Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 60 : Janggit Benthangan End)


__ADS_3

Mereka berlima menaiki mobil mewah jeep berbadan besar, di kap mobil itu tertulis RUBICON. Mereka berlima dalam satu mobil, jujur biasa narik angkot membuat Aditia terlihat kikuk berada di mobil mewah.


Sekitar dua jam mereka sampai, cukup lama waktu yang mereka habiskan untuk sampai di lokasi, karena ternyata lokasinya berada di puncak, di ballroom sebuah hotel mewah. Kenapa kata mewah begitu bertebaran saat ini, Aditia tidak terlihat senang, dia bingun dan jujur agak takut.


Begitu sampai, mereka dipandu oleh seorang wanit berbaju putih dengan celana panjang hitam, wanita itu memakai earphone yang terhubung dengan walkie talkie untuk koordinasi jarak jauh dalam ruangan.


“Ibu Jarni dan Ibu Saba sebelah sini.” Wanita itu memandu mereka dengan sangat sopan dan ramah, bahkan wanita itu mengisi buku tamu dengan nama mereka, tidak membiarkan Jarni dan kawan-kawan repot mengisi buku tamu.


“Maaf ini dengan siapa?” Pendamping itu bertanya pada Aditia.


“Pewaris Pak Mulyana.” Alka menjawab, lalu setelah selesai mengisi, mereka semua diantar ke dalam ballroom, ternyata ruangan ini cukup besar, sudah ada banyak orang di sana, ada meja besar bulat yang cukup panjang, masing-masing bangku telah terisi, Mereka duduk berdasarkan nama mereka yang  tertulis di bangku.


Aditia duduk di bangku bertuliskan nama  Pewaris Mulyana, Aditia semakin bingung dan gugup banyak orang berpakaian begitu rapi, seandainya Aditia dan semua kawannya menggunakan pakaian sehari-hari mereka, tentu saja mereka akan terlihat seperti gembel yang salah tempat, Jarni mendadani mereka semua dengan sangat baik dan tepat, tidak berlebihan tapi cukup menunjukan kelas.


Acara segera dimulai, bagi Aditia ini acara yang sangat asing, dia tidak tahu acara apa ini.


“Baik dimohon untuk para pemegang saham untuk masuk ke ruangan karena RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM DADAKAN akan segera dibuka.


[Rapat umum pemegang saham dadakan? Apa-apaan ini?] Aditia bertanya dalam hati.


Alka memegang bahu Aditia sejenak, lalu mengangguk, tanda dengarkan baik-baik.


“Baik kepada Ibu Saba Alkamah, waktu dan tempat dipersilahkan.” Pembawa acara meminta Alka maju ke depan untuk berbicara.


Alka berjalan dengan tubuh tegak, dia terlihat seperti orang lain, bukan Alka yang Aditia kenal, dia terlihat elegan dan percaya diri. Yang lain menatap serius kepadanya.


“Selamat siang semua,” Alka berkata di depan podium setelah sampai di sana, “terima kasih sudah bersedia menghadiri RUPS dadakan ini, email yang telah dikirim Ibu Jarni disambut dengan baik. Rapat ini saya minta bukan karena hal yang sepele, tapi dalam rangka memperkenalkan pewaris dari Pak Mulyana, pemilik saham terbesar dari perusahaan TBK kita.”


Semua orang mendengar dengan seksama, ada gemuruh di dada Aditia, apalagi ini? dia masih bisa menerima jika ayahnya memiliki 4 anak angkat yang sangat kaya, ayahnya bahkan menyamar menjadi tekhnisi atau lainnya untuk bisa mendidik mereka, Aditia mengerti bahwa kecintaan ayahnya pada ‘pekerjaan sampingannya' mengantar ruh itu, membawa empat orang anak angkatnya menjadi keluarga bagi Aditia, itu bisa Aditia terima.


Tapi ini, ini sungguh hal yang berbeda, Aditia kesal dan marah, kenapa dia tidak mengenal ayahnya sama sekali, dia hanya tertunduk.


“Baiklah, saat ini Bapak Aditia sebagai pewaris saham dari Pak Mulyana telah hadir di sana.” Alka menunjuk Aditia, sehingga semua orang menatap padanya, dia tidak menatap mereka, karena perasaan marah itu.


“Beliau saat ini masih sedang menyusun skripsi karena satu dan lain hal skripsi beliau telat diajukan, sehingga keikutsertaannya dalam produktivitas perusahaan ini belum dapat maksimal, tapi berhak atas deviden atas nama Pak Mulyana, perkenalan ini bertujuan agar para pemegang saham lainnya dapat mulai mengenal pewaris dari saham terbesar pada perusahaan ini.”


Alka berbicara dengan begitu lancar, sungguh bukan Alka yang Aditia kenal.


“Baik, terima kasih Ibu Saba yang seperti biasa selalu cantik, sekarang kami akan mulai memperkenalkan perusahaan kami yang mungkin belum terlalu dikenal oleh pewaris dari Pak Mulyana. Waktu dan tempat dipersilahkan untuk Pak Hartino.” Alka kembali ke bangku di samping Aditia, sedang Hartino maju untuk memperkenalkan perusahaan ini.


“Baik, saya akan mulai dari nama perusahaan kami.” Hartino membawa sebuah pointer penunjuk layar yang bisa otomatis membuat presentasi pada layar naik turun tanpa harus mengoperasikannya dari laptop.


“Perusahaan kami bergerak dibidang rokok dan kopi, sudah TBK, perkenalkan Pak Aditia, perusahaan kami adalah PT. Gudang Kapal Merapi. Berikut adalah Company Profile.”


Sebuah video ditayangkan dengan sangat profesional, dalam company profile tersebut disebutkan bahwa empat kawan Aditia berada pada jajaran Direksi, bukan Direksi Operasional, tapi merupakan pengambil keputusan, Aditia akan termasuk dalam jajaran Direksi tersebut nantinya.


Masih dalam company profile tersebut juga dijelaskan bahwa laba kotor pada tahun lalu tercatat sebanyak satu koma delapan triliun rupiah, laba kotor tersebut naik dari kuartal sebelumnya sebanyak seratus lima puluh milyar.


Aditia masih tertunduk, Alka menangkap ada yang salah dengan ekspresi Aditia.


Company profile terus memperkenalkan betapa hebatnya perusahaan yang ayahnya sempat pimpin, tapi tidak ada sedikitpun rasa bangga pada Aditia, rasa marah dan kecewa lebih menguasainya.


Rapat selesai, semua dipandu ke tempat makan, sudah sore, semua orang sibuk makan bersama, sementara Aditia dan empat kawan lainnya sudah berada di ruangan khusus, mereka makan tidak bersama pemegang saham lain, Aditia hanya memandang keluar jendela, dia menatap, betapa tingginya saat ini dia berada, tapi dia tidak merasa senang.


Sementara semua sedang menikmati makan yang dilayani oleh semua pelayan yang khusus melayani para Direksi muda ini.


“Sudahi dulu menunya, jangan masuk kalau saya tidak panggil.” Alka memerintahkan pemandu wanita yang sedari tadi melayani mereka.


Ruangan hanya tinggal lima sekawan itu. Alka menarik Aditia duduk di meja makan bersama yang lainnya.


“Adit sekarang boleh bertanya.” Alka membuka pembicaraan.


“Tidak ada.” Aditia hanya mengatakan itu.

__ADS_1


“Kau tidak ingin bertanya berapa kekayaan ayahmu?” Hartino kali ini yang bertanya.


“Tidak, aku tidak tertarik.” Aditia tidak menyentuh sedikitpun makanan itu.


“Kau harusnya tertarik, karena kau memiliki hak atas semua milik bapak,” Alka berkata.


“Menurutmu, tapi tidak menurut ayahku.”


“Kenapa kau bisa berkata begitu?” Alka sedikit marah dengan kata-kata Aditia.


“Buktinya dia tidak meninggalkan wasiat apapun tentang perusahaan ini, seharusnya dia memberitahu kami lebih cepat, mungkin memang niatnya ingin menyembunyikan sampai akhir!” Aditia marah dan meluapkan isi hatinya.


“Kau lupa bapak meninggal dengan tiba-tiba? Kau lupa bahwa dalam kesakitannya dia hanya sempat memberimu keris itu, karena tidak ada yang lebih dia khawatirkan selain masalah tanggung jawab kalian sebagai Kharisma Jagat?” Alka membantah perkataan Aditia.


“Tapi seharusnya dia sudah menyiapkan wasiat, bukan saat aku bicarakan padamu tentang kesulitanku, kau baru bilang, seolah aku mengemis padamu, baru kau katakan.”


“Dit!” Ganding marah karena Aditia berkata keras pada  Alka.


“Bapak memang memintaku memberitahumu setelah kau lulus kuliah, setelah kau mampu belajar memimpin perusahaan ini, karena saat ini kau belum mampu menggantikan bapak, aku melanggar amanah bapak dan mempercepat informasi ini karena takut kalau angkot itu akan dijual oleh ibumu, bapak bukan orang yang sepicik itu Dit, kau anak kandungnya tapi tidak kenal dia!” Alka sinis.


“Buatku, ayah yang aku kenal adalah supir angkot, apa yang kalian perlihatkan hari ini adalah sebuah fatamorgana atau gendam yang mungkin saja kau lakukan padaku, untuk menipu penglihatanku.” Aditia bangun dan hendak pergi.


“Teganya kau berkata begitu pada kakakku!” Ganding marah, tapi Alka buru-buru menahan Ganding yang ingin menghajar Aditia.


“Beri dia waktu, mungkin saat ini yang dia rasakan adalah, bapak tidak percaya pada dia dan keluarganya, dia belum mendengar alasan bapak menyembunyikan semua ini. Kita beri dia waktu, dia akan kembali, keluarga tidak akan saling meninggalkan, kalaupun pergi, pasti kembali.” Alka dan yang lain memilih menikmati makan dengan tenang, Aditia kembali dengan mobil mewah jeep itu, Alka menelpon supir itu dan meminta menjemput Aditia di lobby, mereka akan pulang dengan mobil lain.



Aditia sampai rumah, dia masih berpakaian lengkap, diantar mobil mewah, dia memilih berhenti di depan gang, lalu membuka jasnya dan membiarkan kemejanya sedikit berantakan, untuk menghilangkan kesan mewah.


Ibu dan Dita ada di rumah, seperti biasa sedang nonton film di televisi, sungguh pemandangan ironis, barusaha dia berhadapan dengan kaum jetset, katanya dia pewaris dari pemilik saham terbesar dari suatu perusahaan TBK, tapi kenapa ibu dan adiknya tinggal di rumah petakan dengan semua perabot yang begitu sederhana, Aditia ingin melupakan apa yang dia dengar barusan.


“Bu, Dit.” Aditia buru-buru ke kamar mandi hendak mandi dan berganti pakaian, begitu selesai dia langsung duduk bersama ibu dan adiknya di ruang tamu dimana televisi berada.


“Angkotmu mana? Kok datang jalan kaki?” ibunya bertanya.


“Oh, yasudah, ada uangnya?” Ibunya bertanya hati-hati.


“Memang ibu punya uang untuk ongkos bengkel?”


“Ada, besok ibu ke toko emas, masih ada peninggalan emas ayah, kita bisa pakai itu dulu sementara ya.”


“Mas kawin?” Aditia bertanya.


“Mas kawin itu hak ibu, terserah ibu apain.”


Aditia mendengar itu langsung marah.


“Ibu, apa ibu tahu kalau ayah berbohong pada kita?” Aditia berkata dengan meninggikan suara.


“Kak! Jangan teriak ke ibu!” Dita marah karena kakaknya meninggikan suara.


“Bohong apa Dit? Apa ayah punya istri lain?” raut khawatir menghiasi wajah cantik ibunya Aditia itu.


“Lebih dari itu Bu, dia membohongi kita semua, dia tidak semiskin yang kita pikir bu!”


“Oh, Alhamdulillah kalau tidak punya istri lain.”


“Kenapa ibu hanya memikirkan itu, ayah bohong kalau dia miskin, ada harta warisan yang dia tinggalkan untuk kita dalam jumlah yang besar, dia bohon pada ibu, Dita dan aku, dia ….”


“Kamu tahu darimana ayah tinggalin warisan, kamu nih kebanyakan narik kali ya, jadi mabuk darat gini.” Ibunya tertawa,


“Kak, istirahat gih, tidur dulu, biar nggak ngaco!” Dita ikut menimpali.

__ADS_1


“Aku berkata jujur, kita punya banyak uang, tapi ayah nggak kasih tahu kita, dia tidak percaya bahwa kita berhak atas kekayaan itu, dia tidak percaya memberikan uang warisan itu pada kita, dia menyembunyikan identitas aslinya karena tidak percaya pada kita, dia membohongi kita seumur hidupnya! Aditia nggak bisa maafin itu!”


“Dit, ibu nggak ngerti apa yang kamu omongin, tapi buat ibu, ayah adalah lelaki paling bertanggung jawab, tidak pernah ibu kekurangan sedikit pun selama hidup bersama ayah, sekolah kalian, makan kalian dan semua kebutuhan kalian selalu dipenuhi dan ibu tidak meminta lebih, jadi buat ibu, bapak bukan seperti yang kamu bilang barusan.” Ibunya kali ini menunjuk wajah Aditia dan berkata sambil menangis.


“Kak, elu udah keterlaluan ya, ngebuat ibu sampai nangis gini.” Dita mendorong kakaknya dan memapah ibunya ke kamar, Dita memang anak yang paling bisa diandalkan jika ibunya dalam kesedihan, walau bukan dari rahimnya, tapi Dita adalah cahaya bagi rumah itu.


Aditia ditinggal sendirian di ruang televisi sederhana itu, dia menyisakan tangis kekecewaan. Rasa kagum pada ayahnya luntur, amanah mempertahankan ‘pekerjaan sampingan’ ini menjadi tidak lagi menggairahkan bagi Aditia.


Dia dulu melakukan itu karena merasa ayahnya orang hebat, dia ingin sehebat ayahnya, tapi sekarang, dia hanya mengenal ayahnya sebagai pria yang membohongi keluarga dan tidak percaya pada keluarganya sendiri.


Aditia lalu pergi ke kamarnya untuk tidur, dia ingin melupakan hari ini, apa yang terjadi hari ini sungguh ingin dia lupakan, terhimpit masalah keuangan lebih baik daripada dibohongi ayah sendiri sejak lahir sampai ayahnya meninggal dunia.


Dalam tidurnya Aditia masih menyisakan air mata, kekecewaan itu begitu dalam.



Pagi datang, seperti biasa, ibunya telah pergi kerja untuk masak di kantin kantor, Dita sudah pergi untuk kuliah, dia sendirian, sarapan nasi uduk telah ditinggalkan ibunya, ibunya juga mengirim pesan bahwa telah dibuatkan kopi di kulkas, Aditia harus memanaskannya jika ingin minum, pertengkaran semalam tidak membuat seorang ibu lupa pada kewajibannya.


Saat sedang sarapan, kopi sudah dipanaskan lagi, ada telepon masuk, dari nomor tidak dikenal, Aditia memilih untuk mengangkat telepon itu.


[Dengan Bapak Aditia?] Tanya orang yang menelpon itu.


[ Iya, dengan siapa ini?]


[Saya HRD perusaan PT. Indotel, Pak Aditia melamar pekerjaan pada posisi administrasi di perusahaan kami melalui aplikasi melamar pekerjaan satu minggu yang lalu, benar?]


[Oh iya, benar.”] Aditia mengingat telah memasukkan lamaran pekerjaan pada aplikasi tersebut ke banyak perusahaan, salah satunya adalah perusaan ini.


[Baik, kalau begitu tolong datang besok pada pukul sepuluh pagi bertemu dengan saya, akan ada tes tertulis, psikotes dan juga interview jika lolos ujian tersebut, apakah bisa?]


[Bisa, bisa.] Aditia mantab mengatakannya, dia memang butuh pekerjaan itu, kekayaan ayah tidak akan dia terima, karena ayah saja tidak memberikan padanya, dia lebih percaya empat orang anak angkatnya dibanding dirinya, anak kandung sendiri, itu yang Aditia pikirkan saat ini. Biarlah, dia akan banting tulang untuk keluarganya sendiri.


Dia tersenyum dan semangat lagi, dia baru ingat, angkot masih ada di rumah Jarni, tak apa, besok bisa pakai ojek online.


Aditia meneruskan sarapannya dengan semangat.



Sesuai waktu yang disebutkan kemarin, Aditia datang lebih awal, sudah ada beberapa orang yang sedang mengisi biodata, Aditia meminta kertas berisi biodata kosong untuk dia isi pada resepsionis.


Setelah mendapatkannya dia mulai mengisi seperti yang lain, saat sedang serius mengisi, dia melihat selurus pandangannya, ada seorang wanita berpakaian rapi yang duduk menatap ke luar, dia duduk di sofa yang agak jauh, dalam hatinya, bengong pagi-pagi, kesambet aja baru tahu rasa, itu yang Aditia pikirkan.


Setelah selesai mengisi biodatanya, Aditia mengembalikan kertas itu ke resepsionis lalu langsung di suruh ke ruangan yang ada di lantai dua, ruangan ujian tertulis dan Psikotes.


Dia bersama tiga orang lain akan naik ke atas melalui lift, untuk ke lift tersebut dia akan melewati wanita yang sedang melamun tersebut, Aditia berjalan paling belakang, semua orang mengabaikan wanita yang duduk melamun itu, Aditia akan menegurnya, mengingatkan untuk tidak melamun, tapi saat ia menengok ke arah perempuan itu saat jarak mereka dekat, Aditia kaget ....


Wajah bagian kanan wanita itu … hancur! Dari jauh Aditia memang hanya melihat wajah bagian kirinya, saat melihat itu dia kaget, kenapa dia tidak bisa merasakan hawa ruh, kenapa tadi dia sempat salah kira, dia terkejut karena tidak mengira bahwa ini adalah ruh.


Menyadari Aditia bisa mellihatnya, dia lalu spontan berlari mendekati Aditia, saat sudah dekat, dia melewati tubuh Aditia, lalu saat sudah melewati tubuh Aditia dia langsung menubruk punggung Aditia dan langsung menggendongkan tubuhnya pada punggung Aditia, bagian wajah rusaknya menempel pada wajah kiri Aditia, dia menggendongkan tubuhnya pada tubuh Aditia seperti anak kecil yang digendong belakang. Kakinya mengikat sempurna pada bagian perut Aditia, Aditia terkejut berusaha melepaskan gendongan perempuan itu, tapi gagal, bau anyir wajah rusaknya membuat Aditia mual, saat sedang berusaha melepaskan gendongan itu, perempuan berwajah rusak itu berkata ….


“Tholoooonnnggg … akuh….” Suaranya begitu membuat merinding.


________________________


Catatan Penulis :


Ini adalah akhir Janggit Benthangan ya, aku ada janji kalau akan jelaskan arti Janggit Benthangan ya, karena kalau cari di google pasti nggak ketemu.


Jadi kata Janggit Benthangan itu adalah nama dari kata Janggitan yang adalah nama dari hantu penjaga sawah, kenapa aku pakai nama ini karena ide awalnya adalah bapaknya yang secara tidak sengaja membuat anaknya menjadi korban hutangnya atas cicilan hasil panen pagi yang tidak mampu dia lunasi. Maka kata Janggitan nama yang aku pilih.


Lalu Benthangan artinya adalah jalan pintas, jadi hantu sawah yang mencari jalan pintas untuk pulang, itu adalah filosofi dari Janggit Benthangan.


Tapi kalau di cerita ini, Janggit Bethangan adalah suatu efek yang dirasakan oleh orang yang melihat setan dan tidak mampu melepaskan efek itu karena rasa takut yang sangat dalam sampai dibawa kembali jiwanya oleh Alka.

__ADS_1


Lunas ya hutangku, semua udah kejawab, kita masuk ke part baru ya, masih pada suka atau udah bosen?


Kalau suka, jangan lupa lempar bucket hadiah atau vote ya, bantu kami dikenal banyak orang dengan naik rangking, makasih semua.


__ADS_2