Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 242 : Hestia 6


__ADS_3

Kepolisian membuka kasus Suminah karena orang tua Suminah meminta Polisi segera menangani kasusnya, walau keberadaan Suminah masih belum diketahui hingga hari ini.


Seorang lelaki datang ke kantor Nicko, dia bertubuh gempal, meminta bertemu tanpa janji, seharusnya tidak bisa karena Nicko bukan orang sembarangan di kantornya. Tapi berbeda dengan Sumohadi, dia diperbolehkan masuk oleh Nicko.


“Bagaimana dengan perempuan itu?” Sumohadi bertanya, dia terlihat khawatir.


“Dia sudah kami ungsikan di tempat lain, kau tenang saja Pak, yang penting proyek kita jalan dulu.” Nicko mengingatkan, pria terakhir yang dilayani oleh Suminah ini. Pria gendut yang suka dengan tubuh wanita muda.


“Tapi bukannya kau sempat diperiksa Polisi?” Sumohadi bertanya dengan wajah semakin khawatir.


“Ya, hanya formalitas, karena dia karyawanku.”


“Kenapa harus kau, kenapa bukan bagian Personalia? Bukankah kau punya karyawan yang khusus mengurus pegawaimu?”


“Pak … tenang saja, tidak akan ada yang terjadi, wanita itu sudah aku ungsikan. Semuanya akan baik-baik saja.”


“Kau juga salah! Kenapa kau bawa dia hari itu sehingga istriku melihat kami sedang bermain-main di ruanganku! Seharusnya kau tidak membawanya ke kantor saat itu.”


“Pak, aku kan hanya menawarkan, kau bisa saja membawanya ke tempat lain, tapi kau kelihatannya sudah tak tahan ingin bermain dengannya, maka aku tinggalkan dia karena memikirkan dirimu Pak.” Nicko beralasan, padahal dia hanya ingin lelaki itu memberikan tander itu padanya.


“Yasudah, pokoknya kau harus membuat wanita itu diam sementara waktu, karena kalau sampai istriku bisa menemukannya, dia akan habis. Lagi pula, aku masih ingin bermain dengannya jika kelak istriku sudah lupa tentang kejadian kemarin itu.”


“Ya Pak, tenang saja, begitu keadaan tenang, aku akan membawanya kembali padamu. Kau bisa bermain dengannya lagi selama apapun yang kau mau.”


Sumohadi terlihat sumringah lagi, padahal sebelum datang ke kantor ini dia terlihat sangat panik.


Sumohadi adalah seorang pria yang kaya raya, bisnisnya menyediakan kebutuhan semua kebutuhan atas proyek-proyek besar yang akan dijalankan di negeri ini. Dia punya banyak relasi, baik dari pemerintah maupun dari para pengusaha non pemerintah, tapi kenyataannya pengusaha-pengusaha itulah yang mengendalikan pemerintah.


Bisa dibilang dia adalah seorang calo, tapi dengan kelas yang sangat tinggi, berkedok perusahaan penyedia kebutuhan proyek besar. Dia yang mengatur pembangunan perumahan bersubsidi, mengatur pembangunan gedung-gedung pemerintahan, termasuk membangun rumah-rumah untuk para abdi Negara.

__ADS_1


Tak heran kekayaannya sungguh bernilai bombastis, berbeda dengan dia yang dulu, dulu dia hanya seorang karyawan swasta di perusahaan keluarga istrinya, lalu akhirnya menikah dengan anak pemilik perusahaan, dimodali untuk membuka usaha, tidak disangka ternyata dia sekarang jauh lebih kaya dari keluarga istrinya.


Istrinya juga bukan seorang wanita yang cantik jelita, istrinya memiliki tubuh gempal, sanggul yang tinggi dan dandannan menor, khas istri-istri pengusaha pada jaman itu, berkumpul untuk sosialisasi dengan para pengusaha lain, tapi tidak mampu mengurus diri hingga suaminya menjadi lelaki mata keranjang. Tak heran, dia punya uang yang begitu banyak dan kekuasaan yang cukup untuk menunjuk wanita manapun yang dia inginkan.


Tapi tetap takut dengan istrinya karena biar bagaimanapun, dia terkenal sebagai seorang suami yang hangat, ayah yang baik dan pengusaha yang budiman, selalu berbagi. Itu adalah apa yang dia bangung selama ini, makanya dia sangat katakutan ketika istrinya memergoki dirinya yang sedang bermain-main dengan Suminah di ruangan kantornya.


Ini juga bukan kali pertama istrinya tahu Sumohadi berselingkuh, ini kesekian kalinya, tapi melihat dengan mata kepala sendiri, saat membuka pintu dan hancur sudah hatinya, melihat suaminya tanpa busana bersenang-senang dengan gadis muda.


Itu memicu kemarahannya, dia tetap bersikap tenang, meminta suami dan juga Suminah untuk berpakaian di hadapannya, lalu mengusir Suminah dan menyidang suaminya.


Suaminya bersujud di kaki istri, lalu berkata sumpah yang hanya bualan semata, hanya agar istrinya percaya, bahwa dia takkan berbuat hal itu lagi.


“Aku akan memaafkanmu sekali lagi, hanya sekali lagi, jangan sampai aku melihat perempuan itu di manapun, karena aku pasti akan menghabisinya! Kau camkan itu!” Istrinya lalu pergi, dia memang perempuan bermental baja, atau perempuan yang takut kehilangan  harta, entahlah, yang pasti, perempuan itu cukup berbahaya bagi Suminah.


Karena itu Sumohadi datang ke kantor Nicko untuk memastikan perempuan itu aman, karena dia tidak ingin mainan barunya dicelakai oleh istrinya, terlebih dia masih sangat ingin bermain dengan perempuan itu.


“Kau sudah pastikan bahwa wanita itu aman?” Nicko berbicara dengan seseorang di sebuah warung kopi kecil, dia menggunakan pakaian yang tak lazim digunakan oleh seorang pengusaha kaya raya, warung kopi ini adalah tempat di mana dia sering bertukar informasi dengan para anteknya, antek yang tidak bisa dibilang orang baik, tapi orang kepercayaan Nicko.


“Kalau begitu, kau harus pastikan Polisi takkan menemuinya, kemungkinan kita juga takkan bertemu dalam waktu lama sekarang, aku harus memastikan bahwa kecurigaan mereka terhadapku akan pudar karena waktu. Setelah aman, aku akan menemuimu lagi dan Suminah.”


“Baik Pak, kalau begitu, bagaimana dengan uangnya, apakah kau membawanya?” Anshar bertanya, dia memang butuh uang untuk semua perintah yang harus dia jalankan.


“Ini, kurasa lebih dari cukup untuk kehidupanmu dan Suminah selama enam bulan, jika habis aku akan memberikannya lagi, tapi jangan hubungi aku, aku akan menyuruh orang lain untuk memberikannya padamu. Saat ini, sorot mata Polisi dan keluarga Suminah tertuju padaku, karena ada yang melihat plat mobilku, aku juga harus membereskan hal itu.” Nicko terlihat kesal dengan pernyataan Deden yang memberatkannya.


“Kau ingin aku menghabisi pemuda itu?”


“Jangan, aku akan semakin dicurigai, aku akan mengawasinya dan mungkin menemuinya langsung, terkadang, membuat musuhmu berada dekat denganmu jauh lebih aman, dibanding menghabisinya.” Nicko memang cerdas jika soal bersiasat.


“Baiklah kalau begitu aku pamit, jika nanti ada apa-apa, aku akan berkomunikasi melalui surat yang aku tinggalkan di tempat penitipan barang di kantor pos dekat kantor Polisi itu, tempat biasa kita bertukar informasi, kau harus menyuruh anak buahmu, seminggi sekali cek tempat penitipan itu.” Mereka memilih kantor pos sebagai tempat saling menghubungi yang dekat kantor Polisi karena, secara Psikologi, kriminal menghindari berdekatan dengan kantor Polisi, makanya tempat-tempat yang dekat dengan kantor Polisi malah tempat teraman bagi para kriminal kelas kakap, mereka menggunakan kecerdasan untuk selamat. Siapa yang akan curiga dengan tempat yang dekat dengan kantor yang katanya memperjuangkan keadilan itu?

__ADS_1


Nicko berpisah dengan preman itu, lalu dia masuk ke dalam mobil, berpakaian selayaknya orang kaya lagi, ditemani seorang supir yang sangat loyal, dia berumur lebih tua lima tahun dari tuannya, dia bukan hanya supir tapi juga tangan kanan Nicko, orang-orang yang melakukan pekerjaan kotor untuk tuannya.


“Darmin, Kau pastikan bahwa rute kita ke sini tidak pernah dilacak oleh Polisi.” Nicko memperingatkan supirnya.


“Baik Pak.” Lelaki bernama Darmin itu lekas mengemudikan kendaraannya, dia berputar-putar tidak langsung ke rumah tuannya, ini hanya agar menjaga, kemungkinan mobil bosnya diikuti oleh Polisi.


Jejak mobil yang berputar-putar, membuat banyak saksi melihat, menjadikan alibi jadi lebih tertancap. Sehingga semua orang yang melihat mobil ini kelak, akan menjadi bala tentara penolong yang menyangah satu kesaksian kepada kesaksian lain, Ini adalah rangkaian cara Nicko belajar dari kasus Deden yang melihat plat mobilnya malam itu sehabis mengantar Suminah.



“Den, jadi bener elu liat plat itu mencurigakan? Kenapa nggak cerita kemarin itu pas hari kamu liat mobil itu di depan gang kampung kita?” Pasukan ronda berkumpul dan membicarakan kembali apa yang sedang gempar di kampung mereka.


“Ya aku tidak berpikir jauh saat itu, aku hanya mikir mungkin mobil itu sedang minggir, kau tahu lah, kadang mobil seperti itu pemiliknya suka minggir untuk melakukan hal aneh, seperti … berbuat tak senonoh di dalam mobil. Jadi kecurigaanku hanya sebatas sampai di situ.” Deden berkata dengan wajah sok polos.


“Ya sih kau benar, tapi kasihan ya Suminah, ternyata mobil yang kau lihat itu adalah mobil kekasihnya, jangan-jangan Suminah diculik sama istri pacarnya, katanya pacarnya sudah punya istri.” Seseorang yang merupakan kerabat Pak RT mendapatkan informasi itu saat Pak RT berbincang dengan istirnya di rumah, dia mencuri dengar.


“Iya Den, kasihan banget loh Suminah, dia itu ditipu sama bosnya, ibunya aja nggak kenal sama bosnya, tapi udah pamer kesana kemari kalau anaknya mau dinikahin, sekarang kalau sudah begini siapa yang rugi. Suminah juga jangan-jangan nggak tahu kalau bosnya sudah beristri.” Lelaki lain mulai bergosip, Deden hanya diam saja.


“Ah, mana mungkin Suminah nggak tahu, pikir deh, di kantor itu ada begitu banyak karyawan, masa dia nggak tahu kalau bosnya sudah beristri, pasti istrinya juga kadang datang, sekerdar kirim makan siang. Ini sih, Suminahnya aja yang gatal.” Lelaki lain mulai kasar membicarakan korban yang saat ini masih hilang.


“Sembarangan kau bicara, kalau Suminah sudah mati, kau membicarakan orang mati tau! Mau kau dihantui?” Lelaki kerabat Pak RT tahu, kalau Deden pasti masih sangat menyukai Suminah dan itu terlalu kasar untuk dikatakan.


“Eh, kalian cium wangi nggak sih?” Tiba-tiba lelaki lain yang dari tadi hanya diam bertanya, wajahnya pucat.


“Wangi apa?” Yang lain bertanya dan mulai mencoba menghirup udara di sekitar mereka.


“Wangi parfum … Suminah!” Semua orang berdiri dan hendak lari, karena ketakutan dengan orang yang berbicara mencium wangi parfum Suminah.


Deden hanya berdiri dan menatap kosong ke depan, dia melihat dari jauh, seorang wanita berjalan pelan, wanita itu menyeret kakinya, mencoba mendekati pos ronda. Deden takut, dia akhirnya ikut lari, apakah itu Suminah? Deden bertanya dalam hati, dia berhenti berlari dan melihat ke arah belakang, dari tempatnya berdiri dia melihat seorang wanita telah duduk di pos ronda menghadap padanya, dari dia berdiri, Deden tahu, itu adalah Suminah, wajahnya pucat, bajunya compang-camping dan seluruh tubuhnya basah, dia bisa melihat dengan jelas karena jarak berdirinya belum jauh.

__ADS_1


Seketika Deden pingsan, karena pemandangan berikutnya, adalah hal yang paling mengerikan yang pernah Deden alami.


__ADS_2