
“Baiklah, sekarang sepertinya kita harus turun satu keluarga, seperti mereka yang mencoba mencelakaimu satu keluarga.” Drabya memutuskan akan ikut campur di kasus Mulyana kali ini.
Aep juga bertekad untuk membantu adiknya, walau bukan pertarungan yang akan dia lakukan.
Sedang Abah, sangat bersemangat, karena dia akan bertarung bersama Kharisma Jagat dengan ilmu yang sangat tinggi, dua orang sekaligus.
...
“Tanpa harus aku cari, kau datang ke sini?” Ayahnya Nando sudah bersiap di halaman begitu dia melihat Drabya, Aep, Mulyana dan Wangsa datang ramai-ramai.
“Aku membiarkanmu menyentuh anakku sebelumnya hanya karena kasihan, kau itu sangat malang, pertama kau tidak ingin menjadi seperti ayahmu, makanya kau berpaling dari perguruannya, kedua anakmu dijadikan calon tumbal, tapi tidak berhasil yang akhirnya merenggut nyawa istrimu.
Terakhir, kau masih kehilangan anakmu. Aku yakin, begitu melihat Mulyana, kau pasti merasa memiliki harapan untuk menghidupkan anakmu kembali, kau tidak mampu menjaganya ketika dia masih hidup, itu membuatmu hampir gila, tapi sekarang kau malah ingin merebut anak orang lain! Bukankah itu sangat tidak adil?”
“Adil? Tuhan saja tidak peduli dengan keluargaku, aku yang menentang ayahku mati-matian, akhirnya harus kehilangan anak dan istri, sekarang saat melihat peluang bahwa tubuh anakmu bisa menjadi rumah baru atas jiwa anakku, aku takkan lagi melewatkan kesempatan itu.
Apa yang aku ceritakan pada Mulyana tidak bohong, anakku Nando berjuang sendirian untuk menghadapi kakeknya, tapi setelah dia meninggal dunia bunuh diri, aku melihat mayatnya bahkan tidak disentuh karena mereka semua ketakutan padanya, takut kena sial.
Padahal anakku adalah anak yang jenius dan sangat baik hatinya. Bagaimana mungkin kau menjadi orang yang sangat kejam pada anak remaja itu?” Ayahnya Nando menangis.
“Beruntung kami bukan orang biasa yang pasti akan bisa mengalahkanmu, karena kalau sampai kami hanya orang lemah sepertimu yang tidak bisa melindungi anakmu sendiri, maka aku pasti sudah kehilangan anakku, karena kau akan jadikan rumah baru bagi jiwa anakmu.
Tapi jika pun itu terjadi, apakah kau akan berhasil mengalahkan ayahmu, si dukun tua yang sangat ingin sisa umur cucunya itu?” Drabya mengingatkan kembali, bahwa gagasan menjadikan tubuh anak lain sebagai rumah atas jiwa Nando datang dari kakeknya, maka jika pun tubuh Mulyana berhasil di kuasai oleh jiwa Nando, kemungkinan Nando diburu lagi itu besar, sedang ayahnya Nando bukan orang hebat yang bisa melawan ayahnya yang merupakan dukun tua yang masyur ternama.
“Aku akan lari, aku akan pastikan, begitu kau serahkan tubuh anakmu padaku, aku akan sembunyikan anakku hingga kakek tua itu takkan pernah lagi bisa menjangkau kami.”
“Lalu apa yang berbeda kau lakukan selama ini! kau sudah bertahun-tahun lari darinya, tapi apakah berhasil? Apakah ilmu yang baru saja kau pelajari bisa mengalahkan ayahmu? Itu bedanya kita, aku bahkan bisa mengalahkan ayahmu hanya dalam satu jentikkan jari!”
Ayahnya Nando mendengar itu lalu mulai melakukan kuda-kuda hendak menyerang Drabya, tapi belum juga tangannya menyentuh Drabya, dia sudah jatuh tersungkur karena Drabya menyabetnya dengan keris di bagian wajah, dia kesakitan karena wajahnya sudah luka.
Ayahnya Nando bangkit, merapal mantra dan muncullah angin yang sangat kencang, perlahan dari dalam rumah, keluarlah 1 orang anak yang sangat Mulyana kenal, Nando dengan tubuh ruh yang sangat mengerikan keluar, terlihat matanya memerah, rupanya seorang anak remaja yang mati penasaran bisa berubah menjadi iblis laknat.
Mulyana berlari, mendekati Nando dan menyerangnya dengan tombak yang dia keluarkan sesaat dia berlari, sementara Aep menyiapkan semua peralatan untuk membuat Nando bisa masuk ke dalam botol. Sejauh ini, hanya itu yang Aep bisa lakukan, dia masih belum bisa melihat ruh lagi, setelah kekuatannya seiring waktu menghilang akibat tidak pernah penolakan dan tidak pernah dilatih.
Tapi sayang, saat tombak itu sampai pada dada Nando, Nando tidak bergerak sedikitpun atau kesakitan, aneh, biasanya ruh jahat akan sangat kesakitan, tapi Nando tidak kesakitan, dia memegang tombak itu menariknya dengan keras hingga Mulyana tidak dapat mempertahankan tombak itu.
Tombaknya masih menempel pada dada Nando tanpa dipegang Mulyana, dia menarik keluar tombak itu dari dadanya dan menjadikan tombak itu sebagai senjatanya, Mulyana terkejut, kenapa hal ini bisa terjadi! Mulyana melihat ke arah ayahnya yang masih diserang oleh ayah Nando.
“Kau adalah dia, dia adalah kau, kalian satu energi.” Abah Wangsa mendekati Mulyana yang kebingungan, Drabya tidak memerlukan Wangsa karena ayahnya Nando bukanlah lawan yang patut ditakuti.
“Oh, ya aku lupa, makanya dia bisa pegang senjataku! Kalau begitu, dia takkan terluka jika saja aku serang dengan ilmuku!” Mulyana juga baru sadar akan hal ini.
__ADS_1
“Ingat, tumbukan dan juga energi mungkin tak mempan, tapi ... pasti ada cara, kau harus cari! Sekarang, kau ulur waktu saja sebelum menemukan jalannya, paham?!” Wangsa memberikan Mulyana saran, Mulyana lalu mencoba untuk mengulur waktu.
Ayah dan anak itu terus mengulur waktu, karena Drabya tak mungkin menyerang ayahnya Nando, hanya dalam hitungan menit dia bisa saja menghabisi orang itu, tapi Drabya tak boleh melakukan hal keji seperti itu, larangan yang hukumannya anak tinggi.
Mulyana lalu berlari ke arah Aep, dia menghindari serangan Nando yang membabi buta dengan tombaknya, bagaimana mungkin senjata itu sangat menurut pada Nando dibanding dirinya.
“Jadi kau kehilangan senjata, Panglima!” Aep meledek.
“Raja, aku butuh bantuan.”
“Raja tidak bertarung!” Aep mengingatkan itu.
“Maka Raja harus bantu aku untuk berdiskusi.”
“Apa?”
“Kata Kakek tua itu, peliharaannya ayah, aku harus mencari cara lain selain tumbukkan dan juga ilmu tenaga dalam, karena dia takkan terluka, aku yang akan kelelahan, cari cara lain yang bisa membuatnya kalah.”
“Kalau kekerasan tidak bisa mengalahkan, kau coba cara lain, kebalikannya, kelembutan!” Aep berteriak dan Mulyana tersenyum, dia berlari hendak melawan Nando lagi.
Aep terlihat bangga pada adiknya, karena merasa Mulyana mampu mengatasinya sekarang dan sudah punya ide.
Benar saja dugaan Aep, Mulyana memperlakukan Nando dengan kelembutan, dia mengusap kepala anak itu, kepalanya penuh darah, Mulyana menjadi sedikit jijik saat memegangnya, hal itu membuat Nando semakin murka, melihat Mulyana jijik mengusap kepalanya yang berlumuran darah.
“Aku salah?” Mulyana sudah kembali ke kakaknya, sementara Nando menunggunya untuk bertarung lagi.
“Kau bodoh atau gimana? masa mengelus? Bagian mana yang kau elus dengan wajah jijik begitu?!” Aep bertanya.
“Kepala, kepalanya lengket penuh darah.”
“Kau ini benar-benar bodoh!”
“Aku harus apa Kak? Lembut tuh gimana?” Mulyana tidak paham apa yang harus dia lakukan sekarang.
“Ya, bujuklah Yan! bukannya kau elus-elus, kau pikir dia kucing peliharaan kita yang senang kau elus, maka wajahnya jijik, kau semakin membuat jiwa itu murka.”
“Aku bujuknya gimana? buat puisi gitu? aku kan nggak mahir! Kalau itung-itungan aku baru mahir!” Mulyana sudah mulai kalut.
“Sebentar, sini kubisiki.” Aep membisiki Mulyana dan Mulyana mendengar itu menjadi senang, dia merasa rencana kakaknya akan berhasil.
Mulyana berlari lagi menghampiri Nando dan mulai menyerangnya dengan kelembutan ... “Kau tahu hitungan apa yang paling sulit, Ndo?” Tanpa membalas sabetan tombak dari Nando, Mulyana bertanya, Nando bingung untuk sesaat, dia tak paham maksud lawannya.
__ADS_1
“Kau lupa ya, padahal kau murid yang pintar, itungan paling sulit itu, jika dilakukan sendirian, makanya, yuk kita pulang ke Tuhan, kamu aku anterin, jadi nggak usah sendirian.”
“Astaga Mulyana!” Drabya murka melihat anaknya malah main-main, tadi mengusap kepala, lalu sekarang malah merayu, ini benar-benar sudah di luar batas.
“Aku lagi bujuk dia, Yah.” Mulyana sembari menghindari serangan Nando menjawab rasa kesal ayahnya.
“Kau itu bukan membujuk, tapi kau malah merayu, kau ini sedang bercanda atau apa?!” Drabya yang juga sedang sibuk menghindari serangan ayahnya Nando, jadi kesal, sedang ayahnya Nando terlihat sudah mulai lelah.
“Aku tidak bercanda, aku hanya sedang membujuknya, aku ingat sekali kalau kami berdua sangat amat suka matematika, Yah. Nando ini anak baik, dia dulu suka ngajarin aku, padahal akunya bohong, akunya sebenarnya lebih jago dari dia, tapi aku kan nggak bisa bilang. Walau bagaimanapun, dulu kami ini bersahabat Yah, cuma Nando teman yang kuberitahu soal aku mampu melihat dan mendengar mereka juga, aku percaya pada Nando dan aku berharap Nando juga percaya padaku ....”
Mulyana bingung, kok serangannya berhenti, padahal dia tadi masih menghindari serangan Nando sambil menjelaskan ke ayahnya, ternyata Nando sudah menjatuhkan tombak Mulyana dan jatuh terduduk, perlahan tubuh ruhnya sudah kembali ke bentuk awal di mana Mulyana mengenalnya.
“Kau! jangan! jangan percaya padanya!” Ayahnya Nando hendak menarik anaknya dan mulai membaca mantra kendali jiwa, tapi Drabya buru-buru melempar tali ghaib pada kaki ayahnya Nando hingga kakinya terlilit dan dia terjatuh dengan sangat keras hingga pingsan.
“Ndo, apakah sekarang kau sudah ingat semua yang terjadi?” Mulyana hanya menebak, Nando menatap Mulyana dengan lekat.
“Jadi ... aku sudah tiada ya, Yan?”
“Iya Ndo, kau menyerahkan jiwamu sekaligus membatalkan perjanjian tumbal itu dengan Graksa Bajang, rencanamu berhasil Ndo. Orang yang memfitnahmu sudah kena balasannya, dua perempuan itu sudah kena mantra bala dari kakekmu yang menyetujui syarat tumbal itu.
Mereka tidak sekolah lagi menunggu sembuh dan kita sama-sama tahu, kalau mantra bala itu tak akan mudah sembuh, maka biarkanlah mereka mendapat balasan.
Lalu kakekmu menguncimu di sekolah untuk mendapatkan cara membalik perjanjian yang batal agar bisa dia gunakan lagi, tapi karena kedatanganku ke sekolah, rantai yang kakekmu pasang pada ruh penasaranmu akhirnya lepas, sejak itu kau bangun dan akhirnya mampu bersekolah lagi, lupa bahwa kau sudah tiada, tapi jika waktunya tidur, kau akan tertidur, lalu bangun di saat tertentu untuk sekolah dan hanya ingatan itu saja yang kau miliki, Ndo. Hanya saat aku di sana, di tempatmu meninggal dunia, dirantai lalu akhirnya bebas.”
“Pantas aku selalu tidak bisa menemukan ingatan, pagi hari, sore dan malam hari, aku bahkan tak ingat ibu dan ayahku, aku ....”
“Ndo, ayo kita pulang, aku yang menjemputmu, kau harus pulang pada Tuhan, kau anak baik, Tuhan akan berikan tempat yang sangat indah untukmu, Ndo. Kau bahkan menyelamatkan orang tuamu dan juga menjadi anak baik sebelum meninggal dunia, aku yakin Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, kau akan ditempatkan di sisi-Nya, sisi terbaik.”
“Apa aku pantas?”
“Kau percaya padaku kan? seperti sebelum kau ingat telah meninggal dunia, kau percaya padaku, selalu mengikutiku, walau akhirnya jiwa gelapmu menempel pada Rahman saat tertidur itu.
Tapi kau percaya padaku kan, maka sekarang genggam tanganku, aku akan mengantarmu pulang pada Tuhan.” Mulyana mengulurkan tangannya, Nando terdiam, dia terlihat ragu, melihat ke arah ayahnya yang masih pingsan.
“Bagaimana dengan ayahku?”
“Kami akan membantunya melewati ini semua, aku akan sering mengunjunginya, aku akan pastikan bahwa dia takkan kesepian, aku dan ayahku akan membantumu mengurusnya.”
“Kau janji ya.” Nando terlihat lebih bercahaya, karena sudah tak ada lagi rasa berat dalam dirinya meninggalkan dunia ini.
Nando meraih tangan Mulyana, tapi sesaat tangan itu saling menggenggam, tiba-tiba Nando ditarik menjauh dari Mulyana, seperti ada tangan ghaib yang menariknya dari jauh, Nando berteriak, begitu juga dengan Mulyana, ada kekuatan besar yang menarik tubuh ruh Nando menjauh dari Mulyana.
__ADS_1
Mulyana mencoba mengejar tapi sayang, dia tak bisa.
Kalian pasti sudah bisa menebak siapa yang menarik tubuh ruh itu.