
“Setuju,” ucap Cen Tian tersenyum lebar, hal itu membuat Antoni dan Defan merasa ada yang tidak beres dengan senyum Cen Tian.
Sebelum Antoni dan Defan mengeluarkan suara, Cen Tian lebih dulu menyalami keduanya, setelah itu dengan cepat ia kabur dari sana.
Wuss..!!
...
Antoni dan Defan kini saling memandang satu sama lain, tak lama mereka seketika teringat jika tanah di Dimensi Inti dengan Dimensi Alam Sihir berbeda.
Duar..!!
“Sialan, kita kena tipu lagi,” teriak Antoni memasang wajah gelap.
“Ini perampokan secara terang-terangan,” sambung Defan ikut menghancurkan apa yang ada di sekitarnya.
Tak lama keduanya kembali tenang. “Awas saja, akan kami balas ini jutaan kali lipat kepadamu Cen Tian,” teriak keduanya serempak.
Mereka berdua tidak menargerkan keluarga mereka yang ada di Dimensi Inti, namun mereka hanya menargetkan Cen Tian seorang.
“Pikirkan cara agar maling sialan ini rugi, tapi jangan libatkan yang lain,” ucap Antoni kini mengepalkan erat tangannya.
“Hehe dari pada memikirkan hal tersebut, lebih baik kita tunggu kabar dari Tuan muda, saat ia kembali maka kita akan adukan saja kepada Tuan muda,” kekeh Defan kini menyeringai licik.
Wajah Antoni seketika bersinar terang. “Kau benar, Tuan muda Bai An pasti akan adil kepada setiap anggota keluarganya,” ucap Antoni yang tidak berpikir sampai kesana.
Setelah berdiskusi, keduanya kini melesat ke arah tertentu.
***
Wuss wuss..!!
Tap tap..!!
Setelah menginjakkan kakinya di Dimensi Inti tepatnya Daratan Besar yang ia namakan sendiri tanpa melalui diskusi.
Kini Cen Tian tiba-tiba merasakan hawa dingin di tengkuk lehernya. “Eeh, kenapa tubuhku tiba-tiba merinding dengan sendirinya ya,” gumam Cen Tian heran.
Tidak ingin terlalu memikirnya, Cen Tian melesat menuju, kediaman yang terlihat sederhana dari luar.
Wuss..!!
Tap tap..!!
“Penguasa,” sapa para prajurit pembantai.
Cen Tian mengangkat tangannya. “Jangan terlalu formal, kita ini adalah keluarga, kalian tahu itu,” ucap Cen Tian tersenyum lebar.
__ADS_1
“Heng..!! Keluarga apa'an yang merampok keluarganya sendiri,” dengus para prajurit pembantai dalam hati.
...
Setelah sampai, Cen Tian melihat beberapa anggota keluarganya yang sering bersamanya.
“Aku telah membawa sumberdayanya, dan perlu kalian tahu, aku membelinya dengan harga yang sangat mahal tahu,” ucap Cen Tian memasang wajah pahit.
”Tapi demi keponakanku, aku rela menghabiskan sebagian harta yang aku simpan,” sambung Cen Tian memasang wajah teguh.
Long Yuan, Bai Chu Ye, Tu Long, Bai Yu Long, Jiu Long dan beberapa Jendral Ras Half Giant Dragon hanya bisa menatap datar ke arah Cen Tian.
“Hei, apa-apaan wajah kalian ini? Apa kalian tidak percaya dengan apa yang aku katakan hah.” Dengus Cen Tian merasa tidak terima jika keluarganya sendiri tidak mempercayainya.
“Hemm..!! Kau tidak perlu menipu kami, dan juga, kami sudah tidak butuh apa yang kau bawa itu.” Ejek Pixiu berjalan keluar dari lorong.
“Hehe,, bocah, kau terlalu lama menuju kesini, Tuan muda telah kembali bersama Gu Sheng dan saat ini Tuan muda kini mencoba memulihkan ketiganya. Dan kita di sini di suruh menunggu.” Kekeh Tu Long dengan nada ejekan.
Wajah Cen Tian seketika cemberut. “Lalu apa gunanya aku jauh-jauh kesana, sudah menghabiskan tenaga dan harta,” ucap Cen Tian. “Pokoknya kalian harus ganti rugi, aku tidak terima di permainkan.” Sambung Cen Tian.
Wajah semua orang yang ada di ruangan tersebut seketika menyeringai.
“Keluarlah Penguasa Antoni, Penguasa Defan, katanya ia ingin ganti rugi,” ucap Tu Long kini berdiri sambil menggerakkan jari-jarinya.
Krak krak..!!
Bukan hanya Tu Long, semua yang ada di ruangan juga ikut berdiri sambil memasang wajah sangar.
“Heh,, apanya yang Junior, kau itu kan Penguasa,” ejek Long Yuan.
“Hehe,, Tuan muda juga telah memberikan kami izin,” sambung Pixiu kini mengepalkan tinjunya lalu di ayunkan ke arah wajah Cen Tian.
Cen Tian yang melihat itu dengan cepat bergerak ke arah kiri.
Bam..!!
Tinju Pixiu hanya mengenai dinding yang ada di belakang Cen Tian.
Baru saja Cen Tian menghindar, Long Yuan dan Jiu Long langsung menerjang ke arahnya.
Bam bam..!!
Walau begitu, Cen Tian sangatlah licin, ia mampu menghindari serangan keduanya dengan sedikit usaha.
Dret..!!
Dret..!!
__ADS_1
Antoni dan Defan tak mau kalah, tatapan mata mereka terlihat sangat ingin menghajar Cen Tian yang telah merampok sumberdaya mereka.
Bam bam..!!
Duar..!!
Ledakan demi ledakan terdengar di raungan tersebut. Cen Tian terus menerus menghindar sambil memasang wajah jelek karena tidak bisa kabur dari ruangan tersebut.
“Tu Long sialan, cepat buka Perisai yang kau pasang ini,” teriak Cen Tian.
“Hehe,, mau kabur, itu tidak akan bisa,” ejek Tu Long yang masih berdiri di tempatnya, di sampingnya Bai Chu Ye hanya duduk sambil memejamkan mata, terlihat ia tidak ingin ikut campur masalah mereka.
Dret..!!
Bam..!!
***
Gu Sheng yang mendengar suara kegaduhan di aula depan hanya bisa mengerutkan keningnya. “Ini pasti ulah Tuan muda Tu Long,” gumam Gu Sheng, karena tidak mungkin akan ada keributan tanpa dirinya.
Hanya Tu Long saja yang saat ini masih bugar. Jadi tentunya Gu Sheng tidak mungkin menuduh Duan Du yang saat ini masih ada di depan dirinya.
“Tuan muda, apa aku perlu memberitahu mereka untuk jangan membuat keributan di sini?” Tanya Gu Sheng melirik Bai An yang saat ini mengalirkan Energi Jiwanya ke tubuh Duan Du, Bai Han dan Bo Wuhan secara bersamaan.
“Tidak perlu, biarkan mereka bersenang-senang dulu, jarang-jarang mereka seperti ini.” Bai An menggelengkan kepalanya. “Bila perlu undang yang lainnya, ini juga sebagai perpisahan kita, karena saat ketiganya telah sadar, kita akan langsung berangkat.” Ucap Bai An.
Mendengar itu, Gu Sheng seketika tersenyum kecil. “Apa aku juga bisa ikut bersenang-senang sebagai tanda ucapan perpisahan?” Tanya Gu Sheng kini ingin menghajar beberapa anggota keluarganya.
Bai An mengerutkan keningnya sesaat. “Huuf,, kau telah terkena penyakit mereka rupanya,” ucap Bai An menghela nafas berat. Tapi tak lama Bai An mengangguk. “Lakukanlah sesukamu.”
Tanpa mengatakan apapun lagi, Gu Sheng langsung menghilang dari tempatnya karena takut jika Bai An akan berubah pikiran.
Bai An yang kini hanya sendiri langsung membuat perisai lebih kuat lagi, karena ia tahu Daratan Besar ini akan hancur untuk kedua kalinya.
...
Duar..!!
Bom bom..!!
Trank trank..!!
Benar saja apa yang Bai An duga, setelah perisai terpasang, suara ledakan dan pertarungan terdengar di berbagai penjuru Daratan Besar.
Tentunya ini berawal dari Cen Tian, lalu Antoni dan Defan yang tidak terima mendatangi Tu Long dan yang lainnya.
Tu Long pun langsung membuat rencana dari arahan Bai Chu Ye sehingga Cen Tian dapat di jebak.
__ADS_1
Namun kini keributan yang lebih besar datang dari Gu Sheng yang membawa seluruh penghuni Dimensi Alam Sihir dan seluruh orang di Dimensi Inti.
“Hahaha,, apakah ini pukulan terkuatmu Gu Sheng, ini terasa seperti wajahku tertiup angin,” ejek Tu Long sambil tertawa terbahak-bahak.