
“Tunggu apa lagi, ayo kita kesana,” ajak Bai An dengan penuh semangat.
Bai Tan tidak menjawab, ia sekarang melihat ke arah istana milik Ras Peri dari waktu ke waktu.
“Tunggu dulu, ada-”
“Aku tahu kita saat ini di kepung, tapi mereka semua tidak berani mendekat karena adanya putri kecil ku ini,” ucap Bai An langsung memotong ucapan Bai Tan.
“Aku tidak akan sebodoh itu untuk mengajakmu kesana jika tanpa persiapan,” sambung Bai An tersenyum kecil.
Bai Tan melihat ke arah Bai An dengan sedikit ngeri, ia tidak tahu jalan pikiran Tuan mudanya ini, setiap saat akan selalu berubah-berubah, kini ia sadar jika dari awal setelah pertemuan dengan putrinya dan Tu Long. Bai An ternyata ingin memanfaatkan kondisi putrinya yang cukup spesial di dalam kabut ini.
“Hei hei,, hilangkan pikiran kotormu itu, aku tidak sejahat itu kepada putriku sendiri, ini juga untuk kebaikannya, ia bisa meningkat pesat saat kita masuk kesana, begitu-pun dengan kita, jadi sama-sama untung.” Dengus Bai An memandang Bai Tan dengan kesal.
“Heng,, kita belum tahu apa yang ada di dalam sana dan kau seolah sudah dapat melihat masa depan saja,” balas Bai Tan mendengus ringan.
Hoamm..!!
Xie'er bangun akibat keributan antara ayahnya dan inti energinya.
Pandangan Xie'er kini mengarah ke Bai Tan. “Siapa kau? Berani sekali kau membentak ayahku,” dengus Xie'er menatap Bai Tan dengan tajam.
Tubuh Bai Tan tiba-tiba merasakan tekanan yang mengerikan.
Tekanan yang ia rasakan seolah Xie'er ini adalah induknya, padahal aura yang keluar dari tubuh Xie'er sama dengan Bai An, yaitu Energi Semesta yang dulu Bai An berikan sebagai asupan saat Xie'er akan terlahir.
“Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa tertekan dan ketakutan seperti ini?” Gumam Bai Tan dalam hati.
Bai An yang melihat itu langsung bicara.
“Jangan seperti itu Xie'er, tanpa dia Xie'er dan ibu tidak akan tertolong dulu.” Bai An tersenyum sambil mengusap rambut putrinya.
Xie'er mengangguk patuh, ia merasakan rasa nyaman saat tangan Bai An mengusap rambutnya.
Wajahnya kini mengeluarkan senyum ceria.
“Xie'er pernah kesini ayah dan saat Xie'er kesini, mereka semua bilang jika Xie'er adalah Ratu mereka, tapi Xie'er hanya ingin menjadi putri ayah dan ibu, jadi Xie'er langsung pergi karena ayah tidak ada di sini.”
Mendengar ucapan polos dari putrinya, Bai An dan Bai Tan saling melirik, tak lama mereka langsung memeriksa tubuh Xie'er dengan teliti.
__ADS_1
Tapi mereka kecewa saat tidak dapat menemukan hal yang istimewa.
“Ayah kau kenapa sih?” Xie'er seketika cemberut dengan mata ingin menangis.
Xie'er ingin menangis karena ayahnya ini seperti menganggapnya orang lain saja, cara Bai An tadi yang memeriksa tubuhnya itu layaknya di introgasi, Xie'er tentu tidak suka hal seperti tadi.
Bai An terdiam.
“Maafkan ayah Xie'er, ayah hanya takut Xie'er kenapa-kenapa. Jadi ayah harus memeriksa tubuh Xie'er dengan cermat,” ucap Bai An tersenyum.lembut.
“Kau tahu Xie'er, mana ada seorang ayah ingin putrinya kenapa-kenapa, setiap orang tua ingin putra putrinya selalu sehat, tidak ada ancaman maka orang tua juga ikut bahagia.” Sambung Bai An.
Wajah Xie'er seketika tersenyum, ia menghapus air matanya menggunakan tangan kanannya.
“Hehe,, Xie'er tahu jika ayah selalu menyayangi Xie'er, tidak seperti ibu yang selalu galak,” kekeh Xie'er langsung membenamkan kepalanya di pundak Bai An.
Sstt..!!
Bai An melirik ke asal suara, melihat Bai Tan menunjuk ke arah istana, Bai An mengangguk santai.
“Xie'er apa kau tahu apa yang ada di dalam sana?”
“Hmm,, disana ada sebuah pintu, di dalam pintu tersebut ada sebuah energi dengan tekanan luar biasa kuat. Tapi Xie'er tidak masuk kesana karena Xie'er masih lemah.” Jawab Xie'er jujur.
Pandangan Bai An dan Bai Tan kembali bertemu, saat ini mereka tersenyum tipis.
“Apa saat keluar nanti Xie'er mau lebih kuat dari Ye Gege?” Tanya Bai An.
“Tentu Xie'er mau, jika Xie'er lebih kuat dari Ye Gege, maka Xie'er akan menindas Ye Gege,” ucap Xie'er dengan polos sambil memamerkan giginya.
“Satu keluarga sama saja, tiada hari tanpa melakukan kenakalan,” gumam Bai Tan tersenyum kecut.
Setelah mendengar jawaban Xie'er, saat ini terlihat tiga orang melesat ke arah istana mini tersebut.
***
Bomm..!!
“Dasar bodoh,, kenapa kau mau di tipu oleh bajingan itu,” teriak Mu Xia'er penuh kekesalan.
__ADS_1
Tu Long yang di marahi hanya bisa mengutuki Bai An dalam hati, ia tidak habis pikir isi surat tersebut akan membuatnya menderita.
“Hentikan amarahmu itu Xia'er, tidak ada gunanya kau memarahinya, ia tidak mengerti apa-apa,” Mu Gia mencoba menenangkan putrinya.
Pandang Mu Xia'er mengarah ke ibunya, kemudian ia kembali melirik Tu Long dan Duan Du yang ikut terkena imbasnya.
“Ibu tidak akan tahu sifat licik ketiganya ini, Gege bersama mereka berdua ini sangatlah licik, jika ibu tahu, mungkin ibu akan menguliti mereka hidup-hidup.” Ucap Mu Xia'er masih kesal.
“Dan perlu ibu tahu, kulitnya saja mereka terlihat baik, tapi isinya-” Mu Xia'er tidak mampu melanjutkan kata-katanya, ia sudah bosan melihat tingkah ketiganya.
Mu Xia'er tentu marah, isi pesan tersebut yaitu. “Xia'er, Jia'er, Gege meminjam Xie'er dulu ya, jika ingin marah, maka salahkan saja Tu Long, karena dia pingsan Gege jadi tahu kondisi tubuh Xie'er saat di dalam kabut.”
Mu Xia'er tahu maksud ucapan Bai An ini, ia kini merasa khawatir jika putrinya kenapa-kenapa.
Sementara Bai Han dan Bai Chu Ye saling melirik, mereka diam-diam menjauh dari kumpulan keluarganya.
Pikiran keduanya hanya tertuju ke dalam kabut, rasa penasaran mereka dan isi surat tersebut membuat keduanya ingin menyusul ayah dan adiknya.
Tap tap..!!
“Mau kemana kalian hah,” Chu Jia yang tidak ingin kehilangan putra putrinya lagi selalu memantai Bai Han dan Bai Chu Ye.
“Aduh aduh,, sakit bu,” teriak Bai Han.
Saat ini telinga Bai Han dan Bai Chu Ye di angkat dengan keras.
Mendengar teriakan Bai Han, sontak semua orang menatap ke arah Bai Han, Bai Chu Ye dan Chu Jia.
Mu Xia'er yang kesal kini bertambah kesal melihat kedua putranya ingin membuatnya semakin khawatir.
“Dasar anak nakal,” ucap Mu Xia'er, nada suara Mu Xia'er membuat Bai Han dan Bai Chu Ye berkeringat dingin.
“Gawat, Ye'er gunakan Hukum Darah yang telah kau olah agar kita bisa kabur,” ucap Bai Han melalui telepati.
Bai Chu Ye mengangguk paham.
Mu Xia'er dan Chu Ye yang sadar mulai menyuruh semua orang mengepung kedua anak nakal ini.
“Jangan biarkan anak nakal ini kabur, jika kabur kalian lah yang akan jadi pelampiasanku,” ucap Mu Xia'er dengan nada mengancam.
__ADS_1
Walau begitu, tatapan mata Mu Xia'er mengarah ke Duan Du dan Tu Long. Sungguh sial sekali nasib mereka berdua.