
“Kan Bapak udah bilang, jangan kasih tahu soal ular-ular itu, jangan kasih tahu soal teman.” Mulyana sedang berbicara dengan Jarni yang hanya menatap kosong pada jendela kamarnya.
“Apakah mereka menyakitimu?” Mulyana bertanya.
Jarni masih diam.
“Mana yang sakit?” Mulyana menunduk dan menatap iba pada Jarni, saat mendengar itu, Jarni menatap balim Mulyana dan menangis sejadinya, seperti selayaknya anak berumur tujuh tahun, dia menangis sembari menutup matanya, tangis yang dia tahan selama satu bulan ini, tangis yang membuat dia akhirnya merasa lega, walau trauma akhirnya menghiasi dirinya, dia begitu takut salah bicara lagi dan ayahnya akan memukulinya seperti waktu itu, makanya dia memilih diam seperti gadis kecil bisu.
“Jarni dengan Bapak, anak seperti Jarni yang lihat ular itu ada, ada banyak malah, Jarni nggak salah, Jarni nggak akan ke rumah sakit jiwa, tapi Jarni harus rahasiakan ini dari mereka.
Mereka memang papi dan mamimu, tapi mereka tidak akan siap menerima ini, bukan karena mereka membencimu, tapi karena mereka tidak tahu dan tidak mengerti, mereka orang dewasa, mereka tidak akan mau belajar hal ini, makanya, Jarni bicara soal ular dan hal yang Jarni lihat aneh, hanya pada Bapak, jadilah gadis baik dan membanggakan untuk orang tuamu, sisanya, soal ‘mereka’ jangan pernah Jarni bicarakan pada orang tuamu, Jarni mau janji sama Bapak?”
“I-iya, Jarni sakit kakinya, papi pukul sakit sekali, Jarni benci papi, benci mami.”
“Nggak boleh, kan udah Bapak bilang, mereka tidak membenci Jarni, mereka hanya takut dan tidak paham, Jarni yang lebih pintas soal ini, makanya, kita rahasiakan soal ini ya? nanti kalau Jarni sudah siap, kita akan bertemu teman-teman Jarni.”
“Teman-teman Jarni? seperti teman itu?” Jarni menunjuk pada makhluk kecil yang selalu dia sebut teman tapi tak terlihat itu.
“Tidak, semua orang bisa lihat teman-teman itu, kalau yang itu tidak bisa dilihat.”
“Oh begitu, baiklah.”
“Karena sekarang Jarni sudah punya teman ular-ular ini, teman akan ikut Bapak ya, nggak apa-apa kan?”
“Teman mau pergi sama Bapak? tapi nanti teman kembali ke sini lagi kan?”
“Tidak Nak, teman harus pulang, harus kembali ke tempatnya, seperti Jarni, teman juga punya rumah terakhir yang harus dia tuju, Jarni sudah tidak takut pada ular-ular itu lagi kan?”
“Iya tidak takut ular-ular ini lagi, tapi teman juga baik, aku mau sama dia.”
“Tidak bisa Nak, karena sudah waktunya teman pulang, sudah terlalu lama dia di sini.”
“Tapi ….”
“Jarni nggak mau kan, teman sakit terus kakinya karena tidak memakai sepatu, kedinginan terus karena bajunya robek-robek begitu? dan kesakitan karena wajahnya rusak?”
“Iya, nggak mau, kasihan teman.”
“Yaudah, sekarang, kasih salam perpisahan pada teman ya, Jarni akan ditemani ular-ular itu selanjutnya, mereka akan menjaga Jarni, tapi main sama mereka jika tidak ada orang ya, kalau ada yang melihat, Jarni harus melindungi ular-ular itu, jangan katakan kalalu Jarni melihat mereka, janji?”
“Iya aku janji, aku mau pelukan dulu sama teman.”
“Iya boleh.”
Jarni mendekati ‘teman’ lalu dia memeluknya, teman tersenyum dengan wajah mengerikan itu, ada rasa dingin yang sangat Jarni rasakan setiap menyentuhnya, dia memang belum dilatih tentang dunia lain selain dunia yang dia pijak saat ini, dalam fikiran anak-anaknya, teman hanyalah teman yang suka bersama dengannya.
“Kamu baik-baik ya di rumah baru nanti, jangan lupa pakai sepatu, pakai baju yang bagus, terus itu diobatin ya luka di mukanya, Jarni sampai kapanpun akan sayang sama Jarna, karena Jarna selalu bersama Jarni kalau Jarni lagi ketakutan, makasih Jarna, jangan lupain Jarni ya, Jarni sayang Jarna.” Dia lalu melepas pelukannya, Jarna dituntun oleh Mulyana untuk diantar ke tempat seharusnya menggunakan angkot oleh Mulyana, tempat di mana ruh itu seharusnya berada.
Sementara di kamar lain, ibunya Jarni sedang menatap album keluarga, dia memegang botol wiskinya yang berukuran sedang, kalau sedang stres dia memang selalu memilih alkohol sebagai penenang.
“Tidak seharusnya aku melakukan itu, tapi kami harus melakukannya, terpaksa, apakah ini karma karena aku telah mengorbankan yang satu demi yang lain?” Ibunya Jarni meneguk alkoholnya sembari memandang sebuah foto usang yang dia sembunyikan selama ini dibalik foto Jarni kecil, foto seorang bayi kembar siam.
5 TAHUN LALU.
Hari itu adalah hari dimana Jarni dan Jarna lahir, dua bayi cantik yang harus lahir dengan dua tubuh tapi dengan satu jantung saja, ibu dan ayahnya bayi kembar siam itu, begitu meliaht bayinya langsung histeris, mereka tidak suka akan takdir yang terasa mengerikan ini.
__ADS_1
Bagaimana tidak, bayi mereka kembar, tapi kembar siam, tidak bisa dipisahkan walau mereka punya banyak uang, karena jika dipisahkan, maka salah satunya harus dikorbankan untuk kehidupan yang lain.
Tapi membiarkan mereka tetap hidup bersama, akan menjadi aib serta beban bagi keluarga itu, pertama Jarni dan Jarna akan sulit mendapatkan jodoh, karena tubuh mereka menempel dengan satu jantung, kedua, mereka akan tidak punya masa depan karena keistimewaan tersebut, makanya ayahnya Jarni mengambil keputusan yang mengerikan.
Ayahnya Jarni memohon kepada Dokter spesialis bedah dan jantung untuk membantu mereka memisahkan tubuh Jarni dan Jarna, sebenarnya hal ini bertentangan dengan kode etik, karena Jarni dan Jarna dua bayi yang sehat, mereka bisa hidup bersama jika saja tidak dipisahkan, asal tubuh itu tetap menempel, maka dua bayi itu akan baik-baik saja.
Tapi ayahnya Jarni tidak mau, dia tidak mau menanggung beban malu, beban masa depan suram bagi putrinya dan tentu dirinya sendiri, dia takut orang akan mencemoohnya, seorang yang kaya raya serta terpandan, tapi memiliki putri yang cacat.
Permohonan itu disempurnakan dengan uang yang banyak, dia membawa tiga koper besar berisi uang pada dua Dokter itu, melihatnya saja membuat siapapun tergiur memiliki kopernya, akhirnya, operasi pemisahan tubuh itupun, disetujui, pemisahan dua tubuh itu akan dilakukan secara ilegal, ruangan dan peralatan akan disediakan oleh ayahnya Jarni, ibunya mendukung rencana itu, dia juga bukan seorang yang pandai dalam bersikap, dia hanya seorang istri yang suka dengan kemewahan dan takut rasa malu, ketimbang naluri keibuan.
Maka operasi itu dijalankan, operasi pemisahan tubuh, begitu tubuh Jarna dilepaskan dari tubuh Jarni, maka dia tidak akan terhubung lagi dengan jantung yang ada di tubuh Jarni, tak memiliki Jantung, akan membuatnya mati seketika.
Operasi berjalan selama lima jam, melibatkan dua dokter, satu ahli bedah dan satunya lagi ahli jantung, beberapa Perawat ikut serta dalam operasi ilegal ini, tidak heran operasi berjalan lancar, Jarna berhasil dilepaskan dari tubuh Jarni, maka hari itu adalah hari kematiannya.
Dua Dokter dan beberapa Perawat adalah pembunuhnya, tapi dibandingkan kekejaman mereka, sebenarnya, yang paling kejam adalah orang tua Jarni dan Jarna, bagaimana mungkin mereka memberikan uang pada oknum medis itu untuk membunuh anak mereka, pada saat itu implant jantung belum ada jadi mereka nekat membunuh Jarna untuk menghindari malu.
“Ini jenazah Jarna, semua berjalan lancar, Jarni saat ini masih belum siuman, kita akan tetap mengawasi kondisi Jarni dan memastikan dia akan baik-baik saja,” ucap seorang Dokter yang merupakan Ahli bedah.
“Baik Dok, terima kasih.” Ayahnya Jarni menerima tubuh Jarna, lalu menguburnya di belakang rumah tanpa nisan, karena dia tidak ingin ada yang tahu, bahwa pernah ada bayi bernama Jarna tanpa jantung.
Pemakaman itu benar-benar sangat menyedihkan, tidak ada prosesi, tidak ada doa, hanya tubuh dingin yang dipendam ke dalam tanah, tubuh Jarna, bayi mungil tanpa jantung.
Seiring bertumbuhnya Jarni, Jarna pun ikut tumbuh di dunia berbeda, dia selalu berada di sisi saudari kembarnya, namun dalam fisik yang mengerikan karena dikubur di bawah tanah itu.
Ketika Jarni mulai mendapat salam sapa dari Khodamnya atau Sigur Zikala, dimana mata batinnya terbuka, maka Jarna yang selama ini tidak bisa dia lihat, dapat terlihat di ayunan tersebut.
Naluri Jarni sangat kuat pada saudari kembarnya, makanya dia tidak takut padanya, karena rasa dekat itu, rasa dekat karena berbagi rahim dan jantung yang sama sebelumnya.
Ruh Jarna melarang Jarni menyebutkan namanya pada semua orang, karena itu akan menjadi malapetaka bagi Jarni, orang tuanya akan tahu keberadaan Jarna yang telah mereka kubur, hal itu akan membuat mereka semakin menyakiti Jarni, mengingat hanya tahu Jarni melihat hal yang tidak mereka liaht saja, Jarni sudah disiksa, apalagi jika terlontar bahwa Jarna ada bersamanya, maka bisa saja, ayahnya akan benar-benar mengirimnya ke rumah sakit jiwa.
Ruh Jarna berusaha menemani Jarni karena yang ruh Jarna ingin hanya satu, berdekatan denga nsaudara kembar yang dipisahkan secara paksa dengannya.
Jarni tidak akan pernah tahu soal Jarna, hingga Mulyana meninggal dunia, rahasia itu terkubur bersama jasad Mulyana.
Foto yang disembunyikan oleh ibunya Jarni di balik foto Jarni kecil pada album foto lawasnya, adalah foto ketika Jarni dan Jarna lahir, foto satu-satunya yang tidak dibakar oleh ayahnya Jarni, karena disembunyikan oleh ibunya, walau dia mendukung keputusan itu, tapi terkadang, dia merasa mendengar suara tangis Jarna terakhir kalinya saat sebelum di operasi, makanya dia selalu membutuhkan botol minuman alkoholnya, karena hanya itu yang bisa meredam rasa bersalah karena mendukung membunuh anaknya sendiri yang masih bayi.
Jarni adalah gadis yang sangat cerdas, mulai saat itu dia menjadi gadis yang sangat berhati-hati jika bicara, tidak sedikit orang yang menganggapnya bisu karena begitu iritnya berbicara, tapi prestasi akademiknya luar biasa, dia bahkan memegang alih beberapa bisnis ayahnya, orang tuanya tidak pernah sekalipun membahas soal masa kecil Jarni yang kejam, tapi tidak pernah ada kedekatan berarti antara kedua orang tuanya dengan Jarni, karena Jarni lebih memilih selalu bercerita apa yang dia rasakan sebenarnya pada Bapak.
______________________________________________
GANDING PRAWIRA
“Kan sudah kukatakan sebelumnya, kalau kau menjual rumah itu terlalu cepat, kau akan rugi, tunggu sebentar saja, sabar, lihat, hanya dalam waktu enam bulan nilai jual objek pajak atau NJOPnya melesat bukan?” Ganding mengatakan itu saat dia sedang makan siang dengan ayah, ibu dan juga dua kakaknya.
“Heh, apa sih lu, aneh, sok tua lu, batu juga umur sembilan tahun, lagaknya kayak konsultan property, tua lu!” Kakak perempuannya tidak suka, karena Ganding terlalu ikut campur bisnis orang tuanya, tapi kalau dilihat memang Ganding selalu ikut campur dalam urusan orang, dia tuh terlihat tua karena melontarkan kata-kata yang seharusnya tidak dikatakan oleh orang yang masih berumur sembilan tahun.
“Ganding, jangan suka nguping obrolan orang tua ya Nak.” Ibunya mengatakan itu dengan pelan, dia tahu Ganding selalu bijaksana, tapi itu terlalu aneh, jika mendengar solusi dari seorang anak kecil.
“Dad, bisa nggak transfer lagi uang buat bayar buku.” Kakak laki-lakinya yang merupakan putra sulung, meminta uang pada ayahnya.
“Buku apa? bukankah kau sudah membeli semua buku yang kau butuhkan minggu lalu? Kau itu kuliah apa sampai butuh buku banyak, bukankah perpustakaan kita juga sudah cukup lengkap?”
“Ganding!” dua kakaknya berteriak, Ganding memang terlalu cerdas di keluarga ini, tapi kecerdasannya tidak bisa diterima oleh keluarganya, karena cenderung ikut campur dan terlalu jujur.
“Nanti Daddy transfer ya.”
“Dad, bukankah kita seharusnya bertanya dulu sebelum memberikan uang itu, seharusnya kakak belajar tentang cash flow, karena akan bahaya untuknya kedepan kalau dia terlalu boros.”
__ADS_1
“Eh bocah kecil, pake sepatu dulu yang benar, baru lu nasehatin orang lain.” Kakak laki-lakinya kesal.
“Aku tidak perlu belajar pakai sepatu, karena sepatuku tidak ada yang memakai tali, jadi gampang tinggal pakai, itu namanya kemudahan.”
“Elu tuh anak sembilan tahun, beli game sana, jangan kebanyakan baca buku.” Kakaknya lalu pergi setelah menoyor kepalanya.
“Nding, hari ini nggak usah les ya, temani Mommy belanja, ok sayang.”
“Kakak aja yang temani, kan kakak perempuan.”
“Gue ada latihan balet, nggak bisa.”
“Mom, aku harus selesaikan baca buku tentang penciptaan algoritma, lagi seru-serunya.”
“Yaelah penciptaan algoritma seru, cari temen sono, nggak punya teman kan lu?”
“Kakak! cukup.” Mommy kesal dengan perkataan kakaknya Ganding yang mengatakan Ganding tidak punya teman, karena sudah cukup tiga tahun ini Ganding melewati masa sulit bersama teman-temannya yang jahat itu.
“Nggak apa-apa Mom, aku emang nggak punya teman, aku nggak butuh mereka, kau cuma butuh buku-bukuku.”
“Tentu kamu butuh teman Nak, kamu hanya belum menemukan yang benar-benar tulus padamu, kau hanya perlu menemukannya.”
“Ya, aku tidak berharap terlalu tinggi.” Untuk umurnya Ganding selalu memilih bahasa yang kadang terlalu tinggi.
“Aku ke perpustakaan ya Mom, jangan masuk kalau bukan untuk hal penting, aku mau fokus.
Itu bohong, dia tidak ingin Mommynya melihat apa yang dia lakukan sebenarnya.
Dia masuk ke perpustakaan itu dan duduk di salah satu sofanya.
“Ambilkan aku buku Algoritmanya,” perintah Ganding. Tapi, tidak ada orang di sana.
“Kau mau aku usir?” Dia berkata lagi, tidak ada jawaban.
“Serius kau mau aku usir!” Ganding berteriak.
Lalu buku itu melayang dari rak buku dan mendekati Ganding, setidaknya akan terlihat seperti itu jika ibunya masuk dan melihat, tapi sekarang tidak ada orang, makanya Ganding berani memerintah ruh itu.
Seperti Jarni, dia juga mendapatkan salam sapa dari Khodamnya, yaitu berupa mata batin yang terbuka sebelum Khodamnya benar-benar berada di sisinya sampai akil baligh, tapi Ganding itu cerdas, dia sudah tahu bahwa ada dunia lain yang dinamakan dunia ghaib karena dia suka membaca banyak buku, makanya ketika dia tahu apa yang dia lihat tidak dilihat orang lain juga, dia mulai mempelajarinya, fenomena apa yang dia rasakan.
Fenomena itu dia pelajari tiga tahun lalu saat dia berumur enam tahun, karena dia masih kecil dia pernah tertangkap basah orang tuanya membaca buku yang aneh, dia juga pernah tertangkap basah ngobrol dengan ‘mereka’ oleh beberapa teman sekolah dasarnya, maka tahun di mana dia sering tertangkap basah, yaitu tiga tahun lalu, adalah tahun paling menyebalkan untuknya.
TIGA TAHUN LALU
…………………………………… next part guys.
__________________________________
Catatan Penulis :
Mohon maaf, aku jangan dilempar pake umpatan ya, tapi pakai bunga dan kopi, vote juga boleh, senenga banget malah.
Jangan lupa selalu dukung kami ya, bulan ini bulan yang berat, karena akhirnya aku bisa update setiap hari, semoga kedepannya aku terus begini ya.
Dukung kami dengan jangan lupa like ya.
__ADS_1
Terima Kasih.