Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 133 : Saba Alkamah 18


__ADS_3

Mayat tukang tenda itu akhirnya di angkat dari halaman rumah keluarganya Alka setelah hujan reda, tenda yang sudah bolong karena petir dan juga tiang yang telah gosong, menjadi saksi, betapa kematian yang sangat mengerikan sekali yang telah dialami oleh tukang tenda itu.


“Kenapa bisa begini Pak?”


Pemilik usaha tenda sudah datang ke rumah keluarga Alka, sementara mayat itu akan dikembalikan ke rumah keluarganya oleh mobil ambulan.


“Saya sudah katakana untuk jangan membereskan tenda saat hujan masih deras, tapi dia tetap bersikeras, walau dia tidak bisa mulai membereskan tenda, tapi dia tetap membereskan bangku plastik itu, kami sudah terus melarangnya, tapi dia yang memaksa.” Ayahnya Alka menjelaskan semuanya.


“Dia memang begitu, tidak suka menunda pekerjaan, tapi apakah tidak aneh, tenda tempat dia terkena itu, masih ada atap dari rumah tuan yang menutupi, tiang itu, tepat berada di ujung kanopi rumah Pak, baru setelah tiang itu, tenda tidak terutup kanopi rumah.”


“Iya memang Pak.” Ayahnya Alka belum mampu menangkap apa yang dimaksud dengan pemilik usaha tenda itu.


“Setahu saya, petir itu arah sambarnya lurus, tidak mungkin dia arah sambarnya menyerong atau miring.”


“Iya sih.”


“Lalu kenapa orang yang ada dibawah tiang itu, yang atapnya masih ada sisa kanopi, bisa tersambar, kanopinya utus, berarti pertirnya menyambar menyerong, seperti ….”


“Seperti apa Pak?” ayah angkatnya Alka bertanya.


“Seperti memang sengaja mengincar tukangku.”


“Ah Pak, tidak begitu, jangan bicara yang tidak-tidak Pak, saya juga berduka, musibah ini terjadi di rumah saya, saya akan bertanggung jawab Pak, saya akan memberikan santunan pada keluarganya sebagai bentuk pertanggung jawaban kami.


Walau sebenarnya ini kecelakaan, tidak ada yang mau hal ini terjadi, tapi tukang itu celaka di rumahku dan sedang melaksanakan pekerjaan di rumah ini, maka keluarganya berhak atas pertanggung jawabanku. Satu lagi, tenda yang bolong itu juga akan aku ganti ya Pak, tiangnya juga sepertinya tidak bisa digunakan lagi karena gosong.”


“Ya Pak, terima kasih sebelumnya, mengenai tenda dan tiang, tidak perlu Pak, kita sama-sama sedang kena musibah.”


“Tapi tidak apa-apa, saya ikhlas mengganti tenda dan tiangnya.”


“Baiklah kalau Bapak memaksa, saya terima kasih sekali ya, semoga musibah ini tidak pernah terjadi lagi pada siapapun.”


“Amin Pak, amin.”


Lalu pengusaha tenda itu pamit pulang setelah diajak makan oleh ayah angkatnya Alka, setelah sepi, hanya tinggal beberapa pelayan rumah saja yang membereskan sisa-sisa piring dan juga gelas, ayah dan ibu angkatnya Alka ke kamar Alka, ternyata Alka tertidur di kamarnya.


“Tidur Pak, kita jangan ganggu.”


“Iya Bu.”


Mereka berdua lalu memutuskan untuk pergi ke kamar dan membicarakan semuanya.


“Pak, Ibu mau cerita.”


“Cerita apa?”


“Soal Alka, tadi Ibu tinggal Alka sebentar untuk beberes, dia juga lagi asik buka kado, tapi tidak lama kemudian, aku mendengar suara teriakan Alka, aku langsung masuk kamarnya dan melihat dia terjatuh di bawah jendela yang terbuka.”


“Astaga! anakku jatuh?”

__ADS_1


“Iya Pak, dia jatuh sembari memegang lehernya.”


“Kenapa leher?”


“Katanya dia melihat lelaki gosong di luar jendela, tangannya tembus dan mencekik lehernya sampai aku datang, lelaki gosong itu sudah tidak ada katanya.”


“Ah itu hanya penglihatan yang bisa jadi bohong, Alka masih anak kecil, dia bisa saja salah lihat.”


“Aku juga ingin berpikir begitu Pak, tapi ….”


“Tapi apa?” tanya ayahnya Alka.


“Tapi aku tidak bisa tidak percaya, karena saat aku masuk, aku mencium bau gosong dari kamar itu, seisi rumah terasa bau gosong, satu lagi, aku melihat leher Alka memerah seperti, sebuah cekikan yang sangat kuat.”bekas


“Bu, mungkin saja kau juga kaget karena melihat tukang yang tersambar petir itu, jadi semua panca inderamu bisa saja jadi trauma dan akhirnya salah lihat dan dengar.”


“Andai aku bisa seyakin itu Pak, tapi aku benar-benar merasakan lelaki gosong itu Pak.”


“Bu, sudah cukup dulu ya, Alka anak baik dan dia pasti bisa menghadapinya, kita juga tetap melindungi dia kan, karena ada masalah yang lebih berat dari itu.”


“Loh, masalah? apa itu Pak?” tanya ibunya.


“Tiang itu, yang tersambar pertir, seharusnya masih terlindungi kanopi, karena tiang itu tepat di bawah kanopi dan tiang itu tersambar, seharusnya petirnya datang dari tepat atas kanopi, tapi , kanopinya baik-baik saja, tidak ada bekas tersambar seperti menghitam, tadi aku sudah lihat sendiri.


Sebenarnya hal ini aku juga baru sadar setelah pengusaha tenda itu memeperhatikan dengan seksama dan melihat ada yang janggal dia tanya padaku.”


“Oh gitu, lalu kenapa itu masalah yang lebih berat?” ibunya bertanya lagi.


“Astaga Pak.”


“Aku takut Bu, kalau akan ada orang yang mulai mencemooh keluarga kita karena ulang tahun Alka menelan korban.”


“Pak, sudah jangan berpikir berlebihan, sekarang yang harus kamu lakukan hanya lindungi Alka Pak, sisanya biar Tuhan yang aturkan.”


“Justru itu Bu, aku takut kalau nanti Alka jadi menderita karena diomongin orang.”


“Sudah cukup Pak, kau dan aku butuh istirahat ya, jadi tidur lah.”


Orang tua angkat Alka lalu tertidur, setelah mereka tidak lagi berdebat.


Sekitar jam satu malam, Alka terbangun, dia haus dan lapar, memang dari acara tadi Alka tidak terlalu banyak makan dan minum.


“Alka keluar, ternyata rumah sudah gelap, dia melihat ke seliling, tidak ada orang, dia tidak ingin membangunkan siapapun hanya karena urusan haus dan lapar, di dapur pasti ada sisa kue dan Alka bisa makan di sana sambil minum.


Saat sudah sampai dapur, Alka menyalakan lampur dapur, saat lampu menyala, Alka menium bau gosong, sedikit takut, tapi lapar lebih menguasainya.


Alka berjalan pelan ke bagian dalam dapur agar tidak menimbulkan suara berisik, dia mencari sisa makanan di meja makan yang memang berada di dapur itu.


Alka membuka tudung saji berwarna merah itu dengan kedua tangan kecilnya, karena meja makan itu besar sekali, Alka harus naik bangku makan untuk bisa meraih kepala tudung saji dan menarik ke atas agar Alka bisa melihat makanan apa yang dia bisa makan.

__ADS_1


Saat tudung saji terbuka sepenuhnya, Alka berteriak, teriakan yang memekakkan telinga, karena Alka berteriak, tiba-tiba seisi rumah bangun, ayah ibunya langsung berlari dari kamar dan ke dapur, arah suara yang mereka yakin dengar tadi.


“Alka sayang!” Ayahnya berteriak, karena melihat anak balitanya yang paling dia sayang sudah jatuh terlentang di bawah, sementara bangku makannya jatuh tergeletak dengan posisi sandarannya ada di lantai.


“Kenapa Nak? kenapa?” Ayahnya langsung menggendong anak angkat perempuannya itu.


“Tadi … tadi … tadi Alka lihat ada kepala gosong di atas piring di dalam tudung saji Ayah!” Alka berteriak dan menangis mengatakan itu.


“Alka! coba kamu lihat ke meja makan.” Ayahnya memaksa Alka melihat lagi ke arah yang dia tidak akan pernah mau lihat lagi.


“Tidak mau! tidak mau!” Alka berteriak sembari membenamkan wajahnya di bahu ayah angkat itu. sementara ibunya terus saja mengusap punggung Alka, sebagai bentuk dukungan moril.


“Di meja makan itu ada makanan semua kesukaan Alka, Ayah sama Ibu sudah siapkan kue yang Alka suka, tidak ada kepala gosong itu di sana Nak, jadi lihat lagi ya,” ayahnya membujuk.


Alka luluh karena semua orang mendorong dia untuk berani, akhirnya dia memutuskan untuk berbalik dan melihat ke arah meja makan yang membuat dia jatuh di tadi karena melihat kepala gosong yang terhidang di meja makan.


Tidak ada kepala gosong di atas piring tadi, sekarang ada kue camilan khas desa itu, makanan yang dia suka seperti ayam goreng dan lainnya juga ada.


“Kan udah Ibu bilang, kalau mau kemana-mana, bahkan hanya sekedar ke kamar mandi, Alka harus ibu temani, trus kenapa sekarang kau malah ke dapur sendiri Nak?” tanya ibunya.


“Aku tadi kasihan sama Ibu, sama Ayah dan Mbak, kalian semua pasti capek, aku yang berdiri sambil senyum sana sini aja kelelahan, apalagi kalian. Makanya, aku memutuskan untuk mandiri dengan menyaiapkan apapun yang aku inginkan sendiri. Makanya aku ke dapur sendiri dan melihat itu.


“Ok yaudah, semua tidur lagi ya, maaf ya udah buat kalian semua kaget, Alka juga butuh istirahat.” Ibunya mengambil Alka dari tangan ayahnya dan menggendongnya ke kamar.


Begitu sampai kamarnya Alka terus memeluk ibunya, dia ketakutan, tubuhnya gemetar dan keringat dingin keluar.


“Apa yang kau takuti Nak? aku ada di sini kok.” Ibunya memeluk Alka dengan erat.


“Aku takut dia muncul lagi, makanya aku mau dipeluk ibu. Jangan pergi dari kamar ini ya Bu, walau aku sudah tertidur.” Alka memohon.


“Iya sayangku, aku janji tidak akan tinggalin anak baik dan hebat ibu ini, kamu tidur, kita berdua perlu istirahat Nak.”


“Tapi Bu, aku benar-benar melihat kepala itu, lalu orang di luar jendela itu yang gosong, aku tidak mengada-ngada.”


“Alka cantiknya Ibu, lebih baik kamu tidur ya sekarang, kamu sudah sangat kelelahan itu sayang.”


Ibunya menarik selimut Alka dan menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut itu.


“Makasih ya Bu, udah mau temenin Alka di sini,” Alka berkata.


“Iya Nak, kamu tidur ya, Ibu temani sampai pagi Nak, kamu nggak pernah akan merasa sepi, sendirian atau takut lagi, karena kau punya kami Nak, kami akan lakukan apapun untuk mu, termasuk melindungimu dari apapun.”


Alka sudar tertidur ternyata, ibunya memeluk anak itu dan menyelimuti mereka berdua, dia tidak ingin anaknya ketakutan lagi, dia akan menemani anak ini sampai dia kelak menjadi anak yang hebat.


Itu yang orang tua angkatnya Alka pikirkan.


Tapi mereka tidak tahu, bahwa Alka tidak terlahir untuk bahagia.


 

__ADS_1


 


__ADS_2