Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 422 : Bulan Madu 20)


__ADS_3

“Kalau begitu kau dan Jarni bisa berkolaborasi membuat pagar itu agar jadi lebih kuat dan tidak terlihat lagi, jadinya ....”


“Nding ... apa katamu tadi?”


“Yang mana? Kan kata-katakku banyak.”


“Pagari lagi vila ini agar tidak terlihat?”


“ASTAGA, PAGAR!” Semua orang baru sadar dan mereka semua mulai paham benang merahnya.


“Hanya Jarni yang bisa memasang pagar ghaib itu, lalu siapa yang mengajarkanmu caranya membuat pagar itu?” Aditia bertanya.


“Bapak ....”


“Saat masuk aku merasa bahwa, ada energi yang aku kenali, tapi karena pagarnya telah hancur, maka kau tidak menyadarinya, energi ayah terlalu tipis karena pagarnya telah dihancurkan.” Aditia melengkapi kecurigaan yang mungkin saja menjadi nyata.


“Kalau memang pagar ini bapak yang buat, lalu kenapa di buku catatannya tidak ada sama sekali catatan tentang Bali, bapak bahkan bilang tidak ingin menyentuh daerah yang budaya dan adat ghaibnya kental seperti Bali.” Hartino bertanya.


“Buku catatan bapak memang hanya untuk kasus yang belum selesai, kasus Sak Gede sudah bapak anggap selesai Har, mungkin bapak pikir bahwa, setelah pagar itu dibuat kokoh, tidak ada yang mampu membukanya, tapi ... ternyata bapak salah, pagar itu ternyata telah hancur sekarang dan membuat Sak Gede berulah.” Alka memberikan asumsi.


“Aku setuju dengan asumsi yang Alka katakan, karena ayahku pikir mungkin Sak Gede takkan mampu keluar dari penjara yang ayahku buat, makanya dia tidak menulisnya di buku catatan.”


“Dit, lalu kalau memang bapak pernah ke sini, seharusnya bapak juga melakukan ritual bukan? lalu apakah kau tidak curiga kenapa Ayi membujukmu datang ke sini? maksudku, Ayi yang pertama tahu kalau Alya adalah orang jahat yang hendak memanfaatkanmu, lalu mengapa insting Ayi tidak tajam ketika menyuruh kita ke sini, bukankah mungkin dia tahu kita dijebak?” Alisha tiba-tiba melontarkan perkataan yang membuat Alka memelototinya, beraninya dia mencurigai Ayi, tidak heran, Alisha orang luar pada awalnya.


“Kau jangan keterlaluan Alisha.” Hartino buru-buru memperingatkan istrinya agar tidak bicara sembarangan soal Ayi.


“Ok sorry, mari kita gunakan kata yang lebih sederhana, maksudku adalah, aku tidak menuduh Ayi jahat, tapi aku pikir, Ayi memang tahu kita akan dijebak, dia tahu kalau mungkin Rangda akhirnya akan menjadi khodamku, karena aku dan Alka selama ini mencari khodam tapi tubuhku selalu menolak hingga akhirnya Rangda masuk ke dalam tubuhku, lalu selain Rangda? Apalagi yang mungkin sepadan dengan resikonya? Ayi tahu resikonya tinggi dan Ayi tetap ingin kita datang, maksudku, bukankah para Ratu biasanya punya kebiasaan mendidik para orangnya agar lebih kuat dengan cara yang unik?” Alisha mencoba berhati-hati dengan perkataannya, dia memang si gila yang nekat.


“Aku tahu, mungkin Ayi merasakan sejak awal bahwa pagar ghaibnya hancur, tapi dia tidak bisa ke sini karena dia punya banyak pekerjaan di AKJ, makanya dia meminta kita memperbaiki pagarnya?” Aditia berargumen.


“Mungkin lebih dari itu Dit.” Alisha kembali membantah.


“Apa yang lebih dari itu?” Alka bertanya.


“Ayi ingin kita membujuk Sak Gede untuk ... masuk ke dalam pengawal Ayi?” Alisha akhirnya masuk pada inti.


“Aku pikir istriku benar Dit, maksudku, untuk apa Ayi menyuruh kita sekedar memasang pagar ghaib? Sedang Sak Gede memiliki kemampuan yang luar biasa. Bukankah mungkin dia memiliki maksud untuk memperkuat AKJ dengan menugaskan kita membujuk Sak Gede masuk ke dalam lingkaran Kharisma Jagat?”


“Satu lagi Dit, aku tahu, mungkin Ayi juga berlomba dengan waktu.” Ganding tiba-tiba ikut nimbrung pembicaraan.


“Kenapa dia harus berlomba dengan waktu Nding?” Aditia bingung.


“Siapa yang mampu membuka pagar ghaib buatan Bapak selain?”


“Kharisma Jagat dengan kemampuan yang sangat tinggi, karena tingkat ilmu yang bapak gunakan juga sangat tinggi.” Aditia berkata.


“Maka mungkin para pembelot itu, yang dulu berperang dengan Ayi, yang selamat dan kabur itu, mungkin saja ada diantara mereka adalah Tetua, yang juga memiliki kemampuan tinggi. Mungkin juga pemilik vila. Har, coba cari nama pemilik vila ini di internet, kalau pemilik vila itu baru dan sejak dia datang vila ini bisa terlihat lagi.


Sudah pasti, pemilik baru itu yang membuka pagar ghaib milik bapak dan mencoba menjebak kita menggunakan Anto dengan imingan uang, lagi-lagi uang.”


“Iya Nding aku dan Alisha akan mencarinya.” Hartino menarik tangan istrinya yang sedari tadi sibuk menari, setelah Rangda masuk dia jadi suka terlihat menari.

__ADS_1


“Dit, tapi PR kita masih sangat banyak, Sak Gede harus ketemu dulu baru bisa dibujuk jika itu memang maunya Ayi, lalu apa hubungan ibu penari itu dengan keberadaan Sak Gede, kau ingat wajah anaknya?” Alka tiba-tiba bertanya.


“Wajahnya? Ingat, tentu saja aku ingat.”


“Nding, coba cari pembuat sketsa wajah, kita mungkin bisa mengetahui wajah anak itu dan melacak siapa dia, karena Aditia hanya tahu wajah dan namanya saja, bahkan keberadaan rumah mereka Aditia tidak tahu.”


“Iya Kak, aku akan carikan.”


Lalu tiba-tiba ada suara telepon dari vila itu. Alka mengangkatnya sementara yang lain sibuk dengan perintah yang harus dilakukan.


[Ya, kenapa?] Ternyata yang menelpon adalah dari lobby, ini sudah sangat amat larut malam sebenarnya.


[Saya mau bertanya Bu, apakah sewa vila akan diperpanjang? Karena tidak ada waktu yang kalian tentukan untuk menyewa vila itu, makanya saya bertanya, apakah kalian masih menyewa vila itu?]


[Sekertaris saya akan menelpon untuk pembayaran dan mungkin deposit yang biasa kalian terapkan, kemungkinan kami akan lama di vila ini.]


[Apakah kalian baik-baik saja di vila itu?] Petugas vila bertanya.


[Memang kami kenapa?] Alka jadi curiga.


[Tidak apa-apa, saya hanya bertanya saja.]


[Baiklah, kami baik-baik saja, kecuali memang ada yang bilang kami akan tidak baik-baik saja padamu, mungkin kau bisa membantu kami menemukan orang yang hendak mencelakai kami.]


[Ti-tidak! saya hanya bertanya, se-se-selamat malam.] Petugas vila itu lalu menutup teleponnya.


“Siapa?” Aditia bertanya.


“Orang vila, tanya kita perpanjang sewa vila atau nggak.”


“Kalau kita sudah tahu pemiliknya, mungkin kita bisa membelinya, tapi aku bertaruh, pemiliknya tidak ingin kita tahu siapa dia sebenarnya.” Aditia berkata dengan antusias.


“Masuk akal sih, Dit.” Ganding juga tadi hanya bercanda saja tentang membeli vila ini, walau mereka sangat mampu melakukannya.


“Kau tidak takut lagi denganku?” Hartino bertanya, karena Alisha terlihat nyaman di sisinya.


“Takut? kenapa harus takut, beberapa saat lalu aku hampir mati.”


“Tapi kan, mungkin saja aku yang ‘lain’ akan muncul karena Sak Gede belum ditemukan juga.” Hartino tiba-tiba mengingatkan Alisha kalau sumber utama dari masalah di vila ini belum teratasi.


“Alka! Aku di luar saja.” Alisha berlari ke luar.


“Masa Rangda takut sama jiwa parasit, ah dasar kau, lemah!” Hartino mengejek istrinya yang baru sadar dan memilih menjauh lagi, karena potensi dilecehkan oleh jiwa parasit itu masih ada.


“Kau kenapa?” Alka bertanya.


“Aku takut kalau Hartino lain muncul, kau kan tahu kalau Sak Gede belum ditangkap.” Alisha ketakutan dan berada di balik punggung Alka.


“Kau baru saja menghajar semua setan itu tapi takut pada ‘suamimu’ sendiri?” Alka mengejek.


“Aku hanya tidak ingin salah sangka dan mengkhianati suamiku dengan dirinya sendiri, eh gimana, ya gitu deh, aku jadi pusing.” Alisha kesal.

__ADS_1


“Kau lupa kalau jiwa kita sudah dipagari oleh Jarni, sehingga Sak Gede takkan bisa menyisipkan parasit ke dalam jiwa kita lagi.” Alka mengingatkan itu.


“HARTINO!!!” Alisha lupa kalau mereka sudah aman berada di rumah itu, karena jiwa mereka sudah dijaga oleh pagar ghaib, sehingga tidak akan lagi membelah diri, lalu keluar dari tubuh dan membentuk tubuh baru yang sangat mirip dengan tuan dari jiwa itu sendiri.


Hartino tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengganggu istrinya.


“Kau mau aku hajar?” Alisha berkata dengan kesal, karena dia berhasil dikerjai oleh suaminya sendiri.


...


“Aku sudah membereskan Anto, aku membuatnya seolah dia bunuh diri.” Seorang lelaki berkata, dia adalah manager vila, yang beberapa waktu lalu mengajukan surat pernyataan pada Hartino dan Alisha ketika memaksa untuk masuk ke vila itu.


“Dia itu bodoh dan serakah, aku pikir dia cukup tangguh untuk melakukan pembantaian itu, sayang sekali, dia sama bodohnya dengan anak buahku yang lain.” Seorang lelaki paruh baya berkata, tubuhnya menghadap Manager itu, mereka sedang di ruangan pemilik vila, jarak antara pemilik vila dan Managernya itu hanya terpisah oleh meja kerja.


“Mereka akan terus mencari Sak Gede, Tuan.” Manager itu berkata lagi.


‘Seharusnya kita yang menemukannya duluan, karena aku tidak ingin Ratu bedebah itu lagi-lagi mendapatkan apa yang dia inginkan, dasar licik, berani sekali dia menyuruh anak-anak kecil itu masuk ke wilayahku, dia sedang menabuh genderang perang.”


“Jangan gegabah Tuan, bahkan Ayi mendapatkan dukungan dari para Balian dan Kharisma Jagat yang tinggal di sini, kita tidak boleh frontal, ingat kita adalah kaum minoritas di sini, kita harus hati-hati.” Lelaki itu mencoba menenangkan pemilik vila.


“Aku benar-benar ingin menebas leher satu persatu kawanan itu, aku tidak suka cara mereka selalu mampu menaklukan seluruh makhluk ghaib, aku ingin mereka mati!”  Pemilik vila itu terbatuk-batuk saat mengatakannya.


“Tuan tenanglah, kita tidak mau kejadian Anto terulang lagi kan? kita harus hati-hati, tuan.” Manager itu mencoba untuk menenangkan tuannya.


“Sampai kapan aku harus menunggu, Sak Gede harus jadi milik kita, aku ingin menghabisi sekutu Ayi bedebah itu, aku ingin dia mati, perempuan brengsek itu, bagaimana caranya dia bisa memenangkan perang itu!”


“Tuan, bersabarlah, karena waktu itu pasti datang, Sak Gede akan menjadi milik kita.” Manager itu bersikap sangat percaya diri.


Manager itu keluar dari ruangan bosnya lalu seorang wanita sudah menunggu di luar.


“Mereka akan memperpanjang waktu sewa vila itu, apa kau yakin kita akan menbiarkan atau mengusir?” Perempuan itu bertanya.


“Tuan ingin kepala mereka, aku akan memberikannya, biarkan saja mereka  di sana, nanti lama-kelamaan mereka akan terbiasa di kuburan mereka sendiri.” Manager itu sangat percaya diri sekali, membuat petugas vila wanita itu terkesan.


“Tadi mereka sempat curiga aku menyembunyikan sesuatu, makanya dia bilang kalau aku tahu apa yang bisa membuat mereka celaka, aku harus beritahu mereka untuk membantu.” Mereka berdua bicara sembari jalan kembali ke ruangan Manager dan begitu sampai, pintu ditutup, mereka akan berbicara hal yang krusial.


“Mereka sedang ketakutan berarti.” Manager itu yakin, “kalau begitu, kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat mereka kacau, kau bisa menjebak mereka dengan informasi yang menyesatkan.” Manager itu sudah memiliki ide yang brilian menurutnya, padahal petugas vila perempuan itu keberatan, karena dia tak ingin menjebak pasangan muda-mudi itu, dia juga takut pada vila itu.


“Aku tidak ingin masuk ke sana, terlalu menakutkan.”


“Itu hanya vila biasa seperti vila lain di sini.”


“Vila lain tidak muncul tiba-tiba seperti vila itu, jadi wajar aku takut, bukan?” Petugas vila perempuan itu berkata dengan menangis, karena dia kesal harus ke tempat itu untuk menjebak kawanan.


“Kalau bayarannya sesuai, kau mau?” Manager itu gigih.


“Berapa memang?” Mudah sekali meruntuhkan ketakutan wanita petugas vila itu hanya dengan nominal.


Manager itu mengambil kalkulator dan mengetik angka yang sangat tinggi, lalu menunjukannya pada wanita itu.


“Kau gila Pak! itu banyak sekali!” Wanita itu tercengang.

__ADS_1


“Maka kau mau?” Manager itu membujuk lagi.


“Aku ... ya! aku mau.” Wanita itu terbujuk dan bersiap menjebak kawanan.


__ADS_2