
“Bagus, Nak, capek ya?” Ibunya bertanya pada Bagus, anaknya terlihat sangat lelah karena bermain bola seharian.”
“Nggak kok Bu, aku masih kuat kalau Ibu mau aku main di luar lagi.” Bagus yang bahkan sudah banjir peluh dan baju kotor hampir di setiap bagian, masih ingin ibunya bangga.
“Sekarang Bagus mandi aja dulu, abis itu makan, trus minum kopi susu biar badan Bagus enakan.”
“Iya Bu, ayah sama kakak udah pulang?”
“Udah, nanti kita makan malam bersama ya.”
“Iya bu, aku mandi dulu ya.” Bagus lalu ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri, Bagus ikut makan bersama dengan keluarganya.
“Kata ibu, kamu sekarang suka main ke luar?” kakaknya bertanya.
“Iya, main bola.”
“Gitu dong, masa anak cowok di kamar aja, mau main boneka-bonekaan?!”
“Aku nggak main boneka-bonekaan kok, aku main puzzle.”
“Kakak udah ya, yang penting sekarang Bagus udah suka main di luar kayak Kakak dulu.” Ibunya meminta kakaknya Bagus untuk tidak mengejek lagi.
“Bagus, kamu mau masuk ke klub bola anak? Nanti ayah masukkan seperti kakakmu.”
“Hmm, Bagus ....”
Bagus berniat untuk menolak, tapi dia melihat seorang anak kecil dengan wajah mengerikan ada di sampingnya dan berkata, “Mati!” Bagus mendengarnya langsung mengangguk.
“I-iya Yah, aku mau ikut clubnya.”
“Anak hebat, Ayah bangga sekali denganmu. Kamu pasti bakal hebat kayak kakak kalau kamu berusaha terus.”
Bagus tersenyum terpaksa, walau dia sangat tidak ingin melakukan itu, tapi dia takut, takut jika anak mengerikan itu datang dan mencekiknya, seperti terakhir kali saat Bagus tidak ingin main ke luar rumah.
Makan malam selesai, Bagus dan ibunya masih di meja makan.
“Bagus minum kopi susunya, ya.” Ibunya menyodorkan kopi susu dengan gelas yang dialaskan piring kecil, Bagus mengambilnya dan minum kopi susu itu.
“Bagus sekarang boleh main puzzle, Bu?” Bagus bertanya.
“Nggak, kamu tidur, karena besok kamu bakal capek, kan katanya mau daftar klub bola sama ayah.” Ibunya melarang, Bagus merasa kecewa tapi tidak bisa berbuat apapun. Dia akhirnya masuk ke kamar dan menutup pintu kamar lalu mencoba untuk tidur.
__ADS_1
“Bagus ....” Suara serak terdengar di telinga Bagus yang baru saja terlelap.
Bagus terbangun lagi, dia melihat sekeliling, cahaya kamarnya terlihat lebih remang dibanding biasanya, bagus melihat kaca, karena pada jam segini, anak itu pasti datang, Bagus takut.
Di kaca terlihat anak itu ada di hadapan Bagus, seketika dia melihat ke arah di mana anak kecil mengerikan itu ada, ternyata benar, anak itu ada di hadapannya, Bagus hendak berteriak, tapi tidak bisa, suaranya tidak keluar ... lagi, seperti malam-malam sebelumnya.
“Bagus ... ikut aku main, mau?” Anak itu berkata dengan suara serak, badannya kecil, tapi suaranya sangat parau.
Bagus menggeleng, dia tidak mau ikut, tapi anak itu memaksa, lagi-lagi tangannya ditarik, hingga tubuhnya terpaksa mengikuti anak mengerikan itu, entah mengapa, Bagus merasa dirinya mampu menembus tembok kamarnya, bahkan melihat tubuhnya sendiri yang sedang tertidur, Bagus menangis karena ini entah malam keberapa dia dibawa ke suatu tempat yang dia tak tahu di mana ini.
Bagus melihat sebuah rumah bilik dengan halaman yang begitu luas, saat memasuki halamannya lagi, dia melihat sudah begitu banyak anak di sana, sedang bermain.
Anak mengerikan itu menarik Bagus hingga masuk halaman, Bagus tetap mengikutinya, karena dia takut, tidak berani menolak anak mengerikan itu, dia selalu memerintahnya untuk melakukan yang disuruh.
“Bagus, kau ke sini lagi?” Seseorang menyapanya, Bagus masih tidak bisa bicara, dia hanya mengangguk, entah darimana anak perempuan ini tahu namanya, tapi dia yang paling ramah di antara yang lain.
“Bagus, Ani juga capek kok waktu itu, tapi nanti kalau Bagus udah ikut terus ke sini, Bagus nggak akan capek lagi. Bagus juga nanti bisa ngomong kalau udah ikut ke sini, jadi Bagus harus nurut sama temen Bagus yang itu ya.”
Ani menunjuk anak mengerikan yang membawa Bagus ke rumah ini. Anak itu sedang makan sajen di depan pintu rumah itu. Entah rumah siapa, Bagus tidak tahu.
Bagus terduduk, dia tidak suka di sini, tapi entah kenapa, anak-anak di sini begitu banyak dan mereka sepertinya senang berada di sini, bermain, berlari dan bercanda bersama yang lain.
Termasuk Ani, dia terlihat senang berada di sini. Tapi Bagus tetap tidak suka di sini.
...
“Har, apa yang kamu temukan?” Kawanan di markas lagi setelah mereka kemarin gagal untuk membawa Ani pulang, bahkan belum satu anak pun yang berhasil dijemput untuk pulang.
“Aku belum menemukan identitas dukun itu, tapi ... aku menemukan sesuatu, kalian lihat ini.” Hartino memproyeksikan presentasinya di depan layar dengan proyektor.
“Ada sebuah kisah turun temurun di suatu daerah, tentang sebuah rumah yang mengumpulkan jiwa anak-anak untuk ... diperbudak.” Hartino menjelaskan dengan suara yang cukup berat, yang lain terkejut dengan penjelasan Hartino yang baru saja dimulai.
“Diperbudak? Untuk apa?” Ganding bertanya.
“Untuk, ini gila kalau memang penemuanku benar.”
“Apa Har!” Aditia tidak sabar.
“Alat santet!”
“Brengsek!!! Bedebah!” Aditia memukul meja, karena itu bergetar tanah yang dipijaknya, yang lain kaget, karena Aditia kalau marah, sisi Kharisma Jagatnya keluar, tidak heran, dia adalah keturunan raja yang merupakan Kharisma Jagat Agung dan Ayi Mahogra pada zaman itu.
“Maksudmu, apa karena seorang ruh anak itu mampu menyerap energi dari suatu rumah yang dia tempati, hingga mampu membuat penghuni rumahnya jadi lemah, lalu akhirnya anak-anak ini menjadi bala tentara yang tidak terlihat untuk memuluskan pembunuhan jalur santet bagi pemesannya?” Alisha memastikan, karena dulu dia pernah menghadapi masalah seperti ini, tapi itu dulu sekali.
__ADS_1
“Kurang lebih begitu sayang, dukun itu sengaja mencari anak-anak yang dianggap bermasalah oleh orang tuanya membuat mereka akhirnya meninggal dunia dan menjadikan ruh mereka tawanannya, lalu mengeruk uang dari para pemesan santet. Dukun ini menjalankan praktek santet dengan cara mengirim ruh anak kecil itu ke rumah target santetnya, hingga membuat penghuni rumah itu lemah. Maka setelah penghuni rumah itu lemah, sakit lalu meninggal, dukun tersebut berhasil menjalankan santet yang dipesan orang jahat yang ingin penghuni rumah itu tiada.” Hartino menjelaskan kepada istrinya.
“Ini pembunuhan!” Aditia makin marah, “kita harus segera menemukan dukun itu Har, kalau tidak, dia akan terus mencari ruh anak-anak untuk dijadikan bala tentara agat praktek santetnya terus berjalan!” Aditia melanjutkan.
“Aku tahu Dit, tapi aku deadlock, nggak ketemu. Karena menurut legenda yang aku temukan di dark web, dukun itu akhirnya dibakar massa, karena ketahuan melakukan praktek santet dan juga pembunuhan, dukun itu sudah lama mati dan identitasnya sama sekali tidak diketahui. Dia bisa saja menjadi Mbah Endi, Mbah Asep, Mbah Udin dan mbah-mbah lainnya. Dia licin dan mampu melindungi dirinya dari orang-orang yang memburunya.”
“Har, kau yakin sudah mencari dengan teliti?”
“Dit, jangan meragukan kemampuanku, ya.”
“Har, Dit, gini aja deh. Ayo kita telusuri tiga puluh anak yang menjadi korban itu, lalu kita pastikan polanya, dia pasti bekerja dengan pola, dia mungkin juga punya orang-orang yang dia percayai untuk membawa ibu-ibu yang merasa anaknya bermasalah, mungkin kita bisa menemukannya dari tiga puluh anak yang menjadi korban.”
“Oh ya benar Nding, kau cerdas. Pasti dukun bedebah itu bekerja dengan pola, mencari anak-anak itu di daerah yang dia pikir mampu memberikannya ruh anak-anak yang bisa dia tawan lalu akhirnya dipelihara.”
“Baru tahu kalau aku cerdas Dit! Ya, begitu menurutku kita akan menemukan informasi dari korban-korban itu.”
“Nding, selain itu, mungkin tidak ada salahnya menyebar, maksudku, kalau targetnya adalah anak-anak yang dianggap bermasalah dengan orang tuanya, berarti daerah yang dia datangi, pasti adalah daerah dengan tingkat kejahatan yang tinggi.” Alka tiba-tiba memiliki ide yang cukup bagus.
“Ya, itu juga mungkin Nding. Karena ibu yang menganggap anaknya bermasalah, pasti adalah ibu yang tinggal di tempat dengan kecenderungan kriminalitas yang tinggi, aku tahu daerah mana saja itu, karena dulu pada saat narik angkot, aku banyak melewati daerah yang bahkan pernah menjadi area prostitusi, hingga banyak anak lahir tanpa ayah dan dianggap bermasalah oleh orang tuanya.” Aditia setuju.
“Kalau begitu, kita jalan berpasangan lagi.” Ganding menawarkan ide.
“Aku suka itu.” Hartino mengedipkan mata pada Alisha.
“Hanya kau yang bisa aneh-aneh Har, jadi jangan berekspresi seperti itu, aku tidak suka.”
“Makanya nikah, Nding!” Hartino meledek.
“Kalian bisa serius nggak!” Alka marah, dia juga kesal mendengar kata pernikahan, sesuatu yang sulit dia lakukan dengan orang yang dicintainya.
Enam orang kawanan itu akhirnya bersiap untuk kembali kerja keras mencari informasi lebih mendalam.
Sementara kawanan sedang berusaha mengejar dukun itu, Bagus terbangun dengan sangat kelelahan, ibunya bahkan membangunkannya dengan kasar agar dia bangun.
Wajah Bagus pucat sekali, ini hari sabtu, dia ingin tidur lebih lama, tapi ibunya tidak mengizinkan.
“Kamu harus ikut ayah untuk daftar club bola, kamu lupa?”
“Bagus capek Bu, mau bobo dulu.”
“Jangan alasan kamu, ayah udah tahu nih, kamu pasti bohong sebenarnya, kamu nggak suka main bola kan!” Ayahnya tiba-tiba masuk kamar anaknya dan langsung memberondong dengan kemarahan pada anak yang baru saja bangun tidur.
“Nggak Yah, Bagus suka kok, ini Bagus mau siap-siap ikut Ayah.”
__ADS_1
Bagus terpaksa bangun dari tempat tidurnya dan bersiap untuk mandi, padahal seluruh tubuhnya sakit dan lelah, apalagi hatinya. Dia merasa sendirian dan tanpa dukungan.