
Entah siapa yang akan ia serang, yang pasti kedua pasukan elit tersebut kini bergetar ketakutan.
Ji Pixiu muncul di belakang pasukan elit yang terluka lebih dulu, tanpa menunggu waktu lama, ia langsung mengayunkan pedangnya.
Crash..!!
Tubuh pasukan elit tersebut terbelah dua, setelah itu Ji Pixiu kembali menghilang.
Wuss..!!
Ji Pixiu muncul lagi, tapi ia muncul dengan tangan di penuhi oleh darah, di tangannya pun ada sebuah jantung yang kini masih berdetak.
Dug dug..
Pasukan elit yang melihat itu awalnya heran mengapa Ji Pixiu tidak menyerangnya.
Tapi saat merasakan kepalanya pusing dan dunia seolah berputar, pasukan elit tiba-tiba mengerang kesakitan saat Ji Pixiu memakan jantung tersebut.
Bruk..!!
Pasukan elit tersebut mati dengan wajah ketakutan di sertai tatapan tak percaya.
***
Di sebelah timur.
Saat ini Tu We, Ling Diu dan 1000 prajurit elit terdiam dengan mulut terbuka lebar.
Setelah ledakan beruntun akibat jebakan, mereka telah bersiap ingin menyerang musuh.
Namun setelah asap menghilang, musuh yang ingin mereka serang tidak ada yang selamat. Dan musuh mati bukan karena ledakan.
Hal yang membuat mereka bingung adalah musuh mereka saat ini mati dengan kondisi mengering, menyiskan kulit kering dan tulang saja.
Tentu saja mereka terkejut akan hal tersebut.
Tu We memandang ke arah Ling Diu, Ling Diu pun melakukan hal yang sama seolah-oleh ia ingin bertanya dan butuh penjelasan.
“I..Ini apa yang terjadi? Tidak mungkin ini hasil dari ledakan?” Ucap Ling Diu dengan tubuh merinding.
Tu We mengangguk membenarkan, ia kini langsung tersadar dari keterkejutannya.
__ADS_1
“Kau benar Diu'er, tapi aku yakin ini bukan perbuatan musuh, jika ini perbuatan musuh. Maka orang-orang kita pasti ada yang mati seperti ini juga.” Sambung Tu We.
“Ya Guru pembimbing, saat ini prajurit pembantai masih utuh tanpa ada luka. Tapi siapa yang melakukan ini semua?” Tanya Ling Diu penasaran, pandangannya mengarah ke semua prajurit pembantai.
Tapi ia tidak menemukan hal yang mencurigakan. Sehingga ia mau tak mau menghela nafas kecewa.
“Lalu apa artinya kami keluar jika tidak ikut bertarung,” gumam Ling Diu dalam hatinya.
Sementara di salah satu prajurit pembantai. Bai Tan tersenyum tipis.
“Makanan tadi lumayan enak sebagai pembuka, lalu makanan penutupnya ada di sana,” bisik Bai Tan melirik ke arah kaki gunung, ia melihat jika Jendral Hu Yan Di kini telah bergerak bersama lima penetua.
***
Di tempat Bai An, Bai Han dan Ling Yenrou.
Mereka memasang wajah serius saat merasakan pergerakan Jendral Hu Yan Di dan lima penetua dari sekte besar.
“Leluhur Ling, seperti rencana yang ku katakan tadi, kau langsung bawa yang lainnya karena aku menebak jika mereka pasti tidak akan menahan diri,” ucap Bai An dengan nada serius.
“Baiklah, tapi apakah rencana penguasa ke 4 akan berhasil? Walau aku tahu Penguasa ke 4 sangat cerdik, tapi tidak memungkinkan jika Penguasa bisa terjebak oleh mereka lalu di tangkap.” Tanya Ling Yenrou sedikit ragu-ragu.
“Terlebih lagi mereka mempunyai kartu truf yang saat ini kita masih belum ketahui,” sambung Ling Yenrou.
“Untuk masalah itu kau tidak perlu khawatir, aku mempunyai kartu truf juga,” jawab Bai An menyeringai kecil.
Ling Yenrou yang mendengar itu awalnya bingung dengan maksud Bai An yang memiliki kartu truf, tapi setelah merenunh sejenak ia langsung membelalakkan matanya.
“Eehh,, kenapa aku bisa lupa,” gumam Ling Yenrou dalam hati. Setelah bergumam Ling Yenrou mengangguk ke arah Bai An.
“Baiklah, serahkan saja mereka semua kepadaku, aku janji akan menyelamatkan semuanya,” kata Ling Yenrou dengan wajah serius dan penuh ketegasan.
Bai An langsung melambaikan tangannya santai.
”Kau tak perlu berjanji, aku hanya perlu kau melakukan apa yang aku mintai tolong saja,” kata Bai An lalu memandang ke arah Jendral Hu Yan Di yang kini mengarah ke tempatnya bersama dengan Penetua Hong, Penetua Formasi dan Penetua Darah.
Sementara Penetua Pedang dan Penetua Bisu pergi ke tempat acak untuk membunuh dan menangkap target saja.
Tanpa menunggu waktu lama, Ling Yenrou melesat ke arah Duan Du, Tu Long dan Fu Jian terlebih dahulu, tak lupa ia sengaja meninggalkan sedikit sisa auranya agar para penetua pergi mengikutinya.
Benar saja, Penetua Hong langsung merasakan aura iblis sehingga ia mengirim pesan telepati kepada Penetua Pedang.
__ADS_1
Sementara Jendral Hu Yan Di yang kini di penuhi oleh amarah karena pasukannya semua di bantai dan kini hanya menyisakan beberapa komandan saja.
Walau tahu ini mungkin jebakan, Jendral Hu Yan Di langsung menyuruh semua komandan yang tersisa untuk mengejar jejak aura iblis.
Wuss wuss..!!
Setelah itu Jendral Hu Yan Di, Penetua Hong, Penetua Formasi dan Penetua Darah kini tetap melanjutkan perjalan ke arah yang mereka yakini lokasi Bai An berada.
Tap tap..!!
Setelah sampai, dugaan Penetua Hong ternyata benar, karena di sini saja ledakan tidak terlalu parah dan mereka juga tidak merasakan ada pertarungan.
Bai An yang kini menatap ke arah Jendral Hu Yan Di mulai tersenyum tipis, tatapan Bai An lalu mengarah ke Penetua Hong, Penetua Formasi dan Penetua Darah.
Dalam sekali pandang, Bai An tahu jika Penetua Hong ahli dalam strategi, lalu Penetua Formasi ahli dalam membuat perisai maupun benda-benda berbau formasi dan terahir Penetua Darah yang kini memiliki bau badan yang haus akan darah di sertai auranya yang hitam.
Bai An yang tersenyum tipis mulai menyapa Jendral Hu Yan Di.
“Bagaimana kabarmu Jendral Hu, atau lebih tepatnya aku panggil Pengkhianat saja.”
Wajah Hu Yan Di yang di penuhi oleh amarah saat melihat Bai An kini mulai tak bisa menahan diri lagi.
“Bocah kurang ajar, aku akan menyiksa lalu membunuhmu, tidak peduli apa yang akan aku terima nantinya, tapi setelah puas menyiksa lalu membunuhku akan membuatku puas.” Teriak Jendral Hu Yan Di.
Saat ia ingin bergerak, Penetua Hong menahannya bersamaan dengan Penetua Formasi.
“Tahan dirimu,” dengus Penetua Hong dan Penetua Formasi bersamaan.
“Ini jebakan, jangan terpancing, walau ia terlihat tidak di lindungi oleh apa-apa, tapi apa kau tidak sadar jika saat ini kita tidak bisa merasakan hawa keberadaannya kecuali melihatnya secara langsung,” sambung Penetua Hong yang kini mendengus marah.
“Heng,, aku tidak peduli,” teriak Jendral Hu Yan Di langsung mengeluarkan kekuatan penuh.
Blush..!!
Bom..!!
Gunung tempat mereka berpijak seketika hancur, Daratan tempat mereka berpijak langsung berguncang layaknya gempa dahsyat.
Bai An yang sudah mundur langsung tersenyum tipis. “Sesuai rencana, aku memang tidak bisa melawanmu secara langsung, tapi berbeda jika yang melawanmu memiliki 1 atau 2 tingkat di bawahmu, terlebih jumlah mereka lebih dari 5,” gumam Bai An sambil melirik ke arah bayangan yang selalu bersembunyi di balik Penetua Hong.
Benar saja.
__ADS_1
Penetua Hong, Penetua Formasi, Penetua Darah kini langsung marah saat merasa mereka di rendahkan oleh Jendral Hu Yan Di.