
“Hah? misi lagi!” Alka kesal, karena prinsip matematika yang dia dapatkan ini pernah dialami oleh bapak, fenomena ini sangat tidak umum, ketika dua kejadian yang harusnya saling menguatkan, malah saling melemahkan, itu pasti karena prinsip itu, lalu sekarang Alka dan kawanan harus mendapatkan jawaban tentang alasannya.
Kawanan sudah kembali ke markas ghaib dan mulai berdiskusi.
“Kak, tumben sekali kau memaparkan gagasan matematika, memang bisa kejadian ghaib disamakan dengan kejadian matematika? Aneh sekali.” Hartino yang benci matematika bertanya.
“Pikiran gila ini muncul begitu saja ketika ibunya Kemala menceritakan itu, bagaimana mungkin Rajima malah jadi lemah, hingga akhirnya keluar dari tubuh ibunya Kemala, karena pada dasarnya, tusuk konde itu adalah bagian dari kutukan yang terpisah dengan jiwa Rajima, mereka seharusnya saling menguatkan, tapi kenapa dalam kejadian Rajima, justru melemahkan Rajima hingga akhirnya dia keluar dari tubuh ibunya Kemala.
Maka prinsip minus kali minus jadi plus itu, mulai terpikir olehku. Ketika satu kutukan bersinggungan hingga menjadi kumpulan kutukan antara jiwa dan tusuk kondenya, bukan saling menguatkan malah jadi melemahkan karena prinsip ini, tapi ternyata aku salah.”
“Bukan salah Kak, tapi kurang tepat.” Ganding memperbaiki pemahaman Alka.
“Lalu yang tepat apa, Nding?” Aditia bertanya.
“Temukan dulu tusuk kondenya, baru kita takan tahu apa yang membuatnya menjadi minus yang melemahkan Rajima.”
“Di dalam sungai itu? ingat baik-baik, Rajima menyembunyikan tusuk konde itu di dalam sungai, pada bagian tanah yang paling dalam, siapa yang mau menyelam dan mencarinya?”
Aditia kesal.
“Para khodam dan aku.” Alka memberikan ide, “karena para khodam tidak perlu menahan nafas dalam air, mereka bisa masuk ke dalam air dengan leluasa, sedang aku bisa masuk dalam tubuh jin, kalian menunggu saja di permukaan.
Jika kita dapatkan tusuk kondenya, kita bahkan bisa membersihkan jembatan itu dari mitos yang bertahan begitu lama, hingga jembatan ini jarang sekali ada yang mau lewat.”
“Kak satu lagi, jadi ini alasan bahwa desa sebrang di mana Dewi Sundarwani itu tinggal, warganya tidak terpengaruh dengan kutukan di jembatan itu, walau melewatinya dengan pasangan dan tidak berpisah, pun jika anak-anak mereka menyebrang dan tidak terpengaruh dengan kutukan itu, karena Dewi memberi jaminan pada desa itu, terlepas dari kutukan karena tahu rahasianya, begitu kan, kak?” Ganding meminta penjelasan.
“Kemungkinan seperti itu Ganding.”
“Baiklah, kapan kita mulai pencarian.”
“Besok saja, ini sudah malam.” Hartino memperhatikan istrinya yang terlihat lelah.
“Baiklah.” Semua sepakat.
...
Hari ini waktunya mereka mulai untuk menyelam, para khodam dan Alka, Abah Wangsa memimpin penyelaman tanpa pakaian selam, Alka mengubah wujudnya menjadi jin.
__ADS_1
Lalu mereka terjun ke sungai bersamaan.
“Abah Wangsa sudah mengatur semua khodam untuk menyelam pada tempat yang berbeda, mereka akan menyebar.” Aditia memberitahu dan yang lain mengerti.
“Dit, kalau misalnya nggak ketemu, sebenarnya kamu bisa menikah dengan Kemala bukan? karena Rajima ingin kau jadi mempelai prianya, bukan?”
“Kau ingin kakakmu menghancurkan satu wilayah jika aku menikahinya, Nding?”
“Maksudku pernikahan kontrak, setelah malam pertama kalian bercerai saja.”
“Pernikahan mau kau permainkan, Ganding?” Hartino marah pada Ganding, Jarni bahkan melempar ularnya pada Ganding agar dia disiksa oleh ular mini Jarni.
“Dit, memang kau tidak suka padanya?”
“Siapa?”
“Kemala lah, masa Rajima.”
“Tidak!”
“Hanya karena memikirkan sebagai sesama manusia, ditambah dia adalah wanita, jadi harus dilindungi.”
“Kau benar-benar tak ingin menikahinya?” Ganding bertanya lagi.
“Ganding bisa diam kau?” Jarni kesal mendengarnya.
“Bukan Arni, kita tak boleh memaksa orang lain jika dia memang suka padanya, kita harus membantu proses penyatuan itu.”
“Itu mereka!” Aditia berteriak karena melihat Abah Wangsa dan Alka telah naik ke permukaan, takkan naik jika mereka belum dapat, karena tidak perlu mengambil nafas bukan?
Aditia berlari mendekati Alka sedang Jarni, Alisha dan Hartino tetap di tempatnya, begitu juga dengan Ganding.
Aditia mendekati Alka dan membantunya naik, saat naik, Aditia langsung meminta tusuk kondenya.
“Ganding bukan Ganding.” Dia membisiki Alka, lalu Alka paham.
Mereka bersiap, Hartino, Alisha dan Jarni langsung mengeluarkan senjata.
__ADS_1
“Keluar dari tubuh kekasihku Rajima!” Jarni berteriak, dia tahu kalau Ganding telah di rasuki, tepat setelah khodamnya keluar dari tubuh Ganding, Jarni dan yang lain menyadari setelah Ganding memaksa Aditia menikah dengan Kemala dan memanggil Jarni dengan sebutan Arni, Ganding tidak pernah memotong nama Jarni seperti itu.
“Keluar Rajima, kau tahu kan hukummnya menyerang Kharisma Jagat, kau akan menorehkan luka pada persahabatanmu dengan Ayi, Jika pilihannya aku dan kau, Ayi takkan pernah memilih yang lain selain aku, karena aku kerabat dekatnya.” Aditia mengancam, karena kalau sampai terjadi perkelahian, mereka akan kalah, dibanding Rajima, kawanan masih kalah umur, Rajima berumur ratusan tahun, maka mengancam hubungannya dengan Ayi adalah satu-satunya cara.
“Berikan tusuk konde itu padaku.” Rajima dalam tubuh Ganding berkata, tubuh lelaki dengan suara perempuan yang lembut itu.
“Keluar dari tubuh Kemala selamanya, izinkan dia menikah.”
“Tidak, Kemala harus jadi milikku, ruhnya sangat wangi, aku ingin ruhnya menjadi pasukanku. Bukankah Ayi juga memiliki pasukan?”
“Pasukan Ayi jin yang mengabdi, bukan yang dipaksa mengabdi sepertimu. Kau ingin menjadi seperti Ayi?!” Aditia menyadarinya, pantas nenek Dewi itu ketakutan dan menjadikan tusuk konde itu jaminan.
“Berikan tusuk konde itu!” Rajima ketakutan, karena itu satu-satunya kelemahan dia.
“Tentu pemahaman ini paling tepat untukmu, dekati lawanmu, kelabui dia, karena musuh yang berada di dekat kita, perlahan akan ketahuan kelemahannya, kau tidak bersahabat dengan Ayi, tapi kau hendak mengetahui kelemahannya, makanya kau menunduk padanya, dasar perempuan ******!: Alka kesal dan berteriak seperti itu.
“Kau yang ******, cinta pada lelaki ini tapi dia tidak mencintaimu, kau mengiringinya seperti budak yang dipasung, bedanya kau hanya bisa jalan saja, sedang hatimu terantai, dasar ******! Sampai kapan kau akan bertahan!” Aditia mendengar Alka dihina, langsung mengeluarkan kerisnya, dia hendak menyerang Rajima, tapi sebelum itu terjadi, tubuh Ganding jatuh ke tanah, Rajima sudah keluar dari tubuh itu.
Jarni langsung berlari ke arah Ganding dan memangkunya.
“Rajima sudah tak ada.” Jarni sudah merasakan dan merasa Ganding sudah tak dirasuki lagi. Rajima memang berbeda, dia bahkan bisa merasuki seseorang tanpa terdeteksi, seperti Aditia yang bahkan tak sadar ada Rajima dalam tubuh Kemala saat pertama kali bertemu Kemala di jembatan itu.
“Rajima tahu kita sedang mencari cara mengeluarkannya dari tubuh Kemala, kita harus hati-hati.” Alisha mengingatkan.
“Kita harus segera mengetahui di mana tusuk konde ini.”Aditia meminta semua orang kembali ke markas.
“Jadi itu alasannya kau begitu terburu-buru meminta tusuk konde itu dariku? karena kau takut Rajima merebutnya dariku?” Alka bertanya saat mereka dalam perjalanan.
“Ya, aku tahu, seingin-inginnya dia menjadi Ayi, tapi takkan gegabah menyerang kerabat Ayi paling dekat, karena berperang dengan Ayi, membuatnya akan tidak leluasa lagi.”
“Lalu, apakah Ayi tidak tahu niat Rajima hingga menjadi dekat dengannya? Haruskah kita beritahu dia soal Rajima?”
“Kau pikir Ayi anak kemarin sore, soal Alya dia tahu saja tidak langsung memberitahuku, tapi malah membuat rencana yang membuka mataku, lalu apakah niat Rajima tidak bisa dibaca oleh kakaku itu? mustahil, dia pasti menunggu Rajima melakukan pergerakan.”
“Berarti memang tidak ada bestie ya dalam dunia ini, antara dua orang wanita yang dominan.” Alisha tiba-tiba menyahut, sedang yang lain tertawa.
Soal tusuk konde itu menjadi hal yang harus mereka segera pecahkan.
__ADS_1