Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 499 : Mulyana 4


__ADS_3

Setelah mantra diucapkan, Mulyana terbangun, tapi aneh, kenapa dia berada di suatu tempat, begitu banyak orang yang hendak masuk ke suatu tempat, Mulyana kali ini melihat ke arah gerbang itu dnegan seksama, lalu dia berbalik lagi untuk melihat mereka yang hendak menerobos masuk.


Betapa terkejutnya Mulyana karena semua orang itu berubah menjadi bentuk-bentuk yang mengerikan, mereka sangat ... banyak dan mengerikan!


Dia berlari agar bisa sampai duluan ke gerbang itu, dia harus melakukan perintah ayahnya, dia harus lebih dulu sampai sana, karena kalau dia terlambat, makhluk mengerikan yang selama ini dia anggap orang-orang normal, ternyata bukan manusia, dia sangat takut, jadi larinya sangat cepat, dia harus sampai di gerbang itu duluan.


Mulyana berusaha terus berlari karena dia tak ingin keduluan, tapi sekencang apapun berlari, dia masihlah seorang anak kecil yang berusia tujuh tahun, maka langkahnya masihlah tidak seluas saingannya, semua makhluk itu berhasil menyalipnya, ada beberapa yang keluar, ada juga yang masih di tempat karena entah apa yang menyebakan beberapa makhluk mental lalu jatuh, setlah jatuh, mereka bangun lagi dan kembali berlari agar bisa melewati gerbang itu.


Walau banyak yang mental, tapi Mulyana masih terus kalah untuk sampai gerbang itu, dia terus berlari tapi jarak gerbang itu memang tidaklah dekat.


Maka ....


Sementara dari jauh, ada seorang lelalaki tua mengawasinya.


“Dia tidak berhasil.” Abah telah kembali, ternyata dia mengawasi calon tuannya di dunia ghaib itu.


“Dia tidak berhasil?” Drabya bertanya hal yang sebenarnya dia sudah tahu jawabannya, dia hanya mencoba menerima kenyataan itu dengan berat.


“Tidak, dia sekarang terombang-ambing di sana, biarkan jiwanya kembali besok. Aku Sudah menangkap semua yang berhasil kabur dari dunia ghaib melalui tubuhnya, mereka sudah aku kembalikan ke dunianya masing-masing.”


“Aku penasaran dengan tempat itu, Sayang aku tidak bisa ke sana.”


“Kau memang tidak bis,” Abah menjawab dengan serius, “ini adalah zonanya Mulyana, kau bisa ke tempat ghaib yang Tuhan ciptakan karena itu memang kemampuan para Kharisma Jagat, kemampuan umum. Tapi, kalau zona ghaib milik Mulyana, kau tidak akan bisa. Hanya Ayi dan Kharisma Jagat pilihan yang bisa menyebrang dari satu zoba ghaib ciptaan makhluk ke zona ghaib yang lain.”


Sedang kelak, Mulyana  dan Aditia bahkan bisa lepas raga untuk bertemu Sarika, Ayi Mahogra sebelum Seira dan suaminya yang seorang raja, Abiyasa, kita semua sudah tahu bukan, kalau mereka itu adalah nenek moyang Aditia dan juga tentu ayahnya serta termasuk Drabya.


Berbeda dengan mereka, Drabya tak mampu melepas raganya, tidak mampu berjalan pada waktu lampau ataupun waktu ke depan, dia hanya mampu melihat mereka dan menguasai mantra, bahkan saking mampunya menguasai mantra, maka senjatanya yang banyak itu, tidak bisa dibandingkan dengan mantra yang keluar dari mulutnya.


Semua mantra itu lebih ampuh jika diucapkan oleh mulut Drabya, karena jiwanya memang memiliki pengaruh yang kuat terhadap setiap mantra di negeri ini.


...


“Mulyana, kau ingat semalam apa yang membuatmu gagal?” Ayahnya bertanya, sedang kakaknya bersekolah di rumah dengan ibunya dan tenaga pengajar yang mereka bayar untuk mengajar.


Mulyana tidak diizinkan ayahnya untuk sekolah dulu, walau di rumah, saat ini waktunya Mulyana adalah berlatih dengan ayah dan Abah.


“Semalam aku bermimpi ada di tempat itu lagi, tempat yang sama tapi orang-orang berbeda, mereka bukan lagi manusia, mereka berbeda, wujud mereka seperti yang ada di gudang ghaib ayah, sangat mengerikan.”


“Baiklah Yana, kau harus dengar ini perlahan, maka fokuslah.”


Aditia mengangguk.


“Kau mungkin belum pernah diberitahu olehku bahwa, aku, kamu dan mungkin kakakmu adalah orang yang berbeda.”


“Berbeda seperti apa ayah?”


“Keluarga kita memiliki warisan kekayaan ghaib.”


“Wah, hebat, kita punya banyak emas ayah?” Mulyana terlihat senang karena yang dia pernah dnegar, bahwa warisan itu berhubungan dengan uang, emas dan tanah. Dia tidak paham warisan kekayaan ghaib adalah, turunnya Karuhun, bagi Kharisma Jagat, Karuhun adalah aset yang akan mereka terima, tentu saja aset yang tidak akan mengalami depresiasi, karena jin memiliki umur yang panjang dan sulit untuk tua, kalau kasus abah, dia memang awet tua, tertawalah kalau kalian anggap ini lucu.


“Bukan emas nak, tapi warisan berupa jin, kau sudah bertemu abah kan sebelumnya, maka sekarang kau hanya juga harus tahu, bahwa Abah Wangsa akan terus menjadi jin pelindung kita, secara turun temurun, karena ayah punya dua anak laki-laki, maka Abah akan memilih salah satu di antara kalian, bisa kamu, bisa juga Suraep.


Maka ketika Abah turun pada salah satu kalian sebagai jin pelindung, maka statusnya adalah Karuhun kalian, sedang kalian adalah tuannya, dengan nama Kharisma Jagat. Salah satu di antara kalian saat ini belum dipilih secara langsung oleh abah, maka aku hanya melatih Suraep sedari dia berumur 4 tahun, aku membiasakannya melihat seluruh jin yang ada di rumah ini, tapi sayang, mungkin penilaianku meleset, mungkin kau yang akan Abah pilih. Walau itu belum pasti.


Sekarang aku dan Abah baru menyadari kalau tubuhmu bisa sangat berbahaya bagi umat manusia, kanapa? Karena tubuhmu adalah lubang ghaib, terowongan yang bisa membuat jin atau ruh yang tersesat menyebrang ke dunia kita seenak mereka, maka kalau dibiarkan, mereka akan terus bebondong-bondong ke dunia kita dan menyebabkan banyak kerusakan.


Kami sadari ini ketika malam-malam kami baru saja pulang dari suatu tempat, kami melihat Aep sudah kerasukan lagi, dia kerasukan jin anak kecil yang kau lihat di gudang ghaibku, oh, kau menyebutnya gudang ghaib? Padahal itu tempat ghaib yang aku ciptakan.


Kakakmu memang mudah kerasukan karena tubuh wangi dan ... jiwa lemahnya, aku harus mengatakannya karena memang begitu adanya. Berbeda denganmu, saking kuatnya jiwamu, maka tubuhmu mampu dijadikan lubang untuk melewati dua alam.


Tapi celakanya, itu membuat jiwamu akan terlempar ke dunia lain, karena ketika tubuhmu digunakan sebagai terowongan oleh para jin jahat itu, maka jiwamu masuk ke alam ghaib dan tersesat di sana.


Kemarin saat kau bilang sudah tak solat subuh dalam waktu yang lama, para jin yang berusaha untuk masuk ke terowongan itu membautmu lupa, bahkan menutup mata bantinmu ketika masuk ke alam ghaib, maka kau menganggap itu semua mimpi, tapi itu bukanlah mimpi.

__ADS_1


Tapi itu sebuah kejadian nyata di alam ghaib. Maka kau harus menganggap serius apapun perintahku, kau harus mengikuti perintahku dengan gigih.”


“Aku tidak tahu bagaimana caranya agar bisa menjalani perintah ayah, karena mereka banyak dan terlalu cepat ayah.”


“Kalau begitu kau perlu senjata, kau harus melawan mereka dengan senjata itu.”


“Aku memakai senjata? Tapi aku masih terlalu kecil, aku takut.”


“Itulah kenapa kau tidak mampu menjalankan perintahku, karena kau terlalu dikuasai rasa takutmu, kau harus mulai berani, maka aku akan memberimu senjata, tapi senjata itu hanya akan bekerja untuk makhluk ghaib, walau itu senjata ghaib, kau harus belajar menggunakannya terlebih dahulu, aku akan mengajarkanmu di tempat ghaib buatanku.”


“Jadi aku tidak akan bermimpi lagi malam ini? tapi latihan?”


“Ya, kau dan kakakmu akan aku latih bersama, dengan senjata yang sama.”


...


“Masuklah, mereka takkan berani menyentuh kalian, karena aku tuannya.” Drabya masuk ke gudang ghaib itu, sebutan yang disematkan oleh anak-anaknya, karena terletak di dapur dan tidak terlihat pintunya sampai ayahnya buka.


Tekhnik pembuatan tempat ghaib ini akhirnya nanti kelak digunakan Mulyana untuk membuat markas ghaib.


Jadi sebenarnya pintu di dapur itu ada, tapi di pagari hingga tak terlihat ada. Sama seperti markas ghaib yang terlihat hanya tanah kosong dari luar, hanya kawanan dan Aditia yang mampu membukanya, bahkan Aditia juga sebelumnya belum pernah tahu soal bangunan ini.


Setelah mereka masuk, betapa kagetnya Mulyana karena dia melihat setiap makhluk yang mereka temui dalam wujud apapun, langsung menunduk dan tak berani mendekat, seperti ketakutan.


“Ayah, kenapa mereka sangat ketakutan, tidak berusaha menyerang?” Mulyana bertanya, dia sangat heran.


“Karena ayah adalah tuannya Yan, mereka takut karena pernah disiksa ayah.” Aep berbisik untuk menjawab pertanyaan adiknya.


“Mereka menakutiku dan berusaha menyerangku, padahal kan aku anak ayah.”


“Kalau jin dan ruh tersesat tidak diwariskan bodoh! Mereka harus dikendalikan dan ditundukkan.”


“Jadi kalau aku mau mereka takut padaku, aku harus mengendalikan mereka? caranya?”


“Oh begitu, kamu sudah bisa mengendalikan mereka?”


“Belum, aku sudah berlatih dan tidak takut pada mereka lagi, tapi tak ada yang mau menurutiku.”


“Kok bisa Kak?”


“Mana kutahu, mungkin karena aku kurang pandai dengan dunia seperti ini.”


“Oh begitu, apakah aku bisa, sedang kau saja tidak bisa.”


“Entahlah, mungkin bisa, kalau kau mau menuruti ayah.”


Tak sadar mereka telah sampai sebuah tempat yang mirip seperti hutan.


“Ini di mana ayah?” Mulyana bertanya pada ayahnya.


“Ini hutan larangan, tapi zona ghaibnya, tempat ghaib kita adalah salah satu tempat yang aku ciptakan, sedang tempat ini zona ghaib sesungguhnya, kita melewati tempatku untuk bisa menyatukan energi dan akhirnya bisa masuk ke zona ghaib sesungguhnya.”


“Oh begitu.”


“Kau paham tidak?” Aep bertanya.


“Tidak.”


“Kan, kau itu bodoh ah!” Aep kesal karena adiknya hanya iya saja tapi tak paham maksud ayahnya.


“Aku takut ayah marah.” Mereka berbisik, karena ayahnay sedang sibuk mempersiapkan arena latihan.


“Jadi begini, gudang ghaib itu sebenarnya gudangnya ada, tapi kita nggak bisa lihat karena dipagari ayah, jadi mata awam tak bisa lihat, tapi kadang mata orang yang mampu bisa atau tidak, tergantung tingkatan ilmunya, kalau setara dengan yang buat pagar, ya bisa lihat, tapi kalau di bawahnya, tidak bisa buat.

__ADS_1


Nah, gudang ghaib itu kayak halte, tempat singgah yang ayah buat untuk makhluk-makhluk yang dia taklukkan, zona ghaib itu kendaraannya, trus saat kita masuk ke zona ghaib yang ayah buat, ada mautan ghaib di dalamnya, maka kita juga bisa menunjungi tempat ghaib yang sesungguhnya yang Tuhan ciptakan, asal tahu jurusannya, kayak naik bis aja, tahu tujuan yang tinggal naik sesuati tujuan,  gitu.


Makanya kita bisa ke sini, hutan larangan. Buat latihan kita.”


“Nah, kalau gini aku paham, Kak.”


“Yaudah, yuk kita latihan, ayah sudah selesai tuh kayaknya siap-siap.”


“Pilih alat yang kau suka.” Ayahnya menggiring Mulyaan pada tempat di mana banyak senjata di letakkan, ada pedang, ada keris berbagai jenis, ada cambuk, ada pedang, golok, panahan dan tombak.


“Baiklah, kalau begitu aku pilih ini.” Mulyana mengambil panahan.


Lalu tiba-tiba muncul sasaran target yang berbentuk bulat dengan bulatan yang memiliki banyak titik ukuran keberhasilan.”


“Sudah tahu cara pegangnya?” Aep bertanya.


“Tahu dong, dulu kan kita pernah punya mainan busur dan anak panah kayak gini.” Mulyana senang, dia suka dengan alat seperti ini.


Lalu dia mencoba menargetkan pada bantalan sasaran target di depannya, dengan penuh percaya diri dia melepas anak panah dan ....


Semua orang tertawa, karena lontaran anak panahnya sangat pendek, jangankan sampai pada sasaran, mencapai dua langkah saja tidak.


“Tidak mudah menguasai alat seperti ini, apalagi kau menggunakan alat ghaib yang harusnya, mereka bukan benda mati, setiap alat ada penunggunya, jangan asal tembak.” Ayahnya tertawa sambil menjelaskan.


“Lagian ayah nggak bilang.”


“Kamu yang terlalu percaya diri.”


“Bagus kalau dia percaya diri, itu kan berarti dia berani ayah.” Aep membela adiknya.


“Jangan  terlalu memanjakannya, itu tidak membuatnya kuat.” Ayahnya memperingati Aep yang sangat menjaga adiknya, hingga terkesan selalu menuruti apapun yang adiknya mau.


“Kalau kau benda ghaib, bukan kau yang memilihnya, tapi mereka yang memilihmu, sekarang kembalikan panah itu.” Ayahnya mulai mengarahkan.


Mulyana menaruh panahan itu ketempat semula.


“Sekarang kau dekatkan tanganmu.” Ayahnya kembali memberi instruksi, maksudnya adalah mendekatkan tangan Mulyana kepada seluruh benda itu, membuka tangannya seperti mau mengambil sesuatu, lalu setelahnya dia disuruh menunggu. Tapi tak ada satupun benda ghaib itu bergerak.


Ayahnya lalu membaca mantra, setelah mantra dibacakan, dia mengusap tangan anaknya.


“Niatkan pada hatimu, untuk meminta mereka menerimamu sebagai tuan baru, aku sudah membacakan mantra pengasihan agar tanganmu disukai oleh mereka, mantra ini hanya bertahan beberapa hari, jika mantranya telah hilang, kau harus mempertahankan benda ghaib itu tetap ingin bersamamu.”


“Baiklah.” Mulyana menutup matanya agar dia bisa menguatakan hati untuk bisa diterima.


Setelah beberapa saat akhirnya ada sebuah keris yang sangat mini langsung melesat dan hinggap di tangan Mulyana.


“Dapat! Kau dapat!” Aep senang.


“Kenapa wajahmu begitu?” Drabya melihat anaknya memiliki ekspresi yang aneh, seperti tidak suka dengan senjata ghaib itu.


“Kok yang ini? ini kan keris yang kecil, aku mau keris yang besar itu, atau pedang yang itu, atau panahan, tombak juga tak apa, tapi kenapa malah dapat keris mini gini sih!” Mulyana kesal karena dia tak bisa mendapatkan senjata ghaib yang besar, malah dapat keris yang sangat mini ini.


“Jangan karena ukurannya kau bersedih, malah kau harusnya bangga, karena ini keris turun temurun milik Abah Wangsa, kau tahu, semua benda ini adalah benda yang aku dapatkan dari bertarung, sedang yang ini, keris mini ini adalah benda warisan, harusnya yang paling sulit untuk didapatkan, kau mendapatkannya dengan mudah, itu bagus.” Drabya terkejut karena Mulyana mendapatkan langsung keris warisan itu. Abah melihatnya dari jauh, dia semakin yakin kalau Mulyana memanglah pilihan tepat, selain dia juga sudah mendapatkan penglihatan.


“Benarkah?”


“Kau tidak percaya padaku?” Drabya kesal anaknya mengira dia hanya memuji kosong belaka.


“Sekarang kau akan bertarung menggunakan keris itu dengan binatang ghaib, tenang saja, ilmu bela diri bagi Kharisma Jagat adalah naluri alami, maka yang harus kau latih adalah, keberanian.”


Tiba-tiba muncul seekor singa yang sangat gagah, singa itu adalah taklukan Drabya dari daerah ayng cukup terkenal kleniknya, singat itu adalah jin yang dibuang tuannya karena sangat liar dan sulit ditaklukkan, tapi mudah bagi Drabya yang menguasai mantra pengasihan.


Mereka semua menjauh, kecuali Mulyana, dia harus menghadapi singa itu, tubuhnya gemetar, dalam hatinya, dia tak percaya kalau keris sekecil ini, mampu mengalahkan singa sebesar itu.

__ADS_1


__ADS_2