Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 47 : Janggit Benthangan 2


__ADS_3

Pak Dirga menghubungi Aditia, lalu Aditia segera meluncur, tentu bersama empat kawan lainnya, sekarang Aditia tidak pernah menerima kasus sendiri.


Walau sebenarnya Aditia sedang sagnat tidak fokus, tapi dia harus ikut membantu ketika Pak Dirga meminta tolong Aditia tidak akan pernah menolak.


“Jadi gimana Pak?” Aditia dan kawan-kawan sudah sampai, mereka ada di depan kamar perawatan Pak Yatno.”


“Pak Yanto sudah di sini selama beberapa hari, kasihan, setiap kali bangun dia hanya teriak-teriak dan lalu harus terpaksa ditidurkan lagi.”


“Apa yang terjadi sebelumnya Pak? kenapa Bapak memanggil kami, apakah Bapak curiga sesuatu?’ Alka bertanya.


“Sebelumnya Bapak mau terima kasih, karena bantuan kemarin, Bening anak teman Polisi Bapak sekarang sudah baik-baik saja, maaf sekarang Bapak menyusahkan kalian lagi, padahal kasus kemarin baru selesai.”


“Ya Pak, tidak apa, jadi apa yang terjadi?” Alka mengulang pertanyaan.


“Mereka kecelakaan saat akan pulang dari Bandung menuju Jakarta, berdasarkan CCTV mobil yang ada di depannya, mobil Pak Yatno sempat seperti akan menepi, tapi tiba-tiba dia kembali ke tengah jalan tol dengan kecepatan cukup tinggi, dia bahkan seperti tidak melihat mobil lain yang ada di depan atau belakangnya, karena dia mengemudi dengan kecepatan yang sangat meyakinkan.”


“Bapak ada rekaman CCTVnya? Kita mau lihat.”  Alka meminta melihat rekaman itu.


“Ada, kebetulan bapak taruh di di laptop kantor, nanti Bapak minta dibawkan laptopnya ke sini ya.”


“Tidak usah Pak, minta rekan Bapak nyalakan saja laptopnya, lalu setelah itu pastikan Wifinya terhubung, saya ambil filenya dari sini.” Hartino membuka tabletnya dan akan membuka laptop Pak Dirga jarak jauh.


“Bisa memang?”


“Apa yang tidak bisa Pak? selama laptop itu terhubung dengan jaringan internet, pasti bisa di jangkau meski jarak kita jauh.” Hartino menyombongkan diri.


Lalu Pak Dirga menelpon anak buahnya meminta dia menyalakan laptop Pak Dirga, setelah itu sekitar setengah jam kemudian Hartino berhasil mengambil file tersebut.


“Sini liat filenya udah ada nih.” Mereka melihat rekaman CCTV yang berasal dari mobil yang ada di depan dan belakan Pak Dirga saat dia terlihat menepi tapi tiba-tiba tancap gas kembali ke tengah jalan, mereka tidak melihat ada yang aneh.


“Har, balikin ke awal video deh, terus perlambat gue mau cek, sepertinya gue liat sesuatu di pinggir jalan.” Aditia memintannya.


Hartino lalu mengembalikan video itu ke menit awal dan memperlambatnya.


“Berhenti di situ!” Aditia berkata dengan tiba-tiba saat video itu sedang berjalan.


“Iya-iya gue liat!” Hartino dan Ganding mengatakannya dengan semangat.


“Apa kira-kira Dit?” Ganding bertanya.


“Apa sih?” Pak Dirga tidak melihat apapun, tentu saja, diakan tidak bisa melihat ‘mereka’.


“Ini Pak, di sini.” Aditia menunjuk pinggir jalan yang dekat dengan pepohonan, dia menandai sesuatu yang dia lihat dan tentu saja empat kawan lainnya juga lihat.


“Ada apa di sana?”


“Apa ya? terlihat seperti sesuaty yang mengambang, warnanya hitam?” Aditia membuka diskusi pada 4 kawan lainnya.


“Bukan deh, coba gedein dikit lagi Har, bisa nggak?”


“Bisa.” Hartino membuat gambarnya menjadi besar.


“Merah marun ya? terus? Ngambang, perempuan bukan sih?” Ganding mengambil kesimpulan.


“Iya, merah deh Dit, bukan hitam.”


“Ya, bisa aja merah atau hitam, karena dua warna itu sering terlihat samar ketika di kegelapan.”

__ADS_1


“Kita ke sana?” Hartino bertanya.


“Emang dia bakal nunjukin dirinya begitu melihat kita berlima? Setan mana yang bakal nunjukin diri kalau tau bakal dikeroyok?” Alka berkata dengan kesal pada pertanyaan Hartino si jago IT tapi bodoh mengambil keputusan.


“Terus, kita harus apa Kak?” Ganding bertanya.


“Bangunin Pak Yatno dulu, kemungkinan dia terkena Janggit Benthangan.” Alka berkata.


“Apaan tuh?” Aditia bingung.


“Efek balik karena melihat sesuatu yang salah, dia tidak diikuti tapi fikirannya sudah dikuasai, karena rasa takut yang sangat besar itu, makanya dia tidak lagi mampu berfikir secara logis.” Alka menjelaskan.


“Cara bebasinnya gimana?”


“Hmm, kita perlu membangunkan dia dan menyadarkan bahwa dia telah tidak ada di saat kejadian itu lagi.”


“Caranya?” pada adik dan Aditia bertanya dengan bersamaan.


“Pak Dirga, mohon bantuannya, kita harus ikat seluruh badan Pak Yatno, lalu saat dia bangun, kita biarkan dia histeris, aku dan Aditia akan membawanya kembali.”


“Baik Nak, saya akan memberitahu istrinya dulu untuk bersiap juga.”


Lalu Pak Dirga masuk kamar dan menyiapkan segalanya.


Setelah dua puluh menit, akhirnya semua siap, lima sekawan masuk ke ruang perawatan, istrinya sudah diperkenalkan, Pak Dirga juga memastikan bahwa tidak aka nada Perawat atau Dokter yang akan masuk dan akhirnya membuat penyelamatan ini gagal.


“Baik bu, apapun yang terjadi, percaya saja kami melakukan ini untuk kebaikan Pak Yatno, tidak ada niat jahat ya.” Aditia berkata pada istri Pak Yatno.


“Baiklah.”


Alka berdiri di kakinya, dia lalu terdiam, dalam hatinya dia membaca mantra pemanggil, dia mengumpulkan beberapa teman jinnya untuk menetralisir, udara di ruangan itu menjadi lebih dingin.


Pak Yatno bangun, seperti sebelumnya dia melihat makhluk itu lagi dalam penglihatannya makhluk itu berada di depan matanya hendak mencekik, tapi sebenarnya tidak ada, itu hanya karena dia dikuasai oleh rasa takutnya sendiri, dia tidak berani melawannya.


Pak Yatno histeris, dia berteriak terus hingga berusaha melepaskan ikatan tangan dan kaki, Alka memegang kakinya, tapi Pak Yatno tiba-tiba merasa kesakitan, karena keris yang dia genggam bersama Aditia, tangan itu terasa panas, beberapa jin mengelilingi tubuh Pak Yatno, berusaha membawa kembali fikirannya yang telah gelap karena rasa takut yang besar.


Tapi sayang, rasa takut itu bergitu besar, hingga tubuh Pak Yatno bahkan terangkat ke atas, karena ikatan pada kaki dan tangan makana tubuhnya masih ada di ranjang, jika tidak, tubuh itu akan mengambang, Aditia lalu menggebrak tangannya dan Pak Yatno tiba-tiba pingsan lagi.


Istrinya menangis terus melihat itu, karena benar-benar tidak bisa dijelaskan dengan nalar apa yang barusan saja terjadi, tubuh Pak Yatno hampir saja mengambang.


Suasana menjadi tenang, Aditia melepas pegangannya dan menarik kerisnya, tangannya terasa sangat panas, ada bekas terbakar pada telapak tangannya.


“Bagaimana Dit?” Pak Dirga bertanya.


“Sudah Pak, nanti sebentar lagi juga bangun, orang kalau dikuasai rasa takutnya akan kehilangna fikiran.”


“Apa orang-orang tidak waras itu bisa karena rasa takut yang tidak mampu mereka hadapi?” Pak Dirga tiba-tiba menanyakan hal di luar hal yang mereka hadapi.


“Tidak juga, tapi kebanyakan begitu, karena tidak berani menghadapi rasa takutnya, akhirnya mereka tenggelam dalam fikiran itu sendiri dan terjebak dalam zona nyaman yang mereka buat, padahal itu fana atau palsu.” Alka mengatakannya dengan bijak.


Semua lalu beristirahat, setelah setengah jam, Pak Yatno akhirnya bangun, Aditia meminta agar istrinya memanggil Dokter dulu, memastikan keadaan Pak Yatno baik-baik saja.


Setelah diperiksa, Pak Yatno baik-baik saja, walau beberapa hari ini dia tidak bangun, tapi infus membantu kondisi Pak Yatno agar tetap aman.


Setelah Dokter dan Perawat pergi, Aditia dan kawan-kawan bersiap untuk menginterogasi Pak Yatno, dia harus siap.


“Gimana Pak? masih sakit kepalanya?” Aditia bertanya.

__ADS_1


“Iya, berat sekali.”


“Bapak ingat kejadian sebelum bapak di sini?” Aditia bertanya dengan hati-hati.


“Ada apa ya?”


“Bapak itu dalam perjalanan pulang ke Jakarta, lalu Bapak berniat menepi, itu kenapa ya Pak?” Aditia bertanya lebih jauh lagi.


“Astagfirullah!” Pak Yatno ingat, dia menangis seperti anak kecil.


“Kalau bapak masih belum sanggup, kita tunda saja dulu.” Aditia kasihan melihatnya.


“Bagaiman dengan Sakidi Bu? Dimana dia sekarang?” Pak Yatno bertanya pada istrinya.


Istri Pak Yatno terdiam, dia bukannya tidak bisa menjawab, tapi dia tidak ingin menjawab.


“Bu!” Pak Yatno memaksa.


“Nanti aja ya Pak, jawab dulu pertanyaan Pak Polisi dan anak-anak ini, mereka sudah menungu Bapak sadar dari beberapa hari ini.


“Justru saya mau jawab bareng Sakidi, saya perlu dukungan dia untuk memastikan kalian percaya, bisa panggil dia ke sini dulu?” Pak Yatno memaksa.


“Tidak bisa Pak.” Istri Pak Yatno tertunduk.


“Loh kenapa? apa dia sudah pulang dibawa keluarganya? Oh ya, pasti dia sudah sembuh ya, berapa hari aku tertidur?”


“Tidak Pak,” Pak Dirga menengahi, dia yang akan menjawab, “Pak Sakidi … sudah dikebumikan dua hari lalu.”


“A-apa? apa maksud Bapak? Jangan asal bicara!” Pak Yatno marah.


“Maaf kami harus mengatakannya Pak, tapi memang Pak Sakidi tidak selamat dalam kejadian kecelakaan tersebut.


“Tidak, tidak! kalian pasti bohong, saya masih pulang bareng dia, kita baik-baik saja!!!” Pak Yatno berteriak karena dia tidak bisa terima rekan kerjanya sudah berpulang pada Tuhan yang Maha Kuasa.


“Iya Pak, istrinya juga kemarin sempat ke sini setelah pemakaman, mau menjenguk Bapak dan mau bertanya apa yang terjadi, tapi Bapak masih belum bisa ditanyai, makanya dia pulang lagi.”


“Ya Allah, kasihan anaknya, masih pada kecil, ini salah saya, ya Allah.” Pak Yatno menangis.


“Ini kecelakaan, Pak, bukan salah Bapak.” Pak Dirga menocba menenangkan.


“Tidak ini salah saya Pak, saat itu, seandainya saya tidak memilih menepikan mobil untuk mencoba menolong … wanita itu, kami tentu akan baik-baik saja.” Pak Yatno masih menangis sesegukan mengingat sahabat sekaligus rekan kerjanya.


“Wanita? Jadi kalian melihat wanita?”


“Pada awalnya kami kira dia wanita yang butuh pertolongan, tidak ada yang mau membantu sama sekali, kami berdua sepakat untuk menepi dan membantu, kami kira dia sedang butuh bantuan, tapi saat semakin dekat … wanita itu … sungguh mengerikan! Kami kira dia berbalut pakaian berwarna hitam, tahunya begitu sudah dekat, ternyata tubuh itu penuh darah, mata yang kami kira dia sedang pakai kaca mata hitam, ternyata … ternyata, astagfirullah ya Allah, matanya BOLONG!!!” Pak Yatno menceritakan apa yang dia liat. Sesaat mengingatnya dia seperti ketakutan dan juga sedih.


“Lalu Bapak tancap gas tanpa melihat apakah itu aman atau tidak?” Pak Dirga mulai menyelidiki.


“Saya sudah memastikan bahwa saya aman untuk masuk ke jalan lagi, jalanan kosong dan sepi, tapi tiba-tiba, semua gelap, sepertinya saya menabrak sesuatu, saya tidak ingat lagi. Tapi sebelum saya masuk ke jalan lagi, saya fokus melihat ke jalan, sepi tidak ada mobil sama sek … sekali ….” Dia baru sadar, karena di jalan tol yang tadinya ramai, tidak mungkin menjadi sepi dalam sekejap, kecuali pandangannya ditutupi oleh sesuatu.


“Berarti anda dikerjai.” Aditia berkata.


“Astagfirullah!” Pak Yatno menyesali itu, setan memang penuh tipu daya.


“Lalu apakah ada kejadian khusus yang membuat anda sangat ketakutan sampai mengalami Janggit Benthangan?”


“Ya, saya sempat terbangun ketika kecelakaan itu terjadi, saya berusaha membangunkan Sakidi tapi … tapi ada perempuan yang mengerikan itu lagi, dia mendekati saya sembari … sembari berkata ILA, dia terus mengulangnya sembari mendekati saya dengan wajah mengerikannya itu.” Pak Yatno menjelaskan sembari berusaha mengusir rasa takutnya.

__ADS_1


__ADS_2