Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 229 : Bangsal End


__ADS_3

“Dia bukan anakku lagi, dia adalah iblis yang menyamar menjadi anakku.” Saiful yang menceritakan segalanya dalam keadaan terantai menangis, meski hanya sebuah jiwa.


“Lalu kenapa kau bisa di sini? Bukankah anakmu yang disandera, kenapa jiwanya tidak di sini?” Aditia bertanya sambil berjongkok.


“Anak itu menunggu waktu untuk mencelakaiku, dia mendorongku saat aku hendak turun tangga di rumah, lalu aku terjatuh cukup parah, kepalaku mengeluarkan darah yang banyak, aku koma beberapa hari, lalu bangun tapi jiwaku diikat di sini, bangsal bagi hasil panen dari Manimung iblis itu. Mengenai jiwa anakku, entah dimana, karena aku benar-benar tahu, raga itu anakku, tapi jiwanya bukan.“


“Pantas aku tidak bisa mengenali jenis apa dia, karena dia bersembunyi dalam tubuh anak itu, sedang mungkin jiwanya masih di sana, jadi aku tidak bisa mengenali bahwa anak itu sebenarnya kerasukan.


Tapi pertanyaanku, bukankah terlalu beresiko kalau dia menunjukan dirinya padaku, Dok? Aku bisa saja menyadarinya, tapi kenapa dia ambil resiko itu?” Aditia bingung.


“Dit, jangan-jangan … dia mengincarmu.” Dokter Adi tiba-tiba berkata.


Aditia menelan ludah, kalau memang itu tujuannya, dia sudah berhasil, Aditia dan Dokter Adi sudah masuk ke bangsal ghaib milik Manimung. Kalau Manimung bisa menciptakan dunia, berarti ilmunya sangat tinggi, Kharisma Jagat saja hanya Ayi yang bisa melakukannya.


“Dit, dulu Ayi pernah masuk ke zona ciptaan jin bernama Ni Tegrek dan dia babak belur, di rumah sakit lokasinya, dia bisa keluar karena di temukan oleh Aam dan Karuhunnya si Cula Bagong.  Itu pun karena Cula Bagong dulunya adalah anak dari Ni Tegrek, makanya dia bisa menemukan jin itu, kalau sekarang, siapa yang bisa menemukan kita?” Dokter Adi terlihat gusar.


“Kita keluar lah, cari jalan keluar sendiri, kau tak pernah terjebak di dunia ghaib?” Aditia menyepelekan lagi.


“Tidak pernah, karena aku jarang ikut campur dengan urusan orang lain. Kau pernah?”


“Sering, aku bahkan pernah hilang cukup lama, masuk ke zona di mana semua orang lupa tentang hidupnya, aku selamat.”


“Gimana caranya?” Dokter Adi merasa menemukan jawaban.


“Entah, aku bertarung dengan orang yang seharusnya menjaga pintu ….”


“Kau menang makanya bisa keluar? Berarti kita juga harus mengalahkan Manimung agar bisa keluar.”


“Ya itu masuk akal Dok, tapi waktu itu aku kalah, lalu ada yang menolong, entah siapa, aku sampai sekarang tidak tahu, dia mengalahkan jin penjaga itu, lalu kami semua yang terjebak akhirnya bisa keluar dari sana.”


“Dit, kemungkinan kita mengalahkan Manimung berapa persen?”


“Kalau dari kemampuannya, kemungkinannya lima puluh persen.”


“Kalau begitu jadi seratus persen.”


“Kok bisa gitu Dok?” Aditia bingung.

__ADS_1


“Kau bodoh? Kita ini empat makhluk, jadi kali dua lima puluh persennya.” Dokter Adi mengejek.


“Kau memang bisa bertarung?” Aditia tidak mau kalah.


“Bisa kalau terpaksa. Kita keluarkan Karuhun dan keroyok wanita iblis itu.”


“Ide bagus, ayo kita cari dia, karena bangsal ini pasti luas, banyak hasil panennya, jiwa-jiwa yang dia tahan.”


“Kok cari manual, pake radar dong, minta Karuhunmu, dia kan lebih tua dari jinku.”


“Iya!” Aditia Kesal karena lupa akan hal itu, dia memang selalu lebih butuh Alka untuk setiap pertarungan, dia suka lupa potensinya.


Abah Wangsa keluar, dia tidak heran mereka berada di sini, dia lalu menerawang di mana Manimung dan buru-buru melesat untuk mendapatkan wanita itu, dia pasti di ruang ghaib ini karena dia harus mengawasi penghuni yang baru masuk, penghuni yang istimewa.


Mereka tiba di suatu tempat yang jauh lebih gelap, sebuah tempat yang terlihat banyak sekali jiwa yang dijadikan budak oleh Manimung. Ini pasti para sandera yang menyembahnya.


“Dit, aku lupa memperhitungkan dia punya anak buah.” Dokter Adi menelan ludah sedikit khawatir.


“Kau ini gimana sih? Mau mundur?”


“Tidak!”


“Yaudah, mulai.” Dokter Adi mengeluarkan senjatanya, dia memiliki tombak sebagai senjata Kharisma Jagatnya, sementara Aditia dengan keris mininya, dua karuhun juga ikut bertarung.


Dokter Adi memang tidak sekuat dan segagah Aditia, tapi dia adalah seorang Kharisma Jagat, dia tidak mungkin tidak mampu bertarung walau kemampuannya biasa saja.


Mereka melihat singgasana yang diduduki Manimung, ukurannya cukup besar, bukan singgasana biasa, duduk Manimung di sana, apakah dia mempunyai mimpi menjadi ratu hingga membangun singgasana di dunia yang dia buat, Aditia tertawa melihat itu.


Mereka mulai menghajar satu persatu jiwa itu, mudah, mereka hanya budak nafsu, makanya tidak punya cukup energi, hingga mereka sampai di hadapan Manimung,


Manimung tidak juga berdiri, dia memperhatikan Aditia dan Dokter Adi, mereka berdua berusaha semakin dekat, tapi tidak mampu, ternyata Manimung memasang pagar ghaib sementara dua Karuhun masih terus bertarung dengan para budak


Manimung tertawa melengking, dia terlihat mengejek dua pemuda hebat itu.


“Dit, satu sisi.” Dokter Adi meminta Aditia untuk menyerang satu sisi, karena ini masalah waktu pagar itu bisa hancur.


Dokter Adi berlari dan loncat di tangan Aditia, merobek bagian dinding paling atas, lalu terjatuh, Aditia meneruskan robekan dalam itu, dalam hitungan detik, dinding ghaibnya hancur.

__ADS_1


Manimung terlihat tidak terkejut, dia berdiri dan menghindari serangan dua pria Kharisma Jagat itu.


Dalam larinya dia juga melempart begitu banyak serpihan kaca, sempat mengenai pelipis Aditia dan tangan Dokter Adi, mereka masih terus saling berkejaran, tapi sayang sulit sekali mengejar wanita iblis itu, entah kenapa kaki dua lelaki itu terasa begitu lemas.


“Ada racun pada serpihan kacanya, itu adalah mantra tidur, kalian berdua akan ditidurkan, aku harus melakukan ini pada kalian berdua agar tetap bangun, tapi ini sakit, tahan ya.” Aditia dan Dokter Adi ingin bertanya apa yang akan dilakukan oleh Abah Wangsa, tapi tanpa persiapan, tiba-tiba Abah Wangsa merebut dua senjata mereka dan membaliknya pada kedua tangan, lalu menusuk dua senjata itu ke tubuh Aditia dan Dokter Adi, keris Aditia pada Dokter Adi dan tombak Dokter Adi pada Aditia dan keris mini Aditia pada Dokter Adi.


Karena kalau melukai mereka dengan senjatanya sendiri, senjata itu akan tumpul karena senjata itu ditujukan untuk melindungi mereka.


Seketika Aditia dan Dokter Adi berteriak, darah keluar dari tubuh mereka, karena mereka tidak ditahan jiwanya, tapi tubuhnya tersesat di sana.


“Sakit abah!” Aditia mengeluh, Dokter Adi terlihat hanya mengepalkan tangan.


“Jangan terkena lagi, ketika kalian tidur, tamat nasib kita, mengerti! Hindari serpihan kacanya.”


Abah Wangsa dan Karuhun Dokter Adi sudah selesai dengan budak-budak itu, makanya mereka mulai membantu tuannya untuk mengejar Manimung, kali ini Manimung membawa mereka ke hutan antah berantah, imajinasi Manimung memang luar biasa.


Manimung berhenti di satu titik, dia menghadap 4 makhluk yang sedang memburunya, dia mengeluarkan cambuk yang … Aditia terdiam.


“Dit! Serang!” Dokter Adi terlihat marah karena Aditia terlihat tidak fokus, mereka lalu menyerang Manimung bersama, Manimung pada awalnya bisa mengatasi mereka, tapi karena mereka banyak sedang Manimung sendirian, dia berlari lagi, masuk ke gua, setelah masuk ke gelap, Aditia dan Dokter Adi kesulitan melihat Manimung, mereka berjalan pelan agar tidak terkena jebakan Manimung, apapun yang dia persiapkan, tiba di satu titik di mana penerangan lebih baik, Aditia menahan Dokter Adi untuk menyerang.


Manimung sedang memegang tangan anaknya Melia dan mengangkatnya tinggi, sehingga kaki anak itu tidak menapak, anak itu terlihat sangat pucat, itu bukan jiwa, itu tubuhnya, jiwanya masih terikat di tubuh itu tanpa bisa melakukan apapun.


“Lepaskan dia wanita iblis!” Dokter Adi terlihat sangat galak dan mengerikan, dia paling benci ketika jin atau siapapun menggunakan anak kecil untuk mendapatkan apa yang diinginkan.


Aditia memegang tangan Dokter Adi, dia memberi tanda, Dokter Adi mengerti ternyata.


Manimung mengarahkan pecahan kaca pada leher anak itu, Dokter Adi dengan tiba-tiba melempar tombaknya dan Aditia berlari melesat, menarik anak Melia dengan cepat sambil mengiris tangan Manimung, sehingga pegangannya pada anak Melia terlepas, sempurna, tombak Dokter Adi mengenai dadanya, setelah mendapatkan anak itu, Aditia langsung memberikan anak itu pada Dokter Adi dan melanjutkan menyiksa iblis wanita ini bersama dua Karuhun lainnya.


Setelah membuatnya bertekuk lutut, mereka meminta Manimung menghancurkan bangsal yang dia ciptakan, seketika mereka berada di kamar Saiful lagi, Saiful terlihat mulai sadar, sementara istrinya tergeletak di lantai, pasti tadi saat Manimung membawa anaknya ke bangsal, dia membuat Melia tertidur, Manimung sudah melepas jiwa anak itu dan jiwa Saiful.


Anak itu pingsan dan keadaannya cukup mengkhawatirkan, Dokter Adi langsung menanganinya sendiri, dia sudah mencurigai bahwa selama ini dia sudah memakan kotoran sebagai perintah Manimung, kotoran bagi anak kecil itu sangat berbahaya bagi pencernaannya, Dokter Adi tidak ingin menunda lagi untuk memberikannya perawatan.


Aditia lalu mendekati Saiful lalu berkata.


“Mungkin istrimu salah, tapi percayalah, dia takkan begitu kalau kau bisa menjaga diri, lihat anak dan istrimu menjadi korban karena kebodohanmu. Semoga kau bisa mengambil pelajaran atas kejadian ini dan menjaga mereka dengan baik. Sekarang kau telah terlepas dari pengarung Manimung, tapi siapa tahu, ada wanita di luar sana yang kau permainkan akan melakukan apa yang istrimu lakukan.” Setelah mengatakan itu Aditia lalu pergi, dia sangat ingin memukul pria itu karena bodoh membohongi istri dan anak untuk kesenangan dunia.


Dia ingin segera untuk menemui Saba Alkamah, dia ingin bercerita bahwa dia telah menyelesaikan kasus dan Alka pasti bangga.

__ADS_1


__ADS_2