Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 66 : Ruang Ujian 6


__ADS_3

“Nita!” Aditia tidak menyangka ratu itu adalah Nita, dia sedang mencekik Ganding, menyiksanya dengan menyerap sukma Ganding.


Melihat Aditia, Nita melepaskan Ganding, dia mendekati Aditia, memang Nita, tapi ada yang berbeda, matanya putih semua, tubuhnya penuh dengan urat yang menyembul keluar.


“Aditia, Kasep yang terkenal bisa masuk ke sini, kau makanan lezat.” Sungguh Nita menjadi begitu berbeda, dia terlihat seperti orang yang kelaparan.


“Kau bebohong padaku? kemarin kau seperti ketakutan, tapi sekarang.” Aditia meminta penjelasan.


“Kalau aku memperlihatkan wujud asliku, apakah kau akan percaya dan menggandeng tanganku? Manusia mudah sekali tertipu, karena kalian mudah kasihan. Terlihat lemah membuatmu bahkan menolak wanita yang ingin menyelamatkanmu itu, siapa namanya? Si anak haram Saba Alkamah?” Nita tertawa seperti kuntilanak menertawai kebodohan Aditia.


Aditia lalu didekati, dia mencekik Aditia, menarik energi dari sukmanya yang terlihat sudah sangat lemah.


Wanita berwajah buruk rupa itu mencoba menolong dengan memegang tangan ratu yang mencekik Aditia, tapi dengan mudah dia menghepas ruh dari wanita itu dan dia terjatuh, Ganding masih belum pulih, walau dia berusaha untuk bangun.


Saat sedang fokus menghisap energi Aditia, tiba-tiba Ganding menarik wanita itu dengan tangannya, dia yang tadinya lemah langsung bisa membuat ratu melepaskan tangannya dari cekikan Aditia.


Ratu kaget karena ruh Ganding bisa melawannya, ini dunia yang dia ciptakan, tidak ada yang bisa melawannya di dunia ini.


Dia mengejar Ganding yang berlari, tapi tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh sesuatu, seperti sebuah tali.


“Kau fikir mudah menghabisi kami?” Alka ternyata sudah melempar cambuknya ke arah ratu, cambuk itu mengikat tubuh ratu sehingga berhenti mengejar Ganding.


“Kau yang seharusnya befikir, kau datang ke tempat yang salah.” Ratu melepas cambuk dari tubuhnya dan menyuruh semua budaknya untuk menyerang empat sekawan itu, Hartino tidak ikut, karena bertugas memanggil Pak Dirga dan ambulans.


Aditia dan Ganding berlari ke arah Alka dan Jarni, mereka saling membelakangi agar bisa saling melindungi.


“Makasi ya kalian udah datang.” Aditia berkata.


“Kan emang cuma elu yang suka ninggalin kita Dit.” Ganding menyindir.


“Maafin gue ya.” Aditia minta maaf.


“Bisa fokus nggak, kita lagi diserang arwah nih!” Alka marah.


Mereka seperti biasa, bertarung tanpa menyakiti, mereka tidak boleh memusnahkan sukmanya, karena sukma itu masih ada tubuh yang selamat atau koma.


Mereka memilih menaruh sukma itu di botol, setelah selesai semua, ratu ternyata sedang asik menikmati sukma ruh lain.


“Oh, sudah selesai, lumayan juga.” Nita lalu bersiap, tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi besar, seluruh tubuhnya berbulu dan kepalanya bertanduk, dia adalah iblis wanita yang cukup menakutkan.


Dia berlari ingin memecah konsentrasi dua empat sekawan itu, tapi Alka dan Jarni berhasil membaut formasi mereka berubah, mereka membuat lingkaran dan mengelilingi ratu, sudah pasti, mereka tidak akan menang, tapi menipunya patut dicoba.


“Mereka membacakan mantra penghilang kekuatan, mantra ini bisa dilakukan untuk iblis yang melanggar aturan seperti yang dilakukan Ratu Nita, Ratu Nita tertawa.


“Tidak akan bisa, kalian tidak memilik khodam Kharisam Jagat empat mata penjuru, kalian hanya sukma-sukma penyelinap.” Ratu Nita berkata dengan percaya diri.


“Siapa bilang, kau tidak melihat dengan jelas?” Ratu Nita melihat mereka, ternyata memang ada cahaya empat khodam Kharisma Jagat, cahaya yang berbeda, dikenali oleh Ratu Nita.


“Kalian … bagaimana bisa masuk ke sini? kalian! Bedebah semua!” Ratu Nita mencoba lari, dia tidak berani melawan karena melawan Kharisma Jagat pemburu iblis jahat tentu tidak akan membuatnya berani.


“Alka menahan kakinya dengan cambuk, lalu Adit menusuknya dengan kerisnya yang dibawa Jarni, Ganding merapal mantra yang membuat Ratu Nita menjadi lemah dan Jarni siap dengan botol tanah liat khusus dengan segel yang dia siapkan.

__ADS_1


Berhasil, Nita masuk ke botol, karena dia takut, kalau sampai mantra penghapus kekuatan itu berhasil, maka dia akan menjadi seonggok sampah saja, jadi dia memilih masuk botol.


Setelah berhasil masuk botol, Alka membuka pintu ruang dan waktu agar mereka bisa keluar, tidak lupa membawa wanita yang berwajah buruk itu.


Sudah keluar, lalu Alka buru-buru membawa ruh Aditia untuk kembali ke tubuh, Aditia bangun, mereka bergegas ke rumah sakit, ibunya sempat marah, tapi Aditia bilang ini urusan hidup mati dan orang, ibunya mengalah.


Setelah sampai rumah sakit, mereka melepas seluruh Sukma di rumah sakit agar kembali ke pemiliknya, baik yang berada di ruang perawatan dan di bangsal mayat.


Mereka semua sudah di rumah sakit.


“Jadi gimana? dia masih ada?” Aditia berharap wanita yang berwajah hancur itu masih hidup.


“Ganding menggeleng. Bangsal mayat, dia korban paling pertama, makanya wajah dan tubuhnya … hancur.” Wanita itu menangis.


“Aku adalah tulang punggung keluarga, seharusnya aku tidak mimpi terlalu tinggi. Tapi, semua sudah terlambat, boleh aku mohon pertolongan lagi? untuk terakhir kalinya?” Wanita itu bertanya pada lima sekawan.


“Katakan.” Alka bertanya.


“Tolong antar tubuhku ke orang tuaku, sampaikan pada mereka aku sudah berusaha, semoga mereka bisa memaafkanku.”


“Akan kami lakukan, kami akan mengantarmu, seperti kami mengantar ruh yang lain.” Alka memutuskan Aditia tersenyum mendengarnya.


“Aditia, ya Allah, kamu udah sehat lagi? kok ke sini? nggak apa? perlu ke Dokter nggak?” Pak Dirga datang dengan wajah khawatir.


“Nggak Pak, Adit sehat kok.”


“Alhamdulillah kalau begitu. Hartino terima kasih ya, sudah memberi informasi tepat waktu, masih ada banyak yang bisa kita selamatkan, sedang yang meninggal adalaha yang sudah sangat lama di bangker itu.” Pak Dirga berterima kasih.


“Tidak apa Pak, ini kan emang tugas kita.” Hartino menjawab dengan diplomatis.


“Nih Kak Alka belum makan dari kemarin karena sibuk bikin rencana, yuk kita makan.” Aditia mendengar itu merasa bersalah, dia merasa telah menyakiti hati Alka dengan semua sikapnya selama ini.


“Nggak usah Pak, saya makan nanti aja, ada kerjaan lagi nih, antar perempuan ini.” Alka menunjuk wanita wajah hancur itu.


“Tapi makan dulu Ka, nanti kamu sakit.” Aditia membujuk.


“Bukan urusan lu.” Alka kasar sekali ngomong ke Aditia, entah kenapa, dia masih marah dengan sikap Aditia kemarin.


Mereka akhirnya naik angkot, Aditia  mengendarai, Ganding di sampingnya, biasanya Alka, Alka bilang ingin istirahat, Jarni membawa sepotong roti, dia memberinya untuk Alka, lalu Alka memakannya, dia memang lapar ternyata.


Aditia melihat itu melalui kaca spionnya, tidak seharusnya dia membuat wanita yang dia cintai sakit sedalam itu, menahan lapar hanya untuk menyelamatkannya, wanita seperti itu, di mana lagi akan dia dapatkan?


Aditia berjanji, tidak akan pernah menyakiti Alka lagi.


Saat sudah sampai di rumah orang tua wantia yang berwajah hancur itu, mereka menampai berita duka, mereka menangis, tapi tapi mereka juga berterima kasih, setelah berbulan-bulan akhirnya mereka menemukan mayat anaknya.


Wanita itu berterima kasih dan akhirnya bisa kembali ke Sang Pencipta dengan sempurna.


Setelah selesai semua, mereka berkumpul di gua Alka, semua orang menuntut penjelasa, kecuali Jarni karena hanya Jarni yang tahu rencana Alka.


“Baik, dimulai dari, bagaimana khodamku bisa kembali ke dekat ruhku di ruang ghaib ratu?” Ganding bertanya.

__ADS_1


“Karena kami tidak melepas khodammu, tapi menyekapnya di tubuh Jarni. Aku menembangkan tembang pelepas khodam, tapi tidak berhasil, tubuhmu hampir saja hangus karena direbus di kendi itu, lalu Jarni menawarkan tubuhnya sebagai tempat penyekapan, khodammu akhirnya setuju, karena dia menentang keras pelepasan khodam, dia memilih lebih baik mati bersama dibanding lepas dari Ganding.


Di tubuh Jarni khodammu disekap, lalu kau pergi ke ruang waktu itu melalui interview sama seperti Aditia.”


“Baik, aku bisa terima itu, tapi bagaimana bisa khodamku menembus ruang itu, karena yang bisa menembus ruang itu cuma Ayi Mahogra, tidak mungkin kan kekuatanku tiba-tiba naik level dalam semalam.?” Ganding bertanya lagi.


“Ya, awalnya kami memintamu masuk menolong Aditia mencari jalan keluar, tapi itu terlalu lama, maka aku dan Jarni mengubah rencana, kami menjadikanmu semacam penanda lokasi dan waktu, sehingga waktunya tepat, ketika garis ghaib dan nyata menyatu, kami bisa berpindah alam asal tahu titik koordinatnya, hal yang tentu Ayi Mahogra tidak perlukan karena dialah titik koordinatnya, tapi kita perlu, maka kaulah yang menjadi GPSnya penunjuk titik koordinat lokasi ruang ghaib itu, karena khodam yang kami sekap, pasti bisa merasakan kehadiranmu dalam radius sejauh apapun.


Cara ini terfikir ketika khodammu meminta membunuh kalian berdua, aku harus mencari jalan keluar yang aman buat siapapun, makanya aku tidak memberitahu kalian dulu, karena terlalu mepet waktunya, jadi aku meminta kalian terus menjalankan semuanya tanpa bertanya.”


“Aku mengerti, akhirnya saat khodam menemukan titik koordinatku langsung masuk ke sukmaku dan kami bisa menyerang ratu nita.” Ganding mengambil kesimpulan.


“Betul.”


“Lalu bagaimana dengan khodam Kharisma Jagat 4 penjuru mata angin?” Yang Kharisma Jagat hanya Aditia, kita semua bukan?” Aditia bertanya, Alka menatap dengan tajam ke Aditia, jelas dia masih marah.


“Kami menipu si penipu.” Jarni yang menjawab, karena Alka ingin istirahat.


“Masa iblis setinggi itu ilmunya bisa ketipu, kalian menggunakan apa?”


“Mustika empat warna, diberikan oleh Bapak dulu, katanya bisa digunakan suatu saat nanti, kita belum pernah menggunakannya dan baru tahu apa gunanya saat ini, berguna untuk mengusir wanita itu.”


“Kalian bisa menentukan jenis makhluk ini dan melumpuhkannya dengan cara yang tepat, bagaimana bisa hanya dalam beberapa hari?” Aditia takjub dan bingung.


“Namanya Gandarwi, dia seperti kuntilanak, tapi tidak menculik janin, dia merampas ruh, pada zamannya dia memang iblis terkutuk yang sangat mengerikan. Kakak tahu karena pada saat bertemu Nita dia bisa merasakan energi jahat, ingin memberitahu Aditia, tapi diusir.” Jarni menatap kesal.


“Maafkan aku.” Aditia meminta maaf lagi.


“Begitu, jadi kita menipunya, tidak ada khodam Kharisma Jagat empat penjuru, hanya ada mustika pemantul cahaya yang dia lihat sebagai energi dari khodam Kharisma Jagat, itu dilakukan agar dia mau masuk botol, si penipu di tipu. Hanya Kakakku yang bisa melakukannya.” Jarni pamer.


“Ganita Darwi, dia memperkenalkan namanya begitu, aku tidak pernah curiga, dia bahkan terlihat lemah dan ketakutan saat kami telat pulang dan melihat ‘mereka’ padahal dialah yang merampah ruh itu dari tubuh, lalu menumpuk kumpulan tubuh itu bangker.” Aditia kesal.


“Ganita Darwi, GANDARWI, bodoh banget lu Dit.” Hartino menghina.


“Wajar, dia lagi marah Har, orang kalau ikutin ***** amarah, ya begitu, jadi buta dan bodoh.” Ganding ikut meledek.


“Yaudah, sekarang pada pulang gih, mau istirahat.” Alka memerintahkan semua orang.


“Jarni mau nginep sini.” Jarni meminta, Alka menolak, dia bilang ingin sendiri.


“Jarni dianter sama Ganding ya, mau?” Ganding membujuk, dia tahu, Alka ingin istirahat. Memang Ganding yang paling bijaksana.


“Mau.” Jarni tanpa malu mengatakannya, Jarni yang dingin berubah menjadi begitu manis, ternyata benar kata Ibu Kartini, habis gelap terbitlah terang, abis kena ajian Wahita, terbitlah takdir cinta Ganding dan Jarni.


Semua keluar dijemput oleh mobil mewah seperti biasa.


Aditia mendekati Alka, duduk di kaki tampat dia tidur.


“Adit minta maaf ya, Adit salah.” Aditia berkata, tapi terdengar dengkuran halus dari tidur Alka, rupanya dia benar-benar lelah, Aditia mengusap kening Alka dan meminta maaf sekali lagi.


_______________________________

__ADS_1


Catatan Penulis :


Jangan lupa Vote dan kirim hadiah ya, terima kasih.


__ADS_2