
"Lu harus ke sana, lu harus minta maaf Dit."
"Salah gue apa?" Aditia enggan minta maaf pada Hartino, mereka sedang di gua Alka.
"Kita semua selalu melakukan terbaik untuk kawanan, gue sering salah, Jarni sering salah, kakak juga. Kita nggak pernah saling nyalahin, tapi lu kemarin nyalahin Har, padahal dia bisa aja nggak perduli sama kasus ini kayak sekarang. Jadi jelas, elu salah."
"Dit, nggak ada salahnya minta maaf, Hartino bukan orang yang keras kepala, lagian, kalian harus belajar saling menghargai, ya. Kadang bercanda kalian keterlaluan." Alka turun tangan.
"Baiklah."
Dit, Dit, Alka yang ngomong aja, baiklah.
...
"Hari ini kemana lagi kita?" Alisha bertanya, mereka sudah beberapa hari ini selalu pergi bersama. Nonton, makan, pergi ke Dufan dan Ancol bersama.
Menghabiskan waktu bersama.
"Hmm, kemana lagi ya enaknya?" Hartino bersemangat, hidup menjadi orang biasa sesuatu yang baru baginya. Pantas dulu Aditia ingin hidup seperti itu dulu.
"Gimana kalau kita pergi ke taman? Aku masakin ya? Kamu suka masakanku, kan?"
"Setuju, yuk ke taman kota. Bawa keranjang makanan, ya? Trus kita makan gelar tiker." Hartino tertawa.
"Pasi menyenangkan sekali. Aku masak dulu ya di bawah."
Alisha sedang di rumah Hartino, tadi saat mengobrol mereka ada di kamar Hartino, makanya Alisha pamit ke bawah untuk masak dulu di dapur rumah Hartino agar mereka bisa pergi ke taman membawa keranjang makanan.
Alisha masak nasi goreng yang mudah, lalu roti panggang sebagai camilan dan kentang goreng.
Terakhir dia juga buatkan Hartino jus jeruk.
Sudah selesai, dia memasukkan semua makanan itu ke keranjang piknik dan berniat memanggil Hartino untuk turun ke bawah.
Hartino turun dan mereka bersiap untuk pergi, saat sudah sampai parkiran rumah, Aditia terlihat memarkirkan angkotnya di dekat situ.
"Har." Aditia memanggil Hartino.
Hartino melihat ke arah Aditia lalu memalingkan wajah. Alisha yang sedang berada di situ juga melihat ke arah Aditia.
"Har, aku butuh ngomong sebentar aja." Aditia menahan pintu mobil Hartino.
Alisha sudah di dalam mobil.
"Kamu nggak liat aku mau jalan?"
"Lima menit aja, Har."
Hartino menatap Alisha meminta izin, Alisha mengangguk sambil tersenyum.
Hartino dan Aditia akhirnya menjauh dari mobil.
"Ada apa?"
"Har, aku mau minta maaf, kejadian kemarin aku udah keterlaluan."
__ADS_1
"Ya, aku udah maafin. Yaudah, aku jalan." Hartino terlihat acuh.
"Har, tim butuh kamu."
"Nggak lah, ntar gue salah kasih jalan lagi."
Hartino lalu pergi meninggalkan Aditia. Aditia terlihat kecewa tapi bukan pada sikap Hartino, dia kecewa karena menyakiti Hartino dengan dalam sampai membekas.
Hartino pergi dengan Alisha, sementara Aditia pergi dengan angkotnya, dia akan membawa kabar buruk pada kawanan.
Begitu sampai gua, Aditia berkata apa yang Hartino katakan padanya.
"Jadi, gimana? Kita sudah menunda terlalu lama menemukan ruh lelaki itu, kalau sampai dia tidak pulang lagi, misi ini gagal untuk kedua kalinya. Karena Bapak lima tahun lalu juga gagal menjemputnya." Ganding bingung.
"Aku sebenarnya punya cara terakhir, berat tapi kemungkinan berhasil itu besar." Alka tiba-tiba berkata. Dia seperti sadar sesuatu.
"Apa itu?" Aditia bertanya.
"Lihat masa lalu." Alka berkata.
"Maksudnya?" Ganding kali ini tak bisa menangkap maksud Alka.
"Kita harus lihat masa lalu Rido, bukankah pada saat dia hilang adalah masa lalu baginya? Saat kita melihat masa lalu dia maka kita bisa melihat sampai dia hilang beberapa waktu lalu karena kita melihatnya dari masa depan saat ini, maka kejadian ruh dia hilang itu hitungannya masa lalu." Alka mencoba menjelaskan dengan bahasa yang sederhana walau terkesan berputar.
"Tapi Kak, masa lalu itu bisa dilihat jika kau sentuh orang yang ingin kau lihat masa lalunya, lagian, kau bukan Ayi Mahogra yang bisa melihat masa lalu dengan mudah. Kau akan lemah setelahnya untuk waktu yang tidak dapat diketahui, karena melihat masa lalu akan mengorbankan energimu dalam jumlah besar." Ganding tidak setuju.
"Ya itu terlalu berat, lagian kau mau pegang tubuh siapa? Lelaki itu kan ...." Aditia tercekat.
"Ya, aku akan memegang tangan mayat lelaki itu." Alka seperti bisa membaca pikiran Aditia.
"Kau gila, itu melanggar hukum." Ganding kesal.
"Kak, aku takut kalau ini akan menjadi hal buruk untuk kita. Apakah tidak ada cara lain, Kak?" Ganding bertanya.
"Itu cara tercepat yang aku bisa pikirkan saat ini."
"Aku setuju." Aditia mengambil posisi.
Ganding tahu, kalau voting dia akan kalah, karena Aditia dan Jarni adalah sekutu Alka sampai kapan pun, Ganding takkan bisa mengalahkan posisi Alka di hati Jarni.
"Baiklah, kita akan lakukan, tapi aku mohon, kita harus hati-hati." Ganding setuju.
Mereka menunggu tengah malam untuk pergi ke kuburan dan menggali makam lelaki yang bunuh diri.
Tengah malam tiba, Ganding dan Aditia sedang menggali kuburan lelaki itu.
Mereka menggali terus sampai menemukan kain putih yang sudah usang.
Mayat lima tahun terlihat, sebagian daging di tubuhnya sudah tidak ada.
Alka terbiasa melihat sesuatu yang mengerikan, tapi ini berwujud, bukan hanya ruh. Alka lumayan terkejut, bukan takut, tapi ini sesuatu yang baru.
Sementara yang lain terlihat jijik.
Alka memegang tangan mayat lelaki itu dan mengucapkan mantra, perlahan dia masuk ke dalam masa lalu lelaki itu.
__ADS_1
Alka melihat dia di hari pernikahan, saat dia bunuh diri, lalu lelaki itu dibujuk untuk bertahan di gedung itu oleh kunti.
Lalu, Alka melihat lelaki itu mengganggu banyak orang yang masuk ke gedung itu.
Hingga saat Alka dan kawanan tiba di gedung, ternyata Rido langsung kabur begitu melihat kawanan masuk. Energi kawanan terlalu besar.
Kemudian Alka melihat seorang wanita yang tidak dia kenal, dia berperawakan tinggi dengan wajah negro. Bukan wajah pribumi.
Wanita itu memanggil Rido dan setelahnya Rido mengikuti wanita itu masuk ke dalam botol kaca dengan penutup kayu.
Wanita itu membaca mantra yang Alka tidak ketahui berasal dari bahasa apa atau mantra apa, dia tahu itu mantra karena setelahnya Rido nurut sekali dengan wanita itu.
Alka terus mengikutinya, wanita itu masuk ke sebuah apartemen yang cukup mewah, lalu wanita itu disambut wanita lain.
Wanita yang ... Alka ingat, dia mengenal wajah itu. Wajah yang dia temui di perpustakaan. Wajah cantik seorang wanita yang Alka tidak ketahui namanya. Alka merasa kesal karena ditipu. Yang aneh, wanita itu tidak memiliki energi jahat ataupun jin yang terlihat di sekitar dirinya. Makanya Alka menjadi tidak waspada. Dia pikir wanita itu bersih.
Tapi kenapa dia mengincar Rido? Masa wanita modern seperti itu percaya klenik dan mengoleksi jin? Alka masih bingung.
Rido dimasukkan ke dalam sebuah ruangan yang gelap. Lalu setelahnya Alka kembali lagi ke tubuhnya yang masih memegang tengkorak tangan lelaki itu.
"Alka jatuh. Hidungnya mimisan." Aditia langsung menyeka darah dan menggendong Alka di punggung.
Alka tidak sadarkan diri. Dia terlalu jauh mengintip ke dalam masa lalu Rido. Hingga tubuhnya menjadi lemah.
Mereka kembali ke gua.
Butuh waktu dua jam untuk Alka kembali siuman.
"Kak, gimana?" tanya Ganding, begitu dia melihat Alka siap ditanyai setelah minum teh hangat.
"Aku tahu ruh itu dimana, tapi mengambilnya yang sulit." Alka kembali bingung.
"Kenapa harus sulit? Apakah dukun ini hebat?" Ganding bertanya.
"Bukan dukun, entah apa, dia seorang wanita yang sangat cantik, anggun dan pasti kaya karena punya apartemen mewah. Andai ada Hartino, kita bisa melacak identitas wanita ini melalui komputer canggihnya. Satu yang pasti, dia bukan wanita biasa, kemampuannya tidak mampu kudeteksi."
Aditia menunduk dan merasa menyesal lagi.
"Sekarang kita harus apa?" Ganding bertanya.
"Aku akan mengambil ruh itu."
"Sendirian Kak? Katanya wanita itu bukan wanita biasa?"
"Karena aku akan menyusup dengan wujud jinku, mungkin itu akan lebih mudah dan cepat. Kalau beramai-ramai, kemungkinan kita akan ditangkap dan dianggap pencuri."
"Kalau begitu kami pantau dari jauh ya." Aditia berkata dengan sedikit khawatir.
"Andai ada Hartino, kita bisa pakai peralatan kamera canggihnya untuk melihat pergerakan kak Alka. Kamera itu bisa dipasang di tubuh kak Alka saat dia menyusup. Sayang ...."
Aditia lagi-lagi merasa tersindir.
"Baiklah, ayo kita atur rencana dulu. Kita semua harus hati-hati. Karena musuh kita tidak terdeteksi sama sekali.
Oh ya satu lagi, saat Rido melihat kita masuk gedung itu. Dari jauh aku juga melihat wanita yang berwajah negro itu mengawasi kita. Kemungkinan mereka tahu kita siapa. Karena itu mereka bisa mengambil langkah duluan untuk mengambil ruh itu.
__ADS_1
"Baiklah kami akan hati-hati."
Lalu mereka mulai menyusun rencana.