Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 527 : Mulyana 33


__ADS_3

“Ya, aku memang ikut pelatihan diam-diam, ada pelatihan non formal sebelum masuk masa pendidikan, aku hanya ingin keterpaksaan ini membuatku hancur, makanya aku mencoba tetap melakukan apa yang aku suka, jika saja kelak orang tuaku akan berubah pikiran.” Dirga terlihat sedih.


“Tenang saja, kelak kau akan menjadi Polisi yang hebat. Aku ikut pelatihanmu ya? tempatnya pasti menyenangkan.”


“Kau mau jadi Polisi juga Yan?” Dirga bertanya.


“Tidak, aku ingin melihat kenapa kau begitu ingin jadi Polisi dan bagaimana Polisi hebat ini dilatih.”


“Hah?” Dirga makin bingung, seolah Mulyana yakin Dirga akan jadi Polisi yang hebat, tapi Dirga tak terlalu menghiraukannya.



Sore pun tiba, kelas mereka sudah selesai, Mulyana dan Dirga tetap pada rencana untuk pergi ke tempat pelatihan itu.


Dirga dan Mulyana akhirnya pergi ke pelatihan kepolisian itu, tempat pelatihan swasta, dibangun oleh seorang mantan petinggi kepolisian, untuk memudahkan para calon Polisi masuk kepolisian karena bekal pelatihan fisik serta pelatihan teori di tempat ini.


“Wah tempatnya cukup besar ya, kukira tempat yang tidak terlalu profesional, tapi ternyata ini cukup pro ya.” Mulyana langsung menilai tempat ini begitu sampai, Aep tidak ikut karena dia malas mengurus hidup orang lain dan rasa penasaran Mulyana.


“Iya, cukup besar, ini yang punya mantan petinggi Polisi, dia bangun tempat ini begitu pension trus bisnisnya diterusin deh sama keluarganya.”


“Pak, saya ikut yang latihan malam, temen saya ikut ya pak, cuma mau liat-liat aja dulu, sebelum daftar, boleh nggak ya pak?” Dirga bertanya pada penjaga di depan tempat pelatihannya, rupanya dia salah satu pelatih juga, karena untuk sesi malam orang yang menjaga gedung juga termasuk orang yang melatih.


“Ya, nggak apa-apa kalau emang mau ikut liat aja mah, lagian di sini bukan cuma mau jadi Polisi aja, tapi juga buat belajar beladiri doang juga bisa, kebetulan sesi malam banyakan latihan fisik.” Pelatih yang bernama pak Hendro itu menjawab dengan ramah, tubuhnya tinggi besar, berkulit hitam dengan rahang yang tegas.


“Kalau begitu, kalian siap-siap, sudah ada beberapa orang nih yang sudah di lapangan, kita akan berlari dulu 3 putaran ya.”


“Hah? Saya juga ikut pak?” Mulyana bertanya.


“Iyalah, liat-liatnya dari deket, jadinya keliatan banget.” Pelatih itu tertawa, begitu juga dengna Dirga, mereka sengaja agar Mulyana ikut pelatihan, Dirga sih seneng aja, karena dia jadi ada teman yang dekat.


Mereka semua mulai berlari, Dirga berlari dengan Mulyana beriringan.


“Nggak usah terlalu serius lah larinya, ini bukan kompetisi.” Dirga memperingatkan Mulyana.


“Inilah jeleknya aku, kalau disandingkan dengan banyak orang untuk suatu hal, jiwa persainganku langsung timbul dan inginnya menang saja.”


“Terlihat sih, ketika di kampus pun, kau sangat kritis, anak-anak ada yang bergunjing, katanya kau itu suka cari muka pada Dosen dan membuat jam pulang menjadi lebih lambat karena pertanyaan-pertanyaanmu.”


Ibunya Mulyana dan Aep memang membebaskan mereka untuk terlihat pintar sejak kuliah, karena umur dan juga pola pikir sudah bisa sejajar, mereka takkan terlihat mencolok, hanya akan terliaht sebagai mahasiswa yang pintar, itu saja. Lagian, ruang lingkup lebih luas, orang lebih banyak, siapa yang akan mencurigai mereka anak dari seorang yang istimewa?


“Aku bukannya suka cari muka, hanya penasaran saja, kadang dosen kita asal menjelaskan hal yang tidak dia pahami sepenuhnya, itu menggangguku, dia menyampaikan ilmu yang salah. Makanya aku coba untuk perbaiki, itu saja.”


“Dengan banyak pertanyaan, kau akan tahu, orang itu benar tahu atau tidak, karena jika tak bisa menjawab, maka jelas, dia tidak tahu.” Dirga menyelesaikan penjelasan Mulyana, memang mereka memiliki keterikatan pikiran dan juga batin kelak, mereka berdua sahabat yang ditakdirkan bersama.


“Nah, kau paham kan maksudku?”


“Memang ada dosen yang terlihat tak terlalu mumpuni. Kau tahu kan, fakultas kita memang fakultas paling muda, tak heran, tenaga kerjanya juga mungkin masih cabutan asal ada.” Dirga menambahi lagi, rupanya dia juga paham. Dirga mampu menyeimbangkan pemikiran Mulyana.


“Sebentar, aku harus pergi.” Mulyana tiba-tiba berhenti, dia melihat sesuatu.


“Kau mau ke mana?” Dirga bertanya.


“Aku melihatnya di bus waktu itu, kok sekarang ada di sini?” Mulyana bingung.


“Siapa?”


“Perempuan itu.” Mulyana menunjuk seorang perempuan yang sedang berjalan di lapangan itu.


“Hah?” Dirga bingung, tapi dia tetap mengikuti teman yang kelak jadi sahabatnya itu.


Mulyana mengejar wanita itu dengan cepat, karena wanita itu terlihat berjalan cepat.


“Yan! liat apa sih!” Dirga terus bertanya, hingga akhirnya mereka sampai ke semak-semak dan wanita itu sudah duduk di sebuah bangku yang terbuat dari semen.


Duduknya menghadap ke arah pepohonan, seharusnya dia tak duduk dengan menghadap ke sana, karena tak ada pemandangan yang bisa dilihat dari arah yang dia pandang.


“Kau sedang apa?” Mulyana bertanya, Dirga langsung merapat, dia tak tahu kenapa teman yang baru saja dia kenal ini menyapa sebuah bangku semen yang tidak ada apa-apa di sana selain rasa takut, karena bangku ini terasa sangat menakutkan, ada di tempat yang cukup tertutup di tempat ini.


“Aku sedang menunggu seseorang di sini.” Wanita itu menjawab, suaranya sangat lembut.

__ADS_1


“Siapa? kekasih? Suami? Anak?”


“Kau siapa? jangan ikut campur.”


“Baiklah, aku takkan ikut campur, kalau begitu aku akan pamit, tapi jika terlalu lama, mungkin aku bisa bantu.” Mulyana menawarkan bantuan.


“Yan, lu ngomong ama siapa sih!” Dirga makin takut, dia masih merapat pada temannya itu.


“Kita balik lagi ke barisan lari yuk, takutnya elu nanti diomelin karena keluar dari barisan berlari.” Mulyana tidak menjawab malah meminta temannya kembali berlari.


Mereka ikut lari di belakang bersama barisan lain, tak ada yang curiga, mereka pikir Mulyana dan Dirga ke toilet dulu, hingga menghilang sejenak.


Lalu pelatihan fisik dimulia lagi hingga larut.


Tibalah waktunya dua teman ini pulang menaiki bus untuk menuju rumah masing-masing, mereka saat ini sedang ada di halte, karena larut, bus yang datang pun sangat jarang.


“Yan, gue bener-bener bingung, tadi elu ngomong ama siapa? itu tadi nggak ada apa-apa loh.”


“Hmm, emang nggak ada apa-apa, Ga.”


“Trus?” Dirga geregetan melihat kelakuan temannya ini, dia makin penasaran.


“Ya ga trus, emang nggak ada apa-apa di sana, cuma kosong.”


“Ya kosong, trus kenapa elu ngomong sendiri?”


“Gue nggak ngomong sendiri, gue ngomong sama lu.”


“Yan! gue mulai kesel ya, elu pasti ngomong ama sesuatu kan? elu ngomong sama ....”


“Kenapa elu berpikir begitu, Ga?” Mulyana menatap Dirga dengan tatapan santai, entah kenapa, dia hanya merasa percaya pada lelaki ini.


“Karena gue ... percaya sama lu.”


“Oh pantas gue ngerasa deket sama lu, lu ngingetin gue tentang seseorang.” Mulyana terdiam tak melanjutkan kata-katanya.


“Siapa?”


“Temen sekolah?”


“Ya, temen SMA.”


“Dia nggak kuliah bareng kita?”


“Nggak.”


“Kenapa?” Dirga bertanya lagi.


“Meninggal.”


“Innalilahi, kapan?” Dirga bertanya lagi walau sedikit tak enak, tapi dia ingin bersimpati dan terlihat perhatian.


“Pas dia SMP.”


“Tunggu-tunggu! Lu bilang kalian teman SMA, tapi dia udah meninggal SMP? Gimana sih maksud lu? lu tadi minum tanpa sepengetahuan gue, ya?” Dirga kesal.


“Nggak, serius Ga, gue temenan sama ... yang tak kasat mata.”


Dirga kembali duduk merapat, dia yang tadi duduk agak jauh menjadi duduk agak merapat.


“Nggak usah ngaco deh, mening elu mabok aja deh, daripada serius gini, gue jadi takut, mana udah malam.”


“Katanya mau jadi Polisi, masa sama setan takut!”


“Heh, emang ada pendidikan Polisi khusus menghadapi setan, kalau setan mah, kejahatan yang berbeda, sulit untuk dipetakan pada bagian apa dalam kategori kriminal. Jadi, elu nggak usah pake bandingin cita-cita gue sama keberanian gue menghadapi setan, nggak ada korelasinya tuh! Elu pinter-pinter keblinger ya!”


“Kalau takut mah, takut aja, nggak usah pake berbelit-belit kali.”


“Iya! Emang gue takut!”

__ADS_1


“Ga, bisa sonoan dikit nggak, nggak enak dilihat orang tuh, dikiranya kita sakit!”


“Bodo amat, kalau ntar elu liat lagi trus ajak ngomong dia duduk di antara kita, gimana?” Dirga ketakutan.


“Kalau lu takut dan meyangka sejauh itu, berarti elu percaya ya?” Muyana bertanya dengan berbinar.


“Gimana ya ngejelasinnya, gue itu bukan orang yang gampang deket sama orang Yan, tapi pas elu mau temenan, entah kenapa gue percaya aja ama lu, gue ngerasa kalau kita tuh bisa jadi temen baik dan bisa saling percaya. Makanya gue emang ... percaya sama lu. Pas elu tadi ngomong di deket bangku semen itu aja, gue udah mikirnya elu ngomong sama setan karena ....”


“Apa?”


“Karena memang di tempat pelatihan itu ada isu yang beredar mengenai setan perempuan yang duduk di bangku semen itu, makanya akhirnya bangku itu ditutupi pohon, nggak ada yang mau hancurkan karena pernah ada yang coba hancurkan, tapi malah sakit. Makanya akhirnya bangku itu ditutupi tanaman gitu di sekelilingnya, Yan. Biar nggak ada yang lihat aneh-aneh lagi.”


“Oh begitu, pantes itu bangku agak aneh ya, masa ada bangku di dalam semak gitu.”


“Nah iya, makanya gue percaya kalau lu bisa ... lihat begituan.”


“Ya, bukan cuma lihat Ga. Temen gue Nando yang gue ceritain tadi, itu juga sosok yang tak kasat mata, gue temenan ama dia tanpa sadar kalau dia itu udah ... nggak ada.


Trus gue temenan dan akhirnya bisa bantu dia untuk pulang Kepada Tuhan. Nggak luntang-lantung lagi di antara dua dunia ini, kasihan, kalau mereka tersesat, suka banyak yang manfaatin.”


“Oh ya? siapa?”


“Dukun. Mereka itu bisa dipelihara seperti jin, lalu lupa kalau dulunya pernah hidup jadi manusia, karena harus melakukan kejahatan terus menerus atas perintah dukun.”


“Wah kasihan sekali Yan.”


“Iya, makanya , aku mau bantu perempuan itu, tapi sebelumnya gue harus tahu dulu, dia siapa dan apa masalahnya.”


“Wah kau berani sekali, Yan.”


“Ya, karena buat gue, nggak ada pilihan Ga, harus dilakukan, karena emang udah takdir.”


“Lu kayak gue ya, Yan. Gue nggak punya pilihan juga, ditakdirkan di keluarga yang saklek banget, harus nurutin orang tua apapun yang dia inginkan gue harus patuh, karena hidup gue bergantung pada orang tua.”


“Hmm, soal ini gue bisa bantah, Aep kakak gue, lu tahu kan?”


“Iya, si tukang bohong itu kan? kayaknya dia nggak suka deh ama gue.”


“Nggak kok, pertama dia bukan tukang bohong, dia cuma selalu mencoba lindungi gue, kedau dia bukannya nggak suka ama lu, kita terlatih untuk tidak percaya siapapun, makanya kita selalu menahan diri untuk dekat sama orang.” Mulyana mencoba membela Aep, seperti Aep selalu melakukan untuknya.


“Ya, tentu saja, dia kakakmu, tapi lanjutkan lagi, kau tadi mau ngomong apa soal takdir?”


“Oh ya, Aep itu juga seharusnya seperti aku, tapi akhirnya sekarang dia memilih jalan sendiri, tidak berurusan dengan hal ghaib. Selalu ada jalan untuk apa yang kau inginkan, Ga. Tapi apakah sebesar itu keinginanmu untuk memperjuangkannya.”


“Nggak semudah itu sih, Yan. Orang tua gue itu keras dan sangat mengendalikan anaknya, makanya gue nggak berani melawan.”


“Elu udah bilang belum, mau lu apa?”


“Nggak secara serius, tapi mereka tahu gue mau jadi Polisi.”


“Elu udah nolak waktu mereka minta lu untuk kuliah di tempat kita?”


“Nggak berani, gue berharap mereka mampu paham, tapi malah maksa.”


“Ya, orang tua ingin yang terbaik, dia tahunya yang dia pilihkan itu terbaik, tapi nggak ada salahnay elu ngomong lah sama mereka.”


“Tapi kan udah jalan kuliahnya? Sayang uangnya loh.”


“Sembari aja, maksudnya kalau ada kesempatan elu bisa lompat, tapi bukan berarti meninggalkan yang sekarang.”


“Hmm, semoga gue bisa kayak Aep ya, bisa memilih yang dia mau.”


“Ya, pasti bisa!” Mulyana tak tahu, kelak Aep pun harus tetap mengemban tugas dunia ghaib, karena takdir selalu mengintai mereka.


“Eh itu bus lu, naik gih.” Mulyana menunjuk busnya Dirga.


Dirga berdiri hendak naik, tiba-tiba Mulyana mengikuti dari belakang, padalah itu bukan busnya.


“Kok ikut?”

__ADS_1


“Itu perempuan yang di bangku semen tadi, duduk di samping lu ....”


“Yan!” Dirga langsung berdiri dan merapat lagi pada Mulyana.


__ADS_2