
“Kedatangan kami ke sini adalah bermaksud menanyakan mengenai, Lani Bu.” Ibu Mertuanya Ranti berkata, dia ikut untuk mengunjungi rumah bayi yang semalam Alka dengar menangis tak henti. Karena memang Ibu Mertuanya Ranti lebih mengenal ibunya Lani, sehingga kehadirannya sangat dibutuhkan.
“Ada apa ya, dengan Lani?”
“Mungkin Nak Aditia dan Alka akan menjelaskan.”
“Ada apa ya?” Ibunya Lani, sang ruh yang dicurigai.
“Perkenalkan saya Alka, saya dan Adit berniat membantu Ibu Ranti yang saat ini sakit.” Alka membuka percakapan, Alka yang bicara karena sepertinya sesama wanita akan lebih cepat pendekatannya.
“Ranti sakit apa, Bu?” Ibunya Lani bertanya pada ibu mertua Ranti.
“Ibu Ranti, kemungkinan kerasukan.” Alka yang menjawab.
“Apa?! Kok … apa maksudnya Lani yang ….”
“Makanya kami mohon bantuannya, karena ruh yang merasuki Ibu Ranti ini harus keluar secera suka rela, makanya kami harus tahu, apa yang menyebabkan ruh ini penasaran.”
“Tapi kenapa kalian menyangka kalau Lani lah, ruh itu?”
“Sebelum Ibu Ranti kerasukan, dia bilang melihat seorang perempuan yang selalu menunggu anaknya, perempuan itu selalu menghadap ke arah dalam gang, setelah kami periksa, tempat dia menunggu itu, dekat sekali dengan rumah ini dan apakah setiap malam, bayi Ibu Lani selalu menangis cukup lama?”
“Kalau itu memang iya, cucu saya, anaknya Lani selalu rewel setiap malam, mungkin rindu ibunya, tapi apakah hanya itu yang membuat kalian curiga?”
“Apa lagi yang bisa membuat seorang ibu tidak tenang, selain tangis anaknya?” Alka bertanya, “bahkan ruhnya kembali lagi ketika tangis itu sulit berhenti, bukankah begitu seorang ibu, selalu melakukan apapun untuk anaknya.”
Ibunya Lani mulai menangis.
“Bantu menantu saya Bu, dia masih punya anak yang seumuran dengan anaknya Lani, kasihan, saat ini Giska tidak bisa menyusui karena ibunya selalu ingin mencelakai anaknya sendiri.” Ibu Mertua Ranti berkata.
“Lalu kenapa anak saya ingin melakukan hal buruk itu?! anak saya bukan orang jahat dulu.”
“Lani mungkin memang bukan orang jahat, tapi seorang ibu yang kehilangan anaknya dan tidak bisa pergi dengan tenang karena tangisan setiap malam itu, bisa membuat ruh baik menjadi iblis karena rasa sakit tidak mampu menggendong dan memeluk anaknya lagi, sehinggal dia bisa saja ingin mencelakai Ranti karena ingin orang lain merasakan apa yang dia rasakan.”
“Jadi, maksudmu Lani ingin membawa Ranti ikut bersamanya dan merasakan apa yang dia rasakan?”
“Itu kemungkinan terbesarnya.”
“Anak saya bukan orang seperti itu.”
“Kami tahu, makanya bantu kami mengantarkan Lani ‘pulang’ dengan tenang Bu.” Alka membujuk.
“Apa yang harus saya lakukan?”
“Pertama, ceritakan apa yang terjadi dengan Lani?”
“Lani sakit, dia bukan anak yang manja sebenarnya, hampir tidak pernah ke rumah sakit sama sekali, kalau sakit hanya minum obat warung, lalu sembuh.”
“Lalu Lani sakit apa?”
“Rupanya selama ini dia hanya menahan sakitnya, dia memiliki sakit maag yang akut, dia sangat kurus bahkan saat hamil dan melahirkan, kami fikir itu karena memang bawaan tubuhnya, karena kami ibu dan ayahnya memang bertubuh kurus juga, tapi kami salah. Lani sakit parah, kami tahu saat sudah terlambat, waktu itu awalnya dia sering pingsan, lalu minum obat warung, sembuh, sebulan kemudian begitu lagi, sampai waktu dia pingsan semakin dekat. Tadinya sebulan sekali, menjadi dua minggu sekali, lalu saat sudah seminggu sekali, aku dan menantuku memintanya berobat ke rumah sakit, setelah dicek, ternyata sudah kanker lambung stadium akhir.
Lani menghabiskan waktunya di rumah sakit, satu bulan dia dirawat, tapi Tuhan berkehendak lain, dia tiada saat kami sedang mengusahakan kemoterapi, walau biayanya besar dan tidak semua ditanggung asuransi pemerintah, kami melakukan segalanya, untuk pengobatan Lani, tapi Tuhan sudah berkehendak lain, Lani meninggal beberapa bulan lalu.”
“Sakitnya alami? Tidak ada indikasi kekerasan atau kesalahan medis?” Alka bertanya lagi.
"Tidak ada, semua memang sudah takdir, entah kenapa, dalam hati saya merasa bahwa Lani sakit parah, tapi saya selalu mencoba menepis rasa curiga itu, tapi ternyata benar, insting seorang ibu tidak pernah salah." Ibunya Lani kembali menjelaskan.
__ADS_1
"Kekerasan dalam rumah tangga, maaf." Alka masih terus memastikan.
"Tidak! Menantu saya orang yang sangat baik, bahkan ketika anaknya menangis dia sabar sekali. Dia pun sangat terpukul dengan kepergian istrinya. Tidak mungkin dia kasar ke istrinya."
"Kalau memang begitu, aku rasa sudah jelas Dit, hari apa Lani lahir?" Alka bertanya lagi.
"Hari kamis."
"Besok berarti. Ibu kami boleh minta tolong? Besok ibu membantu kami mengantarkan ruh Lani, ajak anak dan suaminya, saya yakin, Lani hanya butuh kehadiran kalian." Alka membujuk.
"Saya tidak percaya, tapi karena kami sudah bertetangga begitu lama, saya akan bantu, yang penting cuci saya tidak akan celaka." Syaratnya dia iyakan oleh Alka.
Lalu mereka berpamitan dan kembali ke rumah. Saat sudah sampai, Hartino terlihat berlari keluar, aditia menghampirinya.
"Kenapa Har?"
"Ibu Ranti mengamuk, dia terus mencoba naik, kami kesulitan menghalaunya, dia terlalu kuat."
Aditia melihat beberapa luka cakaran di wajah Hartino.
"Bagaimana dengan dengan Ganding dan Jarni?" Alka berlari setelah mengatakannya.
Jarni terlihat tergeletal di lantai, sementara Ganding masih terus berada di anak tangga paling bawah, Ranti berada di hadapan Ganding, dia tertawa melengking, Giska anak Ranti di atas bersama suaminya, Ganding meminta Imran tetap di kamar dan jangan membuka pintu apapun yang terjadi.
"Aku hanya ingin melihat Giska, aku hanya ... hi hi hi." Ranti yang kerasukan tertawa dengan parau.
"Bukannya Ibu Ranti seharusnya ditidurkan?" Alka marah sembari membangunkan Jarni, Jarni siuman.
"Kak, dia bisa bangun padahal dosis obat biusnya sudah sesuai, bantu kak iket dulu kakinya." Ganding terlihat putus asa.
Alka segera mengelurkan cambuk, namun Ranti dengam cerdik berlari ke arah dapur Alka mengejarnya dengan menyabet-nyabet cambuk.
Semua orang berterik, Ranti mengacung-acungkan pisau daging ke arah Alka, mama mertua Ranti pingsan.
Ranti sudah tidak terlihat seperti dirinya, wajah yang sepenuhnya gosong karena luka lepuhan, rambut berantakan dan sikap yang arogan, sungguh Ranti telah menjadi orang lain, seorang ibu yang frustasi karena tidak mampu memeluk anaknya lagi.
"Ibu Ranti, Giska sakit, dia bilang mau minum ASI, Ibu Ranti bangun, jangan tidur terus!" Alka berteriak sembari menyabet va buknya, seketika Ranti jatih, pisaunya langsung di tendang Alka ke arah yang jauh agar tidak bisa digapai lagi oleh Ranti.
Seperti Lani yang menjadi ruh gusar karena mendengar tangia anaknya, maka Alka memancing Ranti untuk melawan dari dalam.
Ranti pingsan digotong Alka sendirian, tidak ada yang bantu karena semua kawannya tahu, tubuh manusia tidak seberat itu bagi Alka.
Aditia ikut masuk ke kamar Ranti, Alka membaringkan Ranti dan melihat tali tambang pengikat tubuh Ranti telah putus, sangat kuat sekali rih Lani ini.
Alka mengambil tali tambang sisa lalu mengikatnya kembali ke tangan dan kaki Ranti, lalu membaca doa agar tali tambang itu lebih kuat.
"Ka, menurutmu, apakah besok Lani bisa dibujuk?" Aditia bertanya.
"Tidak tahu, mungkin bisa, mungkin juga tidak." Alka terlihat tenang walau Aditia tahu, Alka sedang menyembunyikan kekhawatirannya.
"Apa kita tidak bisa mengunci ruh itu saja di tubuh Ibu Ranti?" Aditia mengusulkan.
"Tidak bisa." Alka menjawab singkat.
"Ya, kenapa?"
"Ibu Ranti punya khodam, pelindungnya, tapi sayang sudah sangat lama tidak dirawat, kalau Lani di tubuh itu juga, Ibu Ranti tidak akan bisa bertahan, terlalu berat. Apalagi Lani bukan ruh yang bisa dikendalikan."
__ADS_1
"Jadi, satu-satunya cara hanya membujuknya keluar?"
"Ya, hanya itu yang mampu aku lakukan, Dit."
"Kasihan Lani."
"Itulah takdir Dit, ketika ajal menjemput maka tidak bisa ditunda atau undir, sudah ada YANG MENGATUR."
Ranti sudah tidur sekarang, Alka dan Aditia keluar kamar, semua keluarga Ranti berkumpul termasuk Giska anaknya Ranti.
"Apakah Ranti akan baik-baik saja?" Imran suaminya bertanya.
"Bisa, kalau besok ibunya Lani, suami dan anaknya Lani bersedia datang." Alka menjawab.
Semua orang lalau melanjutkan diskusi, Alka terlihat sedih karena masalah ini melelahkan sekali, apalagi harus memisahkan anak dan ibunya.
"Aku kasihan melihat Ranti dan Giska, anaknya pasti rindu ibunya." Imran berkata lagi.
"Kita tunggu sampai besok ya, siapa tahu rencananya berhasil.
Semua orang malam ini kelelahan, Alka, Jarni dan Aditia tidur duluan, Hartino dan Ganding berjaga malam ini.
Malam semalin larut, Gandinh dan Hartino sudah meminum beberapa gelas kopi, tapi rasa kantuk tidak hilang.
"Nding kok ngantuk banget ya?" Hartino berkata.
"Tidur aja gih, gue yang jaga, nanti kalau kalau udah giliran ganti, gue bangunin Aditia.
"Yaudah, gue tidur dulu." Hartino tidur Ganding berjaga sendirian.
Saat waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, Imran turun dari lantai atas.
"Pak, ada apa?" Ganding bertanya.
"Mau lihat istri saya." Imran lalu hendak masuk ke dalam kamar.
"Pak, sebentar." Ganding menahan Imran secara tiba-tiba.
Imran berhenti, langkahnya benar-benar terhenti.
"Jangan lihat Ibu Ranti sekarang ya Pak, besok saja."
Imran tetap mencoba membuka pintu dengan paksa, untung Ganding sudah mengunci pintu itu ya tadi.
"Buka pintunya." Imran meminta.
"Besok saja Pak." Ganding berkata dengan tenang dan duduk menghadap Imran.
Imran mendekati Ganding, dia lalu meraih leher Ganding dan menariknya ke atas, Ganding sigap memutar tangan yang ingin mencekik lehernya dan membalikkan keadaan, sehingga Imran sekarang terputar posisinya membelakangi Ganding, sementara tangannya tertahan di punggung karena Ganding.
"Lepaskan aku brengsek!" Imran berteriak, Gandinh heran, kenapa semua prang tetap tidur, padahal Imran sudah berteriak dengan histeris.
"Kenapa kau ingin ke kamar istrimu?!" Ganding masih menahan tangan Imran di punggung Imran.
"Lepaskan aku!" Imran masih terus berteriak.
"Aku akan memukil kepalamu Pak jika kau masih berteriak begini dan tidak mau menjelaskan."
__ADS_1
"Ranti bilang sakit, dia kesakitan, kau tidak mendengarnya? Kalian semua berniat menyakitinya kan? Sebenarnya kalian yang ingin mencelakai Ranti bukan? Kalian ingin menumbalkannya untuk kekayaan! Aku takkan biarkan kalian menyentuh istriku lagi!"