Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 225 : Bangsal 2


__ADS_3

“Kamar ini?” Dokter Adi bertanya.


“Ya, aku melihatnya masuk ke kamar ini.” Aditia menjawab dengan yakin.


“Sebentar, jangan masuk dulu, kita ke depan dulu, aku harus memastikan sesuatu.”


Dokter Adi ternyata mengajak Aditia ke resepsionis, Dokter Adi bertanya pada petugas di sana, sebelumnya dia memberitahu nomor kamarnya.


“Itu kamar masih ditempati sama Pak Saiful?”


“Iya Dok.” Jawab petugas yang menjaga front office.


“Kondisi Pak Saiful gimana?” tanya Dokter Adi lagi.


“Masih sama Dok, terakhir ke Spesialis Syaraf, tapi belum ada kemajuan, masih stroke. Seluruh tubuhnya tidak bisa digerakan. Bahkan terakhir dia tidak bisa memejamkan mata untuk tidur, dia perlu bantuan agar matanya di tutup.


“Oh, berarti masih ya, istri dan anaknya bagaimana?”


“Masih datang setiap hari Dok, istri dan anaknya menginap, datang sore dan pulang besok paginya.”


“Aku cek ke dalam ya, lagi buat literatur soal pasien Stroke, udah izin sama Prof. kok, jadi nggak perlu dikonfirmasi lagi ya. Udah dapat izin.” Dokter Adi berbohong.


“Ya Dok silahkan.”


Dokter Adi dan Aditia lalu berjalan kembali ke kamar itu, sementara dalam perjalanan menuju kamar itu, Aditia penasaran akan sesuatu.


“Dok, kok tahu yang menginap di sana Pak Saiful, Dokter sudah tahu siapa anak itu?”


“Saya tahu karena waktu dulu masuk saya yang menangani di UGD, lalu setelah masuk ruang inap dia ditangani oleh beberapa spesialis, sudah tidak dipegang olehku lagi. Aku ingat karena dia cukup lama di rumah sakit ini, tiga bulan kalau tidak salah. Ya, memang dia orang yang cukup berada hingga bisa menginap selama itu di rumah sakit.


Cuma ya, ada gosip kurang enak soal orang ini, karena laporan kesehatannya baik, semua organ vitalnya berfungsi dengan baik.


Makanya walau telah ditangani oleh spesialis, dia tetap tidak berhasil disembuhkan. Beberapa orang bilang dia itu penganut pesugihan, sumber uangnya adalah dari tumbal yang dia berikan.”


“Itu berita bener Dok?”


“Menurutmu kalau benar aku akan diam saja? Orang seperti kita itu kan mudah tahu mana berita yang benar dan bohong, sebagian omong besar itu adalah omong kosong. Aku tidak melihat jejak jin di dalam diri ataupun keluarganya. Jadi aku abaikan, aku anggap itu hanya omong kosong saja.


Sudah lama sekali aku tidak melihatnya lagi, makanya tadi aku pastikan dulu kalau memang masih Pak Saiful di sana.”


Mereka tiba di ruang inap itu, katanya kalau pagi begini tak ada keluarganya, lelaki itu sendirian di sini.


Dokter Adi dan Aditia masuk, Pak Saiful terlihat sedang disuapi oleh Perawat.


“Dok.” Perawat itu menyapa.


“Iya Sus, dilanjutkan aja, saya hanya sedang mengawasi untuk kebutuhan literatur, sudah izin ke Prof.” Dokter Adi berbohong lagi, dia sengaja bilang sudah izin agar tidak ada perawat yang iseng tanya ke Profesor yang menangani Pak Saiful.


“Iya Dok, saya lanjut suapin ya.” Dokter Adi melihat laporan kesehatan yang ada di sana, dia memang mau mengecek sesuatu.


Sementara Aditia duduk di sofa dan mengamati sekitar, tak ada yang aneh, hanya kamar ini terlihat berbeda, ada kasur tambahan yang sepertinya bukan berasal dari rumah sakit.

__ADS_1


Ada lemari plastik yang pastinya bukan dari rumah sakit juga, lalu ada beberapa sepatu wanita dan sepatu anak. Ruang inap ini terlihat seperti kamar kontrakan. Lalu ada bantal yang bermotif karakter anak, ada mainan anak dan juga boneka-boneka anak. Lengkap sekali kamar ini dengan semua peralatan kebutuhan harian.


“Dok, saya sudah selesai, saya pamit dulu ya, mau ke ruangan lain.” Dokter Adi mengangguk saja.


Setelah Perawat keluar, Dokter Adi lalu meminta Aditia untuk mendekat.


“Ada apa Dok?”


“Laporan kesehatannya sangat bagus, tapi keadaannya sangat buruk, apa kau lihat sesuatu?”


“Tidak Dok, semua aman.”


“Aku juga, tapi aneh sekali, apakah ada penyakit yang datang tanpa indikasi ataupun tanda, setahuku semua penyakit ada sumber dan penyebabnya.”


“Saya mana tahu Dok, kan yang sekolah kedokteran bukan saya.” Aditia sedikit mengejek.


“Ya, tapi kan kau rasanya cukup pintar untuk tahu apakah ini penyakit medis atau bukan, ternyata kau tidak sehebat yang kubayangkan.” Ejekan balik mengenai tepat kepada sasarannya. Salah Aditia , Dokter Adi dicemooh.


“Pak, ini Adi yang dulu tanganin Bapak di UGD, apa kabar Pak?” Dokter Adi menyapa Pak Saiful, yang ditanya hanya menatap kembali dengan tatapan yang aneh.


“Dia kenapa Dok?”


“Nggak tahu.”


“Dok, kau ini kan Dokter dan juga Cenayang, masa nggak bisa nebak.”


“Kau saja yang tebak Dit, kau kan Kharisma Jagat level tinggi, levelku masih di bawahmu.”


“Ah, kau sama tidak tahunya ternyata.”


Ini mereka berdua kenapa malah saling mengejek, sementara tanpa mereka sadari, ada yang mengawasi dari jauh.


...


“Ayo Dek, kasian papah udah lama nungguin kita, takut mau magrib nih.” Istri Saiful memberesi semua yang perlu mereka dibawa.


“Mah, Adek nggak mau ke rumah sakit.”


“Loh, kenapa? kan kasian papah sendirian. Dari pagi loh Papah nggak ditemenin kita.”


“Adek takut Mah.”


“Dek, jangan mulai lagi ya, Mamah kan udah capek seharian kerja, sekarang mau urus papah, jadi Adek bantuin Mamah supaya kita semua bisa tetap bertahan di keadaan sulit ini ya Nak.” Anak yang bahkan belum remaja itu harus dipaksa menjadi dewasa dan mengerti.


“Ya Mah, maafin adek ya.”


Lalu mereka berdua naik mobil ke rumah sakit, ibunya mengendarai mobil sendiri. Sejak suaminya stroke supir dan beberapa pembantu sudah di pecat karena dia tidak mampu membayar, sekarang istrinya Saiful harus banting tulang menjalankan bisnis keluarga yang mulai surut.


Begitu tiba di rumah sakit, Aditia dan Dokter Adi rupanya telah menunggu mereka, tapi bukan di dalam ruangan, akan terasa aneh kalau sampai Dokter Adi masuk dan memperkenalkan diri sebagai Dokter yang bukan menangani Pak Saiful, makanya mereka mengawasi saja.


“Anak itu kosong, Dit.” Dokter Adi bingung, karena dia memang tidak melihat yang aneh di anak itu.

__ADS_1


“Ya, aku juga tak lihat anak itu aneh seperti sebelumnya.”


“Apa kau salah lihat?”


“Dok, kata Alka aku kembali setelah dua jam di luar, sementara aku merasa hanya setengah jam di luar, kau pikir itu tidak aneh? Aku selalu meragukan asumsiku, tapi tidak pada perhitungan Alka.


“Kalau begitu, kita dekati anaknya ketika ibunya lengah.” Dokter Adi memberi usul.


“Tidak, terlalu lama, aku butuh bertemu Alka, aku khawatir. Kita langsung aja, pakai gendam. Ibunya kita gendam.”


“Dit! Kau preman atau penjahat! Tidak punya hati!” Dokter Adi kesal.


“Aku tidak masalah jadi preman, yang penting aku bisa cepat menyelesaikan kasus ini.”


“Dit! Kau ini bar-bar sekali!” Dokter Adi berdiri.


“Dok, mau kemana?”


“Katamu tadi kita mau menggendam ibunya saja?”


“Lah, tadi katanya itu barbar?”


“Ya kalau aku yang melakukan, kalau kau yang melakukan itu bukan urusanku.” Dokter Adi memberi alasan.


“Jadi aku yang melakukannya?”


“Ya, kau lah, aku kan Dokter, aku disumpah, tidak boleh melakukan hal buruk, supir angkot kan nggak disumpah.”


“Dok! Aku memang supir angkot, tapi bukan berarti aku tak punya harga diri yang baik untuk seorang Kharisma Jagat, kau tahu saat pertemuan Kharisma Jagat, si supir angkot ini duduknya di depanmu!” Aditia kesal dan membalas ejekan Dokter Adi.


“Yasudah, kita suit gimana?”


“Dok! Kau ini benar-benar! Yaudah ayo kita suit.”


Aditia lalu mengulurkan tangannya, saat mereka akan suit, terdengar suara dentuman yang cukup keras dari ruangan Pak Saiful, Dokter Adi dan Aditia spontan berlari dan masuk ke ruangan itu, saat masuk, gelap ....


Tak ada apapun yang terlihat, Dokter Adi dan Aditia tidak sadar berpegangan tangan, mereka memastikan bahwa tidak terpisah di dunia ghaib yang menjebak mereka.


“Dok, kita sampai kapan tuntunan? Emang mau nyebrang?” Aditia protes, mereka jalan sambil menuntun satu sama lain.


“Dit, kau tahu, aku selalu menjadi Dokter Malik, bukan pendamping Malik dalam bertarung, karena aku memang tidak terlalu hebat bertarung, mau kah kau berdiri di depanku, kau kan Kharisma Jagat kelas tinggi.”


“Saat ini saja kau malah memujiku, kau ini benar-benar di luar jangkauan Dok.”


“Ini alasannya aku berhenti ikut campur pada urusan Malik dan Seira, aku pikir kasusmu tidak akan seberat mereka, tahunya sama aja.”


“Dok, kau kan punya Karuhun, dia pasti lebih hebat darimu, kau keluar saja dulu, aku ingin Karuhunmu saja yang mendampingiku.”


“Tapi aku penasaran.”


“Dok!”

__ADS_1


__ADS_2