Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 172 : Aditia Tamat


__ADS_3

“Gimana Dit, apa kata Dokter?” Ibunya Aditia datang terlambat, dia baru dapat kabar ayahnya Aditia sakit saat sedang mengantar kue, sedang Dita masih sekolah.


“Ayah ... komplikasi bu.” Aditia duduk termenung berdua dengan ibunya. Dokter masih mengobservasi ayahnya, tidak diperbolehkan ditemui dulu.


“Dit! Ayah gimana?” Pak Dirga berlarian datang ke rumah sakit.


“Masih di observasi, komplikasi Pak.” Aditia menangis, tak bisa lagi dia menahan sakit, tadi dia tak mau menangis di depan ibunya, karena ibunya pasti jauh lebih hancur.


Sudah setahun ini Mulyana semakin parah. Dia hanya selalu ke rumah sakit dan bed rest beberapa hari. Banyak sekali tugas penjemputan terbengkalai, walau Aditia telah diberi amanah melakukan ‘penjemputan’ tapi Aditia belum terlalu mantap melakukakannya karena memang belu. Dokter masih mengobservasi ayahnya, tidak diperbolehkan ditemui dulu.


“Dit! Ayah gimana?” Pak Dirga berlarian datang ke rumah sakit.


“Masih di observasi, komplikasi Pak.” Aditia menangis, tak bisa lagi dia menahan sakit, tadi dia tak mau menangis di depan ibunya, karena ibunya pasti jauh lebih hancur.


Sudah setahun ini Mulyana semakin parah. Dia hanya selalu ke rumah sakit dan bed rest beberapa hari. Banyak sekali tugas penjemputan terbengkalai, walau Aditia telah diberi amanah melakukan ‘penjemputan’ tapi Aditia belum terlalu mantap melakukakannya karena memang dia merasa harus menggantikan tugas ayahnya narik angkot betulan, mencari uang tentunya.


“Dit, yang kuat, ingat saat ini kamu kepala keluarga.” Dirga mengingatkan karena Aditia terlihat sangat rapuh, dia terlalu dekat dengan ayahnya, dia dan Dita diperlakukan dengan sangat baik oleh Mulyana, sehingga bagi mereka hidup sederhana tak mengapa yang penting ayahnya selalu ada.


“Pak, gimana ini, kenapa ayah sakitnya nggak kunjung sembuh, kami tidak mengeluh karena harus merawat ayah, tapi ini aneh, paru-paru ayah bocor berkali-kali, lalu tiba-tiba ginjalnya rusak, lalu tiba-tiba organ hatinya tidak berfungsi. Kenapa penyakit ini terlalu random, seolah ... seolah ada yang menggerogotinya dari dalam.” Aditia kesal karena dia merasa aneh, tapi Dirga tidak memperbolehkan Mulyana dibawa ke alternatif, percuma, tidak ada yang bisa menyembuhkannya selain Tuhan. Karena Mulyana dengan ilmu dunia ghaib yang cukup tinggi, sudah melakukan berbagai upaya agar bisa sembuh, tapi tidak berhasil. Apalagi dukun abal-abal. Kalau Mulyana harus pergi kembali kepada Tuhan, maka itu adalah takdir, Tuhan ingin bersama Mulyana lebih cepat diumur yang bahkan belum genap lima puluh tahun itu.


“Dit, jangan pikir macam-macam dulu ya, Nak. Sekarang kamu harus fokus dulu urus ayah, yang lain jangan kamu pikirin.” Dirga bingung harus berkata apa, karena dia tahu penyebabnya, dia tahu kenapa Mulyana tidak kunjung sembuh dan penyakitnya aneh. Tapi Mulyana sudah membuat Dirga bersumpah agar Dirga tidak akan pernah mengatakan hal yang sebenarnya terjadi pada Aditia sampai kapanpun, karena kalau Aditia tahu, hidupnya akan hancur.


SEMINGGU YANG LALU


“Pak, Bapak pucat sekali, apa tidak sebaiknya Bapak istirahat?” Di gua Alka Mulyana masih sibuk menulis di dalam buku catatannya. Wajahnya sudah pucat sekali, dia juga sudah sangat terlihat lemah.


“Ka, panggil adik-adikmu ya.” Mulyana yang sudah berjam-jam menulis itu akhirnya meminta semua anak berkumpul di dalam gua, tadinya yang lain masih berlatih di luar.


Semua anak berkumpul, wajah mereka tampak sendu, tahu dan merasakan bahwa ... waktu sudah dekat.


“Ini buku catatan milikku, bantu aku agar Aditia menemukan buku ini dan kembali menjalankan amanah, tapi sebisa mungkin, jangan tampakkan diri kalian. Ingat baik-baik, bantu dia dari jauh.” Mulyana masih takut jika mereka semua saling bertemu, maka Alka masih tidak mampu mengendalikan dirinya, walau kelak Karuhun asli milik Aditia akan turun, sementara Lanjonya masih sisa setengahnya saja tapi tetap, Lanjo adalah penyakit berbahaya bagi Alka dan Aditia.


“Pak ....” Alka mencoba menghentikan Mulyana berbicara, tapi tidak bisa.

__ADS_1


“Ka, kamu sudah merasakannya bukan, bukankah bangsa jin mengerti bahwa, ketika umur manusia sudah dekat, dia menjadi seperti mayat. Semua sikapnya berbeda karena bersiap dipanggil. Lalu kenapa kau yang paling dewasa bersikap lemah seperti ini, aku tidak punya siapapun lagi untuk menjagamu dan juga keluargaku. Aku hanya punya kamu untuk diandalkan menjaga keluarga kita, Nak.” Mulyana menatap Alka dengan sungguh-sungguh, sementara yang lain mulai menangis.  Jarni si pendiam juga mulai terisak.


“Baiklah, aku akan jalankan amanah itu Pak.”


“Soal penyakitmu, kau harus mulai merencanakan pengadaan ritual pembersihan setelah Abah Wangsa turun pada Aditia, jangan kau tunda, kau harus sembuh dari Lanjomu. Mengerti Nak.”


“Iya.” Alka tidak bersungguh-sungguh, karena Lanjonya membuat dia sulit melepas rasa itu pada tuannya.


"Dengar aku baik-baik, Pertama, buku ini harus sampai di tangan Aditia, jaga dengan baik dan berikan diam-diam. Kedua, mungkin dia akan kesulitan mengerjakan sendiri, tapi jangan pernah bantu dia biarkan dia mencari solusinya sendir. Ketiga, kalian diperkenankan untuk bertemu denganya hanya pada situasi khusus, seperti jika itu mengancam jiwanya dan tidak ada lagi pilihat lain. Selain itu, Bapak mohon, jaga dia dari jauh saja. Kalian mengerti bukan, Bapak melakukan ini bukan karena tidak ingin Aditia mengenal kalian, tapi kalian semua harus menjaga Aditia dan Alka dari Lanjonya."


Ganding, Jarni dan Hartino sudah tahu soal Lanjo karena Bapak menjelaskan semuanya, makanya mereka mengerti ketika tidak diperbolehkan bertemu dengan Aditia karena menjaga baik Alka maupun Aditia dari rasa sakit dan juga dari rasa yang salah karena penyakit Karuhun itu.


Walau kelak Abah Wangsa turun, Alka harus tetap menanggung setengah penyakitnya hingga diadakan ritual pembersihan.


"Pak, tapi bagaimana dengan kami?" Jarni yang selalu pendiam itu akhirnya bicara, walau dia yang terlihat paling sombong karena jarang bicara, tapi dialah yang paling manja.


"Kalian harus tetap menjalankan semua tugas yang telah Bapak berikan, datangi setiap desa di negeri ini yang membutuhkan bantuan penyembuhan penyakit ghaib, ingat! tanpa pamrih tanpa bayaran, karena itu kalian tetap perlu menjalankan perusahaan kita. Selain itu, Alka juga harus tetap memperhatikan keuangan keluarga Bapak, tetap jalankan pesanan kue dan pemasukan keuangan yang wajar untuk ibu, agar dia tidak curiga bahwa ada yang merencanakan keuangan mereka secara sistematis sehingga tidak pernah kekurangan.


Tidak akan ada warisan yang akan diinformasikan kepada keluarga Bapak, biarlah sampai mati Bapak bawa rahasia itu."


"Maka Bapak lebih senang kau mencari alasan lain ketimbang jujur dengan keadaan keuangan kita yang sebenarnya."


"Tapi kalau ...."


"Kalau memang harus, maka aku akan menuliskan wasiat khusus untuk Aditia, hanya dia yang boleh tahu, tapi ibu dan Dita dilarang tahu. Bapak akan menaruh wasiatnya di markas kita." Kelak Aditia akan menerima wasiat itu melalui jin Qorin milik Mulyana, sehingga seolah Mulyana hadir menjelaskan semua.


"Kita tidak akan tahu masa depan makanya aku meminta solusi jika di masa depan terjadi hal yang harus membuat kami jujur Pak." Alka masih bersikeras.


"Jujurlah jika tidak ada jalan lain, tapi Bapak lebih suka kau merahasiakannya sampai ke liang lahat."


Alka terdiam, dia tidak suka cara Bapak mengasuh anak-anaknya, kemewahan bisa membuat kawanan baik-baik saja, tidak seperti anak kaya lainnya.


Tapi tentu Bapak punya pertimbangan lain sehingga mengharamkan kawanan memberitahu soal dirinya.

__ADS_1


...


Hari ini hari yang kelam, gerimis mengguyur dengan volume yang tidak begitu besar, seolah mengiringi kematian Mulyana, tangis haru mewarnai rumah yang diisi oleh sanak saudara serta tetangga. Aditia terpaku di hadapan tubuh yang terbujur kaku diselimuti kain kafan dan ditutupi oleh kain jarik.


Satu persatu keluarga dan tetangga datang, mereka berkata, ikhlas dan sabar, tapi Aditia, ibu dan Dita hanya tetap memandang tubuh itu. Wajah yang terlihat tenang, wajah yang seolah semua ringan dan wajah yang masih tetap memancarkan kehangatan.


Hari ini, di sini, dihadapan Tuhan keluarga menyatakan, betapa Mulyana sudah melaksanakan tugas sebagai suami dan ayah yang baik dan benar. Tidak hanya soal tanggung jawab, ilmu dan nafkah, Lebih dari itu, ini soal bagaimana pelajaran hidup yang dia tinggalkan dalam bentuk kenangan.


Mulyana, menjadi ayah angkat yang berhasil, ayah kandung yang berhasil dan suami yang masih tetap dicintai dan setia hingga akhir hayat.


Mulyana, sosok ayah yang siapapun ingin miliki, bukan uang yang dia berikan, tapi kenyamanan dari tanggung jawab, kehangatan, waktu yang berkulitas serta ilmu yang tidak akan pernah manusia tamak berikan, karena ketulusan yang Mulyana ajarkan dan tunjukkan sungguh sangat jauh berharga dibanding semua uang yang ada di muka bumi ini.


Setelah selesai disolatkan, lalu jenazah orang baik itu dibawa ke pemakaman, dari kejauhan, Alka, Jarni, Ganding dan Hartino melihat proses pemakaman. Tangis yang mereka pendam saat Mulyana masih hidup. Tapi saat ini mereka tidak ingin lagi menahan tangis, Alka masih mencoba bertahan melihat semua prosesi pemakaman dari jauh.


[Pak, terima kasih karena membuat kami masih hidup dengan layak dan baik, terima kasih karena membuat kami tetap nyaman dengan semua yang orang bilang bahwa itu adalah kelemahan, sedang kau membuat kami menjadi pahlawan bagi yang butuh, walau perjuangan kita dilakukan diam-diam, tapi semua yang kami bantu tahu, kami tulus karen Tuhan, dan itu adalah ajaran yang kau berikan.


Pak, istirahatlah, sekarang sakit itu pasti sudah tidak terasa lagi bukan? sakit di dada yang tidak pernah kau katakan, tapi kau selalu memegangnya saat terasa, aku tahu Pak, kau sedang sekarat, tapi kau bertahan untuk kami.


Pak Mulyana adalah Bapakku, dia adalah lelaki yang akan selalu aku kenang dalam kebaikan, hidupku akan selalu bertahan dengan semua wejanganmu.


Pak Mulyana terima kasih, kami menyayangimu.] Alka berkata dalam hatinya, dia hanya bisa mengirimkan sebait kesaksian kepada Tuhan, bahwa Mulyana benar baik.


Terima Kasih Pak Mulyana.


_______________________


Catatan Penulis :


Mau cerita sedikit ya, Mulyana adalah karekter yang aku inginkan sebagai ayah ada di dalam hidupku, tapi ... aku tidak pernah memilikinya. Aku ingin merasakan bahwa seorang ayah haruslah seperti Mulyana. Bukan masalah uang tapi bagaimana kau ada.


Terlepas bahwa ayahku sudah Almarhum, tapi hutang pengasuhannya masih sangat terasa di dada, sakit seperti saat kau menginginkan ayah seperti Mulyana, tapi kau malah memiliki seperti Darhayusamang.


Alka selamat karena bertemu Mulyana, sedang aku selamat karena bertemu suamiku.

__ADS_1


Dari suamiku, aku tahu seperti apa seorang ayah harus bersikap karena putri kami diperlakukan bak putri raja. Terkadang cuma bisa menangis dalam diam karena terharu, aku mungkin mendapatkan ayah seperti Darhayusamang, sedang anakku mendapatkan ayah seperti Mulyana, sangat mendidik dan mencintai segenap jiwa. Tapi kayaknya suamiku nggak ngumpetin harta sebanyak itu sih hehehhe.


Maaf telat ya.


__ADS_2