Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 226 : Bangsal 3


__ADS_3

Aditia biarpun merasa sia-sia Dokter Adi bersamanya, tapi dia juga lega, ternyata dia lebih tangguh dibanding Dokter tampan dan sangat berkharisma sebagai Kharisma Jagat itu.


“Dok, kau boleh berjalan dibelakangku, tapi ingat ini, jangan pegang bajuku, aku risih.”


“Kau pikir aku apa! tentu saja aku hanya berjalan di belakangmu!” Dokter Adi kesal, dia tidak sepengecut itu, tapi dia sangat tidak suka bertarung, bertarung bukan ranahnya.


Aura ketampanan Dokter Adi keluar saat dia menangani pasien saja.


“Ayo jalan, kita sudah ditarik ke zona lain, hati-hati, ini zona mereka, energi kita akan cepat terkuras di sini.” Aditia mengingatkan.


“Kau pikir ini kali pertamaku masuk ke dunia lain!” Dokter yang tadi takut ini menyombongkan diri.


Aditia mengeluarkan keris, Dokter Adi mengeluarkan Karuhunnya, begitu keluar, Karuhunnya kaget karena berada di tempat yang tidak biasa, tapi dia berjalan tenang, pembawaannya memang lebih tenang dibanding Dokter Adi, dia berdiri paling belakang menjaga tuannya.


Sementara Abah Wangsa tetap di dalam tubuh Aditia, karena itu akan lebih baik, energinya menjadi ganda, kalau dikeluarkan akan terlalu bahaya buat Aditia sebenarnya, dia akan menjadi jauh lebih lemah, berhubung kelak yang mungkin akan bertarung adalah Aditia, maka dia perlu menghemat energinya.


Udaranya dingin, hawanya pengap dan seluruhnya terlihat sangat abu-abu. Ada beberapa makhluk yang terlihat sedang berjalan mondar-mandir, mereka terlihat ketakutan dan mencoba mencari jalan keluar.


“Dit ... Pak Saiful.” Dokter Adi melihat Pak Saiful yang sedang duduk terdiam di pojok ruang ghaib ini.


Aditia dan Dokter Adi menghampirinya.


“Pak, lagi apa di sini?” Dokter Adi mencoba melepaskan rantai yang membelenggunya, ternyata tangan, kaki dan lehernya dibelenggu di sini. Aditia melihat keadaan sekitar, dia takut ada yang tiba-tiba datang, dia lansung memagari areal mereka berdiri, agar tidak ada makhluk yang bisa seenaknya menyerang. Entah makhluk apa.


“Kalian siapa? kalian manusia?” Pak Saiful bingung, karena ini kali pertamanya dia diajak berbicara, sebelumnya walau banyak yang mondar-mandir, tapi tidak ada yang menyapa.


“Ya, kami manusia, sejak kapan bapak di sini?” Aditia bertanya lagi.


“Sejak ... sejak hari itu.” Pak Saiful mengingat jauh, dimana waktu masih berjalan.


KETIKA ITU


“Papah  Pulang!” Anak Saiful menyambutnya dengan teriakan, dia berlari dari dalam rumah.


“Iya sayang, kamu udah nungguin Papah  ya?”


“Iya Pa, udah dibeliin belum?” tanya anaknya.


“Udah dong, nih, selamat ulang tahun, kesayangan Papah h.” Papah hnya memberikan bingkisan yang cukup besar, hadiah ulang tahun bagi anaknya.


Istrinya ikut keluar lalu mengambil tas kerja suaminya, mereka semua masuk ke dalam rumah.


“Maafin Papah ya Mah, nggak bisa dateng ke ulang tahun anak kita tadi, benar-benar nggak bisa ditinggal meetingnya.”


“Iya nggak apa-apa Pah, yang penting kado nggak lupa, dia tadi ngerti kok.” Istrinya mengerti.


Setelah itu anaknya membuka kado dari ayahnya, sebuah boneka perempuan yang sanga cantik, boneka itu cukup besar, bahkan tingginya hampir sama dengan anak itu, dia memang meminta boneka yang besar, karena belum punya, beberapa temannya sudah punya, dia sangat ingin dan meminta papahnya menjadikan boneka itu sebagai hadiah ulang tahun.


Papahnya mengabulkan, boneka itu diberikan tepat hari ini, saat anaknya ulang tahun.


“Dek, makan dulu yuk.” Ibunya mengajak anaknya untuk makan malam.


“Ya, Mah.” Anaknya lalu meninggalkan boneka itu di kamar dan mengikuti ibunya untuk makan di meja makan. Ayahnya sudah di sana dan sedang makan.


“Gimana Nak? Suka bonekanya?”


“Iya, suka banget, gede kayak punya temen aku, makasih Papah.”


“Iya Nak, maafin Papah tadi nggak bisa dateng ke acara ulang tahunmu ya Nak.”


“Iya Pah, nggak apa-apa.”

__ADS_1


Lalu keluarga itu makan bersama dengan tenang, setelah makan mereka tidur.


Anaknya tidur di kamar berbeda dengan boneka barunya. Sementara suami istri itu tidur di kamar utama.


Suaminya tertidur dengan lelap, sangat lelap, sedang istrinya sangat tidak tenang, dia memastikan bahwa suaminya benar-benar tidur, dia mengguncang-guncang suaminya, tapi aneh, suaminya tidak bangun dan benar-benar lelap seolah dibius.


Setelah memastikan itu, istrinya lalu segera berlari ke ruang tamu, mengambil kunci mobil yang biasa ditaruh di kotak tempat biasa menaruh kunci, setelah mendapatkan kunci mobil, istrinya membuka mobil suaminya dan buru-buru masuk ke bagian kemudi, dia mencari sesuatu.


Tidak ketemu, dia lalu berpindah ke bagian penumpang samping kemudi, dia mencari di bagian laci yang ada di bagian penumpang itu, ketemu! di sini rupanya dia menaruh apa yang istrinya cari.


Setelah mendapatkan benda itu, dia menutup pintu mobilnya dan membuka jendela mobil saja, agar tidak pengap.


Barang yang dia temukan itu, dia nyalakan, sebuah telepon genggam keluaran terbaru, disembunyikan suaminya di laci mobil itu, istrinya memang jarang duduk di bagian penumpang samping kemudi itu, karena dia duduk di belakang kemudi bersama anaknya, hingga bagian bangku itu sering kosong.


Setelah nyala, telepon genggam itu meminta kata kunci untuk membuka. Istrinya mencoba-coba kemungkinan kode dari kata kunci yang mungkin suaminya sematkan di telepon genggam itu.


Beberapa kali dia coba tapi gagal, ulang tahunnya bukan, ulang tahun suaminya bukan, ulang tahun anaknya bukan, tanggal pernikahan bukan. Lalu istrinya dengan sedikit terisak mencoba membuka kunci telepon genggam itu dengan memasukan tanggal ulang tahun seseorang. Terbuka!


Hatinya jatuh dan hancur berantakan seperti gelas kaca. Inikah yang kata orang bahwa dunianya runtuh.


Dia menahan tangisnya, yang harus dilakukan saat ini adalah menemukan bukti.


Dia membuka aplikasi pesan singkat, tak perlu menunggu waktu lama, istrinya menemukan begitu banyak chat mesum di sana. Dia sampai mual membacanya, lelaki yang hangat itu ternyata tidak sebaik yang dia dan anaknya sangka, lelaki itu benar-benar menjijikan.


Lalu dia membuka beberap aplikasi lain yang katanya adalah aplikasi pelacuran yang dikamuflase sebagai aplikasi kencan.


Begitu banyak kode booking yang suaminya save dari aplikasi-aplikasi itu, suaminya telah kecanduan pelacuran.


Bahkan istrinya menemukan satu hal yang sangat menyakitkan hati, suaminya tidak meeting dengan client saat anaknya ulang tahun, tapi dia telah kencan intim dengan seorang pelacur kelas atas.


Habis sudah kesabarannya untuk bertahan, kali ini, semua bukti ini, harus dia simpan rapat-rapat, semua wanita yang dicicipi sekali-sekali itu juga harus mendapatkan ganjarannya.


Namanya Melia, dia adalah seorang ibu rumah tangga, itu yang suaminya ketahui. Sama seperti yang suaminya lakukan, menyembunyikan jati dirinya, Melia juga menyembunyikan jati dirinya yang asli. Dia adalah kuncen cenayang, sebelum mendapatkan suaminya, dia adalah perantara bagi orang yang butuh jasa cenayang, dia tidak memiliki ilmu tapi dia memiliki rekan yang orang anggap dukun, tapi komunitasnya menyebut mereka para Psikik atau Cenayang.


Melia dulu adalah kuncen bagi para komunitas kelas atas bertemu dengan para Psikik itu, Melia terbiasa mengurusi mereka semua mendapatkan apa yang diinginkan.


Tapi sejak menikah dia telah mengundurkan diri dari dunia seperti itu, dia ingin agar hidupnya lebih lurus, karena suaminya Saiful adalah orang yang sangat baik dimatanya kala itu, hingga seorang temannya yang Psikik tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan bahwa melihat penglihatan tentang suaminya.


Suaminya tidak selurus yang dia pikirkan, suaminya bahkan kecanduan seksual sejak sebelum menikah. Pernikahan adalah cara dirinya stabil dan terlihat normal di mata semua teman bisnisnya.


Melia awalnya tidak mau percaya, tapi temannya itu adalah Psikik handal, penglihatannya jarang meleset, makanya hari ini Melia mencoba mencari tahu apa yang disembunyikan suaminya berdasarkan informasi teman Melia itu, benar saja, suaminya punya telepon genggam lain yang disembunyikan, disanalah semua kebusukannya disimpan.


Melia masih di mobil suaminya, dia menelpon teman Psikiknya itu.


[Aku menemukan bukti, persis seperti apa yang kau katakan, aku harus apa?] Ucap Melia pada temannya melalui telepon genggamnya.


[Bukan aku yang memutuskan, kau katakan padaku apa yang akan kau lakukan, lalu aku yang akan membacanya, memastikan semua yang kau butuhkan itu bisa membuat apa yang kau inginkan tercapai.] Temannya menjawab.


[Aku mencintainya, aku ingin dia tetap bersamaku.]


[Ya kau pura-pura saja tak tahu, beres. Dia pada kehidupan gelapnya dan kau pada kehidupanmu yang kau pikir sempurna itu.] Temannya menyindir.


[Tapi aku jijik dengan semua prilakunya di luar.]


[Jadi aku maunya apa?]


[Aku ingin dia tetap di sisiku, tapi menjadi seperti yang aku inginkan.] Melia memberitahu dengan spesifik apa yang dia inginkan.


[Kalau begitu jadikan dia boneka, seperti dulu kita menjadikan para pejabat sebagai boneka istrinya.] Temannya memberikan solusi.


[Kita harus mendatangi dukun kalau begitu, karena kalian tidak bisa melakukannya bukan?]

__ADS_1


[Ya Mel, kami tidak bisa melakukannya, tapi kau tahu kan, orang yang bisa?]


[Tapi ini terlalu beresiko, aku harus memelihara jin di dalam rumahku.] Melia ragu lagi.


[Kau bisa kunci jin itu di dalam boneka yang tersegel, pastikan boneka itu cukup dekat dengan suamimu, aman, kau pasti mampu. Daripada hidup sendiri dan miskin lagi atau hidup terbodohi, mana yang kau mau?] Temannya itu memang sangat menyayangi Melia, makanya dia tetap memantau Melia dari jauh, sejak dia mendapatkan penglihatan, dia menunda memberitahu sekitar beberapa bulan, memastikan penglihatan itu memang benar, bukan sebuah intuisi yang tercampur karena khawatir saja.


[Oh suamiku baru membelikan boneka untuk anakku, bonekanya cukup besar, kita bisa segel jin itu di sana.]


[Anakmu harus dijauhkan dari boneka itu.]


[Aku akan cari cara, anakku itu sering bosan pada mainannya, kelak dia akan bosan juga dengan boneka itu hingga akhirnya aku akan menjauhkan boneka itu darinya.]


[Baiklah kalau kau pikir itu aman, besok jemput aku di rumah saat anakmu sekolah, kita ketempat itu untuk memahar jinnya, ingat, kau harus kuat, kau pasti mampu.] Temannya itu mengingatkan lagi.


[Aku pasti mampu, tapi selain suamiku, aku ingin memberi pelajaran juga kepada para wanita itu, para pelacur brengsek itu.]


[Ya, kita akan usahakan.] Temannya lalu menutup teleponnya, sementara Melia mengembalikan telepon genggam yang disembunyikan suaminya ke tempat semula, memastikan tak ada yang bergerser, sehingga suaminya tidak sadar apa yang dia lakukan sudah diketahui istrinya.


Saat kembali ke tempat tidur, dia melihat suaminya pulas sekali, lelah pasti. Selama ini dalam bayangan Melia, suaminya adalah pekerja keras, dia mengusahakan agar perusahaan keluarga dapat terus maju. Melia selalu mengecup kening suaminya saat dia tertidur, mendoakan agar dia sehat selalu dan banyak rejeki.


Tapi ternyata lelahnya selalu disertai dengan keringat para wanita itu, menjijikan sekali.


“Tidak akan lama lagi, kau akan menjadi seperti yang aku inginkan.” Melia lalu tertidur di sisi suaminya yang telah dia berikan obat tidur dosis tinggi, sehingga dia tidur pulas sekali tanpa sadar Melia telah menyelidiki semuanya.


Pagi tiba, Melia seperti biasa menyiapkan semua keperluan kerja suaminya, baju, celana, sepatu kerja serta tas kerja, Melia selalu percaya sebelumnya karena dari semua barang yang suaminya pegang, tidak ada yang mencurigakan, dia tidak mengunci telepon genggamnya, dia berbagi sosial media dengan Melia, seolah selalu terbuka, tentu saja, itu adalah telepon genggam bersihnya. Sedang telepon genggam gelapnya jauh lebih mengerikan dari suami peselingkuh.


“Mah, nanti aku pulang telat ya, ada meeting dengan supplier baru, kalau aku kemalaman, jangan tunggu, tidur saja ya.” Suaminya bicara saat mereka sedang sarapan.


“Iya Papah.” Istrinya tersenyum seolah tidak tahu, wanita mana lagi yang telah dia pesan.


Setelah suaminya berangkat kerja, Melia mengantar anaknya ke sekolah taman kanak-kanak. Dia juga telah memesan petugas penitipan anak yang dekat dengan sekolah teman kanak-kanak anaknya, jadi nanti anaknya dijemput di sekolah sementara Melia mungkin belum kembali.


Melia lalu melanjutkan perjalanannya menjemput teman Psikiknya itu.


Begitu sampai rumah temannya, teman itu langsung masuk ke mobil, mereka langsung jalan ke arah tempat dukun yang mereka hendak temui.


“Kau kenapa tiba-tiba mendapatkan penglihatan itu?” Melia bertanya saat mereka masih di jalan.


“Aku tetap mengawasimu dari jauh, dari awal bertemu dengannya saat aku dan dia berkenalan dulu ketika kau bawa dia padaku pertama kali, aku merasa ada yang salah, tapi aku belum bisa menemukannya, karena ketika itu penglihatanku belum sepenuhnya sempurna.


Tapi beberapa bulan lalu saat aku menyentuh fotomu, penglihatan itu samar, lalu perlahan jelas. Makanya aku menunda memberitahumu hingga aku yakin.” Temannya menjelaskan.


“Maafkan aku merepotkanmu.” Melia terlihat sangat menyesal.


“Aku takkan pernah meninggalkanmu Mel, ingat kan, dulu bagaimana kau tak pernah meninggalkanku ketika penglihatan pertamaku muncul dan semua orang bilang aku orang gila, kau teman SMAku satu-satunya yang percaya padaku dan tetap sabar menemaniku. Mana mungkin aku meninggalkanmu.”


Kalau diingat-ingat, memang pertama kali Melia berprofesi sebagai Kuncen Cenayang adalah ketika dia selalu percaya pada temannya ini hingga akhirnya Melia membentuk kelompok Cenayang atau Psikik dari jumlah kecil hingga menjadi lembaga profesional. Walau sekarang telah ia tinggalkan dan temannya ini yang mengurus.


“Kita sudah sampai, ini tempatnya, kita cuma perlu menembus hutan.” Temannya Melia turun, Melia juga. Sudah lama sekali dia tidak ke hutan ini.


Orang tidak ada yang tahu bahwa hutan ini menyembunyikan suatu rumah gubuk yang diisi oleh dukun masyur, hanya orang tertentu yang diperbolehkan dukun itu untuk masuk ke rumahnya, karena dia sangat sakti, ketika orang meminta, tak ada satupun yang gagal. Tapi pertukarannya selalu berat, tidak heran, selalu berhasil.


______________________________


Catatan Penulis :


Maaf aku baru update, aku habis vaksin booster, jadi perlu sedikit bangun mood karena tangan lumayan nyeri, semoga tetap mau baca ya.


Semua pasti ngerasa Dokter Adi kurang keren di sini, yap, aku sengaja mau kasih tahu kalian sisi laki-laki yang mungkin jarang aku tunjukan, sisi mereka yang menggemaskan.


Dokter Adi jarang sekali aku singgung di Karuhun seperti aku singgung kakaknya Malik Pak Hanif, makanya aku suka memasukan dia di novel ini, Dokter Adi itu karakternya sangat aku kenal, di dunia nyata Dokter Adi itu ada, kenalanku, tapi bukan Kharisma Jagat, makanya karakternya kurang lebih seperti itu.

__ADS_1


Jangan lupa Vote, kometar dan kasih aku semangat ya.


__ADS_2