
Alka melesat dan mencoba untuk menyabet Wak Eman dengan cambuknya, Wak Eman berhasil menghindar dan menarik ujung cambuk itu, hingga membuat Alka ikut ketarik ke arah Wak Eman, Alka menahan cambuk itu, tapi sayang, terlalu kencang hingga akhirnya Alka jatuh dan cambuknya terlepas.
Ganding dan Hartino langsung mengeroyok lelaki tua itu, mereka menggunakan sejata pusaka masing-masing, tapi tak ada yang kena Wak Eman sungguh sangat hebat, mampu menghalau semua serangan kawanan dan menyerang balik.
Kawanan terus menyerang, tapi Wak Eman tak pernah kalah, malah kawanan selalu dipukul mundur.
Karena kesal, Aditia akhirnya membaca mantra dan ketiak dia membaca mantranya, Wak Eman lalu turun dari tubuh melayangnya dan dia berdiri tegak, melihat ke arah Aditia dan ....
“Astaga!” Aditia terkejut, sangat amat terkejut, hingga dia akhirnya mengerti semua ini, kenapa ayahya dulu membangun tempat ini seperti labirin yang membuat manusia menyebrang.
“Kalian anak muda yang sangat payah.” Wak Eman setelah mengatakan itu langsung mendekati kawanan, dia tahu kalua dirinya pasti menang.
Wak Eman mendekat dan semakin lama, tubuh itu berganti wujud, bukan lagi menjadi Wak Eman, tapi menjadi wujud yang lain.
Kalian mungkin berpikir ini adalah Sabdah Zaid, jangan lupa, khodam itu memilih orang yang kuat untuk dijadikan tuan, mana mungkin Sabdah Zaid memilih Eman sebagai tuan, karena dia orang yang lemah, tidak paham dunia ghaib dan pasti ada sebab, kenapa akhirnya Sabdah Zaid memilih Paman Aep, salah satunya, karena jin itu tahu, Paman Aep orang yang kuat dan bijaksana.
“PAMAN!!!” Aditia berteriak dengan sangat kencang, dia berlari dan memeluk satu-satunya keluarga dari ayah yang dia kenal, walau samar mengenal wajah itu, karena dia hanya bertemu beberapa kali saat dua berumur 5 tahun, tapi suara dan cara bicaranya, sangat amat mirip dengan ayahnya.
Bukankah kalian tahu? bahwa terkadang suara kalian sangat mirip dengan saudara kandung?
“Bukankah Paman telah meninggal dunia? Kata Wak Eman ....”
“Kau menerima kabar itu tidak bertanya di mana kuburanku? Kapan aku meninggal dan atas sebab apa aku meninggal dunia? Kalian percaya saja kalau aku meninggal dunia?” Paman Aep bukannya menjawab malah bertanya balik, kawanan jadi malu, “satu lagi, kau tidak curiga saat sahabatku bilang ingin ikut dan dia menghilang tiba-tiba lalu muncul dihadapanmu?” Paman bertanya pada Alka.
“Sedikit, tapi saat itu pikiranku hanya tertuju pada kawanan, jadi aku tidak terlalu peduli.”
“Itulah salahnya kawanan, selalu saja berpikir secara luas, kurang detail, kalian itu seharusnya banyak pertanyaan, kenapa kalian percaya saja pada Eman tanpa mengkonfirmasi apapun, benar-benar didikan Mulyana. Selalu saja adikku itu percaya orang lain dengan cepat, sama seperti kalian.”
“Paman, kau sudah menipu kami tapi masih marah saja!” Aditia merajuk, dia persis seperti anak kecil di hadapan pamannya, pelukan barusan mengingatkan pelukan ayahnya, mengingat mereka kakak beradik, terasa sekali kemiripannya.
“Jangan kamu seperti dulu, kau sudah cukup dewasa untuk merengek, aku tidak menipu kalian, aku menunggu kalian mendatangi makamku, tapi nyatanya, bertanya saja tidak, aku dan Eman hampir setiap malam berdiskusi tentang kalian, tapi tetap saja kalian tidak paham petunjuknya.”
“Reuninya bisa udahan nggak? jangan lupa kita di zona gelap ini.” Alisha yang telah memiliki Rangda di dalam tubuhnya menjadi wanita yang cukup galak.
“Tenang nona muda, kita bisa reuni sebentar sebelum masuk kasus, aku memanggil kalian ke sini, memang untuk membantuku menyelesaikan kasus ini.”
“Jadi, apa yang terjadi dengan sawahmu, Paman? Kenapa sawah ini menjadi tempat angker yang menelan korban.”
“Zona gelap ini buatan aku dan ayahmu, kami membuat ini untuk ....”
...
KETIKA ITU
“Aku akan membuka mata batinmu, setelah itu aku hanya ingin kau untuk membantuku melihat mereka, bantu aku untuk memastikan penglihatanku tidaklah salah, karena aku akhir-akhir ini memiliki penglihatan tentang anak dan istriku yang datang ke sini, aku takut, mereka mencoba untuk mengelabuiku, makanya aku butuh kamu, aku yakin sekali kalau mereka pasti akan menggunakan orang yang paling aku sayang untuk melemahkanku dan merebut kembali Sabdah Zaid.”
“Ep, maaf, tapi bukankah anakmu sudah meninggal sebelum sempat dilahirkan?” Eman bertanya.
__ADS_1
“Betul sekali, tapi dalam penglihatanku itu, istriku datang dengan membawa anak kami, anak itu sangat mirip denganku, aku bahkan merasakannya, aku benar-benar merasakan bahwa anak itu adalah anakku, makanya aku yakin, mereka telah berhasil menggendamku.”
“Oh begitu, baiklah, tapi apa yang bisa aku lakukan dengan tubuh yang lemah ini, Ep?” Eman bertanya.
“Kau bisa membantuku dengan ... memalsukan kematianku.”
“Hah? kau gila atau gimana? maksudnya memalsukan kematianmu itu apa?”
“Aku ingin mereka melepasku, Man. Aku lelah, tidak ingin bertarung, tapi sebelum itu, kita harus habisi dulu orang yang berhasil menggendamku, karena dia sudah membuatku melihat istri dan anakku, lalu, kita harus menemukan perempuan yang menyebar rumor tentang istrimu dan aku. Setelah itu, kau harus membantuku memalsukan kematian.
“Kenapa tidak kau minta adikmu untuk membantumu?” Eman bertanya.
“Karena ... dia juga tidak boleh tahu, setelah kita menghabisi mereka semua, Mulyana akan pulang dan kau harus kabari kematianku. Tidak boleh ada satu pun orang di dunia yang tahu, kalau aku masih hidup setelahnya, termasuk Mulyana, karena begitu dia tahu, kemungkinan akan bocor, karena siapapun musuh kami pasti mengintai kami dari orang terdekat.”
“Ep, kasihan sekali sahabatku ini, tapi kalau ini bisa membuatmu tenang, ayo kita lakukan. Tapi pertanyaanku, kau membuka mata batinku untuk apa?” Eman baru teringat akan hal itu.
“Kita hubungi adikku dulu, aku perlu membangun zona gelap untuk mengubur para brengsek itu di suatu tempat yang aman. Mata batinmu perlu dibuka karena aku butuh banyak mata untuk membantuku melihat ke segala arah nantinya.”
“Baiklah, aku tidak paham, pokoknya aku akan melakukan yang kau suruh saja.”
Mungkin kalian akan teringat Pak Dirga ketika melihat Wak Eman, sahabat tanpa pamrih, seringkali sahabat datang di saat kita pikir, semua orang jahat dan berusaha menjatuhkan kita, sahabat-sahabat itu seperti malaikat yang Tuhan kasih, untuk menjadi oase di padang pasir yang luas bernama bumi ini. Padang pasir karena bumi ini begitu panas jika soal uang.
Mulyana datang setelah dihubungi Aep melalui telepon.
“Jadi, kau benar akan melawan mereka dengan serius?” Mulyana bertanya pada kakaknya.
“Aku akan membuat mereka merasakan yang aku rasakan, mengulang terus kejadian, terus mengulang dan tak bisa keluar dari sana.”
“Ya, aku akan membuat zona gelap untuk mengurung mereka.”
“Di sawahmu?”
“Tentu saja, di mana lagi?”
“Tapi ... akan sangat berbahaya kalau ada yang tiba-tiba menyebrang masuk ke zona gelap kita dari dunia manusia.” Mulyana mengingatkan.
“Kita pastikan, zona gelap tak berlubang, agar hanya mereka yang kita masukkan ke sanalah yang akan berada di tempat itu.”
“Baiklah, kau punya Sabdah Zaid, aku punya Abah Wangsa, mari kita buat zona gelap itu.”
“Malam ini , Kita harus jalani rencananya malam ini.” Aep berkata dengan yakin.
“Aku akan siapkan ritualnya, Eman ikut?”
“Dia akan bantu aku melihat, kita akan mulai memasukkan para dukun itu ke dalam zona gelap, Eman akan membantuku meliharnya.”
“Baiklah, tapi Man, kau tahu kan, kalau wujud mereka itu mengerikan?” Mulyana meledek, Eman hanya menelan ludah.
__ADS_1
“Kau akan terbiasa begitu sering melihatnya.”
“Aku mau membantumu Ep, tapi nggak sering lihat juga lah, itu mah kau bunuh aku perlahan.”
“Tenang saja kawan, aku takkan meninggalkanmu.” Aep sangat romantis pada sahabatnya itu.
Malam tiba, Aep, Eman dan Mulyana sudah menutup akses masuk jalan persawahan itu, biasanya ada beberap kendaraan lewat, tapi Mulyana telah menutup tempat itu hingga tak terlihat oleh siapa pun yang hendak masuk, mereka perlu tempat sepi untuk mengadakan ritual.
Mulyana menggelar kain kafan hitam, kain itu menjadi alas untuk keris mininya, bunga tujuh rupa yang ada di dalam sebuah mangkuk emas berisi air, ayam hitam, bisa ular dan terakhir, tanah kuburan yang diambil dari 7 tempat berbeda. Semuanya di taruh di atas kain hitam itu, Mulyana mulai membaca mantra, saat dia membaca mantra itu, terdengar angin bergemuruh dari segala arah.
“Man, bantu aku lihat mereka, mereka sedang menyerang Mulyana, aku cuma punya dua mata yang akan aku tutup, karena setelah ini Sabdahlah yang akan mengusai tubuhku, ini akan berat Man, karena selama ini aku mengurungnya dalam tubuh, dia mungkin ingin bertarung dan menghabisi siapapun, aku akan mengendalikannya dengan jiwaku, aku butuh fokus dan menutup mata, makanya kau harus membantuku melihat mereka dari segala arah lalu berteriaklah, aku akan memerintah Sabdah untuk memasukkan mereka ke dalam zona gelap begitu Mulyana selesai, bantu aku melihat mereka.”
“Wah, tugas ini berat sekali, tapi aku akan lakukan.”
“Yang terpenting adalah, jangan keluar dari lingkaran ini, tetap berdiri di lingkaran ini dan berteriaklah arah yang kau inginkan Sabdah untuk menangkap mereka.”
“Baiklah.”
Angin bergemuruh mendekat, Ae menutup mata, dia lalu mengeluarkan Sabdah sambil tetap terpejam, Abah terlihat membaut lingkaran perlindungan untuk Mulyana, karena Mulyana perlu membuat zona gelap itu disepanjang jalan ini.
Mereka bermunculan, dengan jumlah yang sangat banyak.
“Kananmu Ep, banyak sekali!” Eman mulai berteriak.
Aep dalam keadaan terpejam, lalu melayang, dia memerintahkan Sabdah dengan hanya komunikasi batin, matanya terpejam, tapi bersinar, sungguh Eman takjub melihat dua kakak beradik itu bekerja sama di sini.
“Kirimu! Depan awas! Belakang!” Eman terus menjadi mata dari Aep, sementar Aep terus konsentrasi berusaha mengendalikan Sabdah agar tidak salah serang dan tidak bisa ditarik kembali.
Sementar Mulyana berhasil sejengkal demi sejengkal membuat zona gelap itu.
Aep mulai kewalahan, karena mereka semakin banyak, serangan ghaib semakin banyak, jin-jin perusur itu terus menyerang Aep, Eman berusaha tetap sigap, karena dia tak ingin Aep celaka karena dia terlambat memberitahu, tapi ... sungguh ini sebuah pekerjaan yang sulit.
“Sudah selesai! Suruh Sabdah mulai menangkap mereka.”Mulyana berteriak, rupanya dia berhasil membuat jalan persawahan ini menjadi zona gelap.
Sabdah yang tadinya hanya melakuan serangan ringan untuk pertahanan agar tuannya tidak terkena serangan, sekarang diperintah Aep untuk menangkap jin-jin itu agar bisa dimasukkan ke dalam zona ghaib.
Satu, Sabdah tangkap, dia lempar ke zona gelap, lalu Mulyana menutup pintu untuk jin itu, dua, tiga, empat, 10, 15, 20. Sudah banyak yang dia masukkan, lalu malam itu hening setelah pertarungan sengit, Mulyana buru-buru menutup pintu zona gelap itu, memastikan tak ada lubang yang bisa membuat jin itu kabur, sekarang dukun-dukun itu tak punya taring, karena semua jin pesuruh telah habis dimasukkan ke dalam zona gelap. Mulyana, Aep dan Eman terduduk setelah memastikan zona gelap itu sudah aman.
“Aku capek.” Eman berkata.
“Kau capek Man? Kakakku mengalami pertarungan ini hampir setiap malam loh.”
“Terserahlah Mul, sekarang aku hanya ingin pulang dan tidur.”
“Baiklah kita pulang dan tidur dulu.” Aep berkata.
"Ngomong-ngomong tempat ini akan menjadi angker Mul? Ep?"
__ADS_1
"Ya enggak lah, sudah kututup rapat." Mulyana dengan percaya diri mengatakannya.
Tapi dua salah.