
“Kenapa kau?” Alka bertanya, hari ini latihan lagi-lagi tidak ditemani Mulyana karena dia harus mengamati Jarni, Ganding dan Alka tidak diajak karena belum waktunya, mereka harus banyak berlatih.
“Kau tidak merasa udara terasa panas sekali akhir-akhir ini?” Ganding menarik-narik bajunya agar ada udara yang masuk.
“Tidak, ini kan musim hujan, ya terasa dingin lah.”
“Serius ini.”
Alka terdiam, sedetik kemudian dia tertawa.
“Kenapa?” Ganding bingung.
“Kemarin kau aku suruh mengeluarkan senjatamu dengan rasa marah kan? ingat?” Alka bertanya.
“Ya, tentu saja aku ingat, orang baru kemarin, memangnya kenapa?”
“Kau ingin tahu kan, seberapa sulitnya senjatamu dikendalikan bukan?”
“Ya, bapak bilang itu, tapi aku bingung, karena tidak paham maksudnya.”
“Oh, jadi anak jenius ini tidak mengerti?” Alka meledek.
“Hei!” Ganding yang kepanasan kesal.
“Tenang, kau sekarang sedang merasakan panas karena senjata itu.”
“Kok bisa Kak?”
‘Ya, kau memasukkan senjata itu ke dalam tubuhmu tanpa melumurinya dengan darah.”
“Hah? menakutkan sekali.”
“Ya memang, tapi bukan sekedar dilumuri ya, bukan dilumuri benar-benar hanya dilumuri, tapi harus memakan korban, kalau tidak, senjata itu akan gusar dan tidak tenang, efeknya tubuhmu akan panas, kau akan cepat marah dan sulit menahan emosi,” Alka menjelaskan.
“Oh begitu, ya aku memang cenderung emosian dan juga merasa kepanasan terus, jadi itu karena senjatanya?”
“Ya, karena senjatanya.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Yak au harus menyediakan korban untuk senjata itu.”
“Apa maksudmu? Kau menyuruhku membunuh agar dia terlumuri darah?”
“Ya, begitulah.”
“Tidak! aku mening kepanasan saja, aku tidak akan membunuh orang.” Ganding berkata dengan serius.
Alka tertawa terbahak-bahak.
“Memang apa yang lucu?”
“Anak jenius ini ternyata baik ya, tidak heran bapak mau membimbingmu.”
“Aku memang baik, tapi apa makna dari perkataanmu Kak?”
“Sebentar ya, aku ambilkan korbanmu.” Alka masuk ke dalam gua melalui pintu belakang lalu keluar lagi membawa sesuatu, dia menyebutnya itu adalah korbannya Ganding.
“Ayam hitam?”
“Ya, ayam hitam, kau bisa memotong lehernya dengan tombak trisulamu, dengan begitu dia akan tenang.”
“Wah begitu ternyata, aku pikir kau akan membawa seseorang atau sesosok jin untuk aku habisi, itu tidak baik soalnya.”
“Nggak kok, nggak sekejam itu.”
“Ngomong-ngomong kenapa warnanya hitam? apakah karena mereka ayam yang biasa digunakan sebagai media?” Ganding bertanya.
“Tidak, aku tidak sengaja saja menemukan warna hitam.”
“Oh, aku kira memang sengaja warna hitam.”
“Tidak semua yang mereka bilang itu, apa kalian para manusia biasa bilang? mitos? tidak semua hal itu benar, kadang hanya dilebih-lebihkan.”
“Kita tidak bisa percaya dengan mudah ya ternyata.” Ganding mengeluh, dia lalu mulai memotong ayam itu dengan sekali tebas, agar tidak kesakitan, hebatnya, ternyata benar kata Alka, dia mulai merasa lebih enakan, tubuhnya tidak lagi merasakan panas dan keadaan hatinya membaik.
…
Berlatih setiap hari membuat Ganding terlihat semakin tertarik dengan dunia ghaib, Alka membimbing Ganding dengan baik.
“Kak, capek,” Ganding mengeluh.
“Baru begitu udah capek, megang senjatanya ajah masih letoy.”
“Kak!” Ganding protes.
“Lah emang bener,” Alka mencemooh.
“Coba Kakak yang pegang.”
“Bercanda kau, kan sudah kubilang senjatamu tidak mudah dikendalikan, bapak saja tidak bisa mengendalikannya, apalagi aku.” Alka kesal sekali dengan ejekan Ganding.
__ADS_1
“Tuh nggak bisa juga kan?”
“Ih, ngeyel kamu.”
“Biarlah ngeyel yang penting pinter.”
“Pinter tapi lemah.”
“Ngaco!”
“Mau bertarung?” Alka menantang.
“Siapa takut?” Ganding hendak mengeluarkan senjatanya.
“Nding, ingat ya, kau sudah mengeluarkan tombak trisula itu dalam keadaan marah saat ini, maka kau harus menusukku kalau mau tenang,” Alka mengingatkan Ganding.
Ganding tidak jadi mengelurkan senjatanya, dia takut kalau harus benar-benar melukai Alka.
“Kenapa ragu? ayo kita berkelahi.” Alka masih terus saja memancing Ganding.
“Tidak usah, aku tidak ingin kau terluka.”
“Sok perhatian, padahal kita bukan saudara jadi nggak usah sok perduli.”
“Memang harus hanya saudara yang bisa perduli, kau baik, bapak baik, kalian mengajarkanku menerima bakatku dan kalian menerimaku apa adanya, hal yang tidak bisa bahkan orang tuaku lakukan, buatku kalian itu lebih keluarga dibanding keluargaku sendiri.”
“Nding, jangan gitu ngomongnya, jijik aku.” Alka lalu masuk ke gua, Ganding menyusulnya, mereka sudah terus berlatih selama beberapa minggu ini, kadang ditemani bapak, kadang tidak, bapak sibuk sekali, dia mengurus kasus dua minggu ini, begitu kasus selesai, dia harus mengurus Jarni.
Alka dan Ganding tidak mau mengeluh, karena tahu bapak terkadang lelah sekali, belum lagi dia punya keluarga, katanya anaknya itu seumuran dengan Ganding, namanya Aditia.
“Kak, aku pamit pulang ya, sudah hampir malam.” Ganding pamit pulang, dia ternyata sudah menghabiskan waktu cukup lama di gua dan hutan ini, setelah dua minggu lebih rasanya gua ini terasa seperti rumah, di sini Ganding bisa menjadi dirinya sendiri, kalau di rumah, dia harus banyak menahan diri. Jatidirinya yang bisa melihat hal ghaib tidak boleh diketahui oleh orang tuanya.
“Ya, hati-hati ya, jangan lupa kau tukar posisi dulu sebelum masuk, jangan sampai ….”
“Orang tuaku melihat aku ada dua.” Ganding meneruskan perkataan Alka.
“Ya, begitu maksudku.”
Lalu Ganding pamit pulang, sementar di tempat lain, Pak Mulyana sudah melatih Jarni untuk bisa menerima ular-ular kecil itu sebagai pelindungnya dan membuat saudari kembarnya pulang ke tempat semestinya.
…
“Pak kenapa kami dikumpulkan mendadak seperti ini di hari libur?” Ganding heran, hari sabtu begini Mulyana menjemputnya untuk ke gua Alka.
“Aku ingin kalian berkenalan dengan seseorang.” Mulyana lalu ke luar lagi setelah tadi sempat masuk hanya untuk memberi info, tadi sehabis menjemput Ganding Mulyana segera pergi lagi tidak lama kemudian kembali dan memberi info itu.
“Ini, kenalkan, namanya Jarni.” Mulyana membawa seorang anak berusia lima tahun, dia terlihat malu-malu dan tidak mau beranjak dari tubuh Mulyana, dia ingin tubuh Mulyana menghalangi wajahnya agar tidak terlihat.
Alka maju, dia berdiri di depan Mulyana dan berkata pada gadis kecil pendiam itu.
“Ka-kau bisa lihat?” Jarni terkejut, tapi dari rautnya dia senang.
“Ya tentu saja, banyak sekali ularmu, ya kan Nding?” Alka meminta dukungan.
“Ya tentu saja kami bisa melihat ular-ular minimu, lucu sekali.” Ganding ikut memuji.
“Kalian tidak takut?” Jarni berkata lagi. Tapi, dia masih ada di belakang tubuh Mulyana.
“Tidak, punyaku lebih menakutkan, kau mau lihat?” tanya Ganding.
“Apa itu sangat menakutkan?” Jarni takut tapi penasaran, dia sedikit menggeser tubuhnya untuk bisa melihat Ganding, saat anak itu terlihat wajahnya dengan sempurna, Ganding terpukau, wajah polo situ cantik sekali.
“Ya, aku juga takut awalnya, tapi setelah kami kenalan, aku tahu, dia baik, dia menjagaku walau tampilannya menakutkan, tapi dia mereka tidak letih melindungimu.”
“Ya, ular-ular ini melindungiku, awalnya aku tidak tahu, tapi mereka ternyata ada terus di kamar, ternyata kata Bapak, mereka melindungiku.”
“Bapak benar kok, bapak tahu segalanya, jadi kita harus percaya padanya, dia akan melakukan yang terbaik untuk kita.”
“Apa? aku tidak mengerti.” Ganding lupa bahwa dia sedang berbicara dengan anak berusia lima tahun, tidak mengerti kata-kata nasihat, Ganding seharusnya menyederhanakan kata-kata yang akan dia ucapkan.
“Iya, maksudku kamu harus dengerin bapak ya.” Ganding menarik tangan Jarni agar dia keluar dari balik tubuh Mulyana, Jarni patuh, dia tidak memberontak saat tangannya dipegang Ganding.
“Disini kita akan dilatih supaya bisa kendalikan … emm apa yang bahasa mudahnya kendalikan? Kamu ngerti nggak kendalikan itu apa?”
“Iya tahu, itu nyuruh-nyuruh ya?” jawab Jarni polos.
“Astaga, iya bisa sih miriplah, maknanya hampir sama.”
“Ya, supaya kita bisa suruh-suruh ularnya.”
“Ya begitu, jadi kita harus berlatih keras, aku saja belum ….”
“Maksudmu seperti ini?” Jarni menunjuk ularnya yang dia suruh untuk melingkar di jarinya, “atau seperti ini?” Jarni lagi-lagi menyuruh ularnya untuk berbaris mengadap dia dengan posisi tegak.
“Ka-kau bisa melakukannya?”
“Ya, tentu saja, bapak sudah melatihku.”
“Hebat, berapa minggu kau dilatih?” Ganding bertanya.
“Hmmm, tiga.”
__ADS_1
“Tiga minggu? ya, aku juga sama, ini minggu ke duaku, semoga minggu ketiga aku juga bisa sepertimu.”
“Bukan tiga minggu, itu lama, satu minggu saja lama. Maksudku, tiga hari, ya kan Pak?” Jarni bertanya tanpa dosa, sementara Ganding mukanya memerah, karena dia terlihat bodoh sekali, padahal di ruangan ini dia adalah yang paling jenius.
“Kalau begitu kau hebat.” Ganding kecewa dirinya tak sehebat Jarni.
“Mana milikmu? aku mau lihat boleh?”
“Yakin?” Ganding bertanya.
“Ya, aku juga kasih liat kamu ular-ularku.”
“Baiklah.” Ganding lalu keluarkan tombak trisula itu dan melemparnya ke lantai, sebelum senjata itu jatuh ke lantai, senjata itu berubah menjadi sesosok yang tinggi besar, Jarni kaget, tubuhnya sampai loncat dan dia berlindung di balik Ganding.
“Kenapa takut? tenang, dia tidak akan mencelakaimu, dia hanya akan melakukan apa yang aku perintahkan.”
“Oh begitu, wah hebat, milikmu ternyata tinggi dan besar, tapi wajahnya benar-benar seram. Ular-ularku terlihat jauh lebih baik.”
“Ya, kan aku sudah bilang, milikku lebih menakutkan.”
“Pak, kenapa?” Alka bertanya. Alka kaget karena Mulyana sempat seperti akan jatuh.
“Tidak apa-apa, hanya lelah.”
“Pak, hati-hati, jangan sampai sakit ya, kita butuh Bapak di sini.”
“Tenang Alka, Bapak tidak akan ke mana-mana, yang penting, sebagai anak sulung dari keluarga kita ini, kau harus menjaga ketiga adikmu ya.
“Tiga?” Alka bingung.
“Iya, Jarni, Ganding dan Aditia, kau harus menjaganya.”
“Oh, Aditia, anaknya Bapak?”
“Iya betul, Aditia anakku.”
“Aku akan ingat kata-kata itu Pak, aku akan menjaga mereka.”
“Kau anak yang pandai dan tulus, kalian berdua harus selalu patuh pada Alka ya, walau kadang tindakannya tidak masuk akal, tetap dukung kakakmu ini, karena dia selalu melakukan apapun dengan pertimbangan yang matang dan paling rendah resikonya, walau kadang tetap timbul korban.” Pak Mulyana tiba-tiba berkata begitu, mereka sedang di gua Alka.
“Iya Pak,” jawab Ganding dan Jarni.
Lalu mereka bertiga keluar dari gua melalui pintu belakang dan berlatih, Mulyana melatih mereka selama beberpa jam, Jarni dan Ganding terlihat senang, baru kali ini mereka bisa berbicara dengan senjata mereka tanpa harus sembunyi-sembunyi dari orang tuanya.
Pak Mulyana izin pulang, dia harus segera pulang karena sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah, Jarni, Ganding dan Alka tetap di gua, mereka bilang akan pulang kalau sudah bosan.
“Kak, aku nggak suka ah, Kakak pilih kasih.” Ganding tiba-tiba protes, mereka sudah di dalam gua, sekedar membaca buku atau istirahat, Jarni bermain dengan ularnya, seperti biasa.
“Kenapa kau? kesambet setan apa? emang bisa setan masuk ke tubuhmu?” Alka menjabab sekenanya saja.
“Nggak! kakak waktu pertama kali ketemu denganku sangat ketus dan angkuh, tapi tadi ketemu Jarni langsung lembut sikapnya, seharusnya kau tidak boleh begitu,” protes Ganding.
“Kau anak umur lima tahun seperti Jarni?”
“Tidak, kami hanya selisih satu tahun,” jawab Ganding.
“Kau anak yang pernah dipukuli orang tua dan meminum obat-obatan penenang itu dalam waktu yang lama dan membuatmu menjadi lemah?”
“Tidak, aku tidak pernah dipukuli, dipaksa minum obat dan perlakuan buruk lainnya oleh orang tuaku.”
“Itu yang Jarni alami, aku tidak mau dia terluka lagi, makanya aku dan kamu harus selalu baik padanya, mengerti?” Alka menekan kata-katanya.
“Astaga, kasihan sekali adik kecil.” Ganding lalu mendekat lagi pada Jarni yang sedang sibuk bermain dengan ular-ularnya.”
“Jarni, boleh aku bertanya?” Ganding berkata.
Jarni mengangguk saja lalu sibuk main ular-ularnya lagi.
“Kau suka di sini?”
Jarni mengangguk lagi.
“Kalau begitu, kita harus saling melindungi ya, gimana? setuju?” Ganding mengacungkan jari kelingkingnya.
Jarni mengangguk senang, dia menggapai kelingking Ganding dengan kelingkingnya, mereka membuat janji, janji yang mungkin akan mereka genggam selamanya.
Jarni tersenyum, memang hanya Ganding yang selalu bisa melindungi Jarni dan membuatnya bahagia, seperti saat bertahun-tahun kemudian, mereka sudah dewasa dan saling mencintai walau itu dengan cara terpaksa karena ajian wahita, tapi itu bisa jadi adalah sebuah pertolongan Tuhan yang harus disyukuri oleh mereka.
“Yaudah makan dulu yuk, capek kan? abis makan pada pulang trus istirahat di rumah.” Alka memotong kebahagiaan dua anak kecil itu.
“Nginep sini boleh?” Jarni berkata.
“Wah ide bagus tuh,” Ganding menimpali.
“Tidak! kalian harus pulang, tidak ada kompromi ya, ini adalah perintah, ayuk cepet makan dulu.” Alka jalan duluan keluar gua mereka akan makan di luar tempat biasa Alka makan. Dua anak itu, makan dengan lahap, walau makanan sederhana, tapi mereka sangat bahagia, makanya mereka makan lahap, dirumah membuat mereka sangat tidak nyaman, banyak hal yang harus mereka tutupi dan tahan, padahal mereka ingin agar keluarga menerima, tapi itu tidak mudah.
Dua anak kecil itu sudah sangat menyayangi Alka seperti kakaknya sendiri dan Mulyana bapaknya sendiri, mereka sangat tidak ingin jauh dari dua orang itu kelak, walau terkadang perpisahan tidak bisa terelakan.
Setelah makan, mereka sepakat pulang, kembali ke rumah istirahat, sementara Alka pulang ke gua, ada Pak Mulyana di sana, ini sudah hampir malm, Mulyana di gua adalah hal yang sangat jarang terjadi.
“Pak, kok di sini, bukan bilang.” Alka kaget karena Pak Mulyana sendirian, sedang duduk di meja dan menulis sesuatu.”
__ADS_1
“Ya, aku baru saja menyelesaikan kasus, kau istirahatlah, aku akan pulang setelah selesai menulis.”
“Baik Pak, selamat malam.” Alka lalu tidur.