
“Saya resepkan obat alergi ya Bu, karena ini sepertinya alergi, coba hindari sabun cuci baju dan cuci piring, pakai sarung tangan jika akan kontak langsung dengan bahan kimia tersebut ya bu, kalau seminggu masih belum ada perubahan kembali lagi ke sini.” Ranti ditemani suaminya ke Dokter umum, Ranti mengeluh jika malam tiba tangannya terasa panas seperti luka lepuhan karena luka bakar, tapi Ranti merasa tidak penah cedera karena air panas, minyak panas apalagi api.
“Minum dulu obatnya Neng, abis itu kamu istirahat aja, biar Giska aku yang jaga.” Suaminya Ranti berkata.
“Ya Mas, maaf ya.” Ranti lalu tertidur.
Tidak berapa lama dia terlelap, namun tib-tiba dia ingin buang air kecil, jadinya terbangun lagi dan bergegas ke kamar mandi.
Ranti melihat Giska dan ayahnya sedang main di halaman depan.
Ranti ke belakang letak kamar mandi mereka, lalu dia buang air kecil, setelah selesai membersihkan semua dan dia membuka pintu kamar mandi.
Tapi saat membuka pintu itu tepat di depannya ada wanita itu, dia sedang menatap ke bawah.
“Astagfirullah, Mbak! ngapain kamu ke sini lagi? Kalau kamu mau ketemu anak saya, dia di depan sama ayahnya.” Ranti kesal karena wanita ini lagi-lagi masuk sembarangan.
“Boleh minta tolong?” Dia mengatakan itu dengan masih menunduk ke bawah.
“Boleh, tapi bisa ke ruang depan dulu nggak? ini saya baru selesai buang air kecil, ke depan saja ya.” Ranti sedikit kesal, tapi dia mencoba berfikir jernih, karena kasihan pada perempuan ini.
“Tolong saya.” Perempuan itu mendongakkan wajahnya yang tadinya menunduk menjadi mendongak, Ranti terkejut, karena dari lehernya ada sayatan darah, darah itu awalnya menetes, lalu mulai deras, tidak lama kemudian darah dari leher itu muncrat.
“Astagfirullah! Astagfirullah, Mas!!! Mas!!!” Ranti berteriak minta tolong.
“Neng! Neng! Neng! Bangung!!!” Suaminya memaksa Ranti untuk bangun dari tidurnya.
Ranti akhirnya membuka mata, dia baru sadar, ternyata kejadian tadi hanya mimpi, tapi sungguh membuat dia masih merasakan amis dari darah yang muncrat dari leher perempuan itu.
“Mas, Astagfirullah, Ranti mimpi serem banget.” Ranti memeluk suaminya, sementara Giska sudah dipegang mamah mertua.
“Perempuan itu datang, Ranti mau pipis, tadi Ranti lihat Mas main sama Giska di halaman, lalu Ranti ke toilet, selesai dari toilet perempuan itu ternyata ada di depan kamar mandi, dia minta tolong.”
“Minta tolong apa?” Suaminya bertanya atas penjelasan Ranti.
“Nggak tahu, dia lehernya … lehernya robek, keluar darah sampai muncrat ke mukaku. Aku masih bisa merasakan amis dan dinginnya darah itu mas.” Ranti ketakutan karena mengingatnya.
“Kamu tenang dulu, hanya mimpi, tenang ya, ini minum dulu.” Suaminya memberi air dari gelas, dia sudah mendoakan air tersebut, suami Ranti tidak ingin dia menjadi lebih ketakutan makanya menenangkan dan mengatakan itu mimpi, sebenarnya dia sudah curiga ada yang tidak beres dengan Ranti, semenjak kedatangan perempuan itu.
Mama mertua tidak bisa menemukan perempuan itu juga, karena setiap kali ditanyakan cirinya, Ranti hanya bisa menyebutkan rambutnya panjang, pakai piyama biru, mengenai wajah, Ranti juga bingung, dia bilang lupa dan tidak mampu mengingat wajahnya.
Setelah Ranti tenang, suaminya mengajak Ranti untuk makan bersama dengan semua anggota keluarga, saat keluar kamat, papah mertua menatap Ranti dengan tatapan terkejut, Ranti terlihat pucat, tadinya telapak tangan yang memerah, tapi sekarang sudah sampai siku, luka bakar itu cepat sekali menjadi lebih parah lagi.
Ranti juga jadi tidak ***** makan, saat makan pun, dia memuntahkan makanan itu. Katanya rasanya hambar.
“Ranti coba cerita ke Papah, apa yang membuat Ranti menjadi seperti ini?” Papah mertua bertanya.
__ADS_1
“Nggak tahu Pah, Ranti ngerasa ada yang aneh sama perempuan yang sering Ranti temuin saat pulang lembur kerja, perempuan itu selalu berada di ujung gang, dia menatap ke dalam membelakangi gerbang, awalnya Ranti sapa, lalu pulang bersama, tidak tahunya perempuan itu malah masuk seenaknya ke rumah malam-malam, tengah malam sih. Trus udah gitu dia maksa mau lihat Giska.”
“Tapi Papah lihat pintu dikunci dari dalam, tidak ada tamu yang datang Neng,” kata papah mertua.
“Tapi beneran ada kok Pah, saat dia mau masuk kamar, ranti tarik dan dorong dia begini nih.” Ranti memperagakan saat menarik wanita itu dan mendorongnya.
“Nariknya pakai tangan ini?” Papah mertua bertanya dengan menunjuk tangan Ranti yang memerah persis luka bakar.
“Iya, pakai tangna ini.”
Papah mertua dan suaminya Ranti saling melihat, mereka berdua mengangguk, seperti menyakini akan suatu hal.
“Yaudah, gini aja, Ranti cuti kerja dulu ya, selama tangannya melepuh gitu, jangan keluar rumah dulu sampai diijinkan, Giska tidur sama Mamah, Papah dulu, Ranti tidur berdua saja dengan Mas ya.” Suaminya berkata.
“Loh kok gitu, kalau ijin cuti Ranti nggak masalah, memang tangan ini juga terasa sakit sekarang, tapi kalau Giska, Ranti nggak mau tidur terpisah dengna Giska.” Ranti menolak sedikit emosi.
“Ranti harus banyak istirahat Neng, makanya Giska tidur dulu sama Oma, Opanya ya, kita harus fokus ke penyembuhan tanganmu, mengerti ya, Neng. Begitu sembuh, Giska tidur lagi sama Ranti kok.” Suaminya masih membujuk.
“Tapi ….”
“Mas mohon, ini untuk kebaikan kita semua.”
“Iya, yaudah, tapi Ranti masih boleh main sama giska, kan? Ranti nggak mau jauh-jauh terus sama Giska.”
“Iya boleh, yang penting sekarang kita fokus ke kesehatanmu dulu ya.” Suaminya berkata dan dia meminta Ranti meneruskan makan.
Setelah memastikan istrinya sudah tidur, suaminya keluar dan melihat ayahnya sedang di ruang tamu membawa ayat-ayat suci Al Quran, suaminya mencium bau gosong.
“Ada ya Pah?” SuaminyA Ranti bertanya.
“Ya, itu di beberapa titik kelihatan bekas tapak kakinya.”
“Kok bisa lewat? Bukannya udah dipagari?” Suaminya Ranti bertanya pada papahnya.
“Kemungkinan di izinkan masuk oleh Ranti, makanya dia bisa masuk.”
“Waktu aku dinas ya? Ranti sendirian, kasihan dia.” Suaminya merasa bersalah, tapi tugas kerja memang tidak bisa ditinggalkan.
Papah mertua dan suaminya memang orang yang kenal akan dunia ghaib, papa mertua berasal dari Banten, hal mistis adalah makanan sehari-hari, biasanya kalau ada anak yang rewel dan sakit, papah mertua Ranti selalu bantu dengan air yang sudah didoakan.
“Sudah nasib, sekarang kita harus cari dulu, siapa perempuan itu, kiriman atau memang minta bantuan.” Papah mertua berkata.
“Iya Pah, tapi apakah kondisi Ranti baik-baik saja?” Suaminya bertanya.
“Kalau kita tidak segera menemukan perempuan itu, bisa bahaya, Ranti akan semakin lemah karena efek sawan, kita harus menemukan perempuan itu, apa maunya dan bagaimana menyelesaikan masalah ini, Papah terus terang merasa tidak mampu menanganinya sendirian. Kira harus minta bantuan, jangan sampai terlambar, sekarang hanya sampai tangan, begitu sawan itu sudah menyebar, makan kita terlambat.”
__ADS_1
“Kasihan istriku.” Suaminya Ranti menyesal telah tidak ada di sisinya saat dia butuh.
“Tenang saja, kita usaha dulu lalu tawakal, Ranti anak yang baik, ini hanya nasib apes saja, dia bertemu dengan yang salah, seharusnya juga Papah perbaharuui pager ghaib rumah ini, tapi Papah kemarin hanya sempat memasang pagar ghaib di depan kamar kalian, makanya saat Ranti bilang perempuan itu jatuh sebelum sempat masuk kamar, sudah pasti, dia bukan manusia, hanya jin yang mental jika terkena pagar ghaib.”
“Iya Pah, makanya kita juga memisahkan tidurnya Ranti dan Giska karena takut kalau Ranti semakin parah dan akhirnya Giska ikutan ketularan sawan, karena Ranti sudah membuka pintu bagi perempuan itu, sehingga dia bisa kapan saja mempengaruhi Ranti untuk mencelakai Giska.”
“Betul Nak, kita harus super hati-hati menjaga Ranti dan Giska, merek berdua harus benar-benar diawasi dengan ketat, jangan sampai kita lengah lagi,” papah berkata.
“Iya Pah, aku juga sudah ijin dari kantor untuk menemani Ranti sementara waktu, aku harus menyelamatkan keluargaku dulu.”
“Ya, kita akan menyelamatkan istrimu, Insyaallah Nak.”
Mereka menyembunyikan masalah sebenarnya, karena, Ranti tidak boleh tahu apa yang dia alami, sawan karena berinteraksi dengan perempuan itu.
Saat mereka sedang ngobrol bersama, tiba-tiba terdengar suara Giska menangis, Ranti yang tadinya tidur terlelap tiba-tiba bangun, tanpa menoleh dan tanpa berkata, dia naik ke atas tangga.
“Neng, mau kemana?” Ranti tidak menjawab, dia terus saja jalan.
Papah melihat itu langsung berlari dan menarik bahu Ranti agar tidak mendekati kamar mamah di maan Giska tidur, Ranti ingin ke sana sepertinya.
“LEPASKAN AKU!” Suara Ranti berubah menjadi seperti nenek-nenek dan bergema.
Papah membaca ayat-aayt rukyah agar Ranti tidak sampai ke kamar, suaminya segera menarik Ranti tapi Ranti terlalu kuat, dia bahkan masih bisa jalan maju saat tubuhnya ditangkap suaminya dengna kedua tangan, Ranti bahkan bisa menarik balik suaminya untuk naik ke atas.
“Mah! Kunci pintu kamar!” Papah berteriak, terdengar suara pintu dikunci dari atas.
“Mana anakku! Mana anakku!” Ranti berteriak-teriak masih dengan suara yang berbeda.
Papah menyipratkan air doa, setelah itu Ranti kepanasan, pagar ghaib tidak akan mempan pada tubuh Ranti, perempuan yang merasukinya itu tahu, kalau menumpang tubuh Ranti, bisa masuk ke kamar di mana Giska berada, makanya papah dan suaminya buru-buru menarik Ranti, karena bahaya jika Giska sampai di ambil oleh Ranti, bisa membahayakan Giska.
Ranti pingsan, suaminya menggendong Ranti ke kamar, setelah sudah menaruh Ranti di tempat tidur, papah minta kamar Ranti dikunci, untuk pencegahan saja, agar Ranti tidak nekat seperti tadi, walau dia sebenarnya sedang dalam kesurupan.
“Kita harus meminta pertolongan, kasihan Giska dan Ranti, mereka pasti saling rindu.” Suami Ranti benar-benar takut.
“Besok papah akan temui Pak Mulyana, sudah lama sekali Papah nggak ketemu sama dia, biasanya dia bisa membantu masalah seperti ini, yang ilmunya tinggi-tinggi dia bisa bantu.”
“Baik Pah, semoga Pak Mulyana bisa membantu Ranti.” Mereka berdua berharap, tanpa tahu kenyataannya.
__ADS_1