
Tak lama setelah bercanda gurau, Chen Long, Bo Wuhan, Bai Da Xing, Bai Ha, Bai Hu dan Bai Da Xing pun langsung pergi ke Dimensi Alam Kegelapan sambil membawa Bai Han dan mayat Pemimpin Menara.
Setelah bertarung dengan Menara, dan kembalinya para keluarga Bai Han dengan mengumumkan kemenangan mereka. Sekuruh penduduk Dimensi Alam Dewa seketika bersorak penuh kebahagian.
2 tahun berlalu dengan cepat.
Kini Dimensi Alam Dewa sudah menjadi tenang, para penduduk pun menjalani hidup damai selama 2 tahun terahir tanpa adanya pertarungan lagi.
...
Di sebuah puncak gunung, terlihat ada bangunan yang cukup besar dan kuno.
Tap tap..!!
Beberapa orang langsung keluar dari pintu utama.
“Huuff,, aku tak menduga jika Saudara Han sampai saat ini masih belum sadar, apa yang sebenarnya terjadi di saat ia melawan Spirit Phoenix Api Kegelapan itu?” Ucap Bai Ha melirik ke arah Chen Long.
Chen Long yang di tanya langsung menggelengkan kepalanya. “Aku juga tidak tahu,” jawab Chen Long yang masih terlihat memasang wajah penuh rasa bersalah karena merasa ini salahnya yang membuat Bai Han sampai saat ini belum tersadar.
Bruk..!!
“Jangan menyalahkan dirimu paman, kita kan sudah sepakat untuk tidak saling menyalahkan dan kau juga berjanji untuk tidak terus menerus menyalahkan dirimu," ucap Lan Yuheng secara tiba-tiba muncul, lalu menepuk pundak Chen Long.
Chen Long yang awalnya merasa bersalah pun langsung tersenyum cerah. “Kau benar Yu'er, bisa-bisanya aku terus menerus memikirkan hal tersebut.” Ucap Chen Long.
“Nah ini baru namanya sosok yang kami kenal,” ucap Bai Hu terlihat dengan santai duduk bersama Bai Da Xing di salah satu cabang pohon sambil memakan apel.
Chen Long, Bai Ha, Lan Yuheng pun langsung melirik ke arah Bai Da Xing dan Bai Hu.
“Bukannya kalian sedang pergi berburu. Kenapa malah kalian asik makan buah di atas sana dan terlihat tanpa beban,” teriak Bai Ha sambil menunjuk ke arah Bai Hu dan Bai Da Xing.
Dengan cepat Bai Da Xing dan Bai Hu bangkit lalu melesat turun gunung saat melihat Bai Ha akan mendatanginya.
“Haha,, santai saja adik, jangan terlalu serius,” teriak Bai Da Xing dengan suara nada ejekan saat ia sudah menjauhi Bai Ha.
Mendangar itu, Bai Ha hanya bisa menghela nafas, tapi di satu sisi ia terlihat mengeluarkan seutas senyum bahagia.
__ADS_1
“Hem..!! Oh ya, apakah ada kabar dari Jin Yuanhu? Dan siapa yang bertugas terahir mengamati seluruh Dimensi Alam Dewa ini?” Tanya Lan Yuheng.
Mendengar pertanyaan Lan Yuheng. Bai Ha dan Chen Long seketika teringat jika yang bertugas adalah Bai Da Xing.
“Bukannya si Monyet nakal itu yang bertugas bulan ini, tapi kenapa ia malah di sini,” ucap Bai Ha.
Buk buk buk..!!
Bai Ha, Lan Yuheng dan Chen Long pun seketika menepuk kening mereka masing-masing.
“Rupanya kita harus mengganti jadwal paman, tidak baik menyuruh Monyet nakal itu berjaga, bukannya aman, malah tambah runyam,” ucap Bai Ha kini melirik Chen Long.
“Huuff,, kau ada benarnya, tapi sebelum mengubah jadwal dan nama, ada baiknya kita memberitahu Wuhan terlebih dulu,” balas Chen Long.
Semuanya pun mengangguk, tak lama, mereka bertiga pun langsung menyebar.
Ada yang menyiapkan kayu bakar dan langsung menyalakan api, ada yang ke kota untuk membeli arak dan ada yang menyiapkan rempah-rempah sebagai bumbu.
Tap tap..!!
Tak lama setelah hampir petang, Bai Hu dan Bai Da Xing pun muncul sambil membawa Binatang Buas buruan mereka.
Tap tap..!!
Setelah melangkah menaiki lantai dua, Bai Da Xing terhenti di sebuah pintu kamar paling pojok.
Cklek..!!
Setelah Bai Da Xing membuka pintu dan masuk, ia langsung melihat Bo Wuhan duduk di samping seorang pemuda yang terbaring.
Tap tap..!!
“Kakak, kapan kau bangun,” gumam Bai Da Xing langsung memegang tangan Bai Han yang masih terbaring di ranjang.
Terlihat jelas jika Bai Da Xing menitikkan air mata yang membuat Bo Wuhan tersadar, karena saat ini Bo Wuhan tertidur dengan cara duduk di samping Bai Han.
“Da'er kembalilah, tidak ada gunanya kau mengajak ku untuk makan malam,” ucap Bo Wuhan dengan nada suara serak.
__ADS_1
“Ayolah paman, kita semua tentu sangat sedih dan terkupul karena kakak sampai saat ini belum tersadar, jangan memaksakan dirimu, sesekali bergabunglah untuk merilekkan pikiranmu,” ucap Bai Da Xing terlihat sedih karena selama 2 tahun ini Bo Wuhan sangat setia menemani Bai Han.
“Tidak apa-apa Da'er, paman sudah terbiasa seperti ini, kau lebih baik kembali saja, karena tidak ada gunanya kau memaksaku untuk ikut turun,” ucap Bo Wuhan dengan seutas senyum lembut.
Bai Da Xing yang mendengar itu hanya bisa pasrah. Ia pun kembali dengan wajah lesu.
Tap tap..!!
...
Setelah melihat Bai Da Xing keluar, Bo Wuhan kini kembali menatap ke arah Bai Han.
“Aku merasa masih sungguh tak berguna, padahal aku sudah berjanji dan bersumpah untuk menjaga keturunan terahir Tuan besar, tapi tetap saja aku tidak bisa menjaganya.” Gumam Bo Wuhan dalam hati.
Tentu saja yang di maksud Bo Wuhan adalah Tuannya Bai An. Bo Wuhan seperti ini karena hanya Bai An saja yang pertama kali menganggapnya sebagai keluarga. Padahal dulu ia di jadikan budak, walau begitu, Bai An sama sekali tidak memperlakukan Bo Wuhan seperti selayaknya budak, melainkan selayaknya seorang keluarga.
Tentu saja Bo Wuhan juga sadar jika kesadaran dan kecerdasannya dulu pernah di ambil oleh Tuannya, tapi sebenarnya tidak begitu. Ada tujuan tertentu Bai An melakukan hal seperti itu dan ahir dari tujuannya adalah demi kebaikan dirinya sendirinya, yaitu menjadi kuat. Seperti sekarang ini.
Bo Wuhan terdengar terus menerus bergumam seorang diri, ia tidak sadar jika kaki dan tangan Bai Han kini mulai bergerak.
Sementara Bai Han yang menggerakkan kaki dan tangannya kini perlahan membuka matanya.
“Urgh,, aku tak menduga dampak dari Spirit Surgawi Tanpa Batas yang mengambil alih tubuhku secara berlebihan akan separah ini,” gumam Bai Han dalam hati.
Tentu saja Bai Han selama 2 tahun ini sebenarnya ia tersadar. Namun karena efek dari Spiritnya yang mengambil alih tubuhnyalah yang membuat ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya selama 2 tahun ini.
Dan selama 2 tahun ini, ia juga tahu jika Bo Wuhan terus menemaninya, sehingga ia juga merasa bersalah lantaran tidak mampu menggerakkan mata atau bibirnya untuk menyuruh Bo Wuhan ikut berkumpul bersama keluarga barunya.
Bahkan Bai Han juga tidak mampu menggunakan energinya, sehingga ia tidak bisa menggunakan suara telepati.
“Paman Wuhan, jangan menyalahkan dirimu sendiri,” ucap Bai Han dengan nada suara kecil.
Mendengar sebuah suara familiar. Pandangan Bo Wuhan pun dengan cepat mengarah ke tempat Bai Han terbaring.
“I...Ini, Tu..Tuan muda kau sudah tersadar,” ucap Bo Wuhan dengan cepat memeluk Bai Han.
Dret..!!
__ADS_1
Dret..!!