
“Saya tidak punya hubungan apapun dengan Pak Yoga, Pak. Demi Tuhan.” Wanita itu berteriak sambil menangis, nampan yang sedang dia bawa, sudah jatuh sejak tadi.
“Aku tidak begitu peduli jika saja kau memang memiliki hubungan dengan Yoga anakku, tapi percayalah, kau tak boleh tetap bersamanya terlalu lama, kau akan menjadi lubang bagi anakku, lubang itu akan menjatuhkan kami semua hanya karena kuman kecil sepertimu, maka sebagai tebusan atas kelalaianmu menggoda anakku, aku akan meminta tolong padamu.” Badrun duduk di ruang kerja kecil milik anaknya, sejak dari tadi dia memang tak sendirian, dia turut membawa orang bersamanya, seorang yang mengenakan pakaian serba hitam.
“Pak, saya mohon, saya tidak salah, Pak Yoga hanya ingin membantu saya karena saya ingin kuliah, saya hanya ingin menjadi orang berpendidikan, saya berjanji pada Yoga bahwa setelah lulus saya akan mengabdi di kampung untuk mendidik banyak orang, saya mohon pak, berbaik hatilah seperti anak bapak.”
“Kau kira anak ingusan sepertimu mampu mengelabui saya? aku hanya ingin satu hal saat ini, satu hal saja, lepaskan anakku dari pengaruh peletmu.”
“Pak ... saya ... saya ....”
“Kau ini dari sebuah kampung yang terkenal mampu membuat seorang lelaki menjadi tunduk, dengan makanan-makanan itu kan kau menundukkan anakku?” Badrun bertanya.
“Pak ... tidak, saya tidak bermaksud menundukkan Pak Yoga, saya hanya ....”
“Yoga telah memakai perisai sebagai pagar untuk hal-hal semacam itu sejak lama, keluarga kami memiliki dukun pribadi untuk menjaga kami, sejak awal dukunku telah memberitahu bahwa Yoga telah dipelet olehmu, kau mampu menembus pikirannya, tapi tidak hatinya, makanya dia hanya baik padamu, bukan menjadi cinta bukan? Dukunku telah menghalau semua serangan pelet itu.”
Wulan tiba-tiba bersimpuh di kaki Badrun, dia tidak bisa menyangkal lagi, bahwa benar dia telah memakai pelet, untuk menundukkan Yoga melalui semua makanan yang dia berikan padanya, tapi tidak bisa tembus sama sekali, walau ada perubahan pada sikapnya, sikapnya menjadi jauh lebih hangat dibanding sebelum ini, dulu sikapnya sangat dingin dan bossy, Yoga memang terkenal pilih-pilih dalam bersikap ramah, dia adalah orang kaya sejak lahir, dia takkan membiarkan orang bersikap di luar batas, makanya ketika akhirnya Yoga bertemu Wulan untuk pertama kalinya, Wulan hanya diperlakukan seperti layaknya pembantu.
Tapi begitu pelet diberikan, perlakukan Yoga padanya jadi lebih baik, dia jadi lebih hangat, menawarkan bantuan untuk kuliah dan sebagainya.
Wulan ingin lebih, dia memang mengincar pria kaya untuk keluar dari belenggu kemiskinan, sayang Yoga tak mempan, peletnya tak lebih unggul dari dukun peliharaan keluarga Badrun itu.
Wulan yang awalnya ingin menjadi parasit, perlahan berubah karena perlakuan baik Yoga, dia menjadi wanita baik yang memiliki cita-cita, benar rupanya kata orang tua dulu, pilih orang dalam pergaulanmu agar pikiranmu terbuka dan tidak mudah terpengaruh hal buruk. Maka ketika Yoga memberikan banyak masukan positif, pikiran Wulan mulai terbuka, beberapa bulan saling mengenal, membuat Wulan jadi memiliki cita-cita yang sangat tinggi, yaitu membuat para perempuan di kampungnya yang sebelumnya selalu memiliki niat jahat saat ke kota, yaitu untuk mencari pria berduit untuk dijadikan suami, tidak peduli memiliki istri atau tidak, berbekal ilmu pelet dari nenek moyang di kampung mereka, menjadi lebih berpikir tentang masa depan yang jauh lebih baik, yaitu berdiri di kaki sendiri dan berusaha menjadi lebih cerdas.
Wulan yakin, jika perempuan jadi lebih cerdas, maka banyak lelaki berkualitas akan mau meminangnya.
__ADS_1
Tapi itu semua buyar saat ini, karena Badrun bukan lelaki yang mudah menerima pemahaman ini, dia tak pernah percaya orang mampu berubah dengan cepat, hanya hitungan bulan.
Maka di sinilah mimpi wulan akan berhenti.
“Beritahu aku caranya melepas pelet itu dari anakku, aku tidak ingin dia menjadi lemah dan baik hati pada perempuan-perempuan rendah sepertimu, aku ingin anakku Yoga menjadi seperti dulu, pria yang tinggi penilaian dan bisa memilah teman untuk diajak ‘bermain’, bukan wanita rendahan sepertimu!”
“Tidak Pak, aku tidak bermaksud merebut Pak Yoga, aku hanya butuh bantuannya untuk memberikanku kesempatan sekolah, jika aku mencabut peletnya, maka pupus sudah mimpiku.”
“Kalau begitu, kami akan melakukannya dengan cara yang kasar, Ki, ke sini, kau kerjai dia sampai dia mau melepas pelet itu.” Badrun meminta dukun peliharaannya yang paling setia itu, untuk mengerjai perempuan yang sudah berani mengerjai anaknya. Maka di sini jelas, perang antar dukun, bahwa di kampung Wulan, hampir semua keluarga memegang ilmu ghaib untuk penjagaan, tidak ubahnya seperti dukun di kota yang memegang banyak jin untuk bertahan dari serangan sesama dukun lain.
Badrun keluar dari tempat itu, sementara dukunnya menarik Wulan untuk keluar dari ruangan itu, sementara Wulan terus saja berusaha melepaskan diri, tapi dukun itu terlalu kuat, karena dia seorang lelaki.
“Terserah mau kau apakan, yang terpenting, buat wanita ini rela melepaskan pelet itu.” Badrun lalu pergi meninggalkan dukun itu dengan Wulan berdua saja.
Dukun itu lalu membawa Wulan ke suatu tempat, masih di lokasi yang kelak akan menjadi tempat pelatihan dengan lapangan yang besar. Tapi saat ini, masih banyak tempat dengan pohon yang rimbun.
Wulan lalu menendang dukun dengan titik paling vital dukun, di mana kejantanan menjadi simbolnya, dukun itu kesakitan dan tak sengaja melepasnya, lalu Wulan berlari terus hingga akhirnya dia terjatuh karena banyak rambatan di sana dan juga pohon yang rindang, dukun itu menggunakan kesempatan ini untuk menarik tubuhnya dan langsung mencekik Wulan dengan kedua tangan, niatnya hanya ingin Wulan agar pingsan saja, hingga dia bisa tenang sejenak, tapi ternyata cekikan itu kelewatan, hingga membuat nafas terakhir yang Wulan miliki, habis sudah, maka kematian menjadi apa yang harus dilewatinya.
“Brengsek, perempuan ini mati!” Dukun itu terdiam dan bingung, dia tidak bisa mengatakan pada Badrun bahwa dia telah membunuhnya, maka dukun itu memilih untuk mengubur jasad wanita itu, di tengah rimbunan pohon yang lebat itu, dia yakin takkan pernah ada yang menemukannya.
Dukun itu lalu pulang ke rumahnya seolah tak terjadi apa-apa.
Keesokan harinya badrun memanggil dukun itu ke rumah makan di dekat kantornya, kantor Polisi yang dia pimpin. Untuk mengkonfirmasi, apakah dia berhasil membuat Wulan akhirnya bisa melepas peletnya.
Dukun itu datang dan makan siang bersama dengan Badrun, khas para orang kaya lakukan pada budaknya, memberikan makan enak untuk diperas tenaganya.
__ADS_1
“Bagaimana dengan perempuan sundal itu? apakah kemarin dia melepas peletnya pada anakku?” Badrun bertanya, dukun yang sedang lahap makan tiba-tiba terdiam dan mulai mencari kebohongan paling pas.
“Sudah kubereskan, dia takkan mengganggu Yoga lagi, dia sudah pulang ke kampungnya karena takut, semalam aku memberikannya uang untuk pulang.”
“Baiklah, aku akan mengganti uang yang kau berikan padanya, dia benar-benar tak menuntut apapun? Tak minta uang juga?”
“Tidak, dia pulang karena ketakutan, aku sudah memastikan kalau dia takkan pernah lagi mengganggu kalian.”
“Kau hebat, terima kasih, aku akan mengirimkan uang lagi besok melalui anak buahku padamu, aku puas dengan semua kinerjamu, tetap lindungi keluargaku ya, jangan pernah lepas perlindungan lagi.” Badrun terlihat senang.
Dukun itu hanya mengangguk, karena jujur, dalam hatinya, dia sangat merasa ketakutan, takut kalau kebohongannya ketahuan.
Tapi untuk saat ini, dia masih selamat, selama mayat itu tidak pernah diketemukan lagi.
...
“Wulan ke mana ya Bu?” Yoga bertanya pada rekan kerja Wulan di tempat katering itu, karena sudah beberapa hari ini dia tak kelihatan.
“Oh, pulang kampung, kemarin taruh surat di sini, katanya buru-buru pulang karena ayahnya sakit.” Ibu katering itu menjawab. Surat itu jelas, bukan Wulan yang buat, tapi tentu saja orang suruhan Badrun, dia tak mau anaknya tahu kalau pulangnya Wulan itu dipaksa, makanya dia minta anak buahnya membuat surat.
“Mana suratnya Bu, saya mau lihat.” Entah kenapa, Yoga merasa curiga.
“Ini.” Ibu katering itu memberikannya dan mengerjakan pekerjaannya kembali menyiapkan makan untuk makan siang para pekerja di tempat yang masih di bangun itu, saat ini pembangunan sudah pada tahap mulai menebang pohon-pohon rindang yang menempati bagian yang akan dijadikan lapangan.
Yoga mengambil suratnya dan mulai membaca.
__ADS_1
Dia yakin, ini bukan tulisan tangan Wulan, karena Wulan punya ciri khas ketika menulis, ada beberapa huruf yang bukan ciri khas Wulan, Yoga tahu karena dia sempat membantu Wulan belajar untuk ujian masuk universitasnya, dia melihat Wulan memiliki karakter dalam tulisannya maka sekarang dia tahu, itu bukan tulisannya.
Yoga lalu kembali ke parkiran mobilnya dan bersiap menemui orang yang dia tahu dengan jelas, pasti dalang dari pulangnya Wulan ke rumah orang tuanya, walau tak ada yang tahu, Wulan masih di sana, masih di tempat pembangunan itu, yang mungkin sebentar lagi akan diketemukan.