
“Nding, lagu jemput jiwa.” Hartino mengenali lagu ini, bukan salah lagunya, tapi lagu ini digunakan untuk menjadi media jemput jiwa, kalau Aditia dan kawan-kawan jemput jiwa untuk dikembalikan pulang, tapi mantra yang menjadikan lagu ini sebagai media jemput jiwa adalah mengembalikan jiwa yang telah pergi kembali ke dunia fana ini.
“Sakit Har, Jarni mana ularmu, biar kusumpal kupingku pakai ularmu.” Ganding meminta ular Jarni yang telah jinak pada kawanan, Hartino juga. Jarni tidak merasakan sakit karena ular-ular mininya itu posesif, kalau ada bahaya, tubuh Jarni otomatis dilindungi, jadi hanya Hartino dan Ganding yang kesakitan.
Bus itu datang dihadapan mereka, lalu Hartino dan Ganding menghadang bus itu, mereka tahu bus itu takkan berhenti dengan sukarela, Hartino dan Ganding membaca mantra, lalu menyentuh bumi, seketika bumi bergetar dalam hitungan detik dan busnya berhenti secara paksa, Jarni langsung masuk ke bus diikuti yang lain.
Alka dan Aditia yang baru saja sampai di gedung kampus ghaib itu hilang kendali sesaat karena getaran bumi akibat mantra yang dirapalkan oleh Ganding dan Hartino. Aditia berhenti sebelum masuk gedung.
“Busnya dihentikan paksa, ini pasti mantra yang dirapal Ganding dan Hartino bersamaan, kalau mereka melakukan langkah berat begini, kemungkinan bus itu memang bukan hanya berisi jiwa yang tersesat dan enggan pulang.”
“Dit, lanjutkan perjalanan kita, aku ingin bertemu gadis itu segera, kasihan dia pasti ketakutan.” Alka mengingatkan tujuan mereka, Aditia mengangguk dan akhirnya mereka masuk ke dalam gedung.
Nola masih ditarik oleh Bobby, mereka masih kekeh cari telepon umum, walau Nola telah sangat tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi, dia berharap ini semua hanya mimpi.
“Nola, kau harus kuat, jangan begini, apa kau mau menyerah dan terjebak di sini selamanya?” Bobby sadar kalau Nola telah sangat tidak peduli dengan perjalanan mereka mencari telepon umum.
“Kita takkan pernah bisa keluar dari sini, Bob.” Nola terlihat sangat kecewa.
Bobby lalu meminta semua orang untuk masuk ruangan, kebetulan ada salah satu ruangan yang terbuka di sana.
“Apa maksud perkataanmu?” Bobby bingung. Nola terdiam, yang lain ikut memaksa Nola untuk berkata.
“Saat ini tahun berapa Bob?” Nola bertanya.
“Tahun 2005.”
“Itu adalah tahun kau hilang, sedang tahun aku hilang adalah ... tahun 2021!”
“2021?” kau dari tahun 2021?” Bobby dan yang lain terlihat sangat kaget.”
“Kau gila atau kenapa sih?” Rendi kesal dengan perkataan Nola.
“Aku tidak gila! di zamanku tidak ada telepon umum lagi! kami semua paka HP berlayar besar tanpa tombol, tidak ada orang di jamanku tidak punya HP. Telepon umum sudah tidak ada lagi, boxnya sudah dibersihkan oleh Pemerintah Kota untuk di hancurkan, karena memang sudah tidak berfungsi sejak sepuluh tahun lalu.
Ini juga gedung sudah tidak ada di zamanku, gedung ini bahkan aku tidak tahu gedung apa, gedung yang kami miliki sangat besar dan bagus, ini mungkin gedung lama pada zaman kalian.”
“Nola, kau tidak gila kan?” Mita bertanya.
“Mungkin akan jadi gila karena tahu, kalian sudah terjebak selama 16 tahun di sini dan belum juga bebas, sedang aku, baru saja terjebak di sini, mau berapa lama aku menunggu hingga bisa kembali, kalau pun kembali, apakah orang tuaku masih ada?” Nola terlihat sangat ketakutan.
“Nol, itu mustahil, aku rasa pikiranmu sedang di pengaruhi oleh bus setan itu, makanya kau jadi bingung, tidak mungkin kau datang dari tahun sejauh itu, sekarang kau harus sadar dan kuatkan hatimu, begitu kita semua dijempur keluarga, aku yakin kau perlahan akan ingat, akalmu hanya sedang dipermainkan.
Bangun, ayo kita cari telepon umum lagi!” Bobby menarik Nola, tapi kali ini Nola menahannya.
“Tidak Bob maaf, aku rasa, percuma, kau mau lari sejauh manapun, akan tetap saja tidak menemukan manusia lain, sepanjang kita jalan, yang kita temukan lagi-lagi setan, jangn-jangan ktia semua sebenarnya sudah ... mati!”
“Nola!” semua orang berteriak ketakutan, perkatan Nola terlalu berat bagi mereka untuk di anggap kenyataan.
“Kalau kau tidak ingin ikut silahkan, kami akan teruskan, kami harus kembali kepada keluarga kami Nol, harus!” Bobby lalu jalan, saat hendak keluar dari ruangan, dia kembali berbalik.
“Nol, kami tidak pernah sejauh ini, selama ini kami hanya selalu di bus itu, mencoba lari, kau bahkan yang mengingatkan kami kalau telah salah jalan dan terus memilih kanan, walau akhirnya ketika memilih kiri ktia harus kehikangan teman kita, tapi kau juga yang membuat kita memilih jalan dengna lompat dari bus itu, di bagian depan bus.
Nol, aku takkan meninggalkanmu, mau dari tahun berapapun kamu, tapi aku takkan meninggalkamu, aku telah banyak kehilangan orang yang kami sayang di bus itu Nol, sekarang aku takkan pernah meninggalkanmu lagi, takkan pernah.” Bobby menarik tangan Nola, entah kenapa Nola juga tidak bisa menolak, dia merasa nyaman di samping Bobby.
Mereka lalu lari lagi dengan tubuh Nola yang diseret.
Saat mereka keluar dari ruangan ....
“Hei kau!” Aditia meneriaki mereka, otomatis yang lain terdiam, mereka melihat ke arah Aditia dan Alka memastikan bahwa mereka manusia, tapi tidak ada yang berani maju.
Dalam penglihatan Aditia, semua normal, tampak seperti manusia biasa, bukan sosok dengan kobaran api seperti dalam penglihatan dia sebelumnya.
“Bukan manusia Dit, hanya terlihatnya saja.” Alka mengingatkan.
“Aku tahu, tapi dari cara lelaki itu memegang tangan gadis itu, dia tidak sedang menariknya atau menyeret paksa, mereka saling menggenggam, artinya gadis itu ikut secara sukarela.”
“Kalau begitu, aku akan cari tahu.” Alka maju, sedang Bobby dan yang lain terlihat terdiam dengan tegang, saat Alka sudah semakin dekat dan Aditia ada di belakangnya, Bobby buka suara.
__ADS_1
“Ka-kau ... manusia?” Bobby bertanya, Alka menatap Aditia, dia sudah tahu apa makhluk ini.
“Bisa ya, bisa tidak.” Alka menjawab, tentu saja, dia kan setengah manusia, setangah jin.
“Kau setan juga?” Nola bertanya dengan gemetar.
“Bukan, kami ini manusia, kalian siapa?” Aditia mencoba mencairkan keadaan.
“Aku Nola, ini Bobby dan kawan-kawannya, kami terjebak di bus setan, apakah kalian juga?” tanya Nola.
“Ya, kami terjebak di bus setan.” Aditia berbohong, Alka mengerti, Aditia ingin pendekatan secara lembut, dia sekarang perlu tahu dulu, siapa sosok yang di samping Nola ini, kenapa mereka seperti tidak paham tentang dirinya sendiri.
“Kalau begitu, kalian dari tahun berapa?” Nola bertanya, dia khawatir kalau Aditia dan Alka juga dari tahun yang sangat jauh.
“Kami ... dari tahun 2021, memang kau dari tahun berapa?” Aditia bertanya kali ini.
“Sama! tapi mereka dari tahun 2005. Lihat, aku tidak bohong kan, kalau aku memang dati tahun 2021, lihat ini, mereka dari tahunku!” Nola terlihat bersemangat.
“Kalian dari tahun 2005 terjebak di sini?” Aditia bertanya lagi.
“Ya, ini memang tahun 2005!” Bobby bersikeras.
“Mungkin seperti yang Bobby bilang, kalau kalian juga hilang akal seperti Nola, hingga tidak lagi menyadari tahun berapa ini, tidak mungkin kami hilang selama itu, selama 16 tahun!” Mita menyangkal.
“Tenang dulu, sekarang ikut aku keluar dari gedung ini, karena di sini tidak aman, akan aku tunjukan jalan keluarnya.” Aditia tidak bisa hanya membawa Nola keluar dari tempat ini, tapi dia juga harus memulangkan yang lain, jiwa tersesat yang tidak sadar mereka telah tiada.
“Kau tahu jalan keluarnya?” Bobby bertanya.
“Tahu, aku justru ke sini untuk menjemput, kau.” Aditia menunjuk Nola.
“Kalian ke sini untuk menjemput Nola?” Bobby bertanya.
“Ya.”
“Tadi katanya kau juga tersesat?”
“Iya kami tersesat saat mencari Nola.” Alka mencoba menyelamatkan keadaan.
“Kami ikut, tak apa kan?” Bobby bertanya, Aditia tersenyum dalam hati, karena dia sebenarnya ingin semua orang ikut, tapi dia belum ketemu cara untuk menjelaskannya, percuma kalau mereka belum menemukan celahnya, celah kehidupan mereka yang telah berakhir.
Aditia dan semua orang akhirnya berjalan ke luar dari gedung.
“Kita akan ke hutan?” Nola tiba-tiba bertanya.
“Kenapa ke hutan?” Aditia bertanya balik.
“Kata Winda temanku, kita harus ke hutan untuk bertemu Arif, dia temanku yang mencariku dan ikut hilang di hutan, kemungkinan dia juga berada di dimensi yang sama dengan kita, kata Winda kami tersesat di dimensi lain.”
“Winda? Temanmu Winda itu juga ada di sekitar sini?” Aditia bertanya lagi mereka berhenti di depan gedung.
“Iya dia di sekitar sini, tapi tidak di dimensi kita, dia di dunia nyata.”
“Lalu kau berhubungan dengannya melalui apa? maksudku, bagaimana kau berkomunikasi dengan temanmu yang dari dunia nyata?” Aditia makin bingung.
“Memakai ini, tapi rusak, layarnya hancur, si Bobby tadi melemparnya tidak sengaja.”
“Hah?” Alka dan Aditia heran, bagaimana tekhnologi mampu menembus dunia ghaib ini, Alka mengangkat bahu seolah mereka berbicara secara telepati, padahal hanya saling tahu saja isi hati dan pemikiran karena terlalu sering bersama.
“Iya, aku berbicara dengan HP ini lintas dimensi, aku ingin menunjukan foto yang Winda kirim untuk diperlihatkan padamu, tapi HPnya mati total.” Nola terlihat kecewa.
“Maaf ya Nol.” Bobby terlihat menyesal.
“Tak apa Bob, kau juga tidak sengaja melemparnya.”
“Yasudah, kita ke hutan, jangan ada yang menyebar ya, tetap berjalan berdekatan agar tidak ada yang hilang lagi, Aku akan berjalan di belakang, sementar Alka akan berjalan di depan, untuk memastikan semua orang selamat.” Aditia mengatur mereka dan semua orang terlihat patuh.
Mereka mulai masuk hutan, sementara Heru dan Winda masih mencoba merapal mantra untuk memanggil Melati, tapi lagi-lagi gagal.
__ADS_1
“Her, sepertinya ini tidak akan berhasil deh.” Winda terlihat kecewa.
“Diam dulu kamu.” Heru sedang konsentrasi, dia benar-benar ingin tantenya merespon panggilan mereka.
“Her, gimana kalau kita bilang Pak Parman dan memintanya untuk membantu, siapa tahu mereka punya kenalan dukun yang lebih ....”
“Diam Winda! Kau akan membuat Pak Samidi marah.” Heru berbisik dapi nadanya penuh penekanan.
“Cukup untuk malam ini, Tantemu tidak ingin datang, dia terus menahan panggilanku, tapi ... aku merasakan energi lain saat memanggil tantemu, energi yang berbeda, bukan energi jin yang sering aku rasakan sebelumnya.
“Kemungkinan dia bersama seseorang yang bukan ruh ataupun jin, tapi dia bersama manusia.”
“Arif! Itu pasti Arif, karena Nola bersama bola api itu bukan bersama tantemu, itu pasti Arif. Kita panggil lagi Pak.” Winda jadi bersemangat, padahal tadi dia hendak pergi dan meminta bantuan.
“Mungkin Arif, kalau begitu akan lebih mudah, kita teruskan beberapa jam lagi, saat masih malam, karena aku lelah, aku perlu istirahat dulu sebelum memanggil tantemu lagi, semoga nanti dia akan menyadari kalau keluarganya yang mencari. Kita harus membuka jalan untuknya kalau begitu, bukan memanggilnya saja.”
“Buka pintu ghaib Pak? bukannya kita hanya harus memanggilnya dan biarkan dia melewati dimensi kita? kalau kita buka pintu itu akan sangat berbahaya bukan? bisa jadi, yang masuk bukan hanya tanteku Pak.” Heru mengingatkan.
“Kalau dipanggil tidak menyahut, kita harus membuat dia yang mendatangi kita, kita buka jalan.”
“Baiklah kalau itu bisa membuatku bertemu dengan tanteku.” Heru akhirnya pasrah.
Mereka memutuskan untuk istirahat dulu beberapa jam.
Sementar Melati dan Arif masih di saung itu, Melati sangat lemah dia terlihat memejamkan mata.
Arif membelai rambut Melati, rambutnya rontok, Arif kaget, karena rontoknya banyak sekali, dia buru-buru membuang rontokan itu dan kembali menatap ke depan.
“Rif ... kalau kamu ketemu Nola, apa yang mau kamu katakan padany?” Melati tiba-tiba bertanya.
“Kalau ketemu Nola? Aku ingin bilang bahwa, aku mencarinya dan aku ingin dia tetap bersamaku kelak.” Arif spontan mengatakannya.
“Beruntung sekali Nola ya, punya kamu.”
“Kau juga akan memiliki kami Mel, Aku, Nola dan Winda, kami bersahabat bertiga, kami akan menjagamu, menambahmu sebagai anggota persahabatan.” Arif bercanda, hanya ingin mencairkan suasana.
“Tidak bisa Rif.” Melati berkata dengan suara serak.
“Kenapa tidak bisa? Oh kau merasa bukan level kami ya? kau pasti orang kaya?” Arif kembali memberikan lelucon.
“Tidak, tentu saja bukan itu alasannya, tapi bisa jadi, setelah ini, kita takkan pernah bertemu lagi.”
“Kenapa? setelah ini, kita akan bertemu lagi kok Mel, kita janjian makan bareng, jalan bareng, aku akan memaksa Nola untuk mau selalu jalan, karena selama ini Nola selalu nolak kalau aku dan Winda ajak jalan.”
“Aku tidak akan bisa Rif.”
“Ya kenapa alasannya?” Arif kesal.
“Karena ....”
...
“Matiin lagunya.” Hartino dan Ganding sudah masuk ke dalam bus, mereka terlihat sangat kesal karena menahan bau gosong dari tubuh para Mahasiswa dan Mahasiswi yang tubuhnya terpanggang karena kecelakaan itu, kasihan sekali mereka, harus terjebak seperti ini, mereka pasti selama ini bukan bermaksud mengejar, tapi bingung dengan keadaan ini.
“Minggir kau.” Ganding meminta Supir yang tubuhnya gosong juga untuk menyingkir dari bangku kemudi. Setelah lagunya dihentikan, semua makhluk itu terlihat histeris dengan tubuh mereka sendiri dan berlarian, tapi Jarni dan Ganding sudah memasang pagar ghaib agar mereka tidak keluar dari bus.
“Duduk yang tenang semua, duduk rapih!” Ganding seperti seorang Dosen, dia meminta semua Mahasiswa dan Mahasiswi duduk di bangkunya, mereka yang tadinya panik langsung terdiam, Ganding melakukan gendam pada ruh tersesat ini agar mereka tenang dan duduk dengan nyaman.
“Kita cabut sekarang nih?” Hartino sudah di bangku kemudi, Jarni duduk paling depan bersama Ganding.
“Ya, kita duluan aja, Alka dan Aditia pasti sekarang sedang mengejar gadis itu.” Ganding menjawab.
“Kalau begitu pegangan ya.”
“Har! Nggak usah kebut-kebutan deh!” Ganding kesal.
“Mumpung di dunia yang manusianya nggak ada, enak nih bisa trek-trekan pake bus ini.” Hartino menyalakan mesin busnya lagi setelah tadi dihentikan oleh mereka dan bersiap untuk mengemudikan bus ini dengan ugal-ugalan, dia memang pernah bercita-cita menjadi pembalap, tapi bukan pembalap bus ghaib juga.
__ADS_1
Semua ruh gosong itu memegan bangku depannya karena merasa takut dengan cara Hartino mengemudikan bus ghaib itu.
Sebelumnya bus itu ditakuti, tapi lima sekawan membuat bus itu seperti sebuah lelucon, tipikal.