Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 215 : Misteri Jembatan 2


__ADS_3

“Hai Dok, bagaimana keadaan Alka?” Lais bertanya.


“Masih tidur, dia perlu banyak istirahat.” Dokter Adi menjawab, dia kebetulan dari ruang perawatan Alka.


“Oh baiklah.”


“Kalian dari mana?” Dokter Adi bingung karena hanya Aditia yang selalu menemani Alka, sementara yang lain entah kemana.


“Dari jembatan yang atapnya sudah terlempar, kami ke sana untuk memulangkan jiwa yang mengerjai orang-orang di sana.” Hartino menjawab.


“Oh, kalau begitu sekarang sudah tidak akan mengganggu lagi dong, karena sudah dipulangkan jiwanya?”


“Tidak Dok, dia ternyata jin, bukan jiwa yang tersesat.”


“Dia bilang begitu Har?” Dokter Adi bertanya.


“Ya.”


“Kau percaya?” Ada nada mengejek dari Dokter Adi.


“Ya tentu saja, dia bukan jiwa kok, kami yakin itu. Karena rumor bunuh diri di jembatan itu juga sebenarnya tidak ada. Itu hanya isapan jempol. Jadi sudah dapat dipastikan dia itu jin, bukan jiwa yang mesti dipulangkan.”


Dokter Adi tertawa.


“Kenapa Dok?”


“Balik lagi, kalian buang kotoran di sana, kalau dia makan kotoran itu, dia memang jin, tapi kalau dia tidak mau makan kotoran, artinya dia mantan manusia, karena tidak ada manusia yang makan kotoran, makanya terbawa sampai dia mati kelak, tetap tidak suka kotoran.”


“Hah?! Dok, tapi memang dia tidak suka kotoran, aku pikir memang ada jin dengan golongan seperti itu, tidak suka kotoran.”


Dokter Adi semakin kencang tertawa.


“Har, semua jin makan kotoran, kalau mereka tidak mau makan kotoran, kemungkinannya cuma dua, dia kena teluh dukun lalu sekarat, kedua jin itu bukan jin.” Dokter Adi lalu pergi meninggalkan Hartino dan Lais bingung berdua.


“Sudah kubilang kan, seharusnya aku aja yang menanyai dia! kau membuat pekerjaan kita jadi berantakan, kau ini bukannya sudah ikut Alka lama, tapi kenapa hal sepele seperti ini saja tidak bisa kau tangani.” Lais berjalan ke luar, Hartino mengejarnya. Mereka akan kembali ke jembatan itu.


“Kau juga diam saja ketika aku bilang pulang, kalau kau sebegitu pengalamannya, kenapa tidak kau bantah aku tadi dan memaksa bertanya lagi!” Hartino kesal, mereka sudah di dalam mobil lagi.


Mobil melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.


“Aku pikir kau sudah memastikan semua, makanya aku tidak membantahmu! Aku tidak menyangka, ternyata hanya Alka yang cerdas di kawanan ini.”


“Lais!” Hartino kesal.


“Ok!” Mereka berdua akhirnya memilih untuk diam selama perjalalanan menuju jembatan.


Saat sampai mereka melihat jiwa yang berbohong menjadi jin itu masih terdiam duduk di sana, di atap jembatan itu, memandang ke langit.


Lais berlari dan naik ke atap dalam waktu yang cukup singkat, dia menaiki besi pegangan, tapi tubuhnya terlihat ringan sekali, sementara Hartino berlari mengejar Lais sembari membuat pagar ghaib lagi agar mereka bisa tenang berbicara dengan jiwa itu.


Hartino menyusul Lais yang sudah duduk di samping jiwa itu.


“Siapa namamu?” Lais bertanya.

__ADS_1


“Aku juga tidak tahu.”


“Kau tidak tahu!” Hartino kesal, dia merasa jiwa itu berbohong.


“Har!” Lais meminta diam dulu.


“Aku benar-benar tidak tahu namaku.” Jiwa itu berkata lagi dengan serius.


“Aku percaya.” Lais tiba-tiba berkata seperti itu, Hartino menatapnya dengan tajam, tapi Lais tidak perduli.


“Terima kasih karena sudah percaya.”


“Kau ingat, kapan pertama kali di sini?” Lais bertanya lagi.


“Entahlah, aku hanya ingat aku tiba-tiba di sini, mereka yang lewat tidak bisa melihatku, aku berlatih agar ada satu saja yang menyadari kehadiranku, tapi tidak ada. Saat akhirnya aku bisa menyentuh benda, aku mendapatkan ide, jika saja atap ini jatuh, maka mungkin mereka akan sadar kehadiranku, tapi aku salah, mereka malah takut.”


“Lalu kenapa kau berbohong pada kami?”


“Kalian itu dukun, kata teman jinku, yang datang mengambil kotoran, tapi dia baik, dukun itu bisa jadi teman atau malah kebalikan, mereka itu suka memelihara kita, memberi kita makan, tapi mereka akan mengura tenaga kita untuk menyakiti manusia lain karena uang.


Makanya tadi aku bohong, supaya kalian cepat pergi saja.”


“Oh, kami bukan duku kok, tenang saja. Kami hanya orang yang membantu orang lain untuk menghadapi kejadian ghaib yang mencelakai, tanpa pamrih.” Lais menjelaskan masih dengan intonasi yang halus.


“Oh begitu, maaf aku sudah mencelakai kalian, karena sebenarnya memang hanya segelintir orang ang melihat aku, beberapa pura-pura tidak lihat, beberapa menyapaku tapi tidak perduli, sisanya berbohong melihatku.”


“Kalau begitu, kau mau kami bantu, mencari asal usulmu?” Alka bertanya lagi.


“Apa kalian akan memeliharaku kelak dan menguras tenagaku untuk mencelakai sesama kalian?”


“Kalau begitu aku mau, tapi kalau kau bohong, kau masuk neraka ya.”


“Bohong mah pasti masuk neraka, ngapain mengancam begitu.” Hartino mengatakannya dengan ketus, karena dia masih marah dibohongi.


“Kalau begitu, masuk sini dulu ya, kita cari masalahmu dari berbagai sisi.” Lais membujuk agar jiwa itu masuk ke dalam botol kaca yang ditutup dengan penutup berbahan kayu, tutup itu hanya perlu dimasukan tanpa ada pengunci, tidak ada yang bisa keluar dari sana kecuali kawanan yang membuka.”


Setelah jin itu masuk, Lais dan Hartino memutuskan untuk kembali ke apartemen Lais, tidak butuh waktu lama untuk bisa sampai ke tempat itu.


“Makan dulu Har.” Lais memberikan semangkuk mie yang dia buat sebelumnya.


“Ya, terima kasih.” Mereka berdua makan di aparteman Lais.


Setelah seleai makan, mereka mulai mencari lagi informasi mengenai jembatan itu. Tentu melalui dark web andalan  Hartino.


“Ini dia Lais, ketemu. Jadi memang benar pernah ada yang jatuh dari jembatan itu, tapi bukan bunuh diri.” Hartino tersenyum bangga, artikel tentang orang jatuh di jembatan itu tidak pernah ada di berita online manapun, hanya ada di dark web, mungkin berita itu terlalu sensitif, makanya segera dia tarik dari peredaran, karena bisa membuat polemik yang membuat ribut.


“Jadi di jatuh karena apa?” Lais bertanya.


“Pembunuhan!”


“Hah? masih? Dijaman seperti ini? bukankah ada terlalu banyak orang, sehingga terlalu riskan melakukan pembunuhan itu?” Lais heran.


“Tidak, karena pembunuhan itu dilakukan tengah malam, orang yang mendorongnya memakai baju dan celana serba hitam, penutup wajah dan topi, sampai sekarang Polisi tidak bisa menemukannya karena tidak ada CCTV di sekitar jembatan, tidak ada saksi dan kalaupun ada yang melihat, ciri-ciri pembunuh tidak dapat di jelaskan secara pasti.”

__ADS_1


“Repot dong?” Lais mengeluh.


“Kalau kakak jeli melihat masalah, aku jeli dengan tekhnologi, aku dapatkan identitasnya, aku juga sudah cari sosial media lelaki itu, dari fotonya aku tahu bahwa dia memang pria yang dibunuh itu.” Hartino membanggakan diri, seolah dia tidak ingin terlihat bodoh di mata Lais.


“Bagus, besok kita ke sana, karena ini sudah larut, kita datangi keluarganya.”


“Tapi kemungkinan keluarganya tidak akan cerita.” Hartino bingung lagi.


“Tanya aja dulu, apa kakakmu tidak mengajarkan teknik bertanya langsung, walau tak dapat jawaban, kita paling tidak akan mendapatkan petunjuk.”


“Ya, aku tahu itu, aku hanya sekedar memberitahumu resikonya.”


“Pantas kau hanya selalu disuruh mengerjakan pencarian data saja, kau ini bodoh ternyata.” Lais yang tidak menjadi dirinya sendiri, bisa bebas menghina Hartino, biasanya dia sungkan, karena tidak mau menjadi jelek di matanya.


“Hei Lais! Jaga bicaramu ya! kau ini benar-benar ingin kuhajar?!” Hartino kesal.


“Kau yakin bisa menghajarku? Melihat bagaimana paniknya dirimu saat aku hendak menghabisi jiwa itu saja, aku sudah tahu, kalau kau takkan pernah menang dariku.” Lais mencemooh Hartino.


“Kau benar-benar menantangku? Kau ini perempuan, tentu saja aku takkan pernah melawanmu, tapi kalau boleh, aku pasti menang.” Hartino tidak mau kalah dan mulai ngotot.


“Yasudah ayo.” Lais berdiri dari bangkunya dan menarik bajunya tangan panjangnya. Dia bermaksud mengajak Hartino duel.


“Tidak! aku tidak memukul wanita.”


“Baiklah, kau tidak memukul wanita, tapi aku memukul laki-laki.” Lais lalu melompat naik ke punggu Hartino, dia menarik lehernya, ini gerakan bercanda saja tapi cukup kuat hingga membuat Hartino panik.


Dia mencoba melepaskan Lais dari punggungnya, dia berdiri, tapi itu malah membuat Lais menempel dengan sangat kencang. Kedua kakinya melingkar pada pinggang Hartino, Hartino mengarahkan Lais untuk jatuh di tempat tidur, tapi Lais masih saja mencengkramnya dengan kuat.


Hingga Hartino memohon ampun karena hampir kehabisan nafas, Lais lalu menarik tubuh Hartino, hingga mereka berdua jatuh di kasur.


Lalu Lais tertawa terbahak-bahak.


“Sudah kubilang, kau takkan menang, itu hanya pertarungan persahabatan, bagaimana kalau aku melakukan pertaruangan permusuhan, bisa habis hidupmu.”


“Kau ini perempuan apa sih! perempuan kok seenaknya menghinggapi tubuh orang, kau pikir itu bagus?”


“Tidak bagus, tapi aku tidak keberatan melakukan itu, jika ada yang merendahkan harga diriku.” Lais berkata, Hartino sudah berdiri dari tempat tidur, Lais sudah duduk di tempat tidur.


“Aku hanya bercanda Lais, mana mungkin aku meragukan kemampuanmu, apalagi kau saudara kakakku, mana berani aku merendahkanmu!” Hartino masih kesal.


“Aku juga bercanda.”


“Mencekikku hampir mati, itu kau kategorikan bercanda!” Hartino kesal.


“Ya, karena itu cekikan bercanda, kau mau merasakan cekikan yang tidak bercanda.” Lais hendak lompat kembali ke badan Hartino. Tapi kali ini Hartino buru-buru berlari mengelilingi apartemen, mereka akhirnya berdua tertawa sambil berkejaran.


Belum selesai kasus, malah bercanda.


________________________________________


Catatan Penulis :


Aku akan buat kasus tiga tim ini pendek-pendek aja ya, paling 5 part, aku pengen buat kasus yang sederhana, kan dari awal novel online ini di publish, kasusnya berat-berat, sekarang kita buat kasus sederhana aja ya, biar nggak bosen.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2