Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 509 : Mulyana 14


__ADS_3

Pelajaran dimulai, mereka semua akhirnya belajar dengan melihat guru yang sedang menerangkan, semua terpaku dengan cara guru itu sedang menerangkan, begitu juga dengan Mulyana dan Aep.


“Yan, aku takut.” Tiba-tiba Nando membisiki, dia hanya berkata pelan di bangkunya, mereka duduk memang sangat dekat, jadi bisikan saja bisa terdengar.


“Kenapa?” Mulyana bertanya.


“Aku ... mendengar suara minta tolong lagi.” Nando terlihat pucat pasi.


“Sudahlah, abaikan.”


“Kau tidak dengar, Yan?” Nando bertanya.


“Hmm ....” Mulyana terdiam, dia memang mendengar, tapi dia tak ingin mmebuat keributan, makanya dia hanya diam saja, tapi tak lama kemudian, ada seseorang yang berlari, terdengar dari suara langkah kaki yang memburu di luar.


Tak lama kemudian, terlihatlah siapa yang berlari, ternyata seorang perempuan, dari arah kiri, semua orang melihat anak perempuan itu dari kaca yang berada posisinya cukup tinggi, yaitu setinggi bahu orang dewasa, sehingga kepala anak perempuan itu saja yang terlihat.


Setelah melewati kaca kelas, anak perempuan itu tiba-tiba berhenti tepat di depan pintu, pintu itu tentu saja ditutup, karena pelajaran kan sedang dimulai.


Hanya butuh waktu beberapa menit lalu perempuan itu tiba-tiba menubruk pintu kelas yang tertutup dengan kepalanya, bunyilah ....


BRUK!!!


Semua orang berteriak karena kaget dengan tubrukan itu, pintu masih kokoh karena guru mengunci pintunya, untuk memastikan tak ada anak yang keluar ataupun masuk ketika pelajaran sudah dimulai karena terlambat.


Percobaan pertama gagal, lalu anak perempuan itu bangkit, beberapa orang yang merupakan guru dan juga petugas kebersihan sekolah, melihat anak perempuan itu bangkit dengan kepala yang sudah berdarah-darah, anak itu kemballi menubrukkan kepalanya ke pintu yang masih kokoh tak terbuka.


Dia terus menuburkkannya berkali-kali sembari membaca mantra ....


“GRAKSA BAJANG!” BRAK! Setiap kali mantra itu selesai diucapkan, anak perempuan itu lalu menubrukkan kembali kepalanya ke pintu.


“GRAKSA BAJANG.”


Guru dan petugas kebersihan sekolah itu akhirnya bisa menggapai perempuan yang sudah berkali-kali menubrukkan kepala itu. Hingga tubrukkan terakhir itu tidak terjadi lagi.


Semua anak yang ada di kelas Mulyana berteriak histeris begitu keluar dari kelas, melihat anak perempuan itu sudah berdarah-darah pada kepalanya.


Sekolah menjadi ricuh, karena kelas lain juga ikut keluar mendengar kegaduhan yang ditimbulkan dari kelas Mulyana dan Aep.


Mulyana melihat itu hanya terdiam saja, dia sesungguhnya mendengar suara itu juga, suara minta tolong sebelum anak perempuan itu akhirnya menubrukkan kepalanya ke bagian pintu kelas.


“Aku mendengar suara dia, Yan.” Nando membisiki Mulyana.


Mulyana mengangguk dan memberi kode pada Nando untuk mengikutinya, Aep masih terpaku dengan anak perempuan itu dan tidak menyadari adiknya pergi dengan Nando, Mulyana hendak mengajak Nando ke toilet belakang, toilet yang paling jarang dikunjungi karena katanya di sana sangat angker.


Sekolah akhirnya memutuskan untuk segera memulangkan murid-murid, karena hendak mengurus anak perempuan yang sudah pingsan itu setelah membuat kepalanya berlumuran darah.


“Aku tidak mau masuk kamar mandi itu, lagian ... kamar mandi itu sudah ditutup, karena banyak anak yang sakit setelah memakainya.” Nando menolak masuk ke kamar mandi yang Mulyana tuju.


“Karena ini tempat sepi, aku ingin bicara padamu.” Mulyana berkata dengan hati-hati untuk membujuk Nando.

__ADS_1


“Bicara di belakang gedung sekolah saja, tempatnya lebih terbuka dan terang, aku takut ... tempat gelap, Yan.” Nando menolak karena dia tak ingin masuk ke kamar mandi itu.


“Ok, kita ke sana saja, nggak usah ambil tas, itu belakangan saja, aku benar-benar perlu bicara denganmu.” Mulyana dan Nando akhirnya berjalan menuju gedung belakang sekolah yang jarang dibersihkan.


“Jadi, kenapa Yan?” Nando bertanya, mereka sudah di belakang gedung sekolah itu.


“Aku ingin tahu, suara minta tolong seperti apa yang kau dengar?” Mulyana mulai bertanya.


“Aku dengar suara anak perempuan tadi yang meminta pertolongan, dia mengucapkan sesuatu saat menubrukkan kepalanya ke pintu Yan, suara saat dia mengucapkan kata aneh itu, mirip dengan suara saat dia meminta tolong, aku dengar suara perempuan itu.”


“Tapi dia manusia, bukan setan, tapi ... kenapa hanya kita berdua yang mendengar dia meminta tolong?” Mulyana bingung.


“Jadi, kau mendengarnya juga?!” Nando berkata dengan mata berbinar, karena dia akhirnya merasa tak sendirian, karena mendengar suara itu.


“Ya, aku mendengarnya juga, termasuk suara beberapa hari lalu yang kita dengar saat akan pulang sekolah.” Mulyana akhirnya jujur, tak ada Aep yang mengingatkannya untuk tidak bicara dengan sembarang orang. Apakah ini baik untuk Mulyana dan Aep kedepannya?


“Jadi, kita mendengar apa Yan? yang dia sebutkan juga apa Yan?”


“Aku tidak tahu, kita bisa cari di perpustakaan sih, tapi tidak bisa sekarang, karena sekarang pasti semua murid dipulangkan, kita juga harus pulang.”


“Besok saja, pagi sekali sebelum kelas dimulai, setiap pagi, petugas perpus itu selalu sibuk dengan kopinya, kita bisa masuk dan membaca dengan tenang, Yan.”


“Kau yakin?” Mulyana memang tidak pernah ke perpus, karena koleksi buku di rumahnya jauh lebih banyak dan sudah dia baca semua, tapi untuk hal ini, sepertinya dia butuh bantuan Nando untuk mencari tahu, karena Aep, dia takkan tertarik untuk mencari jawaban atas keganjilan ini.


Kita memang perlu orang yang sefrekuensi dengan diri kita agar bisa memecahkan suatu masalah, dua kepala yang berpikir dengan cara yang sama akan jauh lebih baik.


Mulyana dan Nando akhirnya kembali ke kelas, mereka melihat kelas sudah sepi, sisa darah dari kepala anak perempuan itu masih ada, sudah dibersihkan namun belum sepenuhnya hilang, noda darah memang yang paling sulit dibersihkan.


“Dari mana sih!” Aep terlihat kesal.


“Tadi kita makan dulu, laper.” Mulyana menjawab dan dia mengedipkan mata pada Nando agar Nando juga sepakat dengan apa yang dikatakan dirinya.


“Yan, ambil tasmu gih, kita pulang, sekolah hampir sepi, kita nggak boleh berkeliaran di sekolah dan sekolah juga diliburkan selama 3 hari.” Rahman memberitahu.


“Hah!” Mulyana dan Nando terkejut.


“Kenapa emang? Bukannya bagus kan?” Rahman terlihat bingung juga.


“Nggak baguslah, aku kan lagi semangat belajar.” Mulyana ngeles dan akhirnya mereka semua turun untuk menuju gerbang sekolah hendak pulang.


“Pak, maap ya terlambat lagi.” Mulyana menyapa penjaga sekolah itu. Penjaga sekolah hanya tersenyum saja, yang lain melihat Mulyana dengan aneh.


“Kenapa sih?” Mulyana bertanya, karena teman-temannya melihat Mulyana dengan tatapan yang aneh sembari tertawa.


“Lu yang kenapa? aneh lu ah!” Adi menghardik Mulyana yang tak paham.


“Namanya juga Mulyana, kelakuannya aneh, udahlah.” Aep mencoba untuk menenangkan semua orang dan mereka melanjutkan perjalanan.


“Eh bentar deh, bentar aja. Jadi gini, tadi gue udah cerita sama yang lain, soal ini.” Mata Rahman tertuju pada Mulyana dan Nando yang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


“Soal apa?” Mulyana bingung.


“Anak yang tadi nabrakin kepalanya ke pintu itu, sekelas sama anak dukun, dia itu ... sahabatnya anak dukun  yang kemarin aku ceritakan itu.” Rahman si penggosip memulai lagi info terbarunya.


“Masih dugaan kan, kalau dia anak dukun, terus apa intinya yang ingin kau sampaikan.” Mulyaan melihat Nando, sedang Nando hanya menggeleng, dia ingin Mulyana menahan diri dengan tidak membantah Rahman.


“Ya emang belum pasti, tapi keyakinan banyak orang sulit dipatahkan loh Yan. Yang mau gue sampaikan adalah, itu kan sahabatnya, dia tadi pasti kesurupan, kayak anak dukun itu karena terlalu sering main ke rumah anak dukun itu, kau tahulah, anak dukun itu juga anak perempuan yang sangat tertutup dan cenderung tidak suka bergaul, temannya ya cuma satu orang anak perempuan yang tadi nabrak kepalanya ke pintu itu.


Apa jangan-jangan dia dijadikan tumbal oleh orang tua anak dukun itu? aku sih yakin, dengan kesurupannya anak perempuan tadi, pasti ada hubungannya dengan anak dukun sahabatnya itu.


Kalian pikirin deh, ini terlalu ga masuk akal kalau dibilang kebetulan, kita harusnya memperingatkan orang tua si anak perempuan tadi, untuk tidak membiarkan anaknya main dengan anak dukun itu lagi.


“Rahman! Jangan begitu, kau jahat namanya kalau begitu, karena bisa jadi ini tak ada hubungannya jangan kau menyebar berita yang tak benar ah!” Mulyana kembali terpancing, Aep dan Nando memegang tangan Mulyana pada kanan dan kirinya.


“Yan! aku tidak bermaksud jahat, aku hanya sedan ingin menjaga kalian, kalian itu teman-temanku, pokoknya jangan dekati anak dukun itu ya, anak perempuan dukun itu memang benar-benar menakutkan.


Kalau aku melihat dia secara tak sengaja, bulu kudukku langsung merinding. Aku ketakutan tanpa sebab.”


“Sudahlah, kita pulang saja, besok libur, kita harus bersenang-senang, jangan membebani pikiran kita dengan hal-hal aneh itu.” Aep mencoba untuk melerai.


“Iya, aku juga tak bermaksud menakuti kalian, aku hanya ingin menjaga kalian!” Rahman dan Adi lalu pergi untuk pulang.


Aep, Mulyana dan Nando sekarang juga ke arah rumah mereka.


“Rahman itu sangat berbahaya, jangan terlalu dekat.” Aep tiba-tiba bicara.


“Iya, dia tidak baik untuk ditemani, dia saja main fitnah.” Mulyana melihat ke arah Nando, dia berteman jauh lebih lama dibanding Aep dan Mulyana.


Nando hanya mengangkat bahu, pertanda tidak terlalu paham tapi juga mungkin setuju.


“Yasudah, lagian tadi ngilang ke mana sih?” Aep bertanya.


“Ya kan aku udah bilang, kamu nggak percaya aku?” Mulyana protes, itu membuat Nando tertawa.


“Aku percaya, tapi aku harus tahu kau sedang apa?” Aep bertanya lagi.


“Tidak sedang apa-apa kok.” Mulyana membantah.


“Kakakmu itu sangat perhatian ya, aku iri.” Tiba-tiba Nando berkata, itu membuat Mulyana menengok dan terheran.


“Kau tak punya kakak atau adik?” Mulyana bertanya.


“Tidak, aku anak tunggal.” Nando berkata dengan sedih.


“Sudahlah kakakku juga kakakmu, kau boleh menganggapnya kakak.” Mulyana bercanda tapi juga berharap Nando bisa menjadi akrab.


“Kau ini ngaco deh, kau mau aku jadi kakak orang lain?” Aep kesal mendengarnya.


“Aku kan suka berbagi.”

__ADS_1


“Kau ingin kuhajar!” Aep bersiap untuk menghajar Mulyana, lalu Mulyana berlari, sebelum lari dia melambaikan tangan pada Nando, karena di sinilah mereka akan berpisah karena arah rumah yang berbeda, Nando juga melambaikan tangannya.


__ADS_2