
“Kenapa kalian diam saja saat teman kalian babak belur begini?” Nando bertanya pada dua sahabatnya yang sedang melintasi kelasnya.
“Nando maaf, kami harus terus belajar, karena kami mengincar beasiswa, jadi kami tak punya waktu untuk mengurusi hal di luar sekolah.” Rahman menarik Adi untuk meninggalkan Nando yang sengaja menunggu dua orang yang katanya sahabat, tapi ternyata sekarang malah meninggalkannya.
“Apakah aku bukan urusan kalian? Apakah aku mati dulu baru itu urusan kalian?” Nando bertanya, dia kelelahan karena semua fitnah itu, belum lagi anak-anak preman yang secara frontal mengintimidasi.
Tidak heran, karena ketika Nando belum ditempa fitnah ini, dia bukan seseorang yang ramah, dia selalu pelit memberikan contekan, hingga banyak anak yang dendam, beberapa orang bilang dia adalah orang yang gila nilai. Jadi ketika dia jatuh, banyak orang yang akhirnya ingin menginjak hingga Nando tak mampu bangkit lagi.
Maka fitnah ini adalah keterpurukan yang sangat hebat untuk Nando, si jenius yang tak mampu lagi bersinar.
Tapi tidak bisa juga bilang Nando jahat, karena kepintaran dan kerja kerasnya bukan untuk disedekahkan pada anak-anak malas yang tidak tahu diri, seenaknya mencontek atas dasar solidaritas. Tapi malas berjuang untuk nilainya sendiri, apakah sekolah adalah tempat untuk menjadi alasan minta uang jajan saja? Bagian Sebagian orang memang mungkin itu alasannya.
“Kalau kau ingin mati, mati sajalah! Kami tidak peduli, kau pikir karena masalah ini kami juga tak repot? Kami harus jauh darimu, karena kalau kami tidak jauh, kami akan kena imbasnya.
Orang tua kami bilang harus tetap jauh darimu, karena kau bawa pengaruh buruk, aku juga jadi curiga, apakah benar bahwa kepintaranmu selama ini bukan karena otakmu yang cerdas, tapi karena curang yang kau lakukan atas bantuan ayahmu yang dukun itu!” Rahman akhirnya menumpahkan apa-apa yang dia curigai selama ini.
“Dari semua orang yang jahat padaku dan memfitnahku, hanya dua orang yang aku harapkan tidak pernah percaya hal itu, hanya kalian yang aku harap mampu percaya padaku, mampu menjadi orang baik yang mengenalku, tapi aku salah, ternyata kalian berdua percaya fitnah itu, maka dari kalian aku belajar, belajar bahwa tidak seharusnya aku percaya siapapun!”
“Lalu apakah kau percaya pada kami? Jika salah satu di antara aku dan Adi yang menjadi kau, difitnah oleh orang lain dan ….”
“Aku akan membela kalian, aku akan memastikan bahwa kalian adalah orang yang pantas dipercaya, jika pun akhirnya kalian salah, aku akan tetap berada di sisi kalian hingga akhir menemani kalian menghadapi masalah, tidak kabur seperti pengecut!” Nando berteriak mengatakannya.
“Ini karena kau yang sekarang sedang terkena masalah, jadi kita tak bisa buktikan omonganmu itu patut dipercaya atau tidak.” Adi mengejek.
“Kalian lupa, dulu saat aku baru dekat dengan kalian, saat kita masih satu kelas, kita ulangan dan kau mencotek buku hingga mendapatkan nilai bagus, aku tidak tahu sama sekali kalau kau mencontek buku saat ulangan itu, aku membelamu di depan guru, aku bilang kita belajar bersama dan akan pastikan bahwa kau bisa menjawab semuanya, lalu kau mengaku padaku bahwa tuduhan guru itu benar. Lupakah kau bagaimana aku selalu datang ke rumahmu untuk mengajarimu semua mata pelajarn itu dengan cara singkat hingga akhirnya kau bisa menjawab pertanyaan guru untuk memastikan lagi kau itu mencontek atau tidak!” Nando mengingatkan tentang hari itu, di mana Nando membantu Adi lepas dari masalah dan akhirnya lolos dari tuduhan mencontek buku saat ulangan. Nando memang pelit jawaban, tapi dia tak pernah pelih ilmu, asal mau bertanya dan mau diajari, Nando akan ajari, walau dia akan memastikan temannya tak akan mendapatkan nilai di atasnya, ada beberapa trik rumus yang dia sembunyikan, tapi itu tidaklah jahat, itu taktik. Memastikan kalau kau akan menang, masa mau kalah sama orang yang kau beri trikmu, itu bodoh namanya.
“Dan kau Rahman, sudah sombong kau sekarang, setelah melihat banyak catatanku secara diam-diam, dari antara kalian berdua, aku paling kecewa padamu, kau pikir aku tak dahu kau sudah mengintip catatanku dan mulai menggunakan rumus buatanku pada jawaban-jawaban ulangan harianmu! Kau pikir aku tak dapat mengenali rumus yang aku ciptakan sendiri! Aku tidak pernah marah padamu, karena satu rumus kau curi! Puluhan rumus lain aku ciptakan! Kau sombong setelah aku bantu. Kalian benar-benar orang jahat. Mulai sekarang, aku akan pastikan, bahwa apa-apa yang kalian tuduhkan, akan berbalik lagi pada kalian!” Setelah mengatakan itu Nando lalu pergi.
Nando pulang ke rumah dan dia melihat ibunya sedang duduk di depan pintu dapur dengan mata kosong.
__ADS_1
“Apa warung tutup bu? Tadi aku ke pasar warung tutup.” Nando bertanya, ayahnya masih terbaring sakit.
“Percuma buka, kalau buka pasti nggak ada yang beli, malah pada takut ke warung kita, katanya bawa sial.” Ibunya berkata sambil mengusap air mata.
Nando tahu bahwa berita itu sungguh menjadi besar karena orang tuanya pun kena imbas bahkan usahanya juga.
“Apa kita pindah aja bu? Seperti ... dulu-dulu.”
“Capek Nak, capek pindah terus, apalagi ayahmu ini, dia sudah sakit, ibu tidak tahu kapan dia akan sembuh dan kita tak bisa membawanya dalam keadaan seperti itu.”
“Nando juga capek Bu, ini tempat ketiga kita, setelah satu tahun terakhir ... ini salah Nando Bu, maafin Nando ya Bu.”
“Nggak ada salahmu Nak, ini bukan salahmu, yang salah adalah kakekmu, dia yang harusnya bertanggung jawab, beraninya dia menjadikanmu tumbal! Kita terus kabur darinya sejak kau mulai akil baligh, ayahmu juga sudah menukar jiwamu dengannya, jadi aku mohon, kau bertahan ya Nak. Ini mungkin sangat menyiksa bagimu, fitnah itu sangat kejam.
Kita lari dari perdukunan, sekarang kita malah difitnah menjadi dukun, ayahmu bahkan melindungimu dengan segala cara agar tidak diincar kakekmu. Kau tahu, dia sangat kaya karena mengambil jatah jiwa anak dan cucunya, maka dari itu, kita harus menghargai usaha ayahmu dengan bertahan ya, Nak.”
“Tapi Bu, ayah dan ibu juga selalu ikut menderita, bagaimana kalau Nando serahkan saja jiwa Nando, supaya kalian bisa bebas dari kutukan tumbal ini, hingga ayah juga bisa sehat lagi, Bu.”
Malam tiba dan Nando pun tertidur, dia ingin melupakan sejenak apapun yang terjadi saat ini, dia ingin istirahat setelah mengerjakan PR.
...
Pagi Tiba, Nando kaget karena ternyata hari sudah siang, tanpa melihat jam dia tahu karena sinar matahari telah masuk ke dalam celah jendela dan membuat kamarnya menjadi sedikit panas.
“Loh kok Ibu nggak bangunin aku!” Nando bergegas keluar kamar dan saat dia keluar, tidak ada orang, biasanya ibu sibuk membuat sarapan, tapi kenapa sekarang dia tak ada, kenapa sepi sekali.
Tak ingin berpikir macam-macam karena dia sedang buru-buru, hari ini ada ulangan pada jam pertama pelajaran dan sekarang dia terlambat. Dia mandi dengan cepat lalu setelahnya dia kembali ke kamar untuk pakai seragam, tapi aneh, seragamnya tak ada, Nando yang masih memakai handuk berlari ke kamar orang tuanya, dia butuh segera memakai seragam untuk pergi ke sekolah.
Tapi pintu kamarnya masih ditutup.
__ADS_1
“Bu, seragam Nando mana? Udah telat nih!” Nando berteriak, tapi tetap tak ada jawaban dari dalam. Nando berteriak lagi mengulang pertanyaan yang sama.
Masih tak ada jawaban, akhirnya Nando memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya, tapi dikunci ternyata, aneh! Itu yang Nando pikirkan, Karena ibunya tidak pernah mengunci pintu kamarnya, Nando lalu mengetuk pintu itu dan berteriak memanggil ibunya, masih tak ada jawaban, Nando yakin ayah dan ibunya masih di dalam, tidak mungkin ibunya pergi lalu mengunci pintu kamar, karena di dalam ada ayahnya dan akan sangat bahaya jika ayahnya dikunci di kamar sendirian.
Nando lalu kembali ke kamar memakai baju seadanya dan berlari ke luar rumah, setelah sampai halaman, dia berbelok ke arah kanan untuk menuju samping rumah, di mana jendela kamar orang tuanya berada, di jendela itu Nando berharap bisa mengintip dan melihat apa yang terjadi di kamar orang tuanya.
Ibu menutup tirai jendela kamarnya, biasanya memang ditutup, tapi Nando berharap ibunya lalai dan lupa menutup tirai jendela itu, sayangnya harapan Nando tidak terjadi.
Nando berusaha mengintip, apa saja yang bisa dia lihat, sampai di titik di mana dia melihat bayangan yang bergerak-gerak di kamar itu, Nando yakin, memang orang tuanya masih di sana.
Karena keyakinan itu, Nando berlari ke luar rumah dan berteriak minta tolong.
“Pak tolong Pak, ibu sama ayah saya kekunci di dalam kamar, tolong bukain pintunya Pak, tolong!” Nando berteriak meminta pertolongan siapapun yang lewat, semua tetangga dia ketuk rumahnya, tapi ....
“Pergi kamu!” Itu yang dilakukan tetangganya, bahkan beberapa orang ada yang melempar garam pada tubuh Nando seolah Nando adalah ular yang takut pada garam.
Tolong!!! Tolong!!! Nando menangis sejadinya, tak ada satu pun yang mau menolongnya, dia histeris memohon bahkan bersujud agar ada yang mau menolong, tapi tak ada orang yang bahkan melihat, mereka semua menutup pintu dan berlari menghindar.
Di tengah keterpurukan itu, ada seorang lelaki mendekatinya, Nando sedang bersujud membenamkan wajah pada jalan beraspal itu, lelaki yang mendekatinya menarik tubuh Nando hingga dia bisa berdiri tegak dan melihat siapa yang menarik tubuhnya.
“To-tolong saya ....” Nando terdiam begitu melihat sosok itu, sungguh sosok yang sangat dia paling takuti untuk bisa dilihat.
“Kakek ....” Nando ngeri melihat wajah itu.
Setelah membantu cucunya berdiri, kakek itu lalu berjalan masuk ke rumah, Nando terpaksa mengikuti, padahal perintah ibunya jelas, jika melihat lelaki tua itu, berlarilah, jangan melihat ke belakang dan tinggalkan apapun, selamatkan diri.
Tapi Nando tidak mau meninggalkan ibu dan ayahnya, dia berlari masuk ke dalam bersama orang yang paling harus dia hindari.
Mereka berdua masuk ke dalam dan Nando melihat kakeknya mendobrak pintu kamar, begitu kamar itu terbuka, Nando benar, kedua orang tuanya masih di dalam, ayahnya masih di atas tempat tidur, tertidur dan seperti tak mendengar pintu didobrak, tapi ibunya ....
__ADS_1
Nando lemas melihat pemandangan di hadapannya, seorang wanita yang telah melahirkannya, menjaga dia dan ayahnya dengan sangat baik, menggunakan tangan dan tenaganya untuk memenuhi kebutuhan dia dan ayahnya, wanita yang paling sabar yang pernah Nando lihat di dunia ini ... tubuh itu, tubuh yang tidak pernah mengeluh lelah, TERGANTUNG DENGAN SEBUAH TALI TAMBANG YANG TEBAL, TALI ITU MENGGANTUNG PADA KIPAS ANGIN YANG TERGANTUNG DI ATAP.
Nando sangat terkejut, tidak bisa mencerna situasi ini, dia berharap ini mimpi sebelum akhirnya dia pingsan, tapi sebelum semua menjadi gelap, kakeknya membisiki sesuatu ... GRAKSA BAJANG ... dengan bisikan yang lirih.