Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 82 : Tersesat 7


__ADS_3

Setelah dua hari otopsi mayat Anto selesai, semua sudah dapat dipastikan, di tubuh Anto dan senjata pembunuhan itu terdapat sidik jari Ardin, tidak terdapat sidik jari yang lain pada alat pembunuhannya.


Hari ini digelar penyelidikan, Ardin sudah di bawa ke ruang khusus, ruangan interogasi yang lebih professional, kalau kemarin hanya ruangan pelaporan.


Alka, Ajimantrana dan Aditia ada ruang penyelidikan tersebut, tapi dibalik kaca yang bisa dilihat satu arah saja.


Sedang penyidik yang menanyai Ardin hanya satu orang, dia memakai earphone untuk berkomunikasi dengan orang dibalik kaca yang melihat mereka.


“Jadi kenapa kau membunuh mereka semua?” Penyidik bertanya.


“Saya tidak membunuh mereka.” Ardin tetap pada jawaban sebelumnya.


“Tapi bukti sudah jelas, sidik jarimu ditemukan di tubuh dan juga alat pembunuhan, kau bahkan spesifik menyebut alat pembunuhan itu.”


“Tentu saja sidik jariku ada di sana, karena kami muncak bersama, coba cek sidik jari saudara lain, Om Nanto misalnya, pasti kalian akan temukan juga.”


“Bagaimana dengan alat pembunuhan batu itu, kenapa ada sidik jarimu juga dan kenapa kau tahu alat pembunuhannya batu?” Penyidik masih memojokkan Ardin.


“Batu itu juga sama, kami kan muncak terkadang pegang sana, pegang sini, bisa saja batu itu terpegang oleh saya secara tidak sengaja, makanya ada sidik jari saya di sana.” Jawaban sama sekali tidak masuk akal.


“Kenapa kau tahu alat pembunuhannya batu?”


“Karena wanita itu bilang, kepala Anto hancur, kan cuma batu yang bisa buat kepala orang hancur.” Tidak heran dia mendapat predikat lelaki cerdas.


“Bisa saja golok atau benda tajam lain membuat kepala hancur.”


“Tidak Pak, batu itu cara paling tercepat membuat kepala seseorang hancur.”


“Kamu tahu betul ya, mungkin karena kamu melakukannya?”


“Pak, sebagai Polisi sebaiknya Bapak bicara berdasarkan bukti, bukan dengan kemungkinan.”


“Ya makanya, bukti sudah jelas tapi kau masih saja menyangkal, sok pintar segala.”


“Pak, sudahlah, saya tidak mau bicara lagi kalau tidak didampingi Pengacara.” Ardin menggunakan salah satu alasan yang paling membuat Polisi kesal.


“Tidak ada Pengacara yang mau membela kamu, jangan membuat lama penyelidikan ini.”


“Yasudah kalau begitu, naikkan saja ke Persidangan Pak, biar Bapak nggak capek.”

__ADS_1


“Kau ini!” Penyidik sudah mulai muak.


Sementara di dalam ruangan kaca Alka sudah geram, dia ingin masuk tapi pasti nggak boleh, dia memberi kode pada Ajimantrana untuk melakukannya.


Aji Mantrana lalu memegang dinding ruangan itu, seketika semua orang terdiam, setelah Ajimantrana membaca mantra dan menepuk dinding tiga kali.


Dia membuat semua orang terhipnotis dengan ilmunya, semua orang di ruangan ini, kecuali Aditia dan Alka tentunya.


“Kita ke sana.” Ajimantrana sudah memastikan semua orang sudah terhipnotis, terdiam kaku.


Alka, Aditia dan Ajimantrana segera keluar dari ruangan kaca dan masuk ke ruangan interogasi, Penyidik kaget, tapi dipegang bahunya olehnya Ajimantrana, Penyidik itu juga terdiam, terhipnotis.


“Wanita ****** dan kawanannya.” Ardin terlihat tidak takut melihat Alka dan yang lain datang.


“Alka mencekik lehernya tanpa ampun dan menarik leher itu ke arah dinding, dia terlihat sangat kesakitan, kaget karena dia tidak menyangka Alka bisa menyentuh lehernya, walau kekuatannya di segel, tapi Alka tetaplah seorang setengah manusia, setengah jin, sehingga kekuatan fisik biasanya saja melebihi manusia biasa.


Aditia mengeluarkan kerisnya, sementara Alka memegang lehernya Ardin masih dengan sangat kencang di dinding ruangan penyelidikan. Aditia mengeluarkan keris itu, keris yang tumpul untuk orang biasa dan tajam untuk jin dan sejenisnya.


Aditia menyilet dahi Ardin, Ardin terlihat tidak kesakitan, tapi tetap merasakan sesak nafas karena lehernya dicekik, makhluk di dalam tubuh Ardin masih tidak bereaksi.


Aditia melanjutkan menggores di bagian dada, Ardin tertawa, dia masih bisa menertawakan Aditia, dia ternyata punya ilmu kebal, makanya tidak kesakitan saat digores, padahal darahnya keluar deras, jelas bahwa ada makhluk jahat di dalam tubuh Ardin, karena keris ini nembus tubuhnya, tapi dia tidak merasakan sakit, itu artinya jin ini memiliki ilmu yang tinggi, pasti jin jahat.


“Minggir kalian.” Ajimantran berkata, dia menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan, sebagai tanda bersiap menyerang, akhirnya setelah Ardin dilepaskan oleh Alka dan Aditia, Ajimantrana masuk ke dalam tubuh Ardin, Ardin berteriak karena jin di dalam tubuhnya sedang dipaksa keluar oleh Ajimantrana, mereka berkelahi di dalam tubuh Ardin.


Ardin berguling, memukul angin dan juga menghantam badannya ke dinding dengan keras, Alka dan Aditia duduk dan minum kopi yang ada di ruang interogasi itu, sementara Ardin terus saja menyiksa dirinya.


“Aku mohon, jangan, sakit, sakit.” Ardin meminta pertolongan Alka dan Aditia.


“Sakit? Bagaimana dengan Anto, Nanto, dan bahkan adik kandungmu brengsek!” Aditia geram, baru kali ini Aditia terlihat sejalan dengan Ajimantrana yang masih menyiksa Ardin.


“Lu mau pake keris gue Ji?” Aditia menawarkan, Ardin berjalan mendekati Aditia tapi dengan langkah ditahan, jelas saja dia menahan kakinya, karena Ajimantrana yang mengendalikan tubuh Ardin.


Setelah sampai di dekat Aditia, keris itu dipegang Ardin, lalu dia menusuk keris itu ke bahunya, sakit terasa kali ini karena jin yang ada di tubuh Ardin sudah dilumpuhkan oleh Ajimantrana.


“Sakit, sakit ... sakit!!!” Keris itu terus di hujamkan ke bagian tidak vital oleh Ardin ke tubuhnya sendiri, bahkan ke bagian wajahnya."


"Ayo katakan, kenapa kau membunuh mereka semua?" Alka bertanya, dia dan Aditia ngopi bersama.


"Tidak, dasar wanita ******!" Ajimantrana akhirnya mendekatkan keris mini Aditia ke leher Ardin, yang ditahan olehnya sekuat tenaga, tangannya sendiri berusaha menusuk leher itu dan tangan satunya menahan, hingga akhirnya keris itu hampir sampai di lehernya, Ardin berteriak, baik, baiklah.

__ADS_1


Ardin duduk, sebenarnya Ajimantranalah yah mendudukkannya, dia lalu bercerita.


"Nanto adalah adik ibuku, dia mendapat bagian harta dari kakekku lebih besar karena alasan agama, makanya dia sekarang lebih kaya raya dibanding semua adik dan kakaknya yang perempuan semua, usahanya dari modal warisan itu maju pesat, seharusnya harta warisan itu dibagi rata, bukan karena dia adalah anak lelaki maka mendapat harta lebih banyak.


Ibuku adalah seorang janda, dia mendapat bagian yang tidak seberapa, dibuat modal pun tidak bisa membuat kami kaya. Nanto setelah dapat warisan itu sok berbagi dengan mengkuliahkan semua keponakannya, padahal itu juga hak kami, ingin dianggap dermawan tapi pakai harta warisan."


"Itu memang haknya bodoh! Dalam agama dia berhak mendapat jatah warisan lebih besar, ibumu janda adalah tanggungannya karena kakek kalian sudah meninggal sedang ibunu tidak punya kakak laki-laki, ketika ommu menguliahkanmu bukan karena dia sok dermawan, tapi karena dia merasa bertanggung jawab dan itu adalah bagian dari kekihlasannya, kau seharusnya bersyukur karena dia menjalankan tanggung jawabnya sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga, dia tidak melupakan keponakan-keponakannya, keserakahanmulah letak masalahnya!" Adita berkata panjang lebar.


"Terserah kalian mau bilang apa."


"Lalu apakah dengan membunuhnya kau bisa mendapatkan hartanya?!" Alka kembali bertanya.


"Tentu saja, karena surat wasiat, aku dan Anto adalah wali dari seluruh hartanya jika sesuatu terjadi padanya dan anak-anaknya masih kecil, Nanto bilang padaku dan Anto bahwa dia merasa umurnya tidak akan panjang, makanya dia membuat surat wasiat wali itu, agar kelak aku yang pintar dan Anto yang jujur bisa membantunya mengurus seluruh harta warisan itu.


Awalnya aku fikir tidak masalah membantunya, toh hanya bertindak sebagai wali, tapi ketika pembacaan seluruh kekayaan itu di depan Notaris, aku benar-benar takjup, dia yang telah diberi warisan banyak itu mampu menggandakannya menjadi sepuluh kali lipat dalam waktu lima tahun terakhir, itu semua dia dapat karena bagian harta warisan dari kakek kami yang sangat besar, makanya dia mampu memulai bisnis dengan modal yang cukup, kalau ibuku diberi harta warisan sebanyak dia, pasti aku dna keluargaku juga bisa sekaya raya itu.


Makanya aku merasa, seharusnya akulah yang memiliki harta warisan otu, bukan Nanto!"


"Itu sebenarnya karena Nanto yang hebat dalam mengelola bisnis, melihat bagaimana dia mampu menaikkan bisnisnya adalah karena dia banyak beramal, bukan karena harta warisan bodoh!" Aditia masih geram.


"Diam kau brengsek!" Ardin kesal dengan perkataan Aditia.


"Padahal Pak Nanto percaya padamu kau orang cerdas yang bisa bantu dia dan keluarganya, karena dia sudah punya firasat tentang umurnya, yanga dia tidak tahu adalah orang yang dipercaya justru menjadi pembunuh keluarganya." Alka menyesal melihat kejadian ini, semua karena uang.


"Kau juga membunuh adikmu, adik kandugmu, apa kau tidak punya hati!" Aditia berkata lagi.


"Setiap perjuangan perlu pengorbanan, kalau rencana ini berhasil, pengorbanan adikku tidak akan sia-sia, karena keluarhanya yang lain akan bahagia dengan kekayaan itu."


"Bohong, aku yakin kau akan kabur dengan kekayaan itu." Alka mengejeknya.


"Apakah kau juga ngilmu? Kenapa kau bisa naik dan menggendong mereka dalam waktu singkat?!" Ajimantrana bertanya dengan mulut Ardin sendiri.


"Ya, aku ngilmu dengan seodang dukun ternama di daerah kami, sebagai syarat aku harus bertapa di gunung yang kami naiki selama satu bulan penuh, aku sudah menaiki dan turun gunung itu selama satu bulan penuh, Anto dan Nanto tidak ada apa-apanya dibanding denganku pengetahuan tentang gunung itu, makanya ketika Nanto bertanya mau naik gunung apa untuk mendaki rombongan, aku memintanya naik gunung dimana aku ngilmu dan bertapa.


Semua sudah kuatur dengan baik, andai kau tidak menemukan mayat-mayat itu aku bisa datang ke kantor Polisi, menuduh Anto menyesatkan kami lalu menguasai seluruh hartanya.


Kalian adalah berandalan yang menyebabkan rencanaku gagal."


Ajimantrana kesal, dia menusuk keris Aditia ke ubun-ubun Ardin, seketika keluarlah Jin yang telah lemah dari dalam tubuh Ardin, Ardin yang tidak kebal lagi sedari tadi mulai merasa kesakitan, dia berteriak karena sekujur tubuhnya sudah habis tertusuk-tusul oleh keris Aditia.

__ADS_1


"Kita bangunkan semua orang lalu menjelaskan yang terjadi." Alka berdiri menghabiskan kopinya dan bersiap membangunkan semua orang.


__ADS_2