
“Seorang perempuan yang dulu memfitnah aku dan istri Eman.”
“Wanita?” Kawanan dan Eman terkejut, musuh besar mereka seorang dukun wanita?!
“Kau sudah menemukan perempuan itu, Ep?” Eman bertanya.
“Sudah, dia memang sangat sakti, dukun wanita itu bahkan mampu menggendamku dengan membautku melihat istri dan anak yang belum sempat dilahirkan.”
“Wah, bukan wanita sembarangan, kita harus waspada saat besok mulai menyerang lagi, tapi soal jin yang begitu banyak itu, apa kau tidak punya solusi, Paman?”
“Ada, tahukah kalian, aku mencoba cari di berbagai kota tentang ilmu ini, mungkin kalian juga jarang sekali dengar karena ilmu ini sudah lama sekali hilang.”
“Ilmu apa itu, Paman?” Alka bertanya.
“Ilmu itu bernama ajian Rawa Rontek, konon katanya ajian ini dapat membuat pemilik ilmu hidup abadi, bahkan ketika kepalanya ditebas, maka pemilik ajian tetap bisa hidup kembali dengan menyatukan tubuhnya seperti semula.
Ini berlaku bagi manusia, maka kita dapat simpulkan, jika jin yang memiliki ilmu tersebut, maka sang tuanlah yang membuat ilmu itu menempel pada khodamnya, karena kemampuan sang tuan yang menguasai ilmu Rawa Rontek itu.
Konon katanya lagi, Si Pitung pun memliki kemampuan ini, beliau adalah orang yang menjadi pahlawan pada masa penjajahan Belanda dulu, ia mampu melawan pasukan Belanda yang memegang senapan, tubuhnya kebal karena ilmu Rawa Rontek ini.” Paman menjelaskan.
“Rawa Rontek? Aku jujur, baru pertama kali dengar ilmu ini.” Aditia memang tak terlalu banyak memiliki pengetahuan tentang ilmu hitam yang ada di dunia ini, karena ajian Rawa Rontek masuk ke dalam kategori ilmu hitam.
“Si Pitung, legenda jagoan betawi, pada awalnya beliau dikenal sebagai orang datang dari kelompok bandit, tapi banyak yang percaya identitasnya digeser agar terlihat seperti orang yang jahat oleh para penjajah Belanda di Batavia.
Bahkan seorang sejarawan Belanda Margareet van Till dan In Search of Si Pitung : The History of Indonesian Legend, mengatakan bahwa, Si Pitung bukanlah sosok mitos belaka, tapi memang benar adanya.
Cerita Si Pitung muncul pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, Si Pitung adalah seorang anak dari pondok pesantren perguruan Hadji Naipin sehingga mampu mengaji dan berkepribadian baik.
Lalu Si Pitung dicatat mulai melakukan perampokan pada tahun 1892-1893, pun mengenai perampokan ini semua dikarenakan perampokan yang dialami keluarganya oleh para bandit.
Ayahna Pitung adalah seorang pedagang kambing, Si Pitung sering membantu, tapi sayang, para bandit Belanda selalu merampok hasil dagang dari orang tuanya dengan mengacungkan senjata.
Pitung marah melihat betapa tak berdaya ayahnya, di hadapan para bandit, hanya bisa menyerah dan memberikan jerih payah yang mereka dapatkan secara sukarela.
Maka dari itu Pitung bersumpah akan mengalahakan kelompok bandit itu.
Maka dari itu, dia haruslah sangat kuat, untuk menjadi kuat, dia harus belajar ilmu bela diri, ilmu itu haruslah tinggi sekali hingga tak ada yang mampu melawannya lagi. Ilmu bela diri tinggi itu, sudah pasti berasal dari ilmu hitam, karena kalau hanya mempelajari ilmu putih, kau takkan mampu mengalahkan orang-orang yang menguasai ilmu hitam.
Maka dari itu pitung belajar ilmu putih dan hitam, untuk memastikan, dia adalah orang yagn paling mampu mengalahkan siapapun.
Setelah belajar, dia lalu mencari kelompok bandit itu untuk membalas dendam, begitu bertemu, dia langsung memberi pelajarn pada para bandit itu.
Banyak orang yang melihat dia dapat mengalahkan para bandit, maka dari itu, semua orang mengenalnya adalah ketua dari bandit-bandit itu, orang yang paling tinggi ilmunya, karena membuat para bandit ketakutan.
Padahal, Si Pitung hanya ingin melindungi keluarganya atas serangan para bandit. Sejarah tentang Si Pitung adalah bagian dari para bandit, bahkan ketuanya, berhembus. Jadi ingat tentang fitnah Paman dan istri Wak Eman.
Si Pitung juga kena fitnah, seperti Paman kan.
Bahkan katanya, para bandit itu ditunggangi oleh para tuan tanah Belanda yang selalu menindas warga miskin yang lemah dan selalu memperlakukan mereka dengan semena-mena.
Setelah Si Pitung muncul dengan kekuatan yang tinggi, tuan tanah itu menjadi ketar-ketir karena kemmapuan ilmu hitam yang Pitung miliki.
__ADS_1
Setelah berhasil menumbangkan bandit yang merampok ayahnya, dia akhirnya menjadi perampok sungguhan, tapi kalian pasti tahu, julukannya adalah Robin Hood Indonesia, karena dia selalu mencuri tuan tanah yang serakah dan membiarkan hasil rampokannya dinikmati bersama dengan para orang miskin, dia mencuri karena kesal dengan kelakuan tuan tanah serakah, sudah kaya masih saja tetap merampok orang miskin, kalau bukan serakah, apalagi namanya?”
“Nding, walau dia hebat, tapi akhirnya berkalang tanah, karena peluru emas kan?” Aditia mencoba menghentikan Ganding untuk bercerita dengan lebih detail, nanti jadinya akan butuh waktu sehari semalam, karena cerita Si Pitung salah satu cerita favoritnya.
“Ya, betul, tapi paman, apakah benar, ajian Rawa Rontek yang Si Pitung miliki bisa dikalahkan dengan peluru emas.”
“Tidak ada catatan pasti mengenai itu Nding, itu kan menurut cerita rakyat, tapi sebenarnya ada teori yang lebih aku yakini dari pada hal tersebut, dari pada tentang peluru emas, aku lebih percaya bahwa tanahlah kelemahan mereka.”
“Tanah? Maksudnya?” Alka bingung, yang lain masih sibuk meminum kopi dan makan bala-bala.
“Konon katanya ilmu Rawa Rontek itu berasal dari tanah, kalian tahu kan, bahwa tanah ada sumber kehidupan bagi banyak makhluk hidup termasuk kita manusia, maka ajian hitam itu berasal dari keburukan tanah itu, sehingga ketika tubuh mereka jatuh ke tanah, maka tubuh itu diberikan kekuatan lagi untuk hidup kembali karena memiliki ajian Raw Rontek.
Maka untuk melemahkannya, tebas lehernya dan tangkap kepalanya, jangan sampai menyentuh tanah.”
“Paman, cuma mau nanya aja, kalau memang kau segitu percayanya sama teknik ini, lalu kenapa tadi kau suruh kami cincang jiwa-jiwa itu?” Aditia protes, karena mencincang ruh itu sungguh melelahkan.
“Aku ... lupa.”
“Paman!!!” Yang lain kesal, tapi kan namanya juga usia, pasti ada saja yang dia bisa lupa.
“Kalau begitu kita coba besok, bagaimana?”
“Itu boleh Paman, tapi pertanyaannya, kenapa kau bisa tiba-tiba tahu soal Raw Rontek ini? kenapa asumsimu langsung mantab, sementara ... bisa saja ini berasal dari ajian lain, apa kau memang curiga sesuatu?” Aditia bertanya.
“Kau anak muda yang tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dua kali ya, sekarang kau lebih detail, baiklah, kau benar, ada yang aku curigai tentang wanita itu, tapi aku harus memastikan, wanita si penyebar fitnah dan mungkin juga adalah yang mendiami zona gelap itu, aku akan beritahu jika memang sudah pasti, terlalu prematur, nanti kalau aku beritahu, takut membuat langkah kita salah, makanya sekarang kita harus istirahat dulu, baru besok mulai bertarung lagi.
...
“Wak, sudha di sini sepagi ini?”
“Iya, aku mau ajak kalian sarapan, tapi sepertinya belum bangun semua, pamanmu saja belum bagun juga.”
Aditia duduk di sampingnya.
“Mau rokok?’
“Tidak merokok, Wak.”
“Bagus, kau anak muda yang berbeda.”
“Karena rokok atau karena hal ghaib?”
“Dua-duanya, kau dan pamanmu mirip sekali, sama semirip Mulyana dan kakaknya.”
“Namanya juga saudara, Wak. Oh ya Wak, kenapa kau membantu pamanku sebegitunya?”
“Sebegitunya tuh, gimana ya?” Wak Eman memang bingung.
“Kau itu sangat tulus, bahkan setelah difitnah masih terus bersamanya, masih tidak percaya fitnahan itu dan bahkan ikut memalsukan kematian.
Bukankah itu hal yang bisa dimaksud dengan ‘sebegitunya’, Wak?”
__ADS_1
“Oh, karena pamanmu orang baik, Dit. Dia banyak menolongku.”
“Tapi Wak, banyak orang tidak tahu diri, sudah ditolong malah menggigit, tapi kenapa kau malah tidak, melakukan hal yang sulit orang banyak lakukan, tulus.”
“Aku tidak merasa sikapku pada Aep berlebihan, Dit. Aku pikir setiap sahabat akan melakukan apa yang aku lakukan, jika kau banyak menemui orang yang jahat pada sahabatnya, berarti pergaulanmu yang salah, karena alaminya, setiap manusia yang ditolong, dia akan menolong kembali.
Menolong orang itu membuat hatimu menjadi hangat dan lembut, lalu ditolong juga membuat hatimu lembut dan berjanji, jika kelak ada yang butuh pertolongan, aku akan bantu, karena aku pun tahu rasanya saat sulit.”
“Berarti pergaulanku kurang baik ya, Wak.”
“Ya, kurang baik, kecuali 5 orang di dalam itu, pergaulan yang sudah sangat baik, lihat mereka, seperti aku kan? tak ada hubungan darah, tapi mereka rela berkorban untuk satu sama lain.
Aku pikir yang hebat itu ayahmu dan pamanmu, mereka menulariku ketulusan, karena mereka juga membantu orang dengan tulus.
Pamanmu itu banyak sekali menolong orang dengan menyamar menjadi tubuhku, tak masalah dia menyamar jadi diriku, jadi kecipratan pahal deh.”
“Wah, andai pemikiran Wak Eman diadopsi oleh banyak orang, pasti setiap orang akan saling menghargai.”
“Dit, sana kamu mandi dulu dan bangunkan yang lain, kita sarapan soerabi, di perempatan depan surabinya enak tahu.”
Aditia beranjak untuk mandi dan membangunkan yang lain, semua orang terlihat tidur terlelap, lelah? tentu saja.
Setelah semua orang bersiap, akhirnya mereka sarapan di perempatan depan, untuk sampai ke tempat itu, mereka harus melewati sawahnya, saat melewati sawah itu, sungguh suasana sangat tenang, banyak orang yang lewat ke sana, tidak seperti malam hari, tentu orang-orang itu takut kalau malam hari.
“Tenang sekali melihat sawah ini, jika pagi hari.” Ganding berkata, mereka naik delman dari rumah.
Paman Aep tak ikut, karena akan sangat aneh ketika Wak Eman jadi ada 2, seperti yang kawanan ketahui, keluar dari rumahnya Paman Aep akan menyamar menjadi Wak Eman.
“Semoga tempat ini segera tenang lagi.” Wak Eman terlihat berharap.
Mereka sampai di perempatan jalan, ada tukang soerabi yang sangat terkenal di desa itu, orang yang hendak bekerja, dari sehabis olahraga atau orang yang memang sengaja dari rumah datang ke tempat itu untuk beli.
Aditia dan kawanan serta Wak Eman akan makan di tempat itu langsung, mereka ingin menikmati udara pagi dan soerabi, tidak lupa kopi yang dijual juga di sana, tapi oleh penjual lain, orang jakarta menyebutnya starling.
Perlu menunggu selama 15 menit akhirnya mereka mendapatkan soerabinya, soerabi masih di bakar dengan tungku yang disebut hawu, yaitu kompor bertenaga kayu bakar.
Rasa soerabinya sungguh sangat enak, ada soerabi asin karena isiannya adalah oncom dan ada soerbi manis dengan isian gula merah dan yang terakhir soerabi polos, tanpa isian.
Mereka memesan berbagai macam rasa, soerabi ini tidak tergerus jaman yang banyak memperbaharui menu makanan, soerabi lebih modern ada di Jakarta dengan topping yang begitu beragam hingga saat dimakan terasa rumit menjelaskannya enak atau tidak.
Mereka melahap soerabinya dengan tenang menikmati waktu pagi yang dingin.
“Udah pada denger Kang, itu Akang Anto yang tinggal di desa sebelah, hilang.” Ucap seseorang yang duduk di sebrang kawanan dan Wak Eman, mereka asik mengobrol dengan suara yang terdengar.
“Di jalan sawah itu lagi ya? naik mobil pas lewat kan?” Pria lainnya menanggapi obrolan ini.
“Iya euy, padahal udah dikasih tahu ibunya, jangan lewat situ, malah nekat, karena mau jemput pacarnya di desa itu, takut ngambek karena telat, eh malah lewat situ, ilang deh.”
“Kasian banget, mau ngapel malah jadi korban.” Mereka tertawa cekikikan, sungguh penderitaan orang lain, tidaklah patut ditertawakan, bagaimana kalau mereka yang tertawa itu terkena musibah? jangan tertawakan orang yang kena musibah, karena siapa tahu, mereka adalah pembuka jalan untuk kita hidup lebih baik lagi.”
“Wak, itu mereka kehilangan pria lain di jalan itu.” Ganding berbisik,
__ADS_1
“Iya, aku juga dengar, kasihan sekali pria itu.” Yang lain bertekad akan segera merampungkan kasus itu hingga tak diperlukan lagi orang lain untuk menjadi korban.