
Haris melewati akad nikah dan juga resepsi dengan sanga senang, semua keluarganay juga tidak marah lagi, karena Meutia membuat pesta besar-besaran untuk pernikahannya, keluarga Haris menganggap itu adalah permintaan maaf dari Meutia karena bersikap kasar sebelumnya, tapi mereka salah.
Perayaan ini bukanlah untuk perayaan pernikahannya, tapi ini untuk perayaan penyerahan tumbal untuk pengabdian terhadap suami jinnya.
Setelah serangkaian acara pernikahan itu, Meutia dan suaminya sudah di dalam kamar saat ini, tentu bersiap untuk malam yang panas, tapi Meutia tentu sudah bersiap, karena malam pertama itu takkan pernah terjadi.
Meutia memakai pakaian yang paling terbuka memperlihatkan sebagian tubuhnya di hadapan suami baru itu, tapi sebelum merasakan kenikmatan malam pertama yang telah dia tunggu itu, Meutia memberikan minuman, dia bilang itu adalah minuman obat untuk keperkasaannya, Haris yang sangat percaya dan mabuk cinta percaya, dia meneguk habis ramuan obat itu tanpa berpikir apapun, hanya perlu lima menit, Haris tertidur.
Tidurnya, tentu tanpa berdoa, hal yang seharusnya dilakukan untuk perlindungan dalam tidur, karena mimpi terkadang sihir bisa dikirimkan.
Darhayusamang masuk ke dalam mimpi Haris melalui sihirnya, haris yang telah terlelap tanpa berdoa itu bangun, tentu terbangun dalam mimpinya.
Dia bingung karena berada di suatu tempat yang asing, hutan, hutan yang penuh pepohonan, tubuhnya kedinginan, ternyata dia sudah telanjang, hanya tersisa pakaian dalam saja yang menutup areal pribadi.
“Tolong! tolong!” Haris meminta tolong, saat itu Meutia ada di samping tubuh Haris yang meronta padahal sedang tertidur, orang-orang menyebutnya ketindihan, Meutia tersenyum melihat suaminya tersiksa, tidak bisa bergerak dalam tidurnya dalam keadaan ketakutan.
Haris mencoba berjalan, dia tidak sadar bahwa sedang di alam mimpi, ketakutan dan kedinginan, dia tetap berjalan mencari jalan keluar, dia berharap ada orang yang bisa menolongnya.
“Tolong! tolong!!!” Haris berteriak lagi, masih terus berjalan.
Saat dia berjalan, tiba-tiba dia melihat sesosok, sosok itu langsung dia kejar.
“Tolong saya, tolong saya.” Haris meminta pertolongan.
Sosok itu yang tadinya membelakangi Haris akhirnya berbalik, dia memperlihatkan wujudnya.
“Astaga!” Haris akhirnya berlari menjauh, karena yang dia lihat adalah seorang nenek bungkuk dengan wajah hancur, saat berbalik menatap Haris, dia tertawa karena Haris langsung ketakutan melihat wajahnya.
Tuhan, ada apa ini, Haris menangis seperti anak kecil, dia merasa hutan ini tidak ada ujungnya, hanya pohon-pohon saja dan gelap.
Haris masih berjalan tanpa busana, kakinya sakit sekali rasanya karena dia berjalan tanpa alas kaki, dia tidak tahu kenapa ada di sini, kenapa dia bisa ada di hutan ini, dia juga tidak ingat hal terakhir apa yang dia lakukan, yang dia inginkan saat ini adalah keluar dari hutan ini.
Haris beristirahat sebentar di sebuah batang pohon tumbang, dia duduk dengan meringkuk karena dingin, takut kalau bertemu nenek itu lagi, tapi ternyata ketakutannya tidak berhenti di situ, saat sedang duduk, dia melihat seorang wanita melintas, sepertinya dia kenal, saat sudah memastikan, Haris mengejar wanita itu.
“Meutia! Meutia.” Haris memanggilnya, wanita yang dia panggil Meutia itu akhirnya berhenti berjalan dan menatap Haris.
Haris senang ternyata benar Meutia, “Meutia, tolong aku, bawa aku keluar dari hutan ini.” di titik ini Haris tidak ingat telah menikahi Meutia.
Meutia hanya tersenyum saja, bukan senyum biasa, tapi seringai yang menakutkan, Haris tidak menyadarinya, dia hanya fokus untuk meminta bantuan untuk keluat.
Meutia tanpa berkata berbalik lagi membelakangi Haris dan berjalan, haris merasa bahwa Meutia akan menolongnya keluar dari hutan ini, Haris mengikuti Meutia dan berjalan di belakangnya.
__ADS_1
“Meutia, kenapa kau ada di sini malam-malam, lalu aku minta maaf ya, aku juga bingung kenapa ada di sini, maaf aku tidak berpakaian, aku juga bingung kenapa tidak berpakaian.”
Meutia tidak menjawab dia hanya berjalan saja, hingga akhirnya pohon yang tadinya rapat menjadi jarang, tidak lama Haris melihat cahaya dari kejauhan, dia semakin yakin Meutia akan menolongnya. Haris berjalan semakin dekat di belakan Meutia, saat sudah semakin dekat dengan cahaya, ternyata itu adalah obor, obor yang dibawa oleh seseorang, Haris tidak tahu, siapa orang yang membawa obor itu, dia hanya mengikuti Meutia dan tidak menatap ke depan agar langkahnya tetap tidak jauh dari Meutia, saat sudah dekat, orang yang membawa obor itu tertutup tubuh Meutia.
Meutia tertawa cekikikan, Haris kaget, dia mundur dan berusaha melihat ke arah orang yang membawa obor, di mana sebelumnya tertutup oleh tubuh Meutia, saat matanya sudah bisa melihat siapa yang membawa obor itu, Haris mundur dan terjatuh.
Ternyata yang membawa obor itu adalah nenek bungkuk yang berwajah rusak, Meutia berbalik, tubuhnya kini menatap Haris sama seperti nenek bungkuk buruk rupa itu, tapi wajah Meutia telah berubah.
Meutia bukan lagi wanita cantik yang tadi Haris lihat, tapi dia menjadi wanita berambut panjang acak-acakan, matanya menghitam, seluruh tubuhnya penuh dengan luka yang menyebabkan tubuhnya penuh belatung, lalu mulutnya, astaga, Haris harus menutup matanya saat melihat mulut Meutia, mulut itu robek hingga sampai ke telinga kiri dan kanan, susunan giginya terlihat dengan sempurna karena Meutida tertawa kencang dan membuat bibir robeknya terbuka, hanya tulang rahang yang membuat wajahnya masih berbentuk.
Haris menangis sejadinya, dia mundur masih menutup matanya, saat dia mundur, kakinya terasa dingin, seperti ada tangan yang menahan kakinya untuk bergerak lagi, Haris memberanikan diri untuk melihat.
“Pergi kau! pergi kau!” Haris melihat nenek bungkuk itu wajahnya telah ada di kaki haris, kedua tnagannya memegang kaki Haris sedang tubuh bungkuknya melata, dia semakin lama semakin naik ke atas tubuh Haris, Haris ingin lari tapi tidak bisa, tubuhnya membeku, dia tidak bisa bergerak, bahkan matanya tidak bisa dia tutup, karena … karena … meutia yang buruk rupa itu ternyata memegang wajah Haris dan membuat matanya tetap melotot, Meutia tertawa tepat di atasnya, Haris berteriak sekencang mungkin tapi tidak bisa berbuat apa-apa hingga tiba-tiba dia mendengar suara kokok ayam, suara yang akhirnya membangunkan Haris yang penuh keringat.
“Astagfirullah!” Kata yang tidak bisa dia ucapkan sebelumnya dalam mimpi itu.
“Kenapa?” Meutia ternyata ada di sampingnya, duduk di tempat tidur, tanpa busana, tubuhnya ditutup dengan selimut.
“Pergi kau!” Haris kaget, dia pikir telah melihat wajah buruk rupa Meutia.
“Kau kenapa?” Meutia bertanya dengan tenang, karena dia sebenarnya tahu penyebab Haris ketakutan.
“Haris, ini aku, Meutia, istrimu.” Meutia masih berkata dengan santai.
Seketika Haris baru sadar kalau dia telah menikahi Meutia sehari sebelumnya, dia membuka matanya perlahan dan menatap istrinya, istri yang terlihat cantik, berbeda dengan yang tadi dia lihat di hutan.
“Meutia, aku bermimpi, aku melihat ….”
“Melihat apa?” Haris sepertinya enggan menceritakan mimpinya itu, makanya kata-katanya tertahan.
“Ti-tidak, aku mau mandi dulu.” Haris beranjak dari kasurnya, dia tidak menoleh pada Meutia yang bahkan tidak berbusana, dia sama sekali tidak berminat lagi pada Meutia.
Meutia tersenyum, dia merasa betapa bodohnya pemuda itu,Meutia bahkan menyesal dulu pernah sangat ingin menjadi istrinya, sekarang Haris hanya terlihat seperti lelaki bodoh.
Haris sudah selesai mandi, Meutia menyiapkan sarapan untuknya, bukan untuk suami, tapi calon tumbal bagi suami jinnya.
“Makan dulu,” ujar Meutia. Dia tetap berkata dengan tenang, Haris berjalan ke meja makan dengan perlahan, menatap kanan kiri, dia masih merasa mimpi tadi itu benar-benar seperti nyata, dia membayangkan betapa buruk rupanya Meutia di hutan tadi, wajah cantiknya saat ini tidak berpengaruh dengan pandangan Haris, dia masih tetap takut.
“Makan.” Haris duduk dan mulai sarapan, wajahnya terlihat masih takut dan penuh keringat.
Meutia menambahkan lauk pada piring Haris, dia kaget, karena tadi tangan Meutia terlihat berbeda, tangan itu terlihat penuh luka yang dihinggapi belatung, Haris bahkan sampai melempar sendoknya karena kaget.
__ADS_1
“Kau kenapa?” Meutia bertanya. Beberapa Pelayannya melihat Haris yang bersikap aneh, Meutia puas, karena itu memang kehendaknya.
“Ka-ka-kau, kau siapa?”
“Haris! aku istrimu!” Meutia berteriak, semua Pelayan akhirnya menolah dan mencoba menolong.
“Bukan, kau setan jahanam, tanganmu busuk!” Haris menunjuk tangan Meutia yang baik-baik saja.
“Haris kau kenapa?” Meutia bertanya dengan wajah sendu, semua Pelayan membantu Meutia yang terlihat sedih, Meutia memaksa mendekati Haris, tapi Haris mendorongnya hingga jatuh, Meutia terjatuh dan menangis sesegukan.
“Suamiku, kau kenapa?” Meutia bertanya dengan wajah sedih palsunya.
“Dia bukan manusia, dia setan! dia pasti setan yang mau membunuhku, tolong!!! tolong!!!” Haris berteriak dan lari keluar.
“Itu kejar! kejar!” Meutia berteriak pada para Pelayan laki-laki agar mengejar Haris, walau dalam hatinya dia berharap Haris berlari ke luar dan dilihat warga.
Setelah setengah jam, akhirnya Haris berhasil dibawa kembali ke rumah Meutia, beberpaa warga tadi ikut membantu menangkap Haris yang berlari seperti orang gila sambil ketakutan.
“Tolong bawa ke kamar, di ikat saja kaki dan tangannya, aku takut kalau nanti dia kabur lagi.” Meutia setelah memerintahkan hal itu terduduk di sofa, masih ditemani beberapa Pelayannya.
“Minum teh dulu Bu.” Seorang Pelayan memberinya teh hangat dengan niat menenangkan bosnya.
“Aku tidak tahu kenapa bisa begini, kami baik-baik saja semalam, Haris dan aku sangat bahagia, tapi begitu pagi datang, dia ketakutan melihat aku, dia bahkan berteriak kalau aku perempuan buruk rupa, apakah aku terlihat jelek kalau tidak berdandan?” Meutia masih berakting.
“Tidak Bu, kau sangat cantik tanpa atau dengan riasan.”
“Lalu kenapa suami yang sangat mencintaiku dan aku cintai itu takut melihatku?” Meutia mengarah pada satu titik, dia ingin menggiring opini bagi para Pelayannya.
“Mungkin bapak hanya lelah, Bu,” ucap salah satu Pelayannya.
“Kalau lelah itu hanya marah, ini seperti orang gila, seperti orang yang diguna-guna.” Meutia mulai melancarkan fitnahnya.
“Nggak kok Bu, bapak mungkin hanya lelah.” Seorang Pelayan yang tidak suka ikut campur mencoba menenangkan.
“Eh tapi bener sih, Bu, masa penganten baru takut lihat istrinya, ini pasti dia diguna-guna.” Seorang Pelayan yang lain yang suka membicarakan orang itu memakan umpan.
“Apa yang harus aku lakukan, kalau tahu begini, aku tidak menikahinya, ada banyak pria yang suka padaku dan aku memilih pria yang salah.” Perkataan Meutia membuat beberapa orang mulai mengambil kesimpulan.
“Oh, jangan-jangan bapak di guna-guna sama laki-laki yang pernah melamar dan Ibu tolak, pasti salah satu dari pria itu, Bu, makanya bapak melihat Ibu takut, karena dibuat jadi rusak rumah tangga Ibu yang baru saja terbangun. Wah, Ibu harus cari orangnya agar dia berhenti mengguna-guna Pak Haris Bu, bisa bahaya kalau dia takut sama Ibu selamanya, apakah Ibu mau merawat orang gila?” Pelayannya berkata di luar batas, beberapa orang menepuk tubuhnya agar berhenti bicara, tapi dia tetap saja berbicara tanpa henti.
“Tapi itu bisa jadi masuk akal, bagaimana kalau itu benar, bagaimana kalau Haris menjadi gila? apa aku harus menjadi wanita yang harus menanggung beban ini?” Meutia kembali menebar jaring fitnah agar semua Pelayannya iba dan berada di pihaknya.
__ADS_1