Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 396 : Toko Emas 26


__ADS_3

Kawanan pulang dengan angkot jemputan, wajah-wajah mereka terlihat sangat lelah, karena menghadapi anak kecil dalam bentuk apapun selalu saja membuat siapapun meresa sangat lelah.  dua kasus anak-anak ini sungguh membuat kawanan sangat lelah batin dan juga mental.


Menghadapi anak-anak tidak selalu mudah.


“Jadi, kalian tahu kan?” Ganding tiba-tiba membuat percakapan setelah mereka sudah berkendara selama 15 menit.


“Kau pikir kami sebodoh itu?” Aditia yang menyetir dan di sampingnya Alka, dia berkata dengan wajah sebal.


“Jadi ini kosong kan” Ganding mengulang.


“Nding!” Yang lain memanggil Ganding dengan nada mengejek, hal yang sudah pasti untuk apa dipertanyakan lagi.


“Ini sih beneran kerasa isinya anak ambar itu, kalau saja Aditia tidak menoel-noel pinggangku, sudah kuhajar anak ambar itu, berani-beraninya dia menipu kita.


Walau memang terasa ada isi energinya, tapi jelas ini kosong, dia pikir kita hanya dukun sembarangna?” Ganding kesal.


Kawanan tahu dengan jelas bahwa anak ambar itu menipu mereka dengan mengatakan bahwa dirinya sudah ada di dalam patung itu.


Anak kecil dengan wujud dewasa yang dipaksakan itu karena wujudnya sebagai anak amber mencoba memasukkan energinya dari energi kakak yang diberikan melalui gelang ritual, karena mereka satu rahim, tentu energi mereka mirip, anak ambar itu pikir, kalau dia memasukkan energi kakak ke dalam patung manusia mini di dalam tabung khas rumah anak ambar itu, maka kawanan akan tertipu, walau memang benar bahwa energi adik terasa ada di dalam patung manusia mini itu, tapi jelas kawanan tahu, bukan cuma soal rasa, tapi juga soal penglihatan, tidak ada apa-apa di dalam patung itu.


“Kita semua sepakat kalau akan membawa anak ambar itu dengan damai, cara membuat seorang anak kecil damai adalah, memberikan apa yang dia mau. Jelas yang dia mau adalah, kakaknya.


Anak ambar tidak jahat, seperti semua anak-anak yang lain, energi jahat yang membuat dia menjadi jahat, ketika dia mengambil energi ibunya Amanda, ibunya Amanda memiliki energi baik, sedang ketika dia mengambil energi anaknya Sum, tentu saja itu juga energi baik dan ketika dia mengambil energi dari Babah, itu juga energi baik, karena Babah bukan dukun ilmu hitam, Babah adalah dukun ilmu putih, makanya dia memilih memanggil anak ambar, dibanding memanggil jin untuk pesugihan.


Alisha benar, bahwa pendekatan dengan anak ambar adalah, pura-pura percaya padanya, kita tunggu sampai 3 hari, anak ambar itu tetap akan di tubuh kakaknya.” Alka mengingat kembali bahwa ini adalah ide Alisha, dia sudah memprediksi kalau seorang anak ambar hanya akan melakukan trik menipu pada kawanan, seberapa besar pun kekuatannya, dia takkan pernah melakukan hal yang buruk dengan niat.


“Bagaimana dengan kematian ibunya Amanda dan ibunay sendiri? Aku masih heran dengan keyakinan kalian ini, kalau kita biarkan dia ditubuh kakaknya, apa tidak akan ada kemungkinan bahwa, itu adalah menyerahkan nyawa kakaknya pada anak ambar itu?” Ganding protes, sejak ide ini digulirkan Alisha kemarin itu, Gandinglah yang paling frontal, tapi dia kalah suara dan apa yang Alisha utarakan terjadi, Ganding akhirnya mengalah saat anak ambar itu tadi jelas menipu.


“Kau tahu kalau kakaknya yang menutup mulut adiknya dengan sapu tangan ketika mereka kecil dulu, dilakukan dengan niat untuk mendiamkan adiknya, bukan untuk membunuhnya, kalau akhirnya kejadian, misalnya ya, adiknya meninggal, apakah kakaknya berniat jahat?” Alka mencoba untuk memberi analogi, bedanya Alisha dan Alka adalah, Alka selalu mampu memberi penjelasan pada kawanan, sedang Alisha terlalu tak sabaran, sifat nekatnya itu kadang menjadi dua mata pisau.

__ADS_1


“Tidak berniat jahat sih, Kak, tapi kan kalau benar adiknya meninggal bagaimana?”


“Maka akalnya belum sampai di sana. Maka itu yang kita harapkan.”


“Ingat Nding, kita meninggalkan mata-mata di sana bukan? anak ambar tidak sepintar itu, buktinya hanya butuh hitungan detik, kau langsung sadar bahwa patung dalam tabung itu kosong.”


“Jadi kita bisa tenang, tenang aja gitu?” Ganding bertanya pada semua orang.”


“Waktu yang akan menjawab, tiga hari Nding, kita akan melihat perkembangannya.” Aditia sebenarnya juga bimbang, tapi dia percaya pada apa yang Alka percayai, semacam insting dari hati yang saling mencinta. Di titik ini pasti kalian merasa, ohhh Author so sweet. Emang segitu inginnya kalian ingin Alka dan Aditia bersatu?


...


“Kamu suka sama makanannya?” Ayah bertanya, mereka sedang makan malam bersama, Kakak lebih tenang dari biasanya, papi agak heran, tapi papi hanya menerima saja, mungkin perubahan kakak karena sudah melewati banyak hal.


“Ya aku suka, yang penting banyak ya Pi, buat Cic ....”


“Ya?” Papi bingung.


“Oh ya, kita sudah lama sekali ya, tidak memanggil kamu dengan sebutan itu bukan?”


“Ya, sudah lama sekali sejak aku mening ... sejak adik meninggal Pi.”


“Ya, sejak adik meninggal.” Lalu mereka melanjutkan makan, berdua saja.


Setelah makan selesai, papi meminta pembantunya untuk membereskan semuanya, setelah beres, merekaberdua kembali ke kamarnya, adik masih berjalan dengan pincang, tentu saja, pura-pura, karena jiwa dan tubuh kakak yang merasakan itu, sedang jiwa adik baik-baik saja, setelah kecelakaan dia telah melepas raga dunianya.


Adik dalam tubuh kakak duduk di meja rias, dia menyisir rambutnya sembari mendendang.


“Lepaskan aku.” Kakak dalam diri adik berkata, adik mendengarnya dalam hati, karena kakak memang dikunci di dalam dirinya sendiri, dia sempat ditidurkan tadi oleh adik, dua ruh dalam satu tubuh, sedang si kakak tidak mampu melawan karena dia tidak punya kekuatan ghaib, hingga rasanya tubuh itu diikat kuat-kuat pada seluruh tubuh, padahal jiwanya yang ditahan oleh adik.

__ADS_1


“Aku mau main sama Cici, aku mau main.” Adik tertawa terkekeh, bukan tertawa penjahat, hanya tertawa eorang adik yagn seolah menyembunyikan mainan kakaknya, dia lalu berkata, aku tidak tahu kak, aku tidak tahu sambil tertawa, karena memang hanya itu yang adiknya rasakan selama ini.


Pun ketika dia mendorong kakaknya dari tangga ketika itu, yang membuat kakaknya dioperasi pada kaki dan tangan, itu semua karena adik, membalas kejahatan kakak yang menukar dupanya, dia pikir kakak sedang mengajak bermain, maka adik melakukannya untuk mengisengi balik, dia tidak paham sebagai jiwa anak ambar yang meninggal saat remaja, dia tidak paham bahwa bahaya itu ada dan bisa menyakiti seseorang, walau ruhnya berkembang, tapi ingatan dan pemikirannya justru menurun, karena begitulah hakikatnya sesosok ruh, dia akan terlupakan perlahan dan juga melupakan, seiring dengan waktu berjalan.


Lalu ketika dia mengikuti ibunya ke toko, melihat ibunya Amanda, betapa dia ingin saling mencintai seperti ibu dan anak seperti Amanda yang tulus membelikan kalung itu, adik sangat ingin energi yang membahagiakan itu, mencicipi sejenak kebahagiaan seorang anak yang diberikan cinta yang begitu besar dari ibunya, tapi dia tidak juga paham, dengan mengambil energi itu, dia mencelakai orang lain, dia bahkan membuat tubuh renta ibunya Amanda menjadi semakin sekarat dan akhirnya meninggal.


Pun pada anak Sum dia tidak paham.


Lalu apakah kalian bisa menebak apa yang terjadi pada ibunya, ketika dia memutuskan untuk memberikan energinya, lalu sekarat karena tubuh tuanya, ketika anaknya sangat sedih dengan apa yang terjadi pada ibunya, anak itu mendatangi ibunya, anak ambar itu begitu ketakutan melihat ibunya yang semakin lemah, dia memeluk ibunya dari belakang, hendak memohon agar ibunya tidak sakit lagi, tapi sayang sekali, anak ambar itu malah menarik energi ibunya semakin banyak, maka pada akhirnya membuat ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.


Papi melihat bahwa anak ambar itu tertawa saat melihat ibunya meninggal karena pelukannya, salah! anak itu menangis, tapi karena dia tidak punya air mata, makanya papi salah mengira, hal ini yang akhirnya membuat papi setuju mengusir anak itu dari kamar terlarang di rumahnya.


Anak itu melakukan semuanya karena naluri kekanakannya yang semakin menurun, dari remaja semakin lupa dan lupa.


Maka ketika ada ruh yang terlihat tak punya tujuan, itu karena dia terlalu lama di dunia dan akhirnya lupa, siapa keluarganya, siapa dirinya dan akhirnya menjadi ruh gentayangan.


Itu yang terjadi pada anak ambar, dia semakin kekanakan dan mendamba keluarganya yang dulu, walau kakaknya begitu jahat, tapi dalam ingatan dia memiliki kakak yang bisa saja menjadi sandarannya.


“Lepaskan aku Dik, aku mohon.” Kakak melemah, setelah tadi dia berteriak terus, dia kali ini memohon agar ruhnya dilepas dan adik keluar dari tubuh kakaknya.


“Mau main, main sama adik ya, kak.” Adik tetap menyisir rambutnya dengan tenang dan tersenyum sembari berdendan sesekali.


Kakak menangis karena dia ingin adiknya keluar dari tubuhnya.


Sementara adik masih sangat ingin bermain bersama kakaknya.


______________________________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Aku double up ya, nanti part keduanya malam ini jam 12 malam.


Terima kasih.


__ADS_2