
Namanya Nola, dia kuliah di salah satu kampus ternama di ibukota, kampus itu besar sekali, karena beda fakultas, beda gedung, total ada sekitar 15 fakultas.
Karena itu areal kampusnya sangat besar, untuk bisa masuk, kau harus ikut bus kampus yang khusus mengantar Mahasiswa atau Mahasiswi dari areal gerbang depan lalu akhirnya masuk melewati hutan lindung dulu, hutan lindung itu dibuat untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah dan juga mendukung salah satu jurusan Universitas ini, yaitu jurusan Biologi.
Hutan lindung ini memang cukup luas, luasnya mencapai 40 hektare, tumbuh pohon-pohon besar di hutan ini, dia berada di sisi kanan dan kiri jalan masuk kampus.
Setelah melewati hutan lindung, bus baru akan mengantar Mahasiswa atau Mahasiswi pada Fakultas tujuan, satu bus hanya mengantar sebanyak sepuluh fakultas saja atau ke sepuluh gedung, sisanya akan diantar bus lain dengan jadwal yang mirip-mirip.
Nola sudah masuk semester tiga di kampus ini dengan jurusan Kedokteran Gigi, Nola Mahasiswa yang sangat rajin dan juga pintar, dia juga dari keluarga yang mampu hidup Nola memang serba mudah.
Hari ini dia harus mengikuti acara kampus sampai malam, yaitu gladi resik HUT kampus, kebetulan jurusannya juga mengadakan rapat mahasiswa untuk membahas mengenai acara yang akan jurusan mereka persembahkan, kebetulan mereka akan mempersembahkan penampilan baca puisi dan juga menyanyi saat puncak acara, Nola salah satu panitia mewakili fakultasnya.
Rapat jurusannya selesai cukup malam, jam sepuluh Nola baru bisa pamit pulang, teman-temannya yang lain ada yang bawa kendaraan motor atau mobil, sedang Nola tidak bawa kendaraan, dia terbiasa naik bus kampus untuk sampai depan gerbang, lalu setelah itu dia akan naik ojek untuk sampai tempat kosnya.
Nola memang kos di dekat kampus, karena orang tuanya tinggal di daerah, walau dari keluarga berada, Nola selalu menolak fasilitas berlebihan dari orang tuanya, Nola itu anak yang sangat bertanggung jawab pada semua barang yang diberikan padanya, makanya dia menolak ketika orang tuanya menawarkan mobil, karena baginya merawat mobil akan sangat merepotkan, lebih mudah naik kendaraan umum saja, apalagi jarak kosnya sangat dekat dengan kampus.
Nola menunggu di depan gedung fakultasnya, harusnya bus masih ada, jam operasionalnya adalah dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam, dengan dua pembagian waktu shift supirnya.
Ini sudah jam sepuluh lewat lima belas malam, seharusnya Bus masih ada.
Fakultas sudah sepi, Nola lumayan mulai takut karen kampus mulai sepi. Semua orang yang tadi keluar bersamanya, sekarang sudah tidak ada lagi, sudah pulang dengan kendaraan masing-masing, ada yang dijemput pacarnya juga atau ada yang nebeng, Nola tidak ikut nebeng karena kasihan pada temannya, harus repot mengantarnya dulu, makanya dia memutuskan untuk naik bus saja, agar tidak diburu-buru juga oleh pemiik kendaraan.
Sudah jam setengah sebelas, bus belum juga datang.
Nola membuka telepon genggamnya dan menelpon Supir bus kampus, Nola punya nomornya karena butuh untuk tahu jadwal bus, walau sudah ada di papan pengumuman baik yang fisik maupun online, Nola lebih suka bertanya langsung, kadang mereka lebih cepat atau lebih lambat.
[Pak, di mana? Bus masih ada kan?] Nola bertanya begitu telepon di angkat.
[Iya … ada ….] Dijawab singkat oleh supir lalu telepon mati, tak lama bus datang, bus itu berwana putih, dengan jumlah angkut bisa mencapao 60 orang termasuk supir, jangkauan satu bus 10 gedung fakultas, jadi total ada enam bus yang dimiliki kampus ini.
Nola berlari kecil untuk sampai bus itu, saat sudah di dekat bus, bus itu berhenti, pintunya tidak juga terbuka, Nola mengetuk bus itu, masih tidak terbuka, lalu Nola mengetuknya semakin kencang agar didengar oleh supir dan membuka pintu bus.
Pintu terbuka, lalu Nola masuk dan mencari bangku yang kosong, di dalam tidak terlalu banyak orang, jadi dia bebas memilih bangku, dia memilih bangku keempat dari depan, bangku dua baris.
Dia duduk dengan nyaman lalu melihat ke arah luar, bus melaju dengan kecepatan sedang, seperti biasa.
Tiba-tiba terdengar lagu yang sangat asing bagi Nola, karena nada dan liriknya seperti bukan berasal dari jamannya, Nola tertawa, dia jadi tertarik lagu apa ini. Nola lalu mencatat lirik lagunya.
Waktu potong padi
Di tengah sawah
Sambil bernyanyi
Riuh rendah
Memotong padi
Sambil bersuka
Tolonglah kami
Bersama-sama
Potong padi ramai-ramai di sawah
Ani-ani dikerjakan semua
Jika sudah waktunya
Mari kita pulang ke rumah
Potong padi ramai-ramai di sawah
Ani-ani dikerjakan semua
Bila tiba waktunya
Mari kita pulang ke rumah
Nola masih asik mencatat lirik lagu, hingga dia sadar ada yang aneh, dia tadi merasa sudah melewati semua fakultas dan seharusnya mulai melewati jalan yang kanan kirinya adalah hutan lindung, tapi kenapa sekarang mereka masih melewati fakultas terus?
__ADS_1
Tapi Nola tidak terlalu memikirkan, toh juga akhirnya dia akan sampai.
Nola akhirnya memilih memperhatikan jalan saja, tiba-tiba ada pesan masuk dari sahabatnya, dia juga tadi meeting di gedung fakultas lain, mereka sudah bersahabat sejak SMA dan masuk universitas yang sama.
[Woy, di mana lu?] Sahabatnya bertanya.
[Di bus, lu di mana?] Nola bertanya balik.
[Sama, elu naik bus fakultas lain ya?] Sahabatnya bertanya, karena dia dan Nola seharunsya menaiki bus yang sama, walau beda fakultas tapi bus mereka dalam nomor yang sama.
[Enggak kok, gue naek nomor bus kita, lu kali yang salah naik.] Nola bersikeras.
[Nih! Gue naik bus nomor kita.] Sahabatnya mengirim foto nomor bus.
Nola melihat itu kaget, karena itu dia juga mau melihat nomor busnya, saat dia menaikkan posisi badannya agar kaca depan bus terlihat, dimana nomor bus tertera, Nola terperanjat, karena sat dia menaikkan posisi badannya, dia melihat semua orang sedang menatap ke arahnya, kecuali supir.
Nola menurunkan kembali tubuhnya. Dia gemetar karena takut.
[Nol! Coba fotoin mana nomor busnya?] temannya mengirim pesan lagi.
[Nggak bisa, ada yang aneh sama busnya.] Nola membalas pesan.
[Hah? kok bisa? Elu sekarang di mana!] sahabatnya panik.
[Bentar gue liat dulu.] Nola masih tetap duduk dengan membungkuk karena takut melihat kejadian tadi, dia melihat ke arah luar jendela, lalu membalas sahabatnya, [gue ada di Fakultas Kesehatan.]
[Gue bentar lagi juga lewat fakultas kesehatan, bentar ya gue duduk deket supir, biar nanti gue minta dia kejar bus lu, lu pindah sini aja.] Sahabatnya membalas.
Nola tenang karena ternyata dia akan segera lepas dari keadaan aneh ini. Dia melihat ke arah luar dengan tidak sabar, dia juga sudah mengirimkan lokasinay secara online agar bisa dipantau sahabatnya.
[Nol, lu dimana! Gue nggak liat bus lu, ini di GPS elu kita udah papasan!] Temannya mengiirm pesan yang membuat Nola kaget dan terhenyak. Nola segera melihat ke arah luar jendela, dia melihat bus sahabatnya lewat, dia bahkan melihat sahabatnya sedang melihat ke arah luas jendela.
[Guel liat bus lu! Gue liat bus lu!] Nola membalas dan dia mencoba menelpon temannya, diangkat!
[Bus gue di samping bus lu, cepet minta bus lu hadang bus gue!] Nola berkata dengan suara tertahan pada temannya, Nola masih melihat temannya yang sedang mengangkat telepon.
[Halo … halo … Nol! Nol! Nol!] Sahabatnya seperti tidak mendengar suara Nola.
Telepon putus, ada pesan masuk dari sahabatnya, [Bus lu di mana? Gue nggak liat bus lu, di sini Cuma ada bus gue, yang lain juga nggak lihat.]
Nola diam sejenak, bagaimana mungkin banyak orang di bus sahabatnya, tidak ada satupun yang melihat bus Nola yang jelas-jelas ada di sampingnya, Nola mulai menangis, dia tahu ada yang tak beres dengan bus ini, karena kalau ini bus normal, maka semua orang pasti melihat bus ini dan dirinya.
Karena masih melihat bus di sampingnya, Nola berdiri lalu mengetuk-ngetuk mukul-mukul kaca dengan lengannya, dia berharap ada satu saja yang sadar, walau kemungkinan itu kecil.
Nola berteriak minta tolong tanpa peduli dengan apa yang ada di depannya.
Tapi itu semua sia-sia, tak ada satupun yang merespon dari bus yang Nola lihat.
Suara musik lagu lawas terdengar lagi dengan volume suara yang cukup tinggi ….
Potong padi ramai-ramai di sawah
Ani-ani dikerjakan semua
Jika sudah waktunya
Mari kita pulang ke rumah
Potong padi ramai-ramai di sawah
Ani-ani dikerjakan semua
Bila tiba waktunya
Mari kita pulang ke rumah
Nola melihat kea rah depan, karena suara musik itu benar-benar mengganggunya, saat dia meliaht ke arah depan, semua orang berdiri, tidak melihat lagi ke arahnya, tapi semua melihat ke arah depan dan mereka semua melakukan gerakan yang sama, yaitu menggoyang kepalanya sesuai irama lagu, semua orang melakukan gerakan yang sama tanpa peduli ada yang ketakutan.
[Nol! Jangan bercanda deh, elu dimana!] Sahabatnya bertanya lagi.
Nola melihat pesan masuk itu, dia bingung harus menjawab apa, semakin lama, bus yang ditumpangi temannya akhirnya mulai menjauh, Nola menangis, jujur dia sangat takut, sangat teramat takut untuk jalan ke depan, kalau ke belakang bus, itu jauh lebih menakutkan karena gelap, sangat gelap sekali areal belakang bus, lagian, kenapa Nola tidak sadar tadi, saat dia masuk bus, pintunya tidak terbuka otomatis, tapi supir harus turun untuk membuka pintu bus itu, Nola juga tidak memperhatikan dengan detail siapa supirnya, dia menyangka itu adalah supir yang biasa menyupir bus fakultas Nola.
__ADS_1
Nola akhirnya duduk lagi, tubuhnya masih gemetar, dia membuka pesan singkat dari sahabatnya, lalu dia mulai mengirim pesan suara.
[Win, gue nggak tau gue di bus apa, ini bus aneh, gue liat di kaca nggak ada nomor bus, terus orang-orang yang naik juga aneh, mereka semua aneh, gue nggak tau gimana cara jelasinnya, gue takut mau maju ke depan untuk turun, takut kalau mereka bukan manusia. Win, tolongin gue Winda.] Pesan suara dikirim kepada sahabatnya Winda.
Winda yang saat ini masih di bus dan busnya sedang melewati hutan lindung begitu melihat pesan dari Nola, segera membukanya, dia mendengarnya lalu dia buru-buru meminta supir untuk berhenti.
“Pak tolong! Pak temen saya nggak tahu di mana, katanya dia di bus, tapi busnya aneh, dia mau keluar nggak bisa, karena takut, katanya orang-orang di dalam busnya menakutkan, seperti bukan orang. Pak, di GPS posisinya dia di belakang kita, bisa nggak nyuruh petugas kampus untuk nyari temen saya, dia minta tolong sampai nangis gini, dia nggak pernah gini Pak, dia orang yang sangat berani, ini pasti dia benar-benar dalam bahaya.”
“Coba saya dengar pesan suaranya?” Bus berhenti supir ingin mendengar pesan suaranya, pesan Nola putus-putus tapi bisa terdengar jika sabar, lalu di belakang suara Nola seperti terdengar lagu yang sangat mendayu-dayu, lagu lawas.
Supir itu terdiam, lalu dia buru-buru menyalakan lagi busnya dan tancap gas.
“Pak kenapa malah jalan lagi? Temen saya gimana!” Winda bertanya dan dia tetap melihat sekeliling.
“Kau mau kita semua tidak selamat! Kita keluar dulu, masalah temanmu, kita laporkan setelah sampai ke pintu gerbang kampus.” Supir terus melajukan busnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Winda berlari ke arah belakang bus, dia melihat ke arah belakang bus dan mencoba melihat, apakah ada bus yang Nola tumpangi, tapi nihil, tak ada apapun selain lampu jalan di belakang itu.
GPS menunjukan Nola masih terus berjalan di belakang bus Winda walau semakin lama jarak mereka semakin lebar.
Begitu sampai di gerbang, semua orang turun dan bergegas untuk pulang, sementara Winda dan supir bus sedang menghubungi petugas kampus, petugas yang menjaga kampus pada malam hari.
[Pak, ada seorang siswa yang salah naik bus, ini temannya bilang dia masih ada di areal kampus, keliatan dari GPS yang dia kirim, bisa kirim orang untuk jemput Mahasiswi itu Pak?] Supir bus menelpon.
[Bus itu lagi! Yaudah kita cari dia, minta temannya kirim GPS ke nomor saya, biar saya bisa kejar.] Petugas itu adalah seorang TNI, dia yang bertanggung jawab pada keamanan kampus.
Winda mengirim lokasi terakhir Nola, petugas itu segera mengejar Nola berbekal lokasi terakhirnya, dia menggunakan mobil kecil bersama dengan rekan kerjanya.
“Busi tu lagi Parman?” rekan TNI itu bertanya.
“Kayaknya iya, buktinya teman dia tidak melihat dirinya, tapi dia melihat temannya, pasti bus itu.” Parman yakin.
“Percuma kalau gitu kita cari, nggak bakal ketemu.”
“Coba cari dulu aja, bisa jadi kita salah, atau masih nasib beruntung untuk perempuan itu, namanya Nola.”
“Ya, tapi aku jujur sangsi.”
“Udah jangan ngomong sembarangan, kita usaha aja dulu.” Parman tidak suka temannya berdoa buruk melalui perkataan.
Mereka berkendara mengikuti GPS dari Nola, hingga di titik di mana GPS mereka bersisian.
“Nggak ada apa-apa Man.” Temannya memperingatkan, karena memang tidak ada apa-apa di sini.
Sementara di bus itu Nola yang ketakutan dan berusaha untuk tetap sadar, melihat mobil Parman, dia kembali memukul-mukul kaca, tapi tetap tak digubris oleh Parman, mobil itu hanya konstan mengikuti busnya.
“Tolong! Tolong! Tolong!” Nola berteriak.
“Man, elu denger nggak?” Temannya TNI itu bertanya, Parman hanya mengangguk.
“Berarti posisinya ada di samping kita nih, tapi nggak keliatan apa-apa.”
“iya kayak kejadian waktu itu, terus gimana Man?”
“Mereka akan terus berputar-putar di sini, kita ke gerbang, kita tenangin dulu sahabatnya sembari memberi penjelasan apa yang terjadi.” Parman akhirnya mempercepat mobilnya dan meninggalkan bus itu.
Lagi-lagi Nola kecewa, dia sangat takut sekarang.
Saat dia menangis dan tidak ingin lagi melihat ke arah depan, dia tiba-tiba mendengar suara.
“Hei … hei … hei!” Nola kaget karena seperti ada yang memanggilnya.
Nola mencari sumber suara, ternyata dari arah belakang bus ini, yang gelap sekali itu.
“Ke sini!” suara itu memanggiL/
Nola masih terus menatap ke belakang dengan perasaan waspada.
“Ke sini, ayo bersama kami ….” Suara itu terus memanggil, tadinya hanya terdengar satu orang, sekarang terdengar suara beberapa orang.
Nola diam dan akhirnya mulai berjalan ke arah belakang bus, mengikuti suara itu.
__ADS_1