Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 157 : Aditia 17


__ADS_3

Mulyana mempersiapkan segalanya untuk menjemput kembali semua sifat baik Aditia dan mengembalikan sifat itu pada Aditia.


Mulyana lega, ternyata keraguannya salah, Aditia adalah anak baik. Semakin baik dirinya, maka ketika kebaikan itu diganti dengan keburukan, maka keburukan itu sama tingginya dengan kebaikan yang tertanam di dalam dirinya.


Karena Aditia mempunya sikap dan sifat baik yang tinggi. Maka ketika itu diganti dengan sifat buruk, maka sifat buruk itu juga sangat tinggi, sesuai dengan sifat yang ditukarnya.


Kalau kebaikannya rendah, maka sifat buruknya juga tidak akan tinggi, mengikuti sifat baiknya.


Seperti kelak Malik akan terkena ritual Gugah Alam ini dengan menjadi begitu tidak menghormati kehormatan Seira, itu karena Malik dengan sifat baik adalah dia yang menjaga kehormatan Seira. Begitu kebaikan itu ditukar menjadi kejahatan, maka sifat sebaliknya yang keluar. Yaitu begitu menginginkan tubuh Seira atau Ayi Mahogra dengan nafsu bejatnya.


Kasus yang kelak Ayi Mahogra bisa selesaikan, walau bagi dia pun, ritual balikannya juga berat, karena menghadapi Mudha Praya yang merupakan Kharisma Jagat dengan tingkat ilmu yang paling tinggi diantara tetua.


“Yan, elu yakin?”


“Nggak Ga, tapi gue nggak akan mundur buat balikin lagi anak gue seperti semula.”


“Maaf, gue cuma bisa bantu doa Yan.”


“Itu lebih dari cukup, karena dengan berdoa, kita sedang merayu Tuhan agar berada di pihak kita.”


“Yan, surat wasiat itu gimana?”


“Gue udah titip ke Alka, gue sudah berusaha menghubungi Qorin gue sebagai pemberi pesan. Gue pengen kelak Qorin itu akan menjadi pemberi pesan, seolah gue yang ngomong.”


“Kitab bisa Yan, bicara sama Qorin kita sendiri?”


“Nggak, lu harus melakukan beberapa ritual dan itu sulit, mau gue ajarin?”


“Nggak dah, elu tahu gue penakut, makanya gue sahabatan ama lu, biar elu aja yang nanganin masalah macam ini.”


“Ga, titip keluarga gue ya, kalau ada apa-apa, elu harus jaga mereka. Maaf kalau ini terlalu berat buat lu, satu lagi, soal Alka, kalau bisa keluarga gue nggak pernah tahu soal dia. Gue nggak mau Aditia dan Alka bertemu dan akhirnya terjebak dalam cinta yang dikendalikan Lanjo, gue takut mereka pada akhirnya akan saling melukai saat tahu, tanpa Lanjo mungkin saja mereka tidak saling menginginkan.”


“Iya, gue nggak akan pernah kasih tahu Aditia soal Alka.”


“Makasih ya Ga.”


“Udah jangan kebanyakan makasih, pokoknya yang harus lu inget, jalan pulang. Kami semua nungguin lu, apalagi kalau Adit tahu ayahnya berkorban untuk dia, Adit pasti sulit bertahan menghadapi rasa bersalah ini.”


“Jangan beritahu dia ya soal ini kelak kalau emang gue nggak bisa pulang.”


“Yan! berisik tahu!” Dirga benci perkataan ngawur tentang kematian.


Mulyana bersila duduk dihadapan Aditia yang terlihat masih dengan wajah bringasnya, Mulyana melakukan lepas raga dengan memegang sedikit ari-ari yang dia ambil dari rumah sebelum ke rumah kosong ini.


Setelah lepas raga, Mulyana melihat Aditia, Dirga dan dirinya sendiri yang sedang bersila, ada pintu yang tiba-tiba muncul, itu pasti jalan yang ditunjukan ari-ari milik Aditia, ari-ari itu tahu ke beradaan sifat baik saudaranya, bukankah orang selalu bilang, kalau ari-ari adalah saudara kembar yang menjaga seseorang saat berada di kandungan, maka Mulyana percaya, ari-ari Aditia sedang menuntunnya.


Mulyana membuka pintu itu, lalu tubuh tak kasat matanya tersedot ke dalam pintu, dia mendarat dengan sangat keras dan terjatuh pada suatu ruangan yang gelap.


Di ujung ruangan itu terdapat sebuah sinar yang terlihat menyala di ujung, Mulyana mengejarnya, semakin dikejar, sinar itu semakin terlihat membesar. Itu artinya dia semakin dekat dengan snat iut.


Saat sudah berada begitu dekat dengan sinarnya, dia melihat seorang lelaki tua berdiri membelakanginya dan menghadap sinar itu.


Sinar itu adalah sifat baik Aditia yang ditahan agar sifat buruk mengisi dirinya.


Mulyana tidak dapat mengenali siapa lelaki tua itu, karena dia membelakanginya.


“Assalamualaikum, saya Mulyana, hendak menjemput sifat baik milik putraku,” sapa Mulyana pada lelaki tua itu.


“Kau tidak bisa mengambilnya,” jawab lelaki tua itu.


“Bagaimana tidak? itu adalah hak anakku.” Mulyana bersikaras.

__ADS_1


“Kalau begitu, kau lewati dulu aku.” Lelaki tua itu berbalik.


“Darhayusamang! Bagaimana mungkin kau bisa menukar sifat baik anakku dan mengambilnya?” Mulyaan bingung, karena tidak ada jin yang bisa melakukan itu, hanya orang tua atau Kharisma Jagat dengan ilmu tinggi saja yang bisa melakukannya.


“Aku, tentu saja bisa iika aku melakukan perjanjian dengan musuhmu.”


“Mudha Praya? Dia bukan yang membantumu melakukan ini?”


“Ya, aku tidak akan menutupinya.”


“Kenapa kau melakukan itu pada anakku?” Mulyana kesal, kenapa pria yang dulu kabur saat berkelahi dengannya itu sekarang muncul tiba-tiba.


“Tidak ada alasan khusus, aku lelah bertempur sendirian, aku hendak menjadikan anakmu tuanku, agar aku bisa mengendalikan Kharisma Jagat dengan kelas tinggi, dia anak muda, kukira akan mudah mengendalikannya. Tapi sayang ,waspadanya padaku sungguh sangat hebat, dia menolakku menjadi Karuhunnya, maka kutukar sifat baiknya, toh menjadi Karuhunnya atau mengambil sifat baiknya akan sama saja efeknya, membuat dunia ini menjadi tidak harmonis lagi.” Darhayusamang tertawa terbahak-bahak dengan suara yang menggelegar.


“Tentu saja dia tidak akan menerimamu menjadi Karuhunnya, apa kau ingin menyingkirkan anakmu sendiri sebagai Karuhun sementara anakku?!” Mulyana tersenyum sinis.


“Anakku? Pantas aku merasakan energi yang begitu mirip dengan diriku pada tubuh anakmu, ternyata kau menyelamatkan anak itu dulu untuk memanfaatkannya kelak, kau sungguh di luar dugaan.”


“Aku tidak sepertimu, hubungan tidak selalu soal memanfaatkan!”


“Lalu apa? jangan bilang kau menyelamatkannya dulu untuk memberinya hidup yang layak? Menjadikan dia anakmu lalu hidup bahagia selamanya?” Darhayusamang lagi-lagi tertawa mengejak.


“Tidak persis seperti itu, tapi aku pastikan dia bahagia.”


“Bertele-tele kau!” Darhayusamang lalu menyerang Mulyana dengan senjatanya, sebuah cambuk yang mirip dimiliki Alka, Mulyana kaget dan tidak punya persiapan yang cukup, maka dadanya kena cambuk.


Keluar darah dari mulutnya pada tubuh yang tertidur di alam manusia. Dirga mengelap darah itu, Dirga khawatir, Mulyana pasti sedang bertarung.


Mulyana mengeluarkan kerisnya, dia dan Karuhunnya menyerang balik Darhayusamang, di dunia ghaib, memang berbeda, jin pastilah lebih kuat, berbeda dengan pertarungan mereka kemarin di hutan saat berebut Alka yang baru saja lahir. Mulyana walau bertarung tanpa Karuhunnya bisa bertahan dari serangan Darhayusamang, tapi di sana berbeda, ketika kena serangan Mulyana akan terluka parah karena dia harus kehabisan energi dengan menyebrang sementara Karuhunnya baik-baik saja tap Mulyana berbeda, dia adalah ruh yang lepas raga, makanya lemah.


Abah Wangsa menyerang Darhayusamang, sementara kaki Mulyana kena cambuk Darhayusamang, jadi tidak bisa bergerak. Abah Wangsa memukul Darhayusang di bagian kepala, cambuk itu lepas dari tangannya karena Abah Wangsa berhasil membuatnya tumbang.


Mulyana bangun dan merebut cambuk itu, Darhayusamang tidak memiliki lagi senjata, dia berkelahi dengan  tangan kosong.


Mulyana ikut menyerang Darhayusamang tapi pada satu titik, tiba-tiba Mulyana merasa dirinya dipukul dari belakang dna mental.


Tubuh Mulyana yang telah lepas raga, lagi-lagi mengeluarkan darah, kali ini lebh banyak. Dirga mengelap darah dari mulut sahabatnya, dia menitikkan air mata.


“Lihat Adit, dia melakukan ini untukmu!” Aditia tetap hanya memandang sinis atas ucapan Dirga.


Sukma Mulyana tumbang seperti Darhayusamang,


Seseorang berdiri dan kembali menyerang Abah Wangsa yang kehilangan fokus karena melihat Mulyana tumbang.


Abah ikut terpental karena dia dipukul oleh kekuatan tanpa menyentuh dari ....


Mudha Praya ....


“Kau adalah Tetua kami, lalu kenapa kau ada di sisinya? Bukankah kemarin kita memburunya karena dia melakukan perzinahan dengan manusia? Lalu kenapa sekarang kau berada di pihaknya?” Mulyaan bertanya sambil berusaha memulihkan keadaannya. Dia dan Abah kesulitan karena ini dunia yang berbeda.


“Bukankah aku juga sudah memperingatkanmu, jangan menikahi yang bukan jodoh adatmu! Lihat istrimu yang bodoh dan tidak tahu apa-apa itu dengan mudahnya tertipu dan memberitahu lokasi ari-ari anakmu. Lokasi dari sesuatu yang seharusnya paling tidak boleh kita beritahu kepada siapapun, karena seorang Kharisma Jagat tahu, betapa berbahayanya jika ada yang tahu lokasi ari-ari keturunan Kharisma Jagat, itu akan membuat malapetaka.


Jadi anakmu sekarang menjadi seperti ini bukanlah salah Darhayusamang, tapi salahmu! Kenapa kau memilih menikahi wanita itu, wanita bodoh yang rendahan. Seharusnya Aditia dilahirkan dari rahim seoang Kharisma Jagat perempuan yang mulia, bukan dari perempuan rendahan seperti istrimu!!!”


Mulyana murka mendengar istrinya dihina, dia bangkit, mengeluarkan keris mininya dan menyerang Mudha Praya, walau dia bukan tandingannya, tapi dia harus melawan jika ada yang menodai kehormatan istrinya.


Mudha Praya menangkis serangan Mulyana, Abah kembali menyerang Darhayusamang, dia tidak bisa membantu Mulyana tapi dia melihat kemungkinan mengambil sifat baik Aditia dari lengah dan lemahnya Darhayusamang.


Abah terus menyerang tanpa mundur, dia membaut Darhayusamang terus mundur karena setiap serangan Darhayusamang tidak ditangkis, Abah menerima serangan itu dan tidak mundur, karena kalau selangkah saja dia mundur, maka Mulyana akan semakin terluka. Mulyana tahu maksud pergerakan Abah, makanya dia juga terus menyerang Mudha Praya yang terlihat mudah menangkis serangannya, jika Abah berhasil mengambil cahaya itu, maka Mulyana dan Abah bisa kabur walau terluka parah.


Berhasil! Abah membuat Darhayusamang jatuh tersungkur lagi tepat di bawah sinar sifat baik Aditia, dia mengambil sinar itu dan menaruhnya di dalam botol yang sudah mereka persiapkan, lalu dikalungkan di lehernya.

__ADS_1


Dia berlari secepat mungkin untuk menarik Mulyana dan keluar dari dunia itu.


Mulyana yang melihat Abah berlari dan telah mengalungkan botol berisi sinar menghentikan serangan pada Mudha Praya, Dia mundur dan berhasil berpegangan tangan pada Abah yang bisa berlari lebih cepat karena ini adalah dunia ghaib.


Tapi Mudha Praya tidak membiarkan Mulyana pergi begitu saja, dia melemparkan bola api panas pada punggung Mulyana, bola api tepat mengenai punggungnya, Mulyana berteriak kesakitan dan panas, perlahan bola api itu masuk ke dalam dadanya dari punggung.


Tubuh mulyana yang sedang lepas raga kali ini muntah darah jauh lebih deras, api itu adalah api Batur Kahilang, api itu adalah media santet paling jahanam. Jika berhasil masuk ke dalam tubuh seseorang, maka dia akan menggerogoti tubuhmu perlahan, hingga akhirnya ajal menjemput.


Kalau kau adalah orang biasa, hanya butuh waktu seminggu hingga kau akhirnya menemui ajal, karena api itu membuatmu mati dalam keadaan sakit yang luar biasa. Bisa dibilang kau digerogoti dari dalam. Karena prinsip santet bukan membunuh secara langsung tapi membunuh secara perlahan.


Tapi ukuran perlahannya Batur Kahilang adalah tercepat pada persantetan.


Abah Wangsa tidak sadar Mulyana kena, dia terus menariknya, dia tidak punya waktu untuk berhenti, walau mendengar Mulyana berteriak, dia akan mengobatinya nanti begitu Mulyana kembali ke tubuhnya.


Abah menemukan pintu dimana mereka masuk, dia membuka pintu itu dengan kasar dan menarik Mulyana agar masuk duluan, baru setelah itu dia masuk.


Mulyana masuk ke tubuhnya lagi dalam keadaan yang sangat lemah.


Dia terjatuh dari duduk silanya setelah masuk kembali ke raga.


“Mul! Mul!” Dirga berusaha membangunkan Mulyana, tapi Mulyana tidak bergerak.


Lalu Aditia juga pingsan, Abah telah mengeluarkan sifat buruk yang ditanam dalam dadanya dengan menarik sifat buruk itu keluar dengan tangan, lalu menggantinya dengan sifat baik milik Aditia yang sedari awal memang ada di dadanya.


Aditia kesakitan dan mengerang, karena dadanya di masukkan tangan Abah, persis ketika Darhayusamang datang dan memasukkan kakinya sebagai wujud menawarkan dirinya menjadi Karuhun beberapa waktu lalu ketika Aditia merasa dirinya ketindihan.  Dan akhirnya Darhayusamang mengubah rencana, karena Aditia menolak tawaran Darhayusamang, sehingga dia tidak bisa masuk ke tubuh Aditia. Akhirnya Darhayusamang memasukkan tangannya, mengambil semua sifat baik Aditia, menaruhnya di botol dan mengmabil sifat baik darinya dan menaruh di dada Aditia.


Sekarang yang dilakukan Abah kebalikannya.


Dirga menggendong Mulyana dan membawanya ke rumah sakit dengan mobil jeepnya. Dia tidak tahu harus apa, dia hanya ingin ke rumah sakit dan mengetahui keadaan sahabatnya.


Begitu tiba, Mulyana meminta para Perawat membawa Mulyana dan memeriksa keadaannya.


Dirga menunggu di luar.


Sekitar satu jam seorang Dokter menemuinya.


“Bapak keluarga Pak Mulyana?”


“Betul Dok, bagaimana keadaan Mulyana?”


“Pak Mulyana dalam keadaan kritis, dia mengalami bocor paru-paru, Tapi ... ada yang aneh.”


“Aneh kenapa Dok?”


“Bocor paru-paru karena terjadi dua hal Pak, pertama karena penyakit paru-paru dan kedua kejadian traumatik seperti kecelakaan. Tidak diketemukan penyakit paru-paru pada Pak Mulyana dan tidak ada jejak bekas kecelakaan apda area dan punggung yang membuat kemungkinan paru-paru bocor.”


Dirga terdiam, dia tidak mungkin menceritakan kalau ini mungkin saja ulah santet Mudha Praya.


Dirga hanya meminta Dokter melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan sahabatnya.


Dirga lalu menghubungi istrinya Mulyana dan menunggu dia datang, setelahnya Dirga membaut alasan akan dinas dulu baru nanti kembali, dia harus mengurus Aditia karena dia masih diikat di rumah kosong itu.


Istrinya Mulyana begitu datang langsung histeris, dia tidak tahu kenapa suaminya bisa mengalami ini, Dirga hanya bilang mungkin karena Mulyana bekerja terlalu keras sehingga dia bisa mengalami paru-aru bocor.


Sementara Aditia telah bangun dari pingsannya, Abah Wangsa ada di hadapannya, memperhatikan Aditia apakah dia telah kembali.


Dirga tentu tidak tahu soal Abah Wangsa masih menjaga Aditia. Makanya dia buru-buru kembali untuk merawat Aditia.


“Siapa kamu?” Begitu bangun Aditia kaget karena melihat wajah Abah Wangsa yang teduh.


“Kelak kamu akan mengenal saya.” Abah Wangsa sudah memastikan Aditia telah kembali, dia pun pergi.

__ADS_1


Selama ini Abah Wangsa memang jarang menampakkan diri pada Aditia, karena dia dan Mulyana ingin mereka berkenalan setelah mewariskan Karuhun seperti adat yang mereka tegakkan sampai hari ini.


__ADS_2