
“Tidak, Mang Aep selalu minta kami di dekatnya jika dia masuk ke rumah Mang Eman, katanya takut kalau ada yang dia butuhkan, kami selalu berada di dekatnya.” Jawab pemuda itu.
“Lalu bagaimana dengan istriku? Dia ada di mana?”
“Ibu? Di mana ya? hmm ... ibu di ....”
“Nggak pernah lihat euy, kalau lagi di rumah Mang Eman sama Mang Aep, kita nggak pernah lihat ibu di rumah.” Jawab pemuda yang lain, dia teringat hal itu.
“Baik, apakah kau juga tak melihat istriku?” Eman bertanya pada pemuda sisanya, mereka mengangguk.
“Maka jelas kan?”
“Kan bisa aja, Man. Itu hanya pura-pura biar kami percaya kalau mereka tidak main mata, padahal mah, kalau malam siapa yang tahu?”
Lalu semua orang tertawa dengan perkataan preman pasar itu.
“Baik Kang, kalau begitu, apakah Akang tinggal di dekat rumah kami?” Eman bertanya lagi.
“Tidak.” Preman pasar itu diam, tawanya pudar seketika.
“Ataukah Akang pernah lihat Aep atau istri saya saling bermain ke rumah masing-masing pada malam hari?” Eman bertanya lagi.
“Saya ....”
“Jangan berbohong ya, Kang, ini ada Pak Polisi, kalau berbohong akang bisa dipenjara karena fitnah.” Eman terlihat sangat siap untuk semua situasi ini, dia sudah memikirkan banyak hal hingga akhirnya percaya diri untuk membawa masalah ini ke forum desa.
“Saya nggak pernah lihat, tapi kata orang-orang ....”
“Orang yang mana?” Eman mencecar preman pasar itu.
__ADS_1
“Ya banyak.”
“Siapa saja? Tunjukkan, satu orang saja, agar aku bisa memastikan, dari mana fitnah ini berasal.” Eman semakin memojokkan preman pasar itu.
“Kang, kamu kan yang ngomong kalau istrinya Eman itu selingkuh sama Aep?” Preman pasar itu menunjuk salah satu pria yang ada di samping preman pasar itu.
“Yeee, saya juga dari orang lain, itu si akang tukang ikan.” Lelaki itu kembali menunjuk seseorang yagn hadiri di sana.
Lalu Akang tukang ikan itu menunjuk tukang daging, lalu pedagang semako, setelahnya pedagang kain, setelahnya lagi pedagang kelapa parut.
“Jadi ... Akan tahu dari siapa?” Eman sudah mendapatkan pangkal dari gosip ini.
“Duh, saya nggak kenal Euy, waktu itu sore, saya udah mau pulang, terus ada perempuan mau beli kelapa parut saya, dia beli banyak banget, trus dia tiba-tiba bilang kalau Aep dan istrimu itu selingkuh, dia sering melihat Aep datang ke rumahmu. Katanya saat kau tak ada di rumah, Aep sering menginap di rumah istrimu.” Tukan kelapa parut itu berkata dengan takut.
“Siapa wania itu? namanya?”
“Tidak tahu, saya nggak kenal,” jawab tukang kelapa itu.
“Ya, mana saya tahu kalau dia bohong, saya kan cuma nyampein omongan orang itu, saya cuma takut kamu dikibulin istri dan sahabatmu sendiri.” Tukang kelapa parut itu membela diri.
“Bagaimana bisa saya dikibulin mereka, sedang kalian semua sebenarnya yang sedang dibodohi, kenapa lebih percaya orang luar, ketimbang Aep yang bahkan membersihkan masjid dan membuat masjid hidup kembali, membantu kita menggarap sawah dengan benar karena dia itu lulusan pertanian universitas ternama.
Kalian tidak merasa malu? kalian terus saja percaya pada omongan bohong orang yang hendak menjatuhkan Aep. Aku tahu, kalau orang baik, ada aja musuhnya, tapi kalian! Kalian ini orang-orang yang dia tolong dan dia percaya.
Bahkan dia hati-hati sekali datang ke rumahku saat siang hari untuk membantu, membawa beberapa orang untuk membantunya, agar tidak ada fitnah ini.
Kalian juga sudah dengar, bahwa istriku itu tidak kelihatan, bukan karena dia ada di rumah itu, istriku pergi ke rumah tetangga kami.
Hei Bu, kenapa kau diam saja dan ikut bergosip? Sedang kau tahu dengan jelas, kalau istriku bertandang ke rumahmu bukan? dia bahkan mengatakan kalau Aep sedang membetulkan kerusakan di rumah kami, makanya istriku ke rumahmu agar ada saksi bahwa istriku tidak berduaan dengan Aep.
__ADS_1
Tapi kenapa kau malah diam? kenapa kau malah membiarkan gosip ini terjadi? kenapa kau lebih percaya omong kosong yang tidak tahu darimana sumbernya dan kau tidak mempercayai istriku, istriku yang rela menjual gelangnya ketika anakmu sakit! lalu sampai sekarang kau masih terus mencicil utangmu karena tak sanggup menebus gelang itu! kenapa kau diam saja!” Eman sampai menangis mengatakan itu, dia melihat manusia memang orang paling jahat di muka bumi ini.
“Maaf Man, saya cuma nggak berani lah ngebela, saya kan cuma lihat siang itu, pas malam saya nggak tahu, saya takut kalau sampai belain, nanti saya yang kena imbasnya.” Ibu tetangga itu membela diri.
“Dari sini saya tahu sekarang, kita emang nggak perlu bela-belain untuk bantu orang ya, Bu. Tahu gitu, kemarin saat ibu nangis-nangis ke rumah saya minta dibantuin karena nggak ada yang mau bantu lagi, saya suka rela menjual gelang pemberian suami saya supaya anak ibu bisa ke rumah sakit, tahu gitu, saya usir aja ibu, semua orang saat itu tidak ada yang mau bantu kan? jadi untuk apa saya bela-belain!” Istrinya Eman kecewa, dia tak tahu, bahwa tetangga desanya ini benar-benar manusia paling buruk sejagat raya.
“Maaf Bu, saya izin pulang ya, saya mesti jaga anak saya.” Ibu itu kabur karena malu.
“Sekarang, saya akan menelusuri siapa wanita yang menyebar fitnah itu, kalau sampai ketemu, saya nggak akan biarkan, saya akan bawa ke kantor Polisi, karena sudah fitnah istri dan sahabat saya.
Sekali lagi, saya ingin memastikan, ADAKAH, DI ANTARA KALIAN YANG DATANG, PERNAH MELIHAT AEP KE RUMAH SAYA, BAIK MALAM ATAU SIANG HARI, SENDIRIAN, ADAKAH? Kalau ada, maju dan bicara, saya akan pastikan, akan seret Aep ke sini dan kita akan menyeretnya ke penjara atas pasal perzinahan.
Baiklah, silahkan, siapapun mau ke depan apabila memang pernah melihat!”
Semua orang terdiam, karena satu yang mereka baru sadari, ternyata dari mulut ke mulut itu, yang bilangnya begini ... ada yang liat Aep masuk ke rumah Eman malam hari ketika Eman bekerja di luar kota, tidak dapat dipastikan, siapa orang yang melihatnya langsung.
Aep dan semua petugas menunggu, tapi benar-benar tak ada satu pun orang yang maju.
“Lihat, tak ada kan, yang benar-benar melihat Aep ke rumahku dan berduaan saja dengan istriku? Lalu kenapa kalian percaya!” Eman semakin kesal, untung dia dan istrinya berembug dulu, memastikan bahwa kondisi mereka cukup kokoh untuk melawan fitnah itu.
“Baiklah, Pak, Bu, saya mohon sekali, mulai sekarang sudah pada paham kan, kalau itu cuma fitnah dan saya akan menerima, jika saja ada yang menemukan perempuan penyebar fitnah itu ketemu, silahkan bawa ke rumah saya, saya akan beri imbalan, saya ingin mendengar langsung perempuan itu berkata tentang gosip murahan tentang Aep dan istri saya.
Sekarang, bagi kalian, yang masih membicarakan kami di belakang, menintimidasi istri dan anak saya, saya pastikan, kalian akan menyesal, karena saya pasti tidak tinggal diam, saya akan menghubungi Polisi untuk menangkap kalian.
Beritahu juga pada anak-anak kalian yang bersekolah di sekolah yang sama dengan anakku, jika saja kalian tidak bisa memberitahu anak kalian untuk berhenti merundung anakku, aku akan pastikan, anak kalian akan menyesal pernah menghina anakku.”
Perkataan itu membuat Eman jadi cukup dikenal dan ditakuti, walau saat mengatakannya, Eman agak gemetar, dia tak seberani itu, tapi untuk istri dan anaknya, dia akan maju paling depan, apalagi hal seperti ini, di mana dia tahu dengan jelas, istri dan kawannya tidak salah.
“Pak RT, terima kasih ya sudah mau mengumpulkan orang-orang desa ini, saya sungguh terbantu.” Eman menyalami Pak RT dan menyelipkan amplop putih berisi uang pada Pak RT.
__ADS_1
Dia tahu, kalau birokrasi tanpa uang, adalah kemustahilan. Maka dia sudah bersiap soal ini, dia memberikan sogokkan pada Pak RT, Pak RW dan tentu saja, Pak Polisi agar mau mendampingi kasus ini.
Apakah ada yang tahu siapa perempuan itu?