
Hartino dan Lais sudah mengawasi indekos itri Syahrul, tapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan, ini hari sabtu, istrinya bahkan tidak keluar atau dijemput oleh orang yang Hartino yakini sebagai pembunuh.
Hartino dan Alisha ketiduran ketika malam tiba. Saat mereka tertidur istrinya itu ternyata keluar, dia keluar dengan pakaian yang jauh lebih baik, pakaian yang lebih rapih dari saat dia bekerja pagi hari.
Untunglah Lais ternyata masih sedikit tersadar sehingga dia melihat kepergian istrinya Syahrul itu.
“Har bangun! dia pergi tuh, rapih banget, ini padahal malam minggu.” Lais membangunkan Har.
“Apa kubilang, tak percaya kau!” Hartino melajukan mobil mereka mengikuti angkutan yang dinaiki oleh istri Syahrul entah kemana.
Tidak sampai setengah jam, mereka sampai di sebuah ruko, entah ruko apa, tapi begitu banyak orang yang datang ke ruko di mana istri Syahrul masuk ke sana.
“Ini pasti semacam diskotik murahan, lihatlah rukonya dijaga oleh preman dan lampunya remang-remang tanpa plang nama. Pasti diskotik tanpa izin, bahkan mungkin miras yang dijual pun tanpa izin.” Hartino mengambil kesimpulan.
“Tapi, sebentar deh Har, jangan ambil kesimpulan terlalu prematur, bisa saja dia bukan wanita yang kita berdua pikirkan.”
“Cara satu-satunya untuk mengetahui itu, kita harus masuk ke sana.”
“Duh malas sekali masuk ke tempat begitu, diskotik murah begitu banyak orang yang kurang ajar.” Lais mengeluh.
“Memang kau biasa ke club yang mewah? Bicaramu sombong sekali.”
“Bu-bukan begitu Har, aku tidak pernah ke tempat seperti itu, baik murah maupun mahal, aku hanya tidak suka saja dengan keadannya di dalam, karena kalau ada yang menyentuhku, pasti aku hajar.”
“Ya, aku lebih takut kalau penghuni di dalam malah babak belur olehmu.” Hartino meledek lagi, dia memang bebal, suka sekali meledek orang.
“Yaudah yuk.” Lais hendak keluar, tapi Hartino menahannya, Hartino melepaskan jaket yang dia pakai dan memberikannya pada Lais.
“Lah kenapa? pakaianku biasa saja.” Atasan berbahan kaus, celana jeans robek dan sepatu kets adalah pakaian andalan Lais, menurutnya itu tidak terbuka sama sekali. Jadi kenapa mesti ditutupi oleh jaket Hartino.
“Memang tidak terbuka, hanya agar kau aman saja, jadi ketika ada tangan nakal, tubuhmu lebih terlindungi oleh jaketku.” Hartino memaksa, dia meminta Lais untuk memakainya.
Mereka berdua keluar dari mobil. Saat akan masuk dihadang oleh preman, ternyata harus membayar biaya masuk di kasih yang berada tepat setelah pintu masuk.
Hartino membayar biaya masuk, ternyata murah sekali, dibanding club yang mereka suka datangi, dulu Alisha suka sekali mengajak Hartino pergi ke club langganan, club yang tidak mengenakan biasa masuk tapi justru biaya member tahunan dan Alisha adalah member VVIP. Makanya tadi ketika Hartino bertanya apakah dia suka pergi ke club yang mewah, Alisha yang menyamar menjadi Lais cukup gugup.
Setelah membayar, Hartino menggunakan moment ini untuk bertanya pada salah satu pelayan. Dia menanyakan apakah istri Syahrul bekerja di sini, pelayang itu tidak tahu, karena Hartino tidak menunjukan fotonya, dia hanya berbicara namanya saja.
__ADS_1
“Tidak dapat diandalkan!” Hartino kesal karena dia tidak dapat apa-apa dari pelayang itu.
“Kita pisah ya, siapa tahu kita bisa menemukan wanita itu jika berpisah agar area pencarian lebih luas.” Lais memberi usulan yang cukup efektif.
“Baiklah.” Walau agak berat Hartino setuju, karena dia sebenarnya takut Lais celaka.
Lais lalu berkeliling, mereka pisah arah.
Dia terus mencari sambil melihat kanan dan kiri, beberapa tangan nakal berusaha meraih tubuhnya tapi Lais menendangnya dengan tidak terlalu keras, tapi efek tendangan itu membuat lelaki cabul itu tersungkur dan tidak sempat melakukan gerakan tidak senonoh lagi pada Lais.
Setelah beberapa saat, Lais akhirnya menghentikan pencarian karena dia butuh ke toilet, saat membuka pintu toilet dia melihat begitu banyak jin yang berada di sana, dia tidak takut, tapi begitu sadar Lais melihat mereka, mereka buru-buru mengerubunginya. Ada yang mendekat dengan kaki diseret, lalu ada yang mendekat dengan berjalan cepat tapi dengan cara khayang, ada juga yang tidak memiliki wajah.
Lais mundur, dia melihat sekitar, masih banyak orang, tapi kalau dia diam dan tidak memberitahu siapa dirinya, jin-jin ini akan menyerangnya.
“Berhenti kalian!” Lais berteriak, beberapa orang wanita yang sedang mencuci tangan di wastafel melihat ke arah Lais.
“Maaf, ini teman-temanku.” Lais menunjuk pada ponselnya yang ada di telinga, dia berpura-pura seolah sedang berbicara di telepon genggam. Lalu Lais membuka salah satu bilik kamar mandi, pintunya terbuka dan dia melihat seorang wanita dengan rambut panjang terurai hingga ke lantai.
“Keluar kau, aku sedang tidak ingin bertarung.” Lais mengusir wanita yang sering disebut kunti itu.
Kunti itu keluar tanpa harga diri dengan melayang.
Setelah selesai, dia keluar, hanya ada satu orang yang tersisa sedang mencuci tangan di wastafel.
Tidak lama kemudian, seseorang lagi masuk, rupanya teman dari wanita yang sedang mencuci tangan itu. Mereka berdua lalu mengobrol, Lais hendak mencuci tangan di wastafel yang berada di samping mereka berdua.
“Eh lu tahu nggak, katanya suaminya tuh cewek jadi setan, jembatannya jadi angker gara-gara suaminya bundir.” Teman wanita yang sebelumnya mencuci tangan itu berkata, rupanya mereka membicarakan Syahrul. Lais merasa ini informasi yang dia cari.
“Ih serem banget, mana kita kalau pulang suka lewat situ.” Ucap perempuan lainnya.
“Kita lewat jembatna satu lagi aja gimana?”
“Lebih jauh dong.”
“Daripada ketemu setan? Kasihan istrinya, semasa hidup nanggung utang suaminya, tukang minum, judi, trus udah nggak sanggup bayar malah bundir, bikin orang hidup malah menderita.”
“Salah dia, kita udah pernah peringatin sebelum itu suaminya bundir, dia cerai, biar kalau ada hutang, dia nggak nanggung, tapi dianya yang nggak mau cerai, kan dia yang bodoh namanya.”
__ADS_1
“Hmm, maaf, mau tanya, kalau istrinya Syahrul kerja di sini ya?” Lais menyela pembicaraan dua wanita yang sedng bergosip ini.
“Eh, kamu siapa?” Wanita itu kaget karena ternyata ada yang mendengar mereka bergosip.
“Saya Lais, saya ini reporter, saya mau wawancara istrinya Syahrul untuk tulisan saya, kebetulan saya ini reporter cerita horor.”
“Loh temui di indekos saja, jangan di sini. Ini tempat kerja.” Wanita itu menolak.
“Iya maunya gitu, tapi keburu dengar kalian tadi, jadi siapa tahu kalian kenal, taunya enggak ya, yasudah, kalau begitu saya duluan.” Teknik mendapatkan informasi adalah, membuat informanmu merasa tidak berharga, maka dia akan menggunakan segala cara untuk menjadikan dirinya berharga.
“Eh kami itu temannya dia, dia nggak kerja di sini, dia kerjanya di basement, lantai paling bawah, dia itu call center 24 jam pinjol, dia kerja cuma shift tiga, shift malam sampai pagi, soalnya pagi sampai sore dia kerja di tempat lain, kasian dia, kerja sampai double job buat bayar hutang suaminya.
“Ok kalau begitu terima kasih, karena kalian membantuku, ini sekedar uang minum.” Lais memberikan uang yang cukup untuk mereka, mendapatkan uang secara cuma-cuma hanya modal informasi saja membuat dua wanita itu kegirangan.
Lais mencari Hartino dia ingin memberitahunya soal apa yang dia dengar barusan.
Hartino masih sibuk mencari istrinya Syahrul. Lais memanggilnya dan mereka bertemu lagi.
“Kau sudah menemukannya?” tanya Hartino.
“Ya dan tidak.”
“Kok gitu?”
“Aku tahu keberadaannya, tapi belum tentu kita bisa menemukannya. Dia tidak bekerja di diskotik ini, dia bekerja di bawah, dia adalah call center pinjol, jadi dia bukan wanita murahan seperti yang kita kira. Aku mendapatkan informasi dari wanita yang aku temui di kamar mandi.
Lalu ternyata Syahrul itu punya hutang karena selain alkohol dia suka judi juga. Kita harus pelan-pelang bertanya pada wanita itu, karena sekarang dia pasti dalam keadaan sangat membenci suaminya, dia double job karena harus membayar hutang suaminya.”
Hartino terdiam, dia tahu kalau teorinya tidak masuk dalam kasus ini. Istrinya yang sudah menghina-hina suaminya, ternyata masih terus membayar hutang suaminya, agar suaminya bisa tenang. Bisa jadi ruh Syahrul itu tidak bisa ‘pulang’ karena dia masih banyak hutang.”
“Walau begitu, tetap tidak menghapus kemungkinan Syahrul dibunuh.”
“Har, kita fokus pada apa yang dekat saja, kita harus bicara hati-kehati dengan wanita itu, aku akan tawarkan dia untuk membantu membayar hutang suaminya, mungkin dengan cara itu dia akan lebih jujur dengan kita.”
Hartino mengangangguk, mereka berdua lalu turun ke bawah dimana istri Syahrul bekerja, dengan tangga karena tidak ada lift di ruko yang disulap menjadi diskotik.
Saat sedang berjalan mendekati kantor istrinya Syahrul, dari kejauhan Hartino melihat sesuatu yang janggal.
__ADS_1
“Lais, bukankah itu ....” Hartino bersemangat.
Mereka lalu berlari agar lebih cepat sampai, apa yang mereka lihat mendekatkan pada bukti yang mereka butuhkan.