
“Pak, bukankah sudah kujelaskan sebelumnya, bahwa aku melihat hantu Suminah, dia datang padaku dengan wujud mengerikan! Berapa kali mesti kubilang, kalau Suminah sendiri yang memberitahuku kalau dirinya dikubur di sana.” Untuk kesekian kalinya Deden berkata. Ada yang percaya ada yang tidak.
“Saya bukan orang yang tidak percaya, tapi apakah anda tidak heran, dari sekian banyak orang yang menjadi saksi, kenapa hanya kamu yang diberi penglihatan oleh Suminah? Kau tahu dari Suminah, atau itu hanya karanganmu saja? Karena kau sebenarnya memang tahu mayat dia ada di mana?” Sebagai seorang Polisi Dirga tidak bisa percaya saja omongan pria itu, walau selama ini klenik adalah sesuatu yang biasa dia hadapi bersama Mulyana. Tapi perlu untuk tetap memegang teguh janjinya sebagai seorang aparat adalah berdiri secara netral. Jadi tidak asal percaya bahwa apa yang dikatakan Deden sesuatu kebenaran.
Memang sulit membuktikan sesuatu yang beerhubungan dengan hal ghaib, karena hanya dia yang melihat, maka kesaksiannya dianggap tidak sah secara hukum. Indonesia memang negeri yang amat menjunjung tinggi mitos dan adat istiadat, tapi kalau hubungannya dengan kriminal, tidak bisa asal percaya.
“Pak, saya benar-benar tahu soal keberadaan mayat Suminah karena ditunjukkan sendiri oleh Suminah.”
“Kalau begitu, jelaskan padaku, apa asumsimu hingga Suminah mendatangimu, bukan orang tuanya atau bahkan kekasihnya.” Dirga masih mencoba mengorek informasi.
“Saya tidak tahu kenapa, gimana kalau bapak tanya sendiri pada Suminah!” Deden kesal.
“Itu bisa saya atur, tapi bagaimana jika Suminah bilang kau yang membunuhnya!” Dirga membentak balik.
“Tidak mungkin karena saya bukan pembunuhnya!” Deden berkata dengan wajah serius.
“Kalau bukan kau pembunuhnya, kenapa dia mendatangimu? Bukankah hantu hanya mendatangi orang yang membunuhnya atau orang yang dia sayang, dimana tepatnya posisimu?”
“Aku bukan orang yang dia sayang, bukan juga orang yang membunuhnya, tapi ... tapi ... aku orang yang terakhir melihatnya.” Deden akhirnya mengakui itu di depan Dirga.
“Jadi, kau bohong ketika pertama kali memberi kesaksian pada Polisi, kau bilang tidak bertemu dengannya tapi kau melihat plat mobil? Itu semua bohong?” Dirga merasa Deden masuk perangkapnya.
“Ya, aku berbohong karena aku tidak ingin direpotkan dengan menjadi saksi dari hilangnya Suminah, aku hanya takut Pak, mungkin karena itu dia menghantuiku.” Deden memberikan pembelaan.
“Hanya karena itu? kenapa dia tak menghantui pembunuhnya saja?”
“Saya tidak tahu Pak!”
“Ada rumor di kampung anda, bahwa anda menyukai Suminah sejak lama, tapi anda ditolak, apakah itu benar?”
“Lalu kalau saya suka dia, saya bunuh dia! seharusnay saya paling tidak akan dicurigai kan Pak? karena saa mencintai dia?”
“Ya, tapi bukankah penolakan bisa menjad ialasan seseorang untuk meleyapkan nyawa orang lain?” Dirga mulai menuduh.
__ADS_1
“Pak, saya tidak tahu harus bicara apalagi untuk meyakinkan anda bahwa saya tidak membunuhnya Pak, tahu gitu, mening saya diam dan pura-pura tidak tahu keberadaan mayat itu, saya sudah membantu kepolisian untuk menemukan mayat Suminah, tapi saya malah diperlakukan tidak adail Pak!” Deden kesal.
“Baiklah, saya sementara akan menahan anda dikarenakan kesaksian anda tidak memiliki saksi sebagai pembela, saya akan memastikan anda mendapatkan keadilan, baik itu anda mengakui atau tidak, karena kesaksian anda melihat hantu Suminah tidak bisa dipertanggung jawabkan di mata hukum, maka hukum takkan mengakui kesaksian anda sebagai sesuatu yang sah. Nyatanya anda tahu keberadaan mayat itu dan itu bisa memberatkan posisi anda saat ini.
Saya menahan anda sementara waktu hanya sampai saya menemukan bukti bahwa anda tidak bersalah, saya sedang membantu anda!”
“Bantuan macam apa yang tidak dipercayai seperti ini sampai dipenjara!” Deden kecewa, sedari awal sikapnya benar pura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada Suminah, karena takut, kemarin dia akhirnya memberitahu di mana mayat Suminah.
Deden akhirnya dipenjara.
...
“Yan, ini sumurnya. Gimana? elu liat sesuatu nggak?” Dirga membawa Mulyana, dia tidak berbohong bahwa dia ingin membantu Deden untuk mendapatkan bukti bahwa dia tidak bersalah, kalau memang benar Deden melihat hantu Suminah, dia pasti bisa berkomunikasi dengan Mulyana.
“Hmm, nggak ada aura gelap sekalipun Ga, bersih, nggak ada apa-apa di sini.” Mulyana memang tidak melihat apapun di sini.
“Tapi katanya memang saat malam itu Deden pingsan dan paginya ditemukan oleh warga di sumur ini padahal mereka terakhir berlarian dari pos ronda yang jaraknya cukup jauh. Beberapa orang bersaksi mencium wangi Suminah yang berhembus dengan kencang. Malam menjadi dingin dan sangat mencekam, semua orang lari dan Deden berada di paling belakang, tidaka ada yang melihat Deden setelahnya sampai pagi itu dia ditemukan.”
Jadi fenomena itu bisa saja bukan karena hal ghaib. Bisa saja dijelaskan secara ilmiah. Aku percaya dengan mata kepalaku sendiri Ga, aku tidak melihat dan merasakan adanya energi gelap di sini.” Mulyana ternyata dimintai bantuan oleh Dirga untuk memastikan bahwa kesaksian Deden melihat hantu Suminah itu benar. Bahkan Dirga berharap, Mulyana bisa meminta informasi dari Suminah sendiri, tapi di sini malah tidak bisa merasakan energi Suminah sekalipun.
“Kau yakin, Yan?”
“Ya, aku yakin pada kemampuanku.”
“Tapi orang sekitar bilang bahwa sumur ini mulai aneh, ada waktu tertentu sumur ini berbau anyir dan berwarna merah.”
“Ga, itu bisa jadi karena air ini memang masih tercemari oleh mayat itu, kau tahu kan, tubuh kita itu penuh dengan darah, siapa juga yang mampu menguras sumur ini? sumur ini masih tercemari makanya begitu. Tapi karena kau bersikeras, aku akan tetap mencatat kasus ini sebagai kasus tundaku, aku tidak bisa menanganinya sekarang karena beberapa kasus yang jauh lebih mengancam jiwa. Semoga jika kasusku selesai lebih awal, aku bisa segera menangani kasus ini lebih dalam.” Mulyana berjanji dan Dirga melihat Mulyana mencatat kasus ini dibuku kasusnya, kelak Hartino dan Lais yang mengkaji ulang kasus ini, karena tidak pernah Mulyana jamah lagi akibat begitu banyaknya kasus yang dia hadapi saat ini.
Dirga dan Mulyana berpisah, karena Dirga mendapat informasi dari anak buahnya bahwa Dokter Forensik ingin bicara soal beberapa hal mengenai mayat Suminah.
Dirga buru-buru menemui Dokter itu.
“Ada apa Dok, apakah ada informasi lain yang anda ingin berikan?”
__ADS_1
“Ya, aku menemukan hal baru dari mayat Suminah ketika mengulang pemeriksaan secara general sebagai penutupan, ada luka aneh di tangan Suminah, aku pikir awalnya luka akibat mutilasi, tapi setelah aku cek ulang, ternyata itu bukan luka sayatan, tak ada satupun pisau yang cocok denga luka itu. Ini salahku karena terlalu cepat menyimpulkan luka kecil itu.
Begitu banyak luka besar di tubuh Suminah, sehingga membuat fokusku teralihkan pada luka-luka besar itu dan mengabaikan luka kecil ini.”
“Dok bisa kasih tahu saya kesimpulannya aja nggak, biar saya paham.”
“Jadi itu kemungkinan luka cakar, bukan luka sayat yang selama ini aku kira, karena tidak ada pisau sekecil itu untuk menyayatnya, aku sudah menggunakan semua metode serangan, seperti yang aku lakukan ada semua luka yang ada di tubuh Suminah, semua sayatan itu memiliki patern yang bisa dijelaskan dengan barang bukti, pisaunya ada, pola lukanya bisa diperagakan, tapi di tangan ini jelas luka cakaran, artinya ....”
“Kau menemukan sidik jari pelaku!” Dirga merasa sangat bersemangat.
“Beruntungnya iya, saya menemukan sidik jarinya, seperti yang kau tahu bahwa kita mengambil semua sidik jari saksi yang kau panggil kemarin, maka aku menemukan sisa serpihan kuku yang masih ada di luka cakaran itu, sisa kuku itu milik ... saksi bernama Deden.”
Dirga lemas, ternyata benar, Deden berbohong soal melihat Suminah, pantas Mulyana tidak pernah melihat energi Suminah, Deden hanya sedang membela diri, dia mencoba membodohi Polisi, dia sedang ingin membuat kekasih Suminah yaitu Nicko untuk menjadi tersangka, makanya dia membuat plot seperti ini. Dirga geram karena beraninya Deden membohongi Polisi.
“Pak, apakah ini bisa dijadikan barang bukti?” Dokter itu bertanya.
“Bisa, tapi sulit, karena kita tidak menemukan senjata pembunuhannya, kalau diketemukan senjata itu dan sidik jari Deden ada di sana, maka itu bisa menjadi pukulan telak baginya. Hal ini tetap bisa kita bawa ke pengadilan, bisa memberatkannya, tapi tidak bisa menjebloskannya ke penjara, hanya pengakuannya saja yang bisa membuatnya bersalah.”
“Kau akan tetap memajukan kasus ini sampai ke pengadilan walau kau tahu akan sulit menang?” Dokter itu bertanya.
“Ya, aku ingin Suminah mendapatkan keadilan.”
“Jadi, kau yakin Deden pelakunya?” Dokter itu bertanya lagi.
“Tidak seyakin itu, kita masih punya dua saksi yang belum aku periksa, jika mereka punya alibi yang kuat, bisa jadi memang Deden pelakunya.”
“Baiklah, kalau kau butuh bantuan, kau hubungi aku saja, aku akan terus memeriksa mayat ini sampai keputusan pengadilan keluar dan mayat Suminah harus dikubur, aku takkan berhenti membantumu.” Dokter itu berkata dengan sungguh-sungguh.
“Ya, terima kasih banyak ya Dok, aku benar-benar butuh bukti lebih banyak lagi untuk bisa menjebloskan Deden ke penjara.”
Dirga sudah memegang tersangka di tangannya, dia hanya butuh bukti.
Apakah kalian juga sangat yakin Deden pelakunya?
__ADS_1