Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 255 : Pabrik Seragam 4


__ADS_3

“Ada berita apa Ka?” Alka terlihat sedang menonton televisi dengan serius, apa yang Alka hampir tidak pernah lakukan sebelumnya.


“Ada pabrik yang karyawannya mati mendadak, pabriknya dekat sini.” Alka menjawab masih dengan menatap pada layar televisi.


“Oh, terus apa yang sebegitu menariknya sampai kau menatap televisi seserius itu?”


“Hmm, aku melihat penuh sekali di sana, penuh sekali yang terjebak, kita ke sana ya.” Alka lalu bangkit dan bergegas menyiapkan segalanya.


“Ka, kau lupa kalau aku sedang istirahat, aku sedang cuti, kau bilang mau menemaniku melewatinya, tapi kenapa sekarang malah kau memintaku untuk mengerjakan kasus?” Aditia protes.


Saat Alka akan menjawab, tiba-tiba beberapa orang masuk dari luar.


“Dit, enak nih gorengannya, ibu-ibu di depan sana tuh yang jual.” Hartini memberikan plastik berisi gorengan pada Aditia.


“Loh, kok kalian di sini?” Aditia bingung, semua orang ada di sini, lima sekawan dan Lais.


“Kakak yang hubungi, katanya dia perlu kita semua di sini.”


“Kapan kalian ke sini?”


“Tiga atau empat jam yang lalu lah, ini mampir beli gorengan di depan.” Hartino menjawab seperti seolah tidak ada yang salah.


“Ka!” Aditia kesal karena tidak ada yang mengerti perasaannya.


“Kau katanya mau bertarung supaya kelelahan dan lupa masalahmu, setan di sini terlalu lemah, kita cari masalah di pabrik itu saja, gimana? Ini aku lakukan untuk kamu loh.” Alka menatap dengan binar yang selalu membuat Aditia tidak mampu menolak.


Lalu mereka berenam mulai mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pertarungan nanti malam.


Termasuk informasi yang dibutuhkan, Hartino dan Lais jagoannya.


Setelah beberapa jam mengumpulkan informasi, Lais dan Hartino mulai melaporkan apa yang mereka temukan.


“Jadi apa yang kalian dapat?” Tanya Alka pada Hartino yang sudah mengumpulkan semuanya di meja makan dekat dapur.


“Banyak, tapi di sini sepi sekali ya, tidak ada penunggu, katanya di sini angker?” Hartino bertanya sebelum menjelaskan.


“Ramai, tadinya, tapi ketakutan semua karena Aditia brutal menghajar mereka, mala dijadikan bulan-bulanan Kharisma Jagat, makanya mereka cabut semua.” Alka menjelaskan.


“Kau keterlaluan Dit, kasihan itu setan-setan di sini.”


“Salah mereka menakuti wanita hamil, anak kecil dan lansia sampai ada yang kena serangan jantung, kuberi pelajaran saja.” Aditia membela diri.


“Boleh langsung aja nggak ke inti informasi?” Ganding kesal karena Hartino tidak fokus, malah ngobrol.

__ADS_1


“Ok, sorry tuan jenius. Jadi gini, itu adalah pabrik yang dibangun di tanah yang cukup luas, belasan hektar, dijadikan pabrik seragam dengan sistem produksi yang sangat rapih, pemiliknya bukan orang sini, pemiliknya orang Korea, jarang datang ke sini, mereka hanya datang beberapa bulan sekali jika ada rapat berkala untuk laporan keuangan.


Awalnya kami kira tidak ada yang aneh dengan pabrik ini, pelepasan lahan pun dilakukan dengan benar dan tepat, pembangunan juga sama, semua dilakukan dengan baik, tanpa tumbal, sampai satu hal yang kita temukan, sesuatu yang janggal.”


“Apa itu?” Aditia terlihat sangat penasaran.


“Katamu ingin santai?” Alka mengejek.


“Sudah terlanjur, ayo lanjurkan Har.”


“Pabrik itu sebenarnya hampir tutup karena barang tidak laku, sudah dua tahun mereka selalu merugi, aku mengintip laporan keuangannya, ya kalian tahu, aku meretas sistem laporan keuangannya, tapi setelah dua tahun itu, tiba-tiba barang mereka laku keras dan pabrik beroperasi kembali.”


“Apa yang janggal? Dua tahun waktu yang cukup untuk membuat produk mereka dikenal dan akhirnya laku.” Aditia memang kurang berpengalaman dalam hal bisnis, tidak seperti Hartino.


“Dit, perusahaan yang hampir bangkrut setelah dua tahun berusaha untuk tidak tutup, tidak mungkin bisa bangkit dalam hitungan bulan. Apa yang kau bilang benar bahwa dua tahun cukup untuk branding, tapi, mereka tidak dalam proses branding, terjadi banyak korupsi pada hampir seluruh divisi, jadi bisa dibilang, kalau mereka bangkit adalah sebuah keajaiban.”


“Ok, katakan itu memang janggal, lalu apa asumsimu?” Aditia meminta Hartino langsung pada intinya.


“Keajaiban itu datangnya cuma dari dua sumber, pertama dari Tuhan dan kedua dari setan. Mungkin ada campur tangan setan di sana.”


“Caranya?”


“Dit, kau pikir kalau tahu semudah itu kita diperlukan? Ngapain ada kita yang repot selidiki kalau bisa tahu dari mesin pencari online ini?” Hartino kesal karena Aditia menuntutnya berlebihan.


“Oh ok, nggak usah pakai marah lah Har, aku kan cuma tanya.”


“Ok, jadi kesimpulannya, kita harus cari tahu apa yang membuat perusahaan itu bangkit lagi? Dan kenapa di sana banyak sekali makhluk yang terjebak? Itu kan yang harus kami cari?” Ganding bertanya.


“Tapi Kak, ini kan nggak ada di daftar kasus bapak, apakah benar kita harus mencari jawaban dari kasus ini?” Jarni tiba-tiba bertanya.


“Instingku mengatakan bahwa, tidak ada yang namanya kebetulan, Aditia ingin ke sini dan tiba-tiba ada kasus di sini, pasti ada yang butuh pertolongan, makanya kita ditakdirkan ke sini.”


“Yaudah ayo, kita siap-siap jalan ke sana, sebelum sore, karena kita perlu untuk tanya-tanya ke warga sekitar tentang apa yang terjadi di sana baru-baru ini, termasuk soal buruh yang meninggal secara mendadak.” Aditia bergegas, semua orang saling melihat, karena sebelumnya jelas dia protes karena waktu cutinya dinodai.



Begitu sampai ke pabrik, Ganding, Jarni, Hartino dan Lais mereka berpencar dengan satu kelompok terdiri dari dua orang, sementara Alka dan Aditia akan ke pabrik bertemu dengan orang kantor, mereka sudah buat janji yang diatur oleh Hartino sebelumnya, hanya untuk mencari informasi dulu.


“Jadi Bapak sama Ibu adalah client yang hendak membeli seragam kami dalam jumlah besar?” Seorang Marketing sudah menemui Alka dan Aditia, Hartino sudah mengirim proposal pagi ini tentang perusahaan mereka yang butuh seragam dalam jumlah besar, tentu saja Marketing buru-buru menanggapi email yang Hartino buat dan menyambut kedatangan Aditia dan Alka dengan tangan terbuka.


“Pabrik ini luas sekali ya.” Aditia membuka obrolan di ruang meeting itu, orang Marketing yang menemui mereka ada dua orang.


“Iya betul, jadi berapa banyak yang bisa kalian produksi dalam satu tahun?” Aditia kembali bertanya.

__ADS_1


Lalu Marketingnya menyodorkan laporan tahunan mereka, menjelaskan secara teknis jumlah yang bisa mereka produksi, bahan-bahan yang mereka gunakan, model yang tidak ketinggalan jaman dan tentu saja harga yang masuk akal.


Tidak ada yang aneh, tidak ada yang istimewa, tapi penjualan mereka kenapa bisa fantastis ya? Maksudnya semua pabrik memiliki spesifikasi seperti yang mereka miliki, tapi kenapa mereka bisa memiliki penjualan yang sangat signifikan setiap tahunnya dibanding  pabrik lain? Alka terus saja mencoba untuk menganalisa.


“Jadi apakah ada metode lain dalam memproduksi baju seragam ini? Karena jujur, bahan dan juga teknik jahitnya sama seperti pabrik lain.” Alka mencoba memancing ego Marketing pabrik ini.


“Loh memang tidak terlihat Bu? Jahitan kami lebih rapih, lebih halus dan bahan juga lebih berkualitas.” Marketing itu mencoba untuk membela produknya.


“Jujur seragam sebelumnya kami ambil dari pabrik saingan anda, mereka kurang lebih punya spesifikasi yang sama dengan yang pabrik anda tawarkan, dengan harga yang lebih murah, lalu kalau saya ambil dari ini, saya dapat keuntungan apa?” Alka terus menyudutkannya.


“Bu, lihat baik-baik, seragam kami memiliki perbedaan dalam hal kualitas, baiklah kalau begitu, bagaimana dengan pembagian kompensasi saja?”


“Kompensasi?” Aditia mulai tahu ke arah mana.


“Ya, jika Ibu dan Bapak mau mengambil barang dari kami, saya akan berikan kompensasi, sepuluh persen dari harga barang yang diambil, bagaimana? Itu tawaran tertinggi, biasanya kami hanya menawarkan sekitar lima persen pada bagian purchasing, bagaimana?”Oh trik ini yang digunakan. Alka mulai paham.


“Untuk informasi saja, apakah anda tidak melihat kartu nama saya dan Pak Aditia?” Alka menunjuk kartu nama itu agar dua Marketing ini melihatnya.


Begitu melihat kartu namanya, dua Marketing ini langsung kaget dan mulai keringat dingin.


Bagaimana tidak, mereka menawarkan kecurangan pada dua orang pemilik perusahaan, bukankah itu seperti menelanjangi diri sendiri.


Karena jelas di kartu nama itu tertulis jabatan Alka dan Aditia adalah Direktur. Artinya mereka menawarkan dua orang pemilik perusahaan ini untuk menipu perusahaannya, mana ada pemilik perusahaan mau menipu perusahaannya sendiri, mereka justru harusnya menangkap penipu itu.


“Baiklah, mungkin memang kita belum berjodoh, selamat siang.” Dua orang Marketing itu buru-buru kabur, sementara Alka dan Aditia keluar dari ruang meeting sendiri, mereka melihat banyak makhluk yang menatap mereka dengan tajam, sombong sekali, tidak bisa ditindak sekarang karena masih banyak orang, harus nanti malam.


Setelah keluar pabrik, mereka bertemu dengan yang lainnya di dalam angkot.


“Gimana Ka? Ada yang aneh sama pabrik dan sistem kerjanya?” Ganding bertanya.


“Biasalah, mereka mau nyogok aku dan Aditia. Tapi mereka akhirnya kabur setelah tahu kita ini pemilik perusahaan.” Alka tertawa.


“Lah, emang mereka nggak liat kartu nama yang kalian berikan?”


“Ya itu kebiasaan orang sombong, mereka hanya mengambil kartu nama kami dan langsung meletakkannya begitu saja tanpa melihat, padahal etikanya kan mereka harus melihat dulu, mengingat nama kami dan juga melihat jabatan kami, lalu menaruh kartu nama itu di tempat yang benar, karena kartu nama adalah perwujudan identitas seseorang, itu adalah etika yang tidak semua orang miliki.” Aditia kesal karena dia dan Alka direndahkan.


“Pasti kalian disangka bagian Purchasing yang biasa memesan barang.” Ganding tertawa.


“Betul banget tuh, makanya kita juga ditawarin uang kompensasi buat memuluskan pemesanan barang mereka.” Aditia masih kesal.


“Kak, kami juga udah dapat beberapa informasi dari warga sekitar, semuanya hampir sama, kalau pabrik ini sebenarnya pabrik yang aneh, karena biasanya pabrik itu tiga shift, semua pabrik di sini tiga shift, tapi pabrik di sini hanya dua shift, kalau malam mereka menutup pabriknya dan tidak beroperasional, seolah … pabrik ini tidak diperbolehkan operasional saat malam.”


“Loh kok aneh?” Aditia bingung.

__ADS_1


“Ya aneh kan, malam hari tidak boleh ada yang lembur sampai malam, kukira karena kejadian mati mendadak salah satu buruhnya, tapi ternyata tidak, mereka memang melarang buruh bekerja sampai larut, karena pabrik harus kosong saat tengah malam.”


“Kalau begitu, ceritakan lengkapnya.” Alka meminta yang lain cerita dengan lengkap.


__ADS_2