
“Ganding akan ke sini sebentar lagi.” Hartino berkata, sudah satu hari sejak mereka menemukan cara paling akhir yang seharusnya mereka lakukan, Jarni belum juga dibangunkan.
“Kak, Dit, Har.” Ternyata Ganding sudah datang.
“Cepet banget Boy, sorry ya, kita kasih tahunya telat, kan elu lagi recovery, ntar malah lu maksa ke sini.” Mereka memang merahasiakan keadaan Jarni dari Ganding, karena takut kalau Ganding bukannya menjalani perawatan malah ikut ke sini membantu Jarni.
“Gimana gue bisa lama-lama kalau tahu keadaan Jarni seterlambat ini.” Jawab Ganding.
“Nding, udah ya, ini semua buat kebaikan bersama, lagian, Kakak tidurin kok Jarninya, jadi aman.” Alka menenangkan.
“Tapi Ganding nggak suka, Kak, kalau soal Jarni tolong banget, jangan pernah disembunyikan.”
“Bener, kan? Gue bener soal mereka.” Hartino tersenyum puas.
“Ajian Wahita, seperti yang Hartino katakana singkat tadi padamu sebelum ke sini, kami sudah mencoba berbagai cara, tapi tidak bisa, kamu tahu, kan, kemungkinan terburuk kalau Jarni tidak segera dinetralkan?” Alka bertanya pada Ganding.
“Gila jika tidak menikah dengan si pemilik ajian.”
“Betul, aku tidak akan biarkan dia menderita menikah dengan jin jelek itu, makanya kakak panggil kamu ke sini, karena ini mendesak, cara terakhir.”
“Tukar srabat, tangkal ajian dengan menukar subjek pemilik, sehingga ajian wahita memiliki pemilik baru. Tapi subjek pemilik ajian wahita yang baru, harus orang tepat, orang yang … dicintai oleh korban, jadi, walau cintanya berdasarkan ajian, tapi dia mendapatkan yang benar-benar dia inginkan.” Ganding menunduk.
“Kau ikhlas?” Alka bertanya.
“Kau tahu, kan, seberapa besar aku menyayanginya.”
“Sayang saja tidak cukup Nding, lu harus cinta. Jadi tukar srabat itu tukar ajian wahita ke pemilik baru? Wah aku baru dengar hal ini.”
“Makanya banyak baca kitab ghaib, literaturnya udah disusun Kak Alka tuh, di ruang belakang, banyak banget kitabnya.” Hartino lagi-lagi meledek Aditia yang baru tahu.
“Aku mencintainya, tapi Jarni bagaimana? Apakah dia mencintaiku juga?” Ganding ragu.
“Kau fikir kenapa selama ini, setiap kalian menyelidiki sesuatu, Kak Alka selalu memasangkan kau dengan Jarni Nding? Itu karena Jarni yang minta, iya, kan Kak?” Hartino mencoba menguatkan.
“Iya, katanya dia nyaman denganmu Nding.”
“Padahal gue lebih ganteng, lebih kaya dan lebih pinter juga.” Hartino menyombongkan diri.
__ADS_1
“Tapi kurang bijaksana.” Aditia meledek balik.
“Satu lagi yang membuat kakak yakin, raja jin yang dilihat Jarni, memiliki sosok yang mirip denganmu, refleksi cintanya memang denganmu sepertinya, saat dia menjelaskan sosok raja jin yang dia lihat, Kakak merasa, Jarni mendeskripsikan raja itu, seperti dirimu, kita tahu, bahwa korban ajian, pasti melihat sosok si pemilik ajian seperti seseorang yang dia cintai, bukan?
Cara membuktikannya gampang, jika Jarni bangun dan dia melihatmu sebagai orang lain, kita berarti benar dan rukat srabat ini bisa kita lakukan, karena secara tidak langsung Jarni menukar sosokmu kepada si pemilik ajian, yaitu raja jin.”
“Jadi, kalau Jarni melihat sosok raja jin pada diri Ganding, fix banget, dia cinta ama lu Nding,” Hartino menambahkan.
“Kakak yakin? Bagaimana saat kita bangunkan Jarni dan ternyata salah, resikonya dia akan jadi gila loh, karena sadar telah dipisahkan dengan pemilik ajian.” Ganding masih saja ragu.
“Kalau ternyata hatinya memang tidak padamu, maka, kita tetap melakuan tukar srabat, harus, lebih baik Jarni tergila-gila padamu ketimbang dengan raja jelek itu! Kau juga mencintainya, kan?” Alka kesal karena Ganding masih saja ragu.
“Tapi Kak, ini tidak akan adil bagi Jarni, karena dia hanya akan mencintaiku karena Ajian. Bukan karena hatinya, aku ….”
“Nggak ada waktu buat idealis bodoh lu Nding, lu mau Jarni gila atau ditidurin selamanya? Ini yang buat kalian nggak bisa menyatu, lu selalu dalam keraguan, sementara Jarni super pasif, makanya kalian nggak bisa menyatu, jangan-jangan, ini jalan Tuhan biar kalian bersatu.” Hartino yang biasanya selalu tenang kini dia ikut kesal.
“Kak, aku ….”
“Ini perintah, lakukan.” Alka berkata dengan dingin, baru pertama Aditia melihat Alka memaksa dan sepertinya saat kata perintah keluar, tidak ada yang berani membantah.
Alka lalu menegakkan duduknya Jarni, dia duduk dibelakang Jarni dengan bersila, menutup matanya yang memang sudah terpejam karena sudah tidur, membaca beberapa ayat dari kitab ghaib turun temurun, lalu membuka tangannya dari mata Jarni, Jarni terbangun.
“Di-dimana aku?” saat setelah membuka matanya, Jarni kaget, dia tahu, sudah tidak di istana raja jin lagi.
“Kau di guaku.” Jawab Alka.
“Aku tidak mau di sini, aku ingin bersama rajaku, kau brengsek, beraninya kau membawaku ke sini!” Jarni berkata kasar, dia tidak bisa lari karena diikat oleh cambuk Alka.
“Rajamu ada dihadapanmu Jarni.” Alka berkata.
“Hah? Kau gila! lelaki bertubuh gempal dan berkulit hitam, bermata bulat tanpa alis, berhidung mancung dan berdagu sangat panjang ini kau bilang rajaku! Melihat wajahnya saja menjijikan sekali!” Jarni berteriak.
“Kena!” mereka bertiga berkata seperti itu, Ganding tersenyum lega.
“Apa-apaan kalian, lepaskan aku!” Jarni mulai histeris, tapi cambuk Alka lebih kuat.
“Aku akan berbicara dengan khodam kalian, mereka harus bantu kita.” Alka lalu lepas raga, dia harus berbicara dengan khodam Ganding dan Jarni.
__ADS_1
Setelah sepuluh menit, Alka kembali ke tubuhnya.
“Mandikan mereka, di sungai hutan belakang, pada jam 2 malam, waktu di mana dimensi manusia dan dimensi jin bersinggungan. Karena di waktu itu, ajian wahita yang mengelilingi Jarni terlihat, setelah itu, khodam Ganding akan mengambil sedikit bagian ajian itu dengan cara merobek bagian tubuh Jarni yang terkena, menaruh potongan ajian itu pada tubuh ganding dengan menanamnya pada lima panca indera. Makanya kenapa aku perlu bicara pada dua khodam mereka, karena kalau khodam Ganding merobek tubuh Jarni, khodam Jarni harus merelakannya, sehingga tidak terjadi tumbukan.”
“Ka, itu bakal sakit banget dong buat Jarni, karena tubuhnya harus dirobek.” Aditia protes.
“Kau fikir lebih sakit mana? Mencintai orang yang salah, atau dirobek sedikit, tenang saja, dia tidak akan apa-apa.”
Ajian itu memang menancap seperti susuk, kalau sudah masuk, sulit keluar, apalagi susuknya milik raja jin dengan kekuatan tinggi, satu syaratnya agar Ganding bisa tukar Srabat dan membuat Jarni lupa pada raja jin itu, jangan pernah pertemukan Jarni dengan raja itu, karena ganding hanya replika, mengambil sedikit bagian ajian dari tubuh korban, sehingga terjadi pertukaran pemilik ajian lama ke pemilik ajian baru.
Tentu pemilik ajian baru hanya sebuah sosok palsu yang dianggap sebagai pemilik ajian karena dikenali melalui serpihan yang diambil dari tubuh Jarni, sehingga kadar cintanya akan jauh jika dibanding dengan pemilik asli, yaitu raja jin.
Kalau Jarni sampai bertemu lagi dengan raja jin itu, dia pasti akan kembali tergila-gila pada pemilik asli ajian wahita, makanya tukar srabat ini harus dilakukan dengan hati-hati dan mengikuti syaratnya.
Waktu sudah menunjukan pukul dua pagi, Jarni sudah diganti pakaiannya dengan kain jarik, Ganding juga.
Alka, Aditia, Hartino, Ganding dan Jarni pergi ke sungai hutan belakang, sangat dingin, sunyi, gelap dan menakutkan bagi manusia biasa, tapi bagi mereka, ini sangat ramai, karena malam waktunya para jin berinteraksi satu sama lain, bahkan di hutan ini banyak rumah yang menjadi pemukiman jin.
Jarni masih tersu meronta, tapi cambuk Alka mampu menahannya, ular-ular Jarni juga mengenali cambuk Alka, sehingga tidak menyerang balik. Jarni sangat menghormati Alka, makanya dia selalu memperkenalkan semua senjatanya pada cambuk Alka, bersiap dengan kemungkinan terburuk dimasa mendatang, seperti saat ini.
Jarni didudukan paksa di tengah arus sungai, begitu juga ganding, sementara kedua khodam mereka berdiri di belakangnya.
Tepat jam dua malam, Alka membacakan tembang kendhang ajian, tembang ini membuat semua ajian yang tertanam pada tubuh seseorang terlihat karena mendengar tembang dari Alka.
Dari tubuh Jarni, terlihat semua ajian, Alka sangat terkejut, hampir disetiap tubuh Jarni, terlihat cahaya kelap-kelip, seperti kunang-kunang yang menempel. Tapi masalahnya, kelap-kelip itu memenuhi seluruh tubuh Jarni.
Pantas saja dia tergila-gila pada raja jin itu, dia kena ajian sempurna seluruh tubuh.
Alka meminta khodam Ganding melubangi bahu Jarni untuk mengambil serpihan ajian itu, lalu menaruhnya pada mata Ganding, itu lubang pertama.
Selanjutnya lubang ke dua, khodam Ganding membuat lubang pada bahu satunya, lalu mengambil kelip ajian dan menaruhnya pada lidah Ganding.
Lubang ketiga dibuat lalu kelip ajian diambil pada ubun-ubun Jarni, ditaruh pada telinga Ganding.
Lubang keempat dibuat pada telapak tangan Jarni dan diambil kelip ajian di sana, setelahnya kelip ajian itu ditaruh pada hidung Ganding, terakhir lubang kelima dibuat pada telapak tangan satunya lagi, diambil kelip ajian dan ditaruh pada dada Ganding.
Malam semakin larut, Jarni terdiam setelah semua panca indera Ganding terpenuhi oleh ajian wahita milik raja jin, apakah tukar srabat ini akan berhasil?
__ADS_1