
“Kita akan ke mana Pak?” Aditia bertanya pada kakaknya Malik, seseorang yang sudah kembali fokus pada AKJ, Akademi Kharisma Jagat. Mereka semua masih di dalam mobil van yang luas dan mewah itu.
“Kita akan ke zona netral, kita akan ke sana untuk membersihkan diri kalian sebelum kembali ke kota kita, Ayi dan Malik titip salam untuk kalian.”
“Pak Hanif, terima kasih sudah datang ke sini secara pribadi, ini pasti merepotkan.”
“Ayi sebenarnya ingin ke sini sendiri, dia ingin memberi selamat pada kalian secara langsung, tapi kami semua melarang, Ayi masih dalam keadaan yang sangat lemah karena kehamilan anak kedua dan serangan masih saja sering terjadi pada AKJ, kami hanya ingin Ayi melahirkan dengan aman dan pulih dulu baru bisa mulai melakukan rencana serangan balik.”
“Apakah antek mereka masih saja terus menyerang Ayi?” Alka bertanya.
“Tidak pernah berhenti, mereka akan selalu mencari celah untuk menjatuhkan Ayi Mahogra. Karena begitu Ayi lengah, mereka bisa langsung menyerang, makanya aku yang datang ke sini.”
Mereka sudah sampai di zona netral, di mana energi kawanan harus dikembalikan lagi seperti semula, energi yang disematkan pada mereka dari air suci di Bali dan ritual yang dilakukan Balian harus dibersihkan di zona netral ini sebelum kalian pulang ke kota kita.
Mereka menyebrang laut dengan speed boat besar, walau pulau itu bisa ditempuh dengan jalur darat, tapi mereka memilih menggunakan speed boat, karena jalur yang hendak mereka tempuh, adalah jalur ghaib di pulau dengan kawasan elit itu, zona netralnya tersembunyi dengan pagar ghaib gabungan kekuatan antara Balian dan Kharisma Jagat, ini adalah tempat di mana para Kharisma Jagat bisa berlibur ke Bali, hanya di pulau ini saja mereka bisa datang, selebihnya, tidak bisa.
Maka itu menjadi alasan kawanan harus berada di sini, selain untuk membersihkan diri dari ritual Bali, mereka juga harus beristirahat.
“Aku belum pernah ke sini, aku tidak tahu kalau ada tempat semewah ini, tersembunyi dengan pagar ghaib.” Ganding berkata, maklum, sekalinya mereka ke luar kota, pasti selalu tentang kasus. Tidak sempat berlibur.
“Kalian istirahatlah dulu, mandi dan makan, malam nanti kita akan mulai pembersihan diri dengan cara Kharisma Jagat. Walau kalian bukan Kharisma Jagat, tapi kalian adalah orang-orang yang sudah memiliki energi seperti kami, Pak Mulyana melatih kalian dengan sangat baik.
Lalu soal kau … Rangda di dalam tubuhmu sepertinya juga sedang tertidur, mungkin dia lelah karena bertarung habis-habisan. Kau tidak harus melakukan pembersihan, karena mungkin Rangdamu akan tidak nyaman dengan pembersihkan kami.
Apakah kau benar ingin memelihara khodam ini?” Pak Hanif bertanya.
“Aku ingin dia bersamaku, Pak, apakah tidak masalah?” Alisha yang sepanjang jalan diceritakan mengenai asal usul Pak Hanif sekarang sudah mengenalnya.
“Tidak masalah, asal kau yang dominan, karena Rangda tidak boleh menguasaimu, sekali dia menguasaimu, maka kau akan dikendalikan olehnya, makanya kau harus terus berlatih agar mampu mengendalikannya, apalagi begitu sampai kota kita, Rangda mungkin akan sering sekali mencari masalah dengan para penghuni kota kita, kau tahu lah, tempat asing perlu adaptasi.”
“Baik Pak, aku akan terus berlatih.” Alisha menyanggupi.
“Bagaimana dengan pertarungan kali ini? Apakah kalian merasa ini sangat berat?”
“Memang ada Pak, kasus kami yang mudah?” Aditia menyindir.
“Ya, aku tahu, bahwa kasus kita memang tidak pernah mudah, tapi banyak pelajaran yang membuat kita naik kelas bukan?”
“Pak, aku penasaran, apakah Ayi saat menyuruhku untuk pergi ke sini, Ayi sudah tahu tentang Sak Gede dan Dewi iblis itu?” Aditia bertanya.
“Tidak, Ayi tidak tahu, tapi dia curiga, bahwa ada yang lain selain Sak Gede, karena Ayi mengalami mimpi yang sama seperti mimpimu. Apakah kau bermimpi tentang seorang Penari wanita yang seorang ibu juga?”
“Ya, ibunya Anggih, jadi Ayi bermimpi tentang ibunya Anggih juga? Lalu kenapa Ayi tidak cerita?”
“Karena dia tidak tahu Dit, kalau dia tahu apa ceritanya, dia akan memberitahu, makanya kau disuruh datang ke sini untuk mencari tahu, jadi … bisa kalian ceritakan apa yang terjadi?” Pak Hanif bertanya.
“Pak, tadi katanya suruh mandi dan makan lalu istirahat sebelum kita melakukan pembersihan, kenapa sekarang disuruh cerita?”
__ADS_1
Jarni mengingatkan, karena dia sudah kelelahan dan melihat Alka juga sudah sangat lemah, mereka butuh istirahat.
“Oh ya, maaf. Aku sangat penasaran, maka sekarang kalian ke kamar masing-masing ya, ada banyak kamar yang sudah disiapkan di sini, aku akan mempersiapkan semua kebutuhan kalian.
Kawanan setuju dan mereka diantar ke kamar masing-masing oleh para asisten rumah tangga, ada baju bersih dan juga peralatan mandi yang sudah disiapkan, kawanan bersiap untuk berendam di bathtub yang ada di masing-masing kamar.
Mereka benar-benar butuh berendam air hangat.
Sementara kawanan sudah di kamar, Pak Hanif menelpon seseorang.
[Bagaimana keadaan mereka, Pak?] Suara seorang wanita terdengar.
[Mereka lemah, tapi baik-baik saja.]
[Beruntung Dewi Iblis itu hanya berhadapan dengan kecerdasan Aditia dan kawanan, karena kalau sampai Aditia dan kawanan benar-benar disekap dan diambil energinya, mereka kan berperang denganku.]
[Ayi, apa mereka benar-benar tidak tahu kalau selama ini kita memata-matai mereka?]
[Tidak, mereka tidak tahu, kita harus tetap memantau mereka, karena aku takut kita akan kehilangan orang-orang terbaikku kalau sampai membiarkan mereka bertarung tanpa pengawasan.]
[Tapi Ayi, sepertinya mereka lebih tangguh dari perkiraan kita, karena mereka bisa mengalahkan Dewi itu sendirian, tanpa bantuan kita. Tidakkah seharusnya kita memanggil mereka ke AKJ untuk membantu pertarungan kita?]
[Belum, belum saatnya, mereka harus banyak berlatih, karena kasus ini cukup lama mereka selesaikan, sedang kau tahu, kita selalu bermain dengan waktu, akan bahaya kalau sampai mereka ikut pertarungan kita, tapi masih gegabah dan tidak saling percaya.]
[Aku kagum pada mereka Ayi, mereka benar-benar solid dan pantang menyerah.]
[Jadi, setelah ini mereka akan tetap dilepas untuk menyelesaikan kasus lagi?]
[Ya, masih ada kasus yang belum diselesaikan Pak Mulyana.]
[Sampai kapan mereka akan dilepas, Ayi?]
[Sampai Aditia dan Alka menikah, setelah itu mereka harus datang tinggal di AKJ, karena setelah mereka menikah, tidak akan ada tempat yang aman untuk mereka berdua, pasti mereka diburu. Ini kenapa dulu Pak Mulyana melarang keras mereka menikah, karena AKJ belum ada, Pak Mulyana takut kalau sampai Aditia dan Alka celaka.]
[Baiklah, Ayi. Aku akan menjamu mereka dulu, karena mereka sudah sangat bekerja keras di sini, Bali adalah tempat indah untuk berlibur, aku akan menemani liburan mereka.]
[Jaga mereka untukku ya, terima kasih Pak, kau kakak dan adik ipar sekaligus orang terbaikku.] Ayi lalu menutup teleponnya.
…
“Bagaimana apakah kalian sudah segar?” Pak Hanif bertanya.
“Ya, tentu saja, kami sudah istirahat dan makan.” Aditia mewakili kawanan untuk menjawab.
“Kita akan adakan pembersihkan malam ini, kalian tahu kan caranya?”
“Kau pikir kami anak kemarin sore.”
__ADS_1
“Tapi kalian memang masih terlihat seperti anak kecil bagiku.”
“Pak!” Semua orang tak terima dibilang anak kecil.
“Memang anak kecil kan?” Pak Hanif lalu berdiri dan bersiap halaman tempat penginapan mereka.
Ada tikar yang di gelar cukup besar di sana, kawanan lalu duduk bersila dan melingkar, kecuali Alisha, dia kembali hanya sibuk mendokumentasikan mereka. Dia mendadak jadi fotografer yang handal sejak di Bali.
“Baiklah, aku akan ucapkan mantranya, akan sedikit sakit karena energi para Balian akan terlepas, tapi setelahnya kalian akan merasa ringan.
Maka, kalian harus bersiap.”
“Pak, nggak usah dijelasin!” Hartino kesal, karena Pak Hanif terlalu tekstual.
“Dasar anak muda, tak sabaran.” Pak Hanif memulai ritual, dia membaca mantra dengan bersila, tak pakai air, tak pakai alat, mereka hanya menggunakan mantra, mantra Kharisma Jagat memang terkenal sangat galak dan tajam.
Pak Hanif memulai, Aditia dan kawanan konsentrasi, ternyata seperti yang Pak Hanif katakan, lumayan sakit, mereka semua berkeringat, tak mau berteriak karena malu tadi sudah sok kuat di depan Pak Hanif.
Setelah dua jam menahan sakit, mereka selesai, Pak Hanif membuka mata, karena dia menutup mata selama mantra dilafalkan, dia terkejut, karena kawanan sudah tumbang semua.
“Katanya kuat, baru begitu udah keringatan, pada pingsan nih?” Pak Hanif mengejek.
“Siapa yang pingsan? Orang kita capek nungguin Bapak selesai baca mantra, makanya kita tiduran.” Aditia berusaha menyelamatkan muka kawanan.
“Iya, kita tuh cuma pegel aja, duduk bersila gini.” Ganding ikut membela kawanan.
“Pegel sih keringatan begitu, muka juga kayak udang rebus, merah semua. Mau lanjut lagi nih pembersihannya?”
“Kan udah selesai!” kawanan kompak berkata.
“Katanya masih kuat ….” Pak Hanif tertawa.
“Iya deh iya, kami udah nggak kuat,” Aditia mengaku.
“Yasudah, sekarang kita akan bakar api ungun di sini, kalian hutang cerita padaku. Oh ya, satu lagi, kata Ayi, kalian boleh berlibur selama seminggu di sini, tapi hanya di pulau ini ya, tidak boleh keluar. Kalian tahulah, bahayanya.
Lalu setelah satu minggu, kita semua akan dijempur oleh private jet milik keluarga Pram untuk pulang. Kalian keberatan?”
“NGGAK! HOREEEE LIBURAN!” Kawanan senang karena akhirnya bisa menikmati waktu yang tenang.
Pak Hanif melihat itu tersenyum, betapa beratnya kasus ini bagi mereka.
_____________________________________
Catatan Penulis :
Kemarin ada yang komentar benar ya soal siapa lelaki yang menjemput? Hebat Euy.
__ADS_1