
Mulyana langsung memburu Darhayusamang, jelaslah yang dikatakan oleh Ibu Ratu, bahwa kemungkinan Mulyana akan menghadapi Darhayusamang itu besar, makanya dia dibekali tongkat pusaka.
Begitu tiba di hutan, Mulyana berlari ke setiap penjuru hutan, memang hutan luas, dia tidak bisa merasakan energi Darhayusamang, tapi, bisa dipastikan, kalau dia bisa merasakan energi bayi itu.
Mereka tidak masuk ke gua, karena bayi itu menolak dimensinya, makanya Mulyana bisa merasakan keberadaan bayi itu di dimensi biasa ini.
Mulyana terus mengikuti intuisinya saat merasakan energi hitam dari bayi itu, sampai dia menemukan jalan buntu, jurang, tapi kenapa energi itu terasa sekali bagi Mulyana.
“Muncul kau Darhayusamang, kau pikir bisa bersembunyi? aku tahu kau ada di sana.” Mulyana berteriak ke arah depannya, padahal di depannya hanya angin dan merupakan bibir jurang.
Tidak lama kemudian Mulyana melihat Darhayusamang mengambang diatas jurang menggendong bayinya.
“Untuk apa kharisma Jagat ikut campur urusanku?” Darhayusamang masih mengambang.
“Kau tahu, bahwa apa yang kau lakukan itu melanggar hukum dua dunia, berdasarkan perjanjian manusia dan jin, jelas tertera bahwa Ibu Ratu adalah ibu dari hukum tersebut dan dia berhak menghukummu, kau telah melanggar peraturan itu hingga kitab perjanjian timbul ke permukaan karena mengetahui apa yang kau lakukan.
Serahkan anak itu, atau kau bisa menjadi musuh semua kalangan, baik jin maupun Kharisma Jagat akan memburumu. Selagi aku yang meminta, kau akan baik-baik saja, tapi sekarang serahkan anak itu dulu.”
“Tidak! ini adalah anak dengan semua sifat buruk, tidak akan aku biarkan dia hidup, aku sudah menemukan car untuk membunuhnya.”
“Kau akan menghancurkan tatanan yang harmonis di dunia ini, kau tahu bahwa itu bisa membuat kalangan jin lagi-lagi di hukum, kau tidak bijak padahal umurmu sudah sangat tua, kemarikan anak itu segera!” Mulyana memperingatkan lagi, tapi sepertinya Darhayusamang tidak berniat memberikan bayi itu, makanya Mulyana dengan gerakan tak terlihat mengeluarkan tongkat pusaka milik Ibu Ratu, dalam hitungan detik dia menyabet tongkat yang ujungnya lancip serta panjang itu, saking panjangnya, Darhayusamang bisa kena sabetan itu.
Darhayusamang menjadi tidak bisa mengendalikan tubuhnya, anak itu jatuh di jurang, Mulyana tidak bisa menangkanya, karena itu jurang.
Dia memilih terus menyerang Darhayusamang, sementara khodamnya dia lepas untukk menangkap bayi itu dan melakukan ritual penangkalan kutukan pada jiwa bayi itu.
Sementara Mulyana menghadapi Darhayusamang agar tidak bsia lari, tongkat pusaka Ibu Ratu membuat tidak mampu ditangani oleh Darhayusamang.
Beberapa sabetan mengenai Darhayusamang, dia lalu mendekati Mulyana dengan susah payah, melemparkan bola api pada tubuh Mulyana, bola api itu menuju wajahnya, sehingga pandangan dia kabur dan sulit melihat Darhayusamang, saat berhasil mengelak, Darhayusamang sudah dihadapannya dan memukul dada Mulyana, Mulyana terhempas ke belakang, Darhayusamang memang hebat dalam serangan dekat.
Mulyana jatuh, dia kurang kuat karena Khodamnya sedang berada di bawah menangkap bayi itu sehingga kekuatannya hanya setengah saja dan yang dihadapi adalah Darhayusamang, jin dengan ilmu yang tinggi.
Mulyana berusaha bangkit lagi dan mengejar Darhayusamang lagi, walau tidak terlihat, Mulyana bisa memperkirakan pergerakan dari angin yang terasa.
Mulyana terus mengejarnya, sementara Darhayusamang masih terus lari, hingga tiba di suatu persimpangan, Mulyana melihat dia, akhirnya disabetkan lagi tongkatnya, Darhayusamang kaget, karena memang energi Kharisma Jagat tidak mudah dideteksi, makanya Darhayusamang kaget.
Mereka akhirnya mulai duel yang sesungguhnya, Darhayusamang bersiap, dia menyerang Mulyana tanpa henti, baik serangan fisik maupun serangan tenaga dalam.
Mulyana kewalahan, saat ini dia hanya bisa terus saja menangkis karena tidak mudah melawan jin ini.
Sebagai bantuan dia mengeluarkan keris mininya yang diikatkan ujung tongkat pusaka Ibu Ratu, sehingga kalau kena, Darhayusamang akan merasakan dua kali efek serangan, setelah dengan cepat mengikat keris mininya, Mulyana menyabet lagi sembari masih terus menangkis serangan Darhayusamang.
Tubuh Mulyana mulai menggigil karena Darhayusamang membuat suasana tipuan, di hutan ini menjadi sangat teramat dingin, dia kali ini membuat gendam bagi musuhnya yang juga memiliki ilmu tinggi.
Mulyana terus menyerang dengan tongkat pusaka dan keris mini, tapi tidak berhasil mengenainya, tubuhnya semakin lemah karena dingin itu, ditambah dia merasa mulai halusinasi karena ada suara-suara yang memanggilnya, suara-suara orang yang dia sayang, itu membuat fokusnya berantakan, menahan dingin, serangan yang gagal terus dan gangguan dari halusinasinya.
Serangan membabi buta dari Darhayusamang yang terakhir membuat Mulyana tumbang, dia jatuh seketika, dingin itu semakin menusuk kulitnya, luka-luka sayatan dari serangan Darhayusamang semakin terasa perih, Mulyana mulai kehilangan kesadaran, tapi di detik di mana dia pikir akan pingsan tiba-tiba dia merasakan hawa hangat menyeruak dari dalam tubuhnya, ternyata khodamnya kembali.
“Bagaimana bayi itu?” tanya Mulyana.
“Aku sudah menyelesaikan ritualnya, dia sudah kesembunyikan di semak-semak, aku tahu kau mengirim sinyal bahaya, makanya aku buru-buru ke sini.” Khodamnya berbicara dalam pikiran Mulyana.
“Kau yakin?”
“Yakin.” jawabnya.
Lalu Mulyana mulai mengumpulkan kekuatan lagi untuk menghadapi Darhayusamang, kali ini tentu dengan kekuatan penuh.
Mulyana menyerang dengan tenaga dalamnya hal yang sulit dia lakukan karena khodamnya belum ada tadi.
Darhayusamang kaget karena dia tidak menyangka Mulyana masih bangun dan makin kuat untuk melawan.
Pergumulan itu terus terjadi hingga beberapa jam, Mulyana dan Darhayusamang kelelahan hingga tidak mampu menyerang lagi, Darhayusamang menggunakan kesempatan itu untuk kabur ke dimensi yang berbeda, Mulyana tentu tidak dapat mengejarnya karena dia itu adalah territorial milik Darhayusamang.
“Kabur!” Mulyana istirahat sebentar, lalu dia teringat bahwa bayi itu itu harus segera dibawa pulang, dia segera kembali ke semak-semak berdasarkan petunjuk khodamnya.
“Dimana?” Mulyana bertanya pada khodam yang ada di dalam dirinya.
“Iya, di sana.”
Hilang, bayi itu hilang, tidak ada bayinya di sana.
“Apa dia diambil oleh Darhayusamang?” Mulyana bertanya pada khodamnya.
“Tidak mungkin karena aku sudah membuat pagar ghaib, Darhayusamang tidak bisa menembusnya.”
“Pagar ghaib? berarti manusia bisa saja tembus pagar itu kan?” Mulyana bertanya lagi.
__ADS_1
"Ya kalau manusia bisa ambil, kan pagernya buat jin, bukan manusia, mana ada waktu bikin pager buat manusia, kelamaan."
"Ah, bagaimana ini!"
"Tidak tahu!"
Dalam titik ini Jika ada yang melihat Mulyana pasti disangka orang gila, karena bicara sendiri.
"Kita harus apa?"
"Tidak tahu, Mul!" Khodamnya kesal, dia padahal sudah berusaha menjaga, lupa kalau manusia bisa melihat mendengar dan melewati pagar itu.
Mulyana akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Meutia mengabarkan bayinya hilang.
“Bayimu hilang, tapi tenang, dia tidak bersama ayahnya, karena ayahnya mungkin tidak akan mendekatinya, bayi itu sudah disegel kutukannya, jadi dia juga tidak akan mencelakai orang lagi.
Meutia mengangguk saja, Hanya itu tanggapan Meutia, dia tidak benar-benar perduli, karena yang dia perdulikan hanya manfaat dari anak itu.
Sementara Meutia masih sedih saat harus memakamkan ayahnya, dia dibantu Mulyana dan Dirga untuk proses pemakaman ayahnya itu, Bidan Erni juga bersama dia, walau hubungan dia dengan ayahnya tidak dibuka sama sekali, karena dia takut kalau sampai Meutia tahu, Meutia akan merasa ditipu, sementara saat ini ladang uangnya hanya Meutia.
“Kalau begitu saya pamit, pemakaman ayahmu sudah selesai, saya dan Dirga hanya bantu sampai sini, tapi kalau sekiranya kau mendengar kabar tentang anakmu lagi, aku mohon kirim surat padaku, aku ingin melihat anak itu.”
“Ya, aku akan kirim surat jika anak itu ketemu, tapi apakah aku boleh mengirim surat untuk keperluan lain?”
“Misalnya?” Mulyana bingung.
“Ya, missal jika aku rindu padamu.” Meutia ternyata mulai melancarkan rayuannya kembali, dia suka pada Mulyana yang tampan dan berwibawa, ditambah ilmunya juga mungkin lebih tinggi dari Darhayusamang, sehingga bisa melindungi Meutia kelak, tapi sayang, Mulyana bukan lelaki mata keranjang seperti semua lelaki yang melamarnya.
“Kalau itu, mohon maaf, tidak perlu, karena saya pikir hubungan kita hanya sebatas anak itu saja, saya membantumu juga agar manusia dan jin bisa selaras lagi, tidak ada maksud lain, kalau begitu saya permisi.”
Meutia kaget karena ini pertama kalinya dia ditolak mentah-mentah tanpa basa-basi, dia lalu pergi ke kamar, sementara Bidan Erni mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk tahlilan kematian ayahnya Meutia.
Saat sedang mempersiapkan itu, tiba-tiba keluarga Haris datang, ibunya terlihat sangat khawatir, dia menanyakan Meutia.
“Meutia sedang istirahat, kami baru saja selesai memakamkan ayahnya dan juga anaknya, jadi saya mohon, jangan mengganggu dia dulu.” Bidan Erni bersikap seperti pelindungnya.
“Kau! kau bukankah, kau itu Dokter yang memeriksa Meutia dulu!” Ibunya Haris bingung dan kaget kenapa Bidan yang menyamar menjadi Dokter itu ada di sana.
“Ya, aku Dokternya, aku dimintai tolong oleh ayahna Meutia untuk menjaganya, aku yang membantu proses Meutia melahirkan hingga menguburkan mayatnya, jadi aku mohon, kalian pergi dulu, apa kalian mau membuat Meutia menderita lagi?”
“Kau jangan-jangan sekongkol dengan Meutia dan ayahnya dulu, jangan-jangan kehamilan itu bohong!” Ibunya Haris terlihat murka.
“Karena apa cucuku meningal?!”
“Tadi Ibu meragukan kehamilan Meutia, lalu kenapa sekarang kau malah penasaran dengan kematian bayi itu?”
“Ada apa ini?” Meutia keluar dari kamar karena mendengar suara ribut dari dalam kamarnya.
“Meutia kesini kau! kenapa cucuku bisa meninggal! trus kenapa Dokter ini ada di sini? apa kalian bersekongkol untuk menipu dan memeras uang kami?” Ibu itu marah besar dan tidak perduli Meutia masih dalam keadaan berduka karena ayahnya meninggal.
“Kau ini tidak ada sopan santun sama sekali, pantas anakmu kabur entah kemana dan cucumu akhirnya mati, mungkin menanggung dosamu.” Meutia tidak sadar diri mengatakan itu.
“Hei kau menantu kurang ajar!”
“Aku bukan menantumu! jadi jangan kau berteriak padaku, kalau kau masih membuat keributan di rumahku, jangan salahkan kalau aku panggil Pak RT dan warga untuk mengusirmu lagi!” Meutia mengancam.
“Aku hanya ingin tahu kenapa cucuku meninggal, kenapa kau tidak mengabari kami saat akan melahirkan, kenapa kami tahu justru dari tetangga.” Ibunya Harus berkata dengan lebih lembut, dia hanya menuntut penjelasan.
“Namanya kematian itu takdir Bu, bayi itu meninggal karena Meutia kaget ayahnya meninggal dia syok hingga akhirnya tidak bisa melahirkan dengan lancer, tidak mampu mengejan dan akhirnya bayi itu terjepit saat proses dikeluarkan.” Bidan itu mengarang, Bidan itu sudah bicarakan dengan Meutia bahwa bayi itu akan dibuat meninggal saja daripada dikatakan hilang, karena bisa jadi menimbulkan kecurigaan bagi warga, masa suaminya Haris hilang, lalu bayinya ikut hilang, nanti Meutia bisa dicurigai sebagai pembunuh, makanya Bidan itu akhirnya sepakat dengan Meutia untuk mengatakan bahwa bayinya meninggal dan membuat kuburan bayi palsu.
Bidan itu benar, bahwa kemungkinan keluarga Haris menuntut penjelasan.
“Kasihan cucuku, ayahnya hilang, lalu dia meninggal.”
“Kau tidak kasihan pada Meutia, suaminya hilang, ayahnya meninggal dan anaknya juga, dimana hati nurani kalian?” Bidan itu masih saja membela mantan calon anak tirinya itu.
“Meutia, maaf karena kami seperti ini, kami benar-benar sedih, kami pamit pulang dulu ya, maaf kami tidak bisa ke pemakaman ayahmu tadi.” Ayahnya Haris akhirnya buka suara, dia hanya meminta maaf, Meutia tidak menjawabnya dan langsung saja masuk kamar.
Keluarga Haris pulang tanpa mendapatkan jawaban dengan benar, tapi lebih baik seperti ini, mereka menganggap cucu mereka mati, karena sebenarnya anak itu bukan cucunya, bukan anak Haris.
“Kau istirahat saja, biar semua aku aturkan, ayahmu sudah menitipkanku padamu, aku akan membantu dan mendampingimu.”
“Terima kasih Bidan Erni, kalau tidak ada kau, aku tidak tahu harus apa sekarang, kau buka lemari itu saja, di laci nomor tiga ada uang yang bisa kau gunakan untuk semua keperluan tahlilan dan lainnya, aku benar-benar ingin istirahat.” Meutia lalu mulai berusaha tidur, karena dia lelah, setelah melahirkan dan menguburkan ayahnya.
Bidan Erni tersenyum, Meutia percaya padanya, itu langkah yang bagus.
Sementara Mulyana dan Dirga naik angkot untuk pulang.
__ADS_1
“Lu nolak tuh cewek kasar banget Yan.” Dirga berkata.
“Ya iyalah, orang cewek nggak bener gitu, mau nikah sama jin, punya anak jin, bikin rusuh aja.”
“Iya ya, serem juga tuh cewek.”
“Kenapa? lu mau ama dia?” Mulyana meledek.
“Ogah, cantik banget, tapi bermasalah gitu, kalau gue nggak tau masalah ini dari elu sih, gue bakal suka ama dia, soalnya cantik banget.”
“Biasa aja ah mukanya.”
“Elu mah emang suka banget ama perempuan lain, jadi wajah, perempuan selain dia, elu nggak suka.”
“Bukan gitu, dia itu keliatan cantik banget karena anak itu plus dia itu istrinya jin, jadi auranya terbuka. Jadi, bukan beneran cantik, manusia banyak ketipu nih sama yang beginian.”
“Ih, amit-amit Yan, untung gue punya elu, jadi tahu cewek yang beneran cantik apa make gituan.”
“Ya, beruntung kan lu.” Mulyana membalas perkataan Dirga sebelumnya.
...
Dirga dan Mulyana bermaksud untuk ke markas ghaib Mulyana, membantu Mulyana lepas raga lagi, karena dia akan menemui Ibu Ratu, menanyakan keberadaan anak bayi itu, dia berharap Ibu Ratu tahu dimana anak itu.
“Jadi begitu Ibu Ratu, khodamku terpaksa meninggalkan anak itu karena dia menangkap sinyal bahaya dari tubuhku, makanya dia meninggalkan anak itu dengan pagar ghaib.” Mulyana menceritakan semua yang terjadi pada Ibu Ratu setelah sampai.
“Tenang saya Mulyana, anak itu sudah ditemukan oleh salah satu warga desa sebelah, kau tidak perlu mencarinya, kau akan menemukannya nanti, karena sekarang tugas lainmu masih banyak bukan?” Ibu Ratu berkata.
“Tapi Ibu Ratu, apakah akan baik-baik saja, jika dia dirawat oleh orang biasa?” Mulyana khawatir.
“Kau ragu dengan penyegelanku? dengan mantra penangkal itu?”
“Bukan begitu Ibu Ratu, aku hanya takut akan ada yang celaka.”
“Kalau masalah celaka, hidup dan mati bukan urusan kita, tapi aku bisa menjamin, mantra itu berlaku selama lima tahun, selama lima tahun, mantra penangkal itu akan menjadi mantra pembalik baginya, tapi setelah lima tahun, itu tergantung dia, kalau dia berubah menjadi jahat lagi, artinya energi hitam itu masih ada, jadi dia harus segera kau latih untuk mengendalikan energi jahatnya, tapi aku tidak bisa mencegah yang terjadi setelah lima tahun itu, aku hanya tahu keberadaannya, tapi tidak bisa ikut campur lebih lagi, karena sekali kita bergerak, Darhayusamang akan mengetahui juga keberadaannya, jadi, kita harus menunggu selama lima tahun.” Ibu Ratu menjelaskan.
“Baiklah Ibu Ratu, aku pamit karena masih ada jiwa yang harus aku antarkan.”
“Mulyana sebentar, ada satu hal yang harus kau ketahui tapi kau harus tetap diam.”
“Apa itu Ibu Ratu?”
“Beberapa mata-mataku mengatakan bahwa Mudha Praya semakin gencar untuk memburu para Kharisma Jagat yang tidak menikah secara adat, hati-hati, aku tahu kau itu pembangkang dari kumpulan tetua itu, tapi kau juga harus sadar diri, kau itu terlalu lemah jika harus menghadapi mereka sendirian, jadi pikirkan baik-baik jika ingin menikah dengan yang bukan jodoh adatmu.”
“Iya Ibu Ratu, terima kasih karena sudah khawatir, aku bukannya anti menikah dengan cara perjodohan adat, apabila ada wanita yang seorang Kharisma Jagat juga yang aku cintai, aku tentu akan menikahinya, tapi masalahnya, aku tidak menemukan satupun, aku mencintai orang biasa.”
“Maka itu, kau harus hati-hati, kau tahu bukan, bahwa Kharisma Jagat yang menikah dengan orang biasa, pernikahannya tidak langgeng dan anak-anak mereka tidak bisa hidup dengan baik, ada yang meninggal di kandungan, ada yang meninggal setelah lahir, pokoknya tidak ada yang bisa hidup lama jika Kharisma Jagat masih menikah dengan orang biasa.”
“Ya Ibu Ratu, aku akan pikirkan nasihatmu ini dengan hati-hati.”
“Mulyana, aku hanya khawatir, ini akan mempengaruhimu dalam melaksanakan tugas, kau pemuda yang paling aku andalkan, kau itu jujur dan tulus, sulit menemukan pemuda sepertimu.”
Setelah obrolan mereka benar-benar selesai, Mulyana pamit dan kembali ke tubuhnya, dia sedikit muram karena omongan Ibu Ratu itu, tapi hatinya tidak dapat bohong, kalau dia mencintai wanita itu, dia tidak berani mendekatinya karena takut tentang mitos-mitos itu, banyak yang menikahi wanita biasa, tapi selalu berakhir dengan tragedi, makanya Mulyana masih ragu untuk mendekati wanita itu.
_______________________________
Catatan Penulis :
Kemarin ada yang tanya ya, di titik ini Ayi Mahogra umur berapa, lagi apa?
Ayi Mahogra melum lahir Bun, karena Ayi lahir mendekati akhir tahun 1988, sedang Saba Alkamah lahir di tahun 1983. Ya, tuaan Saba Alkamah daripada Ayi, tapi dia tetap menghormati Ayi karena jelas Saba Alkamah memiliki tinggat terendah di dunia perghaiban, walau ilmunya sangat tinggi.
Trus kenapa sih aku certain Saba Alkamah begitu gelap dan kelam, karena aku pengen kalian tahu, kenapa para Jin membenci dia dan mengatakan bahwa dia si anak haram dan buruk rupa, karena memang Saba Alkamah, terlahir dari situasi yang sangat buruk, makanya dia menjadi begitu hitam dan kelam.
Aku ingin kalian ingat ketika Saba Alkamah pertama kali berani menemui Aditia saat Aditia kehilangan kekuatan untuk melihat dunia lain, Saba Alkamah pernah bilang bahwa dia sangat tidak merasa rendah diri sebagai makhluk yang tidak pantas, itu semua karena dia tahu, darimana dia berasal.
Soal Lanjo, akan dijelaskan di bagian Aditia ya, karena relatenya ke sana, bukan di kisah Alka.
Penasaran ya ama Lanjo? nanti aku jelasin kok, tapi sekarang belum ya.
Kisah Alka masih lanjut, aku belum jelasin kan bagaiman khodam Mulyana membacakan mantranya dan membuat Alka akhirnya terlepas dari kutukan, aku jelasin selanjutnya ya.
Yang tanya soal Ibu Ratu, apakah dia dari laut pantai selatan? biarlah itu menjadi misteri saja ya, terserah kalian mau menganggapnya seperti apa, yang penting tetap dukung kami.
Terima kasih, selamat malam minggu.
__ADS_1