Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
Kemenangan Tu Long dan Duan Du melawan Hun Ceng


__ADS_3

“Kau sangat kuat, ayo bertarung lagi,” teriak Tu Long sambil memperbaiki posisi berdirinya.


Jiu Long terdiam, bukan karena ia tidak ingin bicara atau sombong. Tapi karena saat ini saraf-saraf terputus dan beberapa organ dalamnya tercabik-cabik oleh Hukum Angin Tu Long.


Jiu Long tidak menyangka, naga energi Tu Long memiliki Hukum Angin yang sangat mengerikan, terlebih Jiu Long lebih tidak menyangka udara di sekitarnya sudah dalam jangkauan Tu Long sehingga saat ia bertahan tadi, ia tidak terlalu berpikir ke arah sana.


Alhasil, ia tercabik-cabik karena kecerobohannya sendiri.


Tu Long tentu tak menyangka juga jika Hukum Udara atau Angin yang ia kuasai sudah sampai di tahap sempurna, ia bahkan tidak menyadari dirinya menguasai Hukum Angin.


Seandainya Bai An tidak memberitahunya dan memberikannya manual untuk mengolah Hukum Angin, agar ia semakin kuat dalam menguasai Hukum Angin hingga tahap sempurna.


Dalam pertarungan tadi Tu Long tidak tahu jika dirinya sudah menguasai Hukum Angin hingga ke tahap sempurna sehingga mampu melukai musuh tanpa di sadari musuh.


Saat ini Tu Long mengerutkan keningnya saat melihat Jiu Long terdiam.


“Hmm,, mengapa kau diam, apa kau takut?” Tanya Tu Long, ia kini tidak menyerang karena sangat menghormati seseorang yang menjunjung tinggi pertarungan adil.


Wuss..!!


Tap tap..!!


Bai An muncul sambil menepuk pundak Tu Long.


“Dia sudah kalah dan tak bisa melanjutkan pertarungan,” kata Bai An lalu melirik ke arah Jiu Long.


“Dari sipatmu, kau kesini bukan untuk mencari kami bertiga karena hadiah selembaran poster? Jadi apa tujuanmu datang kemari?” Tanya Bai An dengan nada serius.


Jiu Long cukup terkejut saat Bai An tiba-tiba muncul, tapi kini ia lebih terkejut lagi saat Bai An tahu jika tujuannya bukan mereka.


“Itu,, sebenarnya aku datang kesini hanya untuk bertanya kepada anda Tuan, tapi aku tak menyangka akan di serang oleh dia, saat mengetahui ia kuat, aku langsung bersemangat ingin bertarung menggunakan kekuatan penuh sehingga aku lupa tujuanku kesini,” jawab Jiu Long jujur sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah itu Jiu Long terjatuh karena luka dalamnya semakin parah saat ia berusaha menjawab tadi.


Dengan cepat Tu Long menangkapnya.


Wuss..!!


Tap tap..!!

__ADS_1


“Hmm..!! Jadi dia tidak kita bunuh ini Tuan muda?” Tanya Tu Long.


“Heng,, otakmu hanya bertarung, bunuh, berterung, bunuh, bertarung, bunuh, kau bahkan tidak sadar jika telah mengusai Hukum Angin tahap sempurna, jika kau tidak menguasai Hukum Angin hingga ke tahap sempurna, aku yakin kau lah yang akan kalah,” dengus Bai An menatap tajam Tu Long.


Tu Long yang di marahi langsung cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tu Long tahu jika Bai An saat ini sedang memperingatinya agar ia bisa sedikit memiliki berubah, tapi ia tidak bisa menolak hasrat bertarungnya sehingga saat bertarung Tu Long hanya memakai insting, jarang sekali ia berpikir banyak.


Hanya pada saat-saat kritis saja ia baru mulai berpikir, itulah tempat kelemahan Tu Long.


“Baringkan dia di sana, lalu berikan dia pil penyembuh,” kata Bai An, setelah itu ia mengalihkan pandangan ke arah Duan Du yang saat ini sedang tersudut.


***


Wuus..!!


Bam..!!


Ukkhh,,


Duan Du langsung memuntahkan seteguk darah, tapi sebuah senyum terlihat jelas di wajahnya.


Saat ini Hun Ceng selalu berhati-hati setelah ia mendapat banyak luka dari serangan tipuan Duan Du.


Tentu Hun Ceng tidak menduga dapat menemukan orang setingkat Duan Du, Kaisar Immortal bisa melukai Dewa Immortal sampai sedemikian rupa.


Jika orang-orang di klannya tahu, mungkin ia akan di tertawakan karena salah menganggap Hun Ceng Jenius tiada tanding.


Tapi Hun Ceng sama sekali tidak kecewa, karena ia mengakui lawannya saat ini kuat, dan ahli dalam strategi.


“Hmm,, ada yang tidak beres dengan senyum anak ini,” gumam Hun Ceng melihat ke arah sekelilingnya.


Saat ia menemukan tidak ada sesuatu yang mencurigakan, ia kembali melirik kr arah Duan Du.


“Sialan, aku tertipu lagi,” gumam Hun Ceng seketika waspada karena Duan Du saat ini tidak berada pada tempatnya.


Tubuh Hun Ceng juga di selimuti oleh api yang sangat panas, terlintas samar-samar siluet gambar berupa Naga Api muncul di atas kepala Hun Ceng.


Duan Du yang bersembunyi langsung memasang wajah jelek.

__ADS_1


“Pemuda itu ternyata sudah membangkitkan Roh Jiwanya, tidak terduga, selain kakak, paman Tu Long dan aku, aku baru kali ini melihat orang bisa membangkitkan Roh Jiwanya,” gumam Duan Du.


Terlintas di pikiran Duan Du. “Apakah ia juga bisa membuka Dunia Jiwanya?”


“Tidak-tidak, itu tidak mungkin, sangat mustahil ia bisa melakukannya selain para Penguasa, kakak pernah bercerita tentang sulitnya membuka Dunia Jiwa,” gumam Duan Du.


Duan Du dengan cepat berpindah ke arah bayangan pohon yang cukup jauh dari Hun Ceng, itu karena Hun Ceng tahu jika ia sedang bersembunyi di setiap bayangan benda mati, sehingga Hun Ceng mencoba membakar setiap apa yang ada di sekelilingnya.


“Hukum Bayanganku masih tingkat pertama, Hukum Gravitasi masih tingkat pertama, Hukum Udara masih tingkat pertama juga, hanya Hukum Energi saja yang sudah mencapai tingkat menengah,” gumam Duan Du merutuki dirinya sendiri yang malas berlatih.


Ia saat ini memikirkan bagaimana cara menang melawan Hun Ceng tanpa terluka terlalu parah, bila perlu tanpa terluka lagi.


Tak lama setelah berpikir, Duan Du menyeringai kecil.


“Ini cukup beresiko, tapi aku yakin kakak pasti tidak akan membiarkanku mati,” kekeh Duan Du.


“Hukum Energi.”


“Pusaran Dunia Energi,” gumam Duan Du.


Tak lama pusaran energi muncul di sekeliling Duan Du, sedikit demi sedikit berkumpul membuat gelombang mengerikan.


Bahkan aura serta Roh Jiwa Hun Ceng mampu di tekan saat melihat energi di dunia ini mencoba berkumpul di sekililing Duan Du.


“Sialan, jika begini aku akan mati,” gumam Hun Ceng saat merasa energinya juga terasa akan di tarik, tapi Hun Ceng berusaha melawan dan mencoba untuk mundur.


“Mengerikan, anak ini bukan manusia, bahkan energi dunia ini di tarik olehnya,” teriak salah satu tetua Hun Ceng yang kini sudah berada di samping Hun Ceng untuk mencoba melindunginya.


Tetua tersebut hanya berada di Dewa Immortal ⭐ 1 Awal, ia sedikit lebih lemah dari Hun Ceng, tapi saat ini ia telah di tugaskan Patriak klan untuk menjaga Hun Ceng dengan nyawanya sendiri.


“Tetua muda, sebaiknya kita pergi saja dari sini, hilangkan niat anda untuk mendapatkan Tuan putri Hu Qia, karena melawan salah satunya saja kita tidak mampu, apalagi melawan dua orang yang lebih kuat itu,” kata tetua tersebut memperingati Hun Ceng.


Hun Ceng melirik ke arah sekelilingnya dan melihat semua orang mati, ia juga melihat Tu Long dan Bai An berdiri dengan santai tanpa terpengaruh oleh perbuatan Duan Du.


“Sialan,, informasi dari Paviliun Perak ternyata palsu, ia ingin kita kesini untuk bunuh diri,” gumam Hun Ceng mundur.


Namun saat baru melangkah 100 meter, sebuah teriakan terdengar jelas membuat Hun Ceng dan kelompoknya berhenti.


“Hoho,, kau sudah datang jauh-jauh, tapi ingin pergi begitu saja, sungguh tidak terpuji jika kau tidak meninggalkan sedikit oleh-oleh untuk kami.”

__ADS_1


__ADS_2