
Semenjak Mulyana kembali ke rumah dan meninggalkan tempat kostnya untuk sementara waktu, maka malam-malam yang dia lewati selalu sama, malam yang berat karena pertarungan dengan Hagir, pertarungan ghaib itu tidak pernah sekalipun terlewat dalam waktu 2 minggu belakangan, Mulyana dan Drabya sungguh bertarung dengan sangat gigih.
Ibu dipulangkan ke kampung, keadaan pertarungan ini semakin menggila karena banyak dukun yang sudah dikuasai Drabya melalui perjanjian upeti itu banyak yang membelot karena mengetahui kenyataan bahwa Sabdah Zaid adalah jin yang lebih tua dibanding Abah Wangsa, karena sebelumnya Drabya selalu bilang bahwa dia memiliki jin paling tua dan sulit dikalahkan, termasuk mampu mengalahkan Sabdah Zaid, itu hanya bohong belaka, beberapa kali Sabdah Zaid memporak-porandakan pagar yang dibuat oleh Wangsa dan semua anak buah jin milik Drabya yang dia dapat dari banyak pertarungan lain.
Berita ini terus disebar dengan dilebihkan sehingga menjadi berita yang membuat Drabya terlihat lemah, ditambah sekutu yang seharusnya didapatkan Drabya dari kongsinya dengan ayahnya Wulan batal karena ritual yang dihancurkan Hagir, semakin menambah rumor tentang Drabya yang kalah.
Musuh Drabya kala itu memang sangat banyak, pertama Hagir, para dukun sakit hati yang dia kerjai karena menolak upeti dan juga jangan lupa yang paling kuat adalah para tetua.
Sungguh Drabya takkan mampu jika sendirian, dia masih bisa bertahan hidup hanya karena Mulyana tak pernah absen membantunya dengan semua kekuatan dan ilmu yang dimiliki.
Bisa jadi di antara semua ilmu hitam yang saling serang ini, tetap Mulyana yang selalu bisa punya kemungkinan menang paling tinggi, karena dia memiliki jiwa yang tulus dan hati yang baik, karena prinsipnya, cahaya selalu bisa mengalahkan kegelapan.
Tapi akan sampai kapan mereka berdua mampu mengalahkan serangan dari segala sisi, biarpun semua musuhnya tidak bersatu karena punya kepentingan yang berbeda, tetap saja, serangan membabi buta, perlahan meredupkan cahaya Mulyana, hingga akhirnya Drabya memiliki usulan yang cukup gila.
“Jadikan Sabdah Zaid Karuhunmu.” Drabya berkata dengan keras, Wangsa yang mendengarnya hanya diam saja, diskusi ini memang dibicarakan hanya bertiga saja, dua manusia dan 1 jin.
Sedang Aep di kamarnya, Aep menjadi pesakitan setelah istrinya pergi di bawa orang tuanya, Aep hampir tidak pernah keluar kamar, dia hanya terus merenungi semuanya, kematian anak yang belum dilahirkan, istri yang pergi dan ibu yang selalu ada di sisinya bahkan tidak bisa mendukung karena disembunyikan di desa, desa orang tuanya agar terhindar dari pertarungan ghaib ini. Drabya dan Mulyana juga sengaja tidak membiarkan Aep keluar dari kamar karena itu jauh lebih aman.
Sedang dua orang yang seharusnya mendukung malah sibuk dengan pertarungan, Drabya dan Mulyana. Bukannya mereka tak peduli, tapi kalau mereka behenti bertarung, maka semua keluarga Drabya akan mati.
Maka mereka harus mendahulukan yang paling darurat, nyawa satu keluarga lebih penting dari hati satu orang, tapi yang mereka tak paham, bahwa hati yang kecewa, marah dan dendam, sungguh menjadi hati yang gelap dan kelam, hati yang seperti itu, perlahan menjadi hati yang jahat, hati yang bisa saja membuat kerusakan lebih buruk, jika saja Aep keluar dan dibujuk oleh para musuh, dia akan mudah membelot dan bisa jadi orang yang sangat jahat, maka ….
“Ep, aku ingin bicara, bisakah kita bicara?” Mulyana mencoba untuk membujuk lagi kali ini, karena setelah 2 minggu belakangan, Mulyana selalu membujuk, walau sekarang Aep tak memiliki ilmu dan kekuatan apapun, tapi dia dulu pernah punya, maka seharusnya dia bisa untuk ikut bertarung.
“Aku ingin hidup seperti manusia normal, Yan. Jangan bawa aku ke dalam pertarungan kalian, aku sudah kehilangan ibu, istri dan anakku, kalian ingin aku kehilangan apa lagi?” Dirga bertanya dengan wajah yang lemah dan sendu.
“Kau akan kehilangan kami kalau tidak mau membantu, kami kewalahan karena para Tetua juga mengirim pasukan Kharisma Jagat setiap malam untuk menjebol pagar yang ayah buat, kau tahu kan, semua Kharisma Jagat punya pola yang sama dalam membuat pagar ghaib, sehingga mudah membuat pagar ayah hancur dalam hitungan hari setelah dibuat ulang.”
__ADS_1
“Aku bisa apa? aku hanya orang yang lemah Yan.”
“Kau adalah keturunan Kharisma Jagat, kau itu orang yang hebat sebelum semua kekalutan ini kau lalui, bahkan sebelum aku lahir, abah juga sudah mengincarmu, maka kau bukan orang biasa, Ep. Aku mohon, bantulah kami, berlatihlah kembali.”
“Tidak, aku tidak akan melakukan itu lagi, sudah cukup, kalau mau mati, ayo kita mati bareng lagi.”
“Ep, aku punya seseorang yang aku cintai, aku ingin menikah dengan wanita itu.” Mulyana tiba-tiba berkata hal yang mengejutkan.
“Kau nikahilah, tinggalkan rumah ini, kabur dari keluarga ini.”
“Dia manusia biasa Ep. Bukan Kharisma Jagat.” Mulyana ragu mengatakannya.
“Bagaimana bisa seorang Mulyana yang berpegang teguh pada jodoh adat harus mencintai wanita biasa.” Aep tertawa dan sedikit kasihan.
“Ep, aku ingin menikah dengannya, aku ingin bersama dia, memiliki anak-anak yang baik dan cerdas. Aku ingin membangun rumah tangga yang tenang.”
“Maka kau tak bisa berada di keluarga ini.”
Aku ingin jalan pikiran anak-anak yang dilahirkan kelak, akan menjadi anak yang selalu memilih jalan lain jika dihadapkan pada pilihan antara uang dan keluarga.
Aku butuh kau untuk mewujudkannya, Ep. Kau tahu kan, aku tak mudah jatuh cinta dan wanita ini, tidak bisa membuatku berpaling lagi, aku harus bersamanya Ep. Aku menahan rasa cintaku pada perempuan ini, tapi tidak bisa, karena ternyata, dia perempuan baik yang tulus, tidak pernah memandang status sosial, dia perempuan yang berbakat membuat kue basah, kue buatannya enak, aku sering diberikan olehnya, tentu tak ada pelet di dalam kue-kue itu, kau tahu aku hebat dalam memilahnya.
Tapi dari kue-kue yang diberikan, aku melihat energi yang sungguh kuat, ketulusan dan cinta yang besar.
Ep ... aku mohon, bantu aku, adikmu ini agar tetap bisa hidup dan mewujudkan mimpinya, kalau kau ingin mati karena tak punya mimpi, bisakah kau hidup untuk mewujudkan mimpiku?” Mulyana menangis saat mengatakan itu, karena apa yang dirasakannya sungguh sesuatu yang benar, dia tidak bisa lagi membendung rasa cinta yang dia tahan untuk wanita biasa itu.
“Yan, aku akan mulai berlatih, tapi jangan terlalu berharap ya, karena bisa jadi aku takkan banyak membantu, aku akan berlatih di gudang ghaib ayah, aku akan mulai mengumpulkan lagi kekuatan yang pernah aku miliki dulu, mengingat-ingat ilmu yang pernah aku dapatkan.”
__ADS_1
Mulyana tersenyum dan pamit, karena sebentar lagi malam, dia dan ayahnya harus memulai lagi pertarungan, tapi sebelum keluar, Aep memanggil Mulyana dan berkata ... “Janji padaku, kau akan hidup bahagia setelah ini ya, kau harus hidup sangat lama, karena aku melakukan ini untuk mimpimu, kalau kau sampai terluka, aku berjanji akan membencimu!”
“Aku janji kakakku yang baik.” Mulyana lalu benar-benar keluar dari kamar itu.
Tentu mereka berdua tak pernah tahu bahwa, kelak, Mulyana akan bahagia, dia benar menepati janji hidup bahagia, tapi tidak dengan hidup sangat lama karena umur yang panjang tidak ditakdirkan untuk Mulyana.
...
Pertarungan terus berlanjut, hari berganti, minggu juga berlalu, sudah satu bulan penuh Drabya dan Mulyana bertarung, sementara Aep masih terus berlatih dengan tubuh lemahnya, lalu datanglah beritu itu.
“Aku sudah tidak memiliki cukup pasukan lagi.” Drabya berkata pada Mulyana, wajah Drabya sangatlah pucat dan kurus kering.
“Aku tahu, jinmu sudah mengabdi pada penakluk baru. Sisanya, yang setia padamu, itu juga tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan.
“Aku yakin dalam waktu dekat, Hagir pasti melepas Sabdah Zaid, jin besar itu untuk menghancurkan pertahanan terakhir kita, maka kau harus melakukannya, jadikan dia Karuhunmu.” Drabya berkata empat mata dengan Mulyana.
“Kita sudah pernah membicarakan hal ini, aku sudah mempelajari mantra penundukan, aku akan melakukannya jika jin itu datang, aku ....” Sebelum Mulyana mengatakan hal yang ingin dia katakan, tiba-tiba bumi berguncang, rumah itu terasa bergoyang, ini belum malam, masih senja! Tapi terasa sekali bahwa rumah itu lagi-lagi diserang.
“Mereka mengirim para penyerang sesore ini, ada apa ini Yan?” Drabya kalut, kepongahan sebagai Kharisma Jagat tak terkalahkan, hilang sudah dari jiwanya, tersisa hanya ketakutan akan kematian yang terasa semakin dekat.
Mulyana melihat ke arah luar, astaga! Mulyana melihat langit tiba-tiba gelap, awan menjadi kelabu, sekeliling rumahnya telah dipenuhi begitu banyak makhluk mengerikan, dengan berbagai bentuk yang sangat tak indah dipandang, mereka menatap rumah milik Drabya dengan tatapan benci, sudah tak terhitung lagi, ada pocong, kuntilanak, jin anak kecil, genderuwo, makhluk setengah bentuk manusia setengah binatang, menyerupai binatang utuh, bahkan ada begitu banyak bola api yang siap menyerang.
“Ayah, kita harus memanggil Aep keluar untuk membantu.” Mulyana berlari ke dalam, karena dia sudah tahu, walau mereka bukan jin dengan ilmu tinggi, tapi melawan sebanyak itu, mereka butuh bantuan.
“Aep belum siap, dia masih lemah, dia baru berlatih beberapa hari saja!” Drabya menolak, takut kalau Aep akan menjadi korban.
“Aku sudah di sini, aku akan berusaha membantu kalian, aku akan coba menahan serangan, sementara kalian bisa menyerang.” Aep tiba-tiba keluar dari dalam rumah, dia baru selesai berlatih.
__ADS_1
“Ep, terima kasih!” Drabya berkata dengan sedih.
“Aku harap dari sini ayah paham, kalau uang dari upeti itu bahkan tak bisa menolong kita saat ini kan?” Mulyana mengatakan hal menyakitkan untuk terakhir kalinya, dia benar bahwa uang tak penah mampu menjadi penolong yang sempurna.