
Duan Du dan Tu Long kini maju.
“Oh ya Saudara Xiao, bagaimana dengan istrimu? Aku yakin para orang tua itu tidak akan melepaskanmu saat ia tahu kau berkhianat?” Tanya Duan Du dengan nada serius.
Hu Xiao yang mendengar itu sama sekali tidak marah saat di panggil saudara, karena dulu Fang Duan lebih tua darinya dan sering bersama.
“Hmm,, sebenarnya aku telah menguatkan tekad untuk-”
“Dimana tempat istrimu saat ini ayah?” Bai An langsung memotong ucapan Hu Xiao karena sadar ahir dari ucapan ayahnya.
Hu Xiao langsung menjawab. “Di dunia tempatmu besar An'er.”
Bai An dan Duan Du langsung mengerutkan keningnya.
Kini pikiran mereka bagaimana Hu Xiao tahu Bai An tumbuh besar di dunia Fana, terlebih perbedaan waktunya sangatlah jauh.
“Aku tahu kalian pasti bertanya-tanya bukan,” ucap Hu Xiao tersenyum kecil.
“Sejujurnya aku mengetahui sedikit tentang Dimensi ini, aku tahu saat kematian Saudara Duan dulu dan aku juga sedikit senang.”
“Setelah kematian saudara Duan, para orang tua itu memberi tahu kami.”
Hu Xiao langsung memberitahu sedikit yang ia tahu kebenaran tentang Dimensi ini.
Saat itu, para orang tua atau para leluhur klan Bai melakukan pertemuan dan Hu Xiao bersama Bai Chen juga ikut melakukan pertemuan.
Saat terjadi perdebatan masalah Fang Duan, tak sengaja salah satu dari orang tua itu membeberkan tentang mengapa Dimensi bersama isinya di buat.
Isi yang di maksud adalah alam semesta yang ada di dalam Dimensi kecil ini.
***
Satu hari telah berlalu.
Saat ini Bai An tengah mengusap rambut putranya yang selalu murung.
“Nak kau bisa menyusul ibumu jika kau mau, ayah tidak melarang kau pergi, ayah juga tidak melarang jalan yang kau ambil,” ucap Bai An dengan nada suara lembut.
Bai Han langsung mengangkat kepalanya, tak lama ia langsung menggeleng.
“Aku tahu ayah pasti tahu mengapa ibu pergi sehingga ayah tidak menghentikannya bukan?” Ucap Bai An sambil melihat wajah ayahnya.
Bai An mengangguk dengan senyum hangat.
“Mungkin pemikiran kita sama dengan apa tujuan ibu sehingga ia pergi, jadi aku tidak perlu mengejar ibu. Terlebih ia sangat keras kepala, sama dengan diriku,” ucap Bai Han sedikit tersenyum kecut.
__ADS_1
“Aku juga akan membuktikan jika aku bisa menjaganya tanpa ia harus menjagaku, aku tahu ibu begini karena sangat mencintai kita, entah apa tujuan lain dari ibu. Firasatku mengatakan ada yang ibu sembunyikan dari kita.” Sambung Bai Han kini menghela nafas.
Bai An yang melihat putranya kini mulai dewasa langsung mengusap rambut putranya lagi.
“Kelak kau pasti akan tahu karena tidak semuanya bisa tertutupi selamanya, jadi apa langkah yang akan kau lakukan sekarang? Jika kau ingin pergi, ayah tidak akan melarangmu.”
Bai Han melirik ke arah ayahnya.
“Hmm,, untuk saat ini aku tidur saja, karena aku ngantuk ayah,” ucap Bai Han tersenyum kecil.
Tanpa meminta izin, Bai Han langsung menaruh kepalanya di pundak kanan ayahnya.
Bai Han langsung menggelengkan kepalanya.
“Anak ini,” gumam Bai An sambil menghela nafas.
Setelah itu pandangan Bai An mengarah ke tempat semua keluarganya.
“Kita berangkat sekarang dan tujuan kita adalah Alam Semesta Inti ke dua yaitu Dunia Jun Long,” ucap Bai An.
Tanpa menunggu jawaban, Bai An membuka dunia jiwanya dan menyuruh istri, putra putri dan beberapa dari mereka masuk.
Kini yang tersisa hanya Bai An, Bai Han, Tu Long, Duan Du, Hu Xiao dan tetua klan Fang.
Tetua klan Fang kini terlihat tragis karena di siksa terus menerus oleh Tu Long dan Duan Du.
Jika saja tidak ada segel ledakan di kepala Tetua Fang tersebut, mungkin Bai An sudah menyerap ingatannya dari kemarin.
“Apa kita akan membawanya juga? atau taruh saja di dunia jiwa lalu suruh Tu We menyiksanya sama seperti yang lain,” tanya Duan Du.
Bai An menggeleng.
“Ia pasti akan bicara, bawa saja bersama kita, dan terus lakukan seperti yang aku katakan kemarin.” Ucap Bai An sambil mengayunkan tangannya.
Seketika tubuh semua orang di selimuti oleh energi Bai An.
Bai An langsung merobek ruang lalu menghilang bersama yang lainnya.
Wuss wuss..!!
***
Alam Semesta Inti ke 7.
“Heng,, aku tak menyangka untuk masuk ke Alam Semesta ini sangat susah,” dengus Cen Tian dengan nada mengeluh.
__ADS_1
“Sabarlah paman guru, setiap ada musibah pasti ada keberuntungan,” ucap Bao Tang menenangkan Cen Tian.
Cen Tian semakin kesal saat mendengar dirinya selalu di panggil paman guru.
Kini pandangan Cen Tian ke arah Bao Tang dengan tatapan tidak puas.
“Mengapa juga kau harus mengikuti kami, pergilah ke tempat lain, dan juga, berhentilah memanggilku paman,” dengus Cen Tian.
“Hehe,, aku tidak punya tujuan paman guru, dan kau adalah kakak guruku, jadi aku harus menghormatimu dengan menyebut paman guru,” jawab Bao Tang tersenyum kecil.
Bao Tang terlihat tidak malu atau canggung saat bicara dengan Cen Tian. Itu karena saat bertarung dulu ia selalu di ikuti oleh Cen Tian, bukan ikut bertarung, melainkan mengambil harta rampasan.
Dari sana Bao Tang merasa akrap dengan Cen Tian.
Mendengar itu, Cen Tian sama sekali tidak puas, kini tatapannya mengarah ke Lang Zai.
“Kemana tujuan kita lebih paman Lang?” Tanya Cen Tian.
“Hmm..!! Kita akan kesana lebih dulu, bagaimana menurut kalian?” Tanya Lang Zai sambil menunjuk dunia yang paling kecil.
Ling Diu, Xiao Lee Tan, Guan Shen Ju, tiga anak angkat Tu Long, Liu Fang, Fu Jian, Dhe Chi Yuan, Dhe Peng, Xian Wei dan beberapa prajurit pembantai langsung saling melirik satu sama lain.
“Itu bagus juga paman, dari yang kecil lebih dulu, aku tentu setuju,” ucap Liu Fang.
“Aku tidak setuju paman Lang, lebih baik kita kesana lebih dulu karena kemungkinan peluang kita lebih besar bertemu paman Pixiu.”
Berbeda dengan Liu Fang, Cen Tian menolak tegas, padahal ia tadi yang bertanya akan pergi kemana kepada Lang Zai.
Mendengar penolakan Cen Tian dengan alasan cukup logis, namun mereka tahu jika otak Cen Tian ini hanyalah harta dan peluang yang di maksud sebenarnya adalah peluang mendapat harta jarahan lebih banyak.
“Kenapa aku harus pergi dengan otak harta ini ya?” Ucap Lang Zai memegang dagunya pura-pura berpikir.
Cen Tian langsung memasang wajah jelek, sakitnya langsung ke jantung dan itu tidak berdarah, itulah yang Cen Tian alami saat ini.
“Heng,, baiklah aku akan mengalah karena paman yang menjadi ketuanya,” dengus Cen Tian sambil mengembungkan pipinya cemberut.
Bukannya bahagia, semua orang hanya bisa menggeleng saat mendengar ucapan Cen Tian.
“Baiklah tujuan kita saat ini dunia itu, apa kalian siap?” Tanya Lang Zai bertanya.
Semua orang mengangguk lalu mendekat dengan saling mengikat menggunakan benang energi yang mereka ciptakan masing-masing.
Tanpa menunggu waktu lama, Lang Zai mengeluarkan token teleportasi kemudian menggenggamnya dengan erat, tak lupa pula Lang Zai memusatkan tujuannya sebelum memecahkan token yang ia pegang.
Piarr..!!
__ADS_1
Suara token langsung pecah dan sinar bewarna putih langsung muncul.
Wuss..!!