
Menyadari Aditia bisa mellihatnya, dia lalu spontan berlari mendekati Aditia, saat sudah dekat, dia melewati tubuh Aditia, lalu saat sudah melewati tubuh Aditia dia langsung menubruk punggung Aditia dan menggendongkan tubuhnya pada punggung Aditia. Bagian wajah rusaknya menempel pada wajah kiri Aditia, dia menggendongkan tubuhnya pada Aditia seperti anak kecil yang digendong belakang.
Kakinya mengikat sempurna pada bagian perut Aditia, Aditia terkejut berusaha melepaskan gendongan perempuN itu, tapi gagal. Bau anyir wajah rusaknya membuat Aditia mual, saat sedang berusaha melepaskan gendongan itu, perempuan berwajah rusak berkata ….
“Tholooonngg … akuh….” Suaranya begitu membuat merinding.
Bau anyir itu mengganggu sekali penciuman Aditia, dia sempat kaget, tapi menghadapi yang seperti ini tentu hal biasa, hanya saja dia bingung, kenapa tidak bisa merasakan roh itu, sama seperti dulu dia tidak bisa merasakan Mbak Rosa si buruh pabrik yang telah menjadi ruh.
“Ayo.” Pegawai yang menuntun mereka untuk naik ke lantai dua meminta Aditia masuk ke lift, Aditia mengangguk, karena dia tadi sempat terdiam dan wanita berwajah hancur ini masih di punggungnya.
“Turun nggak.” Aditia berkata dengan berbisik, tapi wanita itu masih saja menggendong di punggu Aditia.
Aditia terpaksa mengeluarkan kerisnya, saat tahu keris itu terlihat bersinar, wanita berwajah rusak itu segera turun lalu tertawa nyaring, Aditia sempat merasa pekak, tapi dia terus berjalan karena orang yang menunggunya di lift terlihat kesal Aditia lelet padahal tinggal masuk lift saja.
Setelah mereka sampai di lantai dua, Aditia mengikuti mereka untuk ke ruang ujian. Ternyata sudah ada beberapa orang, total saat Aditia duduk sudah ada sepuluh orang di sana, semua sibuk mengerjakan soal ujian, rupanya ujian tidak diberi waktu, Aditia maju ke depan meminta kertas ujian, saat sudah dapat kertasnya dia melihat kalau yang duduk di paling depan bagian paling pojok melihat ke arahnya, seorang lelaki yang terlihat rapih dan ikut mengerjakan soal, Aditia mengangguk tanda menyapa, tapi lelaki itu tidak membalas sapaannya tapi melanjutkan lagi mengisi soal ujian.
Aditia kesal karena keramahaannya tidak dibalas dengan semestinya, dia perhatikan lelaki itu dan terkaget saat melihat tangannya, tangan lelaki yang sedang mengisi soal ujian itu terlihat menghitam.
Aditia tidak memperdulikannya, dia lalu mengisi soal ujian dengan sungguh-sungguh, kenapa soalnya sulit sekali, pengetahuan umum lalu dilanjut dengan psikotest.
“Kalau sudah, bisa tolong untuk menyerahkan hasil dari kertas ujian tersebut ke depan.” Salah satu pegawai HRD itu berkata.
Aditia terus mengerjakan soal dan juga psikotes dengan hati-hati, dia ingin bekerja di sini dan melupakan soal warisan itu.
Kaluau soal kawan-kawannya itu, nanti dulu saja, Aditia tidak ingin bergabung dulu.
Setelah dua jam, Aditia sudah menyelesaikan semua soal itu, semua orang masih terlihat sibuk mengerjakan soal, padahal mereka datang hampir berbarengan, apakah sesulit itu mengerjakan tugas ini? Aditia heran.
Aditia memberanikan diri memberikan soal ujian yang telah selesai dia buat, dia menyerahkan kertas itu ke depan, staff HRD itu menerima dan menyuruh Aditia menunggu lagi.
Aditia kembali ke kursi, tapi saat dia hendak kembali, dia baru tersadar, lelaki yang tadi memperhatikan dia, yang duduk di bangku paling depan tapi di pojok, sibuk mengerjakan ujian, Aditia merasa penasaran, apakah sesulit itu sampai dia menjadi begitu putus asa? Aditia memperlambat langkahnya, dia terus memperhatikan apa yang diisi oleh lelaki itu di kertas, aneh, Aditia merasa ada yang salah, kenapa kertas itu sudah penuh sekali dengan jawaban, bahkan saking penuhnya, satu jawaban, menindih jawaban yang lain, apa-apaan ini? kenapa lelaki itu seperti orang tidak sadar? Wajahnya juga sangat pucat, wajahnya terlihat sangat berambisi.
Aditia terus berjalan menuju kembali ke bangkunya tadi, kakinya tiba-tiba berhenti, ada apa ini, kenapa ruangan ini terasa sesak dan bau? Aditia mundur, dia sekilas melihat ruangan ini tiba-tiba berubah menjadi begitu berantakan dan penuh debu, Aditia mundur lagi, orang-orang yang tadi mengisi lembar ujian tiba-tiba menatap lurus ke depan, Aditia tidak bisa berjalan lagi, tubuhnya kaku, dia melihat semua orang berubah menjadi pucat, orang-orang yang tadi berubah menjadi sedikit menakutkan.
“Pak!” seseorang menepuk bahu Aditia, seorang petugas staff HRD.
Seketika ruangan itu kembali menjadi seperti semula, rapih, bersih dan terang benderang, semua orang terlihat kembali mengisi soal ujian.
“I-iya bu, maaf.” Aditia merasa dia telah sedikit depresi, kebanyakan mengurus ‘mereka’ membuat Aditia tidak mampu membedakan yang mana dunia nyata dan dunia ghaib, Aditia lalu duduk kembali ke bangkunya.
“Pak Aditia ikut saya ya.” Staff HRD meminta Aditia ikut dia, sepertinya Aditia lolos seleksi dan akan interview.
Mereka berdua menyusuri lorong kantor.
“Pak Aditia akan bertemu dengan kepala HRD kami, dia akan interview, di tangannyalah keputusan penerimaan pegawai diambil, jadi jawab dengan sebaik mungkin ya.” Staff HRD itu berkata dan mempersilahkan Aditia masuk ke ruangan sementara staf yang mengantar meninggalkannya untuk interview.
Nama kepala HRD itu adalah Broto.
“Silahkan duduk.” Pak Broto memang seperti seorang bos, duduk di bangku kerja yang cukup mewah, dengan tubuh yang cukup gemuk, perut yang buncit membuatnya terlihat sulit bernafas.
Aditia duduk di depan Pak Broto, mereka terpisah meja kerja, “Namanya Aditia ya, masih kuliah?”
“Belum Pak, saya menunda skripsi karena satu dan lain hal."
“Tapi masih Mahasiswa aktifkan?"
“Betul Pak.”
“Bagus, kau mencari kerja dulu sebelum lulus, langkah yang cukup pintar. Apa sebelumnya pernah kerja?” Pak Broto bertanya.
“Belum Pak, saya belum punya pengalaman.”
“Tidak masalah, yang penting di sini kerja yang bener dan tidak banyak nuntut, kita akan bayar sesuai dengan kerja keras.”
“Baik Pak.”
“Kapan bisa mulai kerja?” Pak Broto bertanya lagi.
__ADS_1
“Secepatnya Pak.”
“Baik, mulai besok bisa?”
“Bisa Pak, sangat bisa.” Aditia langsung terlihat senang.
“Yasudah selanjutnya untuk gaji dan tunjangan akan dibicarakan besok ya, saat tanda tangan surat keterangan masa percobaan, kamu dalam masa percobaan selama tiga bukan dengan gaji UMR saja tanpa tunjangan dan lembur tidak dibayarkan, gajimu all in. Tapi selanjutnya jika sudah lewat masa percobaan, kita akan review kembali kinerja kamu dan mungkin saja gajimu akan naik beserta tunjangan yang mengikutinya. Bagaimana? ada yang mau ditanyakan?” Pak Broto menjelaskan cukup panjang.
“Baik Pak, tidak ada lagi yang ingin saya tanyakan.” Aditia belum begitu paham sebenarnya mengenai dunia pekerjaan, jadi dia hanya akan menerima saja dulu, baru selanjutnya mungkin dia akan paham.
Aditia keluar dari ruangan, menemui staff HRD tadi yang telah mengantar ke ruangan, dia diantar kembali untuk turun naik lift, saat sudah melewati ruangan ujian tadi, Aditia menengok ke ruangan itu, dia merasa bingung, apakah sesulit itu mengerjakan soalnya, sampai mereka masih lengkap, hanya Aditia yang bertemu dengan Pak Broto, sedang sisanya masih mengerjakan soal ujian.
“Bu, mereka belum ada yang selesai ngerjain soal?” Aditia bertanya, mereka sudah di depan pintu lift.
Staff HRD itu hanya membukakan pintu lift, lalu dia meminta Aditia turun dan bertemu dengan resepsionis untuk mengembalikan kartu tamu yang dikalungkan. Staff HRD itu tidak menjawab pertanyaan Aditia, karena tidak mau menjadi orang yang terlihat aneh, Aditia akhirnya turun lift saja, begitu keluar lift, Aditia masih melihat wanita dengan wajah hancur itu duduk menghadap jendela, menatap kosong keluar, Aditia berjalan di depannya tanpa menoleh, wanita itu tidak lagi menganggu Aditia.
Setelah bertemu dengan resepsionis dan mengambalikan kartu tamu, Aditia pamit pulang, dia sudah memesan ojek online untuk pulang.
Aditia menunggu ojek online di luar gedung, saat akan keluar gedung, Aditia melihat security sedang tertidur. Walau dalam keadaan tertidur, Aditia tetap mendekati security itu
“Pak.” Aditia berusaha menyapa, security itu sontak kaget karena dibangunkan.
“Kenapa ya?”
“Saya lagi nunggu ojek online.”
“Oh gitu, yaudah.” Security itu lalu lanjut tidur lagi.
Saat ojek online Aditia datang, dia buru-buru menghampiri dan pergi untuk pulang, sementara security itu masih saja tidur. Di jaman serba susah begini, masih ada aja yang tidak menghargai pekerjaan, tidur di waktu jam kerja adalah tindakan tidak bertanggung jawab.
Tidak berapa lama, Aditia sampai di rumah, Adiknya sudah pulang kuliah, Dita sedang makan.
“Kak, tadi ada yang balikin angkot tuh, namanya Kak Alka.” Dita langsung mengatakan itu begitu melihat Aditia.
Aditia memang melihat angkotnya tadi dan sudah tahu, pasti Alka yang mengembalikannya.
“Ibu masak apa?”
“Yaudah tolong siapin ya Dit, Kakak mau mandi dulu.” Aditia lalu bersiap untuk mandi.
Setelah mandi Aditia duduk di meja makan, Dita sudah selesai, tapi dia masih duduk di sana, seperti menunggu kakaknya.
Aditia mulai makan, dia memakan nasi yang sudah disiapkan Dita.
“Kak, semalem ada apa sih? kenapa kakak bilang gitu soal ayah?” Dita rupanya penasaran semalam, tapi menahannya karena tahu ibunya sedang sedih karena ucapan kakaknya.
“Nggak ada apa-apa, udah jangan Dipikirin, biar itu jadi urusan kakak.” Dita tahu, kalau Aditia sudah bicara begini, tidak boleh dikorek lagi, bisa-bisa kakaknya marah. Orang yang jarang marah, sekalinya marah akan sangat menakutkan, itulah Aditia.
“Kak, Dita kerja sampingan ya?” Dita kembali membuka obrolan di meja makan itu.
“Hah? kerja apa? kamu masih belum lulus kuliah juga.”
“itu, jadi pelayan di kafe.”
“Enggak! Enak aja, kafe apa? pasti sampe malam, nggak boleh!”
“Tapi gajinya lumayan kak, bisa bantu ibu sama kakak, jadi please ya, boleh.”
“Dit, biar soal biaya hidup kita dan pendidikanmu menjadi tanggung jawab Kakak ya, Dita percaya sama Kakak, kan?”
“Dita percaya, tapi Dita nggak mau jadi beban Kakak dan ibu, Dita mau membantu.”
“Dita nggak pernah jadi beban kami, Dita itu anak kesayangan ibu dan adik kesayangan Kakak, Dita dan ibu itu hidupnya Kakak, jadi memang tugas Kakak mengiringi Dita sampai kerja sesuai impian Dita.”
“Tapi kak ….”
“Cukup! Kamu tenang aja, Kakak baru saja diterima kerja, jadi mulai sekarang tenang ya, insyaallah semua akan baik-baik saja, kalau perlu kita jual dulu angkot itu, untuk bertahan sementara waktu. Kakak akan lakukan apapun untuk kalian berdua, ngerti ya.” Aditia berkata dengan tegas, adiknya mengangguk walau dalam hati dia begitu berat melihat kakak dan ibunya banting tulang tapi dia tidak bisa ikut membantu dan melawan kakaknya tidak akan pernah dia lakukan.
__ADS_1
Ada pesan masuk, dari Alka.
[Dit, bisa ketemu?] Aditia melihat saja tapi tidak membalas, setelah makan dia mencuci piringnya dan santai di ruang televisi.
[Dit, bisa kita bicarakan dulu?] Alka masih mencoba menghubungi Aditia, tapi tidak dibalas juga, tidak berapa lama ada telepon dari Alka, Aditia kembali tidak menjawabnya, dia membiarkan saja.
…
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi, Aditia sudah siap berangkat kerja. Sementara waktu dia akan naik ojek online saja dulu, karena bawa angkot tidak mungkin, takut tidak ada parkiran dan terlihat aneh, masa sendirian mesti bawa angkot segala.
Ibu dan Dita juga sudah bersiap untuk pergi, Dita kuliah, ibu bekerja. Biasa, pesanan catering sedang banyak.
Ojek online sudah datang, Aditia lalu pergi ke kantor, saat sudah sampai, dia membayar dan berencana masuk.
“Pak.” Aditia menyapa security yang sedang minum kopi.
“Loh, mau kemana?” Security bertanya.
“Mau masuk Pak, mau tanda tangan kontrak, ini hari pertama saya kerja.”
“Lah, kok nggak ada yang kasih tahu saya?” Security itu bingung.
“Oh gitu, trus gimana, Pak?” Aditia bertanya.
“Saya telepon dulu deh orang kantornya, bentar ya.” Security itu menjauh dan menelpon orang kantor melalui telepon genggamnya, sementara Aditia menunggu, ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang.
“Dit, udah datang? Yaudah masuk.” Ternyata staff HRD yang kemarin membantu Aditia untuk ke ruang ujian dan ruang Pak Broto.
“Tapi itu Pak Securitynya masih telepon orang kantor, katanya saya disuruh tunggu.”
“Nggak apa, masuk aja.” Lalu staff itu berjalan duluan, Aditia mengikutinya dari belakang, Aditia melihat lagi ke arah security, dia terlihat masih menelpon, tidak sadar kalau Aditia dan staff HRD itu sudah masuk, dalam hati Aditia, biarlah, nanti juga pasti dikabari kalau Aditia pegawai baru.
Saat sudah masuk lobby, Aditia langsung di suruh ikut ke atas, ke lantai HRD lagi. Wanita berwajah rusak itu masih ada, dia tetap duduk tenang menatap jendela.
“Dit, kita tanda tangan kontrak dulu ya.” Staff HRD meninggalkan Aditia di ruangan lantai dua, sepertinya ini ruang meeting yang lebih kecil dan lebih pribadi.
Tidak lama kemudian, staff HRD itu masuk lagi, dia membawa beberapa lembar kertas, lalu duduk di hadapan Aditia.
“Baiklah, ini baca ya, pasal perpasal, jangan dilewatkan, karena akan ada hak dan kewajiban yang harus kamu pahami.
“Baik, Bu.”
Lalu Aditia membaca dokumen kontrak kerja sebagai pegawai yang berstatus masa percobaan. Setelah sudah cukup paham, Aditia menandatanganinya, lalu dia hendak memberikan kontrak kerja itu, tapi ….
“Loh, kemana staff HRD itu, kok tidak ada, padahal dari tadi Aditia masih merasa staff HRD itu ada di depannya.
“Bu … Bu ….” Aditia memanggil, tidak ada jawaban.
Lalu setelah menunggu sepuluh menit, Aditia memutuskan untuk keluar dari ruangan mencari staff HRD itu, kenapa dia ditinggalkan sendirian, kapan keluarnya?
Aditia keluar dan mellihat ke kiri, ke kanan. Sepi, tidak ada orang, dia lalu berjalan ke ke arah lift dimana ruang ujian itu akan di lewati juga, siapa tahu staff HRD itu ada di ruang ujian, mungkin sedang menyiapkan tempat untuk para calon pegawai seperti kemarin.
Aditia berjalan dan saat sudah sampai di depan ruang ujian, dia melihat ke dalam.
[Loh kok, me-mereka lagi?] tanya Aditia dalam hati. Di ruang ujian sudah penuh lagi, sama seperti kemarin, tentu itu tidak akan aneh, kalau saja orangnya tidak sama persis seperti orang-orang yang kemarin. Susunan bangku, orang-orang yang duduk, persis seperti kemarin, mereka sibuk mengerjakan ujian itu, persis seperti Aditia tinggalkan kemarin setelah bertemu Pak Broto, saat Aditia mengintip, tiba-tiba, orang-orang yang sedang mengisi ujian itu berhenti menulis dan menatap ke depan, entah apa yang mereka lihat, tapi tatapannya kosong.
Ruangan ujian kembali menjadi kotor, penuh debu, rusak, Aditia melihat lagi apa yang dia lihat kemarin, tembok-tembok di ruangan itu bahkan menghitam.
“Dit,” staff HRD itu kembali menegur Aditia. Lalu semua kembali normal dalam penglihatan Aditia.
“Bu, tadi saya cari ibu, saya sudah selesai membaca dan tanda tangan.”
“Yasudah, ikut saya.” Staff HRD itu lalu membimbing Aditia untuk ikut ke lantai 5, di sanalah Aditia akan mulai bekerja, seperti biasa, lantai itu penuh orang yang bekerja, semua sibuk dengan pekerjaannya.
Staff HRD memperkenalkan Aditia satu persatu dengan pegawai, semua orang terlihat ramah, Aditia duduk di salah satu meja yang bersekat dengan meja sebelahnya.
“Ini mejamu, pelajari dulu company profile ya, setelah itu, akan diberikan pekerjaan lanjutan, di sana pantry, kalau mau makan bisa ke sana, jangan di meja, baca juga peraturan perusahaan di buku kecil itu, biar kamu tahu peraturan perusahaan ya.”
__ADS_1
Setelah menjelaskan dengan singkat staff HRD itu lalu pergi ke ruangannya, ruangan dia ternyata ada di lantai ini, tapi berbeda, semua orang bekerja dengan meja bersekat, tapi staff HRD itu bekerja di ruangan sendiri.
Aditia mulai membaca dua buku yang di kasih, company profile dan peraturan perusahaan, cukup tebal tapi Aditia tidak masalah.