat ketakutan.


“Si-siapa!” Rajima bertanya. Tidak ada jawaban, dia memperhatikan sekitar, masih tidak terlihat apapun.

__ADS_1


Akhirnya Rajima menurup jendela dan berusaha untuk tertidur, tidak lama kemudian, Rajima mulai tertidur dengan pulas.


Sementara di luar jendela, ada begitu banyak pocong yang memperhatikan Rajima dengan seksama dari balik jendela, suara anjing menggonggong bersautan, menambah kelam malam yang menyedihkan itu.


__ADS_2